Bab 7 Diam-diam Perhatian

1366 Kata
Vanya dan Alex kini berada di butik untuk fitting gaun yang akan dikenakan Lavanya. Vanya keluar dari ganti mengenakan gaun pengantin berwarna hitam dengan detail flora yang mewah. Vanya menyukai gaun itu tetapi dia tidak suka dengan warnanya. "Andai warnanya putih," lirih Vanya yang bisa didengar Alex. Alex hanya diam memandang Lavanya dia tidak menanggapi perkataan Lavanya. "Bagaimana dengan gaunnya Nona?" Tanya Yaznia yang berjalan ke arah mereka. "Bagus, tapi sepertinya pinggangnya kekecilan aku jadi susah bernafas," ucap Lavanya yang merasa sesak. "Apa aku gendutan ya?" Tanya Vanya memandang cermin. "Ah tidak Nona, sepertinya saya yang salah mengukur. Nanti saya perbaiki Nona supaya nyaman dipakai," ucap Yaznia dengan lembut. "Makasih Tante," ucap Lavanya dengan tersenyum. "Badan Nona sangat bagus, jadi memakai gaun apapun akan terlihat cocok," puji Yaznia membuat pipi Vanya memerah. "Saya tinggal dulu sebentar, Nona," ucap Yaznia yang mendapat anggukan dari Lavanya. "Kenapa menatap saya seperti itu? Apa saya memang gendutan? Bodolah saya tidak peduli," ucap Lavanya yang hanya mendapat tatapan dari Alex. Selesai fitting Alex mengantar Lavanya kembali ke rumahnya. "Nanti malam saya jemput jam tujuh," ucap Alex sebelum dirinya pulang. "Gak usah, saya bisa datang bersama orang tua saya," tolak Lavanya yang enggan datang ke acara makan malam itu bersama dengan Alex. "Kalau bukan Mama yang minta juga saya gak mau jemput kamu," tegas Alex yang kemudian masuk ke dalam mobil dan mengendarainya keluar dari pekarangan rumah Lavanya. Vanya mendengus kesal mendengar perkataan Alex yang ketus dan dingin kepadanya. "Ya kalau gak mau jemput gak usah jemput," gerutu Vanya yang berjalan masuk ke dalam rumah. "Sudah pulang Sayang?" Tanya Nadia saat melihat Vanya yang masuk ke dalam rumah. "Iya Ma, dapat salam dari Pak Tama," ucap Vanya yang kemudian berlalu masuk ke dalam lift menuju ke kamarnya. Nadia tersenyum melihat muka masam anaknya membuat dia mengingat kisah percintaannya dengan David dulu. David yang melihat istrinya berdiri sambil senyum-senyum pun langsung memeluknya dari belakang. "Kenapa hem? Kok senyum-senyum sendiri?" "Aish kamu buat aku kaget saja," ujar Nadia karena kedatangan David yang tiba-tiba. "Hmm aku jadi ingat kita dulu saat melihat Vanya dan Alex, tapi Vanya lebih beruntung dari aku karena Alex nggak kasar. Berbeda dengan kita yang saling membenci," terang Nadia yang berbalik menatap David. "Aku Kan minta kamu lupain itu, kenapa selalu diingat sih?" "Mungkin karena kita memang perlu saling menyakiti agar kita tahu seberapa dalam perasaan kita," ucap Nadia membuat David tersenyum. Kisah percintaan yang tidak mudah dan rumit, Nadia dan David berharap jika Lavanya dan Alex tidak akan serumit mereka. *** Jam menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit, kedua orang tua Vanya dan Lucas sudah berangkat menuju ke tempat makan malam. Sedangkan Vanya masih berada di dalam kamar duduk di depan meja riasnya. Ceklek. Pintu kamar Vanya di buka terlihat Alex yang berdiri di ambang pintu membuat Vanya terkejut. "Ketuk dulu bisakan Pak! Kalau saya masih telanjang gimana hah?" omel Vanya yang tidak ditanggapi Alex. "Buruan," ucap Alex yang memakai kemeja hitam. Vanya memoles bibirnya dengan lipstik agar tidak pucat, lalu dia bangkit dari duduknya mengikuti langkah Alex. Lavanya memakai gaun diatas lutut berwarna hitam dengan rambut yang dicurly. Alex membukakan pintu mobil untuk Vanya masuk lalu dia memutari mobil dan duduk ke kursi supir. Vanya mengeluarkan ponselnya dan fokus ke layar ponsel, Alex menatap Vanya dia lalu menyenggol lengan Vanya. Vanya hanya diam saat lengannya di senggol oleh Alex. "Apasih? Mau ngajak berantem lagi?" sungut Lavanya. "Belakang ada Mama," ucap Alex membuat Lavanya langsung menoleh. Wajahnya langsung pucat ketika melihat Mama Alex di kursi belakang. "Malam Tante," ucap Lavanya mencium tangan Lisa. "Maaf banget Tante, Vanya nggak lihat ada Tante," sambung Lavanya yang merasa tidak enak hati. "Nggak papa Sayang, kamu cantik banget malam ini," puji Lisa membuat Vanya tersenyum. "Tante juga cantik," balas Vanya. Dalam perjalanan Vanya selalu mengajak ngobrol Lisa agar suasana tidak canggung. Lisa sendiri terlihat senang melihat Lavanya dan Alex yang terlihat semakin dekat. Meskipun Alex yang dingin dan cuek tetapi sikap Vanya yang membuat Lisa yakin jika keduanya itu cocok. Mereka sampai di tempat makan malam, Vanya berjalan beriringan dengan Lisa sedangkan Alex berada di belakang mereka. Vanya tersenyum canggung saat sudah masuk ke ruangan itu. Ini pertama kalinya Vanya menghadiri makan