Bab 6 Garden Cafe

1310 Kata
Vanya berdiri dengan dibantu oleh Tama dan Nada, dia mengacuhkan Kakaknya membuat Lucas merasa bingung. Nada akhirnya mengantar Vanya masuk ke dalam kamarnya. Lucas menatap punggung dua wanita itu dengan kebingungannya. "Sebenarnya kenapa Vanya bisa jatuh, Lex?" Tanya Lucas. "Lu tanya aja ke wanita sialan ini!" Ujar Alex dengan emosi. Dia memang tidak mencintai Vanya tetapi dia tidak suka melihat Vanya di sakiti oleh orang lain. Alex dan Raka lalu pergi dari sana, supir Alex memberikan pakaian ganti untuk Alex. Alex memang selalu membawa pakaian di dalam mobilnya untuk berjaga-jaga. Setelah Alex berganti pakaian dia dan Raka menuju ke kamar Vanya. Tok tok tok Alex mengetuk pintu kamar Vanya, tak lama Nada pun membuka pintunya. "Vanya masih istirahat, sebaiknya kita pulang saja," ujar Nada saat keluar dari kamar. Alex melihat sekilas keadaan Vanya yang berbaring di atas tempat tidur. "Dia baik-baik aja lu tenang aja Lex," ucap Nada yang melihat tatapan Alex ke Vanya. "Hm aku balik dulu," ucap dingin Alex yang kemudian menaiki lift turun ke lantai satu. "Temen lu kagak berubah tetap saja dingin, kepincut Vanya beneran baru tau rasa dia," ujar Raka yang melihat sikap dingin Alex. "Dah lah gue balik," pamit Raka. "Bentar dulu, temenin ambil tas di meja tadi. Males kalau sendirian ketemu tuh perempuan," pinta Nada menghentikan langkah Raka. "Yaudah ayo buruan," ujar Raka dan akhirnya Nada pun menyusul Raka. Mereka berjalan menuju ke tempat mereka tadi kumpul di sana terlihat Lucas yang sedang murka kepada Nindy. Nindy yang queen drama sedang memerankan akting nangisnya seolah-olah dia tidak bersalah. Nada dan Raka pun tidak memperdulikan mereka, keduanya langsung berbalik setelah mengambil tas milik Nada. "Ini semua gara-gara kamu kan Nada, dasar w*************a!" jerit Nindy membuat Nada dan Raka berbalik ke arahnya. "Hah gue?" Tanya Nada yang merasa bingung. "Kok jadi gue?" "Iya mereka bilang itu salah gue karena hasutan lu kan, karena lu suka sama Lucas! Iya kan! Jawab Nada, kenapa cuman diam hah!" cecar Nindy. "Lu diem dulu baru gue jawab, lo aja nyerocos mulu dari tadi," ucap Nada dengan tenang. "Nih ya kalau gue emang suka sama Lucas udah dari lama gue deketin dia sebelum dia kenal lu, bodoh," terang Nada yang tidak suka dituduh seperti itu. Nada langsung berbalik dan pergi dari sana. "Mampus lu kena mentalkan," komentar Raka yang kemudian mengejar Nada. Nindy terdiam melihat Nada dan Raka pergi dari sana. "Kita putus! Pergi lu," usir Lucas. Mendengar itu Nindy langsung menahan tangan Lucas yang akan berjalan meninggalkannya. "Sayang tolong percaya sama aku, mana mungkin aku sengaja mendorong adik kamu," tutur Nindy yang tidak kau putus dengan Lucas. Lucas menepis tangan Nindy, dia tidak peduli lagi dengan Nindy meski Nindy memohon kepadanya. Lucas pergi dari tempat itu dia mengacuhkan Nindy begitu saja. Kini Lucas berdiri di depan pintu kamar Vanya, dia membuka pelan pintu itu. Terlihat Vanya yang sedang berbaring, Vanya yang mendengar pintu kamarnya dibuka pun menoleh ke arah pintu. Saat melihat Kucas yang berdiri di ambang pintu membuat Vanya langsung membalikkan badan memunggungi Lucas. Lucas merasa bersalah dengan Vanya, dia berjalan ke arah Vanya dan duduk di tepi ranjang tempat Vanya berbaring. "Dek," panggil Lucas tetapi diacuhkan oleh Vanya. "Maaf," sambung Lucas. "Aku gak mau punya kakak ipar kek dia!" ucap Vanya. "Udah putus," jawab Lucas membuat Vanya berbalik. "Maaf ya, harusnya Kakak dengerin mereka kalau dia tuh wanita nggak baik," terang Lucas. "Makanya jangan bodoh," ledek Vanya membuat dia mendapatkan sentilan di dahinya. "Aw sakit Kakak!" pekik Vanya. "Yaudah kami istirahat, Kakak temenin," ujar Lucas yang langsung berbaring di sebelah Vanya. "Ih ganggu aja," omel Vanya. "Oh ya jadi beli permen kapas nggak? Kalau iya Kakak beliin," tanya Lucas yang mengingat keinginan Vanya tadi. "Nggak jadi, gara-gara kecebur ke kolam renang aku jadi minum air kolam. Perih nih tenggorokan," gerutu Vanya. "Kakak panggil dokter," ujar Lucas yang duduk dan meraih ponselnya. "Nggak usah, mau tidur saja nanti juga sembuh sendiri," ucap Vanya yang tidak mau dipanggilkan dokter. "Beneran?" "Heem, udah jangan ajak ngobrol mulu aku mau tidur," rengek Vanya yang kepalanya juga merasa pusing. Dia pun memilih untuk tidur dan berharap rasa pusingnya hilang setelah dia bangun. "Yaudah kamu istirahat, Kakak temenin disini sampai kamu tidur," tutur Lucas yang mengusap kepala adiknya itu. Dia merasa tubuh Vanya yang hangat. "Badanya hangat gini pasti pusing, tapi ngeyel nggak mau di panggilin dokter," batin Lucas. Setelah merasa Vanya sudah tidur dengan nyenyak, dia pun bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati agar Vanya tidak terbangun. Lucas berjalan keluar dari kamar Vanya, saat membuka pintu kedua orang tuanya berada di depan pintu. "Mah Pah." "Vanya gimana keadaannya? Kenapa bisa jatuh ke kolam renang?" Tanya Nadia yang khawatir terhadap putrinya. "Vanya nggak papa Mah, dia masih istirahat. Maaf Mah," tutur Lucas yang merasa bersalah. "Wanita mana yang bikin Vanya jatuh?" Tanya David yang marah. "Nindy Pah, mantan Lucas," jawab Lucas. "Lain kali yang benar cari perempuan," ucap Darren menasehati anaknya itu. "Iya Pah," jawab Lucas. "Sudah di panggilkan dokter belum?" "Belum Mah, Vanya nya nggak mau." "Ya sudah kita biarin Vanya istirahat saja," tutur David. Mereka lalu pergi dari sana membiarkan Vanya beristirahat. *** Siang ini Alex sudah berada dirumah Vanya, sebelumnya dia sudah menghubungi Vanya soal rencana fitting hari ini. Karena keadaan Vanya yang sudah membaik, maka Vanya pun menerima ajakan Alex untuk fitting. Sebenarnya dia enggan tetapi Alex memaksanya dan bagaimanapun Vanya tidak mau jika gaun yang akan dia pakai kebesaran ataupun kekecilan nantinya. Dengan muka kusut dia berpamitan dengan kedua orang tuanya. Alex kini fokus menyetir, keduanya diam membisu enggan untuk saling berbicara. Alex memarkirkan mobilnya membuat Vanya menatap keluar jendela. Dia lalu keluar dari mobil, keduanya berada di cafe dengan banyak tanaman disana. Ini pertama kalinya Vanya melihat ada cafe seperti ini, banyak tanaman hijau di area outdoor membuat area itu terkesan perkebunan. Vanya mengikuti langkah Alex duduk di salah satu kursi yang berada di area outdoor. Di area itu pun terdapat ayunan yang di pake anak-anak untuk bermain. "Halo Kakak ipar," sapa Alexa yang menghampiri meja mereka sambil menggendong anak laki-laki berusia dua tahun. "Hy," saut Vanya. "Aku Alexa kembarannya Alex dan ini Arvin pangeran kecil aku," ucap Alexa dengan tersenyum. "Oh hallo, ih lucunya. Sini gendong Tante ya," tutur Vanya. Alexa pun membiarkan Arvin berada di pangkuan Vanya. Arvin terlihat anteng dengan Vanya dia sama sekali tidak rewel, padahal Arvin tipe anak tidak suka bersama orang yang belum dia kenal. Waiter datang memberikan buku menu, setelah mencatat pesanan Vanya dan Alex waiter itu pun pergi dari sana. "Cafenya bagus," puji Vanya membuat Alexa tersenyum. "Makasih, ini juga ide dari Alex," ujar Alexa membuat Vanya menatap Alex tak percaya. "Nyampe jam berapa semalam?" Tanya Alex mengalihkan pembicaraan. "Jam delapan, Mama udah minta aku buat pulang sih padahal rencananya lusa baru balik tapi karena Mama yang minta yaudah kemarin langsung balik," terang Alexa. Alex menatap sekilas ke arah Vanya yang tengah asik bercanda dengan Arvin. Waiter datang menyajikan pesanan mereka, melihat itu Alexa pun langsung pamit. "Yaudah aku duluan ya, mau pulang biar Arvin bisa tidur," pamit Alexa yang bangkit dari duduknya. "Nggak makan siang bareng saja Kak?" Tanya Vanya. "Lain kali saja ya, harus tidur siang soalnya nanti malamkan juga ada makan malam biar Arvin nggak ngantuk," ucap Alexa. "Oh ya jangan panggil kak, panggil nama aja," sambung Alexa yang dijawab senyuman oleh Vanya. "Salim dulu sama Om sama Tante," ucap Alexa kepada Arvin. Arvin yang pintar pun bergantian mencium tangan Vanya dan Alexa. "Dadah ganteng," ucap Vanya. "d**a Tante," balas Alexa. "Nanti malam Vanya ikutkan makan malam, nggak pernah ikut dari dulu. Tapi sekarang harus dong kan ada Alex," tutur Alexa. "Oh iya," jawab Vanya dengan terpaksa. Sejujurnya dia enggan untuk ikut acara makan malam itu tetapi sekarang dia tidak punya alasan untuk menolak karena statusnya yang sekarang akan menikah dengan Alex. Alexa dan Arvin pun pergi dari sana, saat mereka pergi Vanya dan Alex tidak saling berbicara. Keduanya langsung makan tidak memperdulikan yang lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN