Kedua mata Merlin membulat sempurna, ketika ia melihat siapa orang yang ditabraknya. Tubuhnya seolah kaku dan waktu seperti terhenti untuk sesaat. "Kau ...." "Kinanti, kau ... kau masih hidup? A--aku tidak sedang bermimpi, bukan? I--ini benar-benar dirimu?" tanya pemuda yang ternyata Hendrik itu. Merlin masih terpaku, seraya tak percaya ia bisa bertemu dengan Hendrik. "Kinanti," panggil Hendrik lembut sambil terus memegang kedua tangan Merlin. "Aku ... Anda salah orang, Tuan," bohongnya yang tidak ingin Hendrik tahu. 'Maaf, Hen. Aku terpaksa harus berbohong padamu. Aku tidak ingin melibatkanmu kembali ke dalam hidupku. Kau terlalu baik dan sudah banyak menderita karena aku,' monolog Merlin dalam hati. "Salah orang? Tidak mungkin. Meski kau merubah wajah dan penampilanmu, tetapi aku