malam itu setelah sekian lama. Terakhir kali Vanya menghadirinya saat berusia sembilan tahun. "Ini ya yang namanya Vanya, cantik banget," puji Lina saat Vanya mencium tangannya. "Makasih Tante," ucap Lavanya yang menyapa teman-teman orang tuanya. "Pendiam ya anaknya, pantas nggak pernah mau ikut makan malam," ucap Kevin. "Kalau di luar emang pendiam Om, tapi kalau dirumah paling ribut dia," ujar Lucas yang mendapat tatapan tajam oleh Lavanya. "Ayo kita makan, sudah pada datang kan," ajak David. Mereka pun menuju ke meja makan, Lavanya berdiri mematung karena bingung harus duduk dimana. Tiba-tiba Alex merangkul pinggangnya dan membawa Vanya untuk duduk disebelahnya. Alex menarik kursi untuk Vanya duduk, dan Vanya pun tidak menolaknya. Dia duduk disamping Alex dan Lucas kakaknya. Mereka pun mulai makan malam sambil sesekali mengobrol, Vanya hanya terdiam mendengarkan obrolan mereka. Vanya hanya sedikit memakan makanannya, sebenarnya dirinya khawatir jika berat badannya naik lagi. Alex yang berada di sebelahnya diam-diam memperhatikan Lavanya. Tetapi dia tidak mengatakan apapun. "Kenapa kok nggak dihabiskan?" Tanya Lucas yang berada di sebelah kiri Lavanya. "Nggak papa, udah kenyang Kak," jawab Lavanya. Selesai makan Lucas dan yang lainnya pergi dari sana pindah tempat duduk lain untuk mengobrol seperti biasa. Lucas sengaja tidak mengajak Lavanya karena disana juga ada Alex. Vanya yang tidak pernah ikut bersama mereka pun menjadi bingung. Dia tetap duduk disana dan disebelahnya Alex masih fokus dengan ponselnya. "Lex," panggil Raka membuat Alex menoleh. "Bentar," jawab Alex yang kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku. Tanpa berbicara dia langsung menggandeng tangan Lavanya agar ikut dirinya. Meski bingung Vanya tetap mengikuti langkah Alex. Mereka masuk ke dalam ruang VIP, Vanya duduk di sebelah Alexa yang masih memangku Arvin. "Halo ganteng," sapa Vanya membuat Arvin tersenyum. "Hy Tante," jawab Arvin yang minta di pangku oleh Lavanya. Lavanya dengan senang hati pun memangku Arvin, setidaknya dengan keberadaan Arvin membuat dirinya tidak canggung berada disana. "Lex nanti Mama pulangnya sama aku aja," ucap Alexa membuat Alex mengangguk. Tangan kiri Alex dengan posesifnya melingkari pinggang Vanya membuat Vanya merasa risih. Namun, dia tetap diam karena disana banyak orang. Sedangkan tangan kanan Alex fokus memegang ponselnya, dia seperti banyak kerjaan hari ini. "Mau nikah tetap saja sibuk lu Lex," celetuk Lucas menbuat Alex mendongakan kepalanya. "Nikah butuh duit, ya kali istri gue gue kasih makan batu," ucap Alex sambil mengelus pinggang Lavanya membuat Lavanya seperti tersengat listrik. "Pulang yuk," ajak Alex yang memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Belum jam sembilan ngapain pulang?" Tanya Raka saat Alex berdiri. "Gue harus keluar kota setelah ini, ada kerjaan yang harus gue selesaikan besok," terang Alex. Vanya pun memberikan Arvin kepada Alexa lalu dia berdiri. "Tante pulang dulu ya Arvin," pamit Lavanya. "Hati-hati Tante," ucap Arvin dengan gemasnya membuat Vanya tersenyum. "Duluan ya," pamit Alex yang menggandeng tangan Lavanya keluar dari ruangan itu. Saat mereka sudah keluar, Alex langsung melepaskan genggamannya. Dia kembali memasang muka datar tanpa memperdulikan Lavanya. Vanya berjalan mengikuti langkah Alex menuju ke mobil, dia masuk ke dalam mobil tanpa berkata Alex langsung menginjak gas dan mobil pun melaju. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, tidak ada yang memulai pembicaraan. Alex fokus menyetir mobil sedangkan Vanya hanya menatap keluar jendela. Rasa ngantuk pun datang menghampiri Lavanya membuat Lavanya akhirnya ketiduran dalam perjalanan. Alex tidak menyadari akan hal itu dia tetap fokus ke depan tanpa menoleh ke arah Lavanya. Kini mobil memasuki halaman rumah Lavanya, Alex menghentikan mobilnya. Dia lalu menoleh ke arah Lavanya, terlihat Lavanya yang masih tertidur. Alex pun terdiam sejenak memandang Lavanya, dia lalu keluar dari mobil. Alex berjalan memutari mobil dan membuka pintu tempat Lavanya duduk. Dengan hati-hati dia pun melepaskan seat belt yang Vanya gunakan lalu menggendong Vanya masuk ke dalam rumah. Seorang maid membukakan pintu untuk mereka, tanpa berkata Alex langsung membawa Vanya masuk ke dalam kamarnya. Alex masuk ke dalam lift menuju ke lantai tiga, dia lalu membuka pintu kamar Lavanya. Dengan hati-hati Alex merebahkan Lavanya di atas tempat tidur agar Lavanya tidak terbangun. Dia melepaskan high heels yang Vanya kenakan, lalu dia menyelimuti tubuh Lavanya. Setelah itu Alex keluar dari kamar Lavanya dan langsung pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN