Bab 8 Kesibukan Alex

1221 Kata
Vanya bangun dari tidurnya, dia melihat jam yang berada di atas nakas. Jam menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Vanya pun duduk sambil mengumpulkan nyawanya. Vanya memicingkan matanya berusaha mengingat kejadian semalam. "Aku kan ketiduran di mobil ya, ah paling Kak Lucas yang bawa aku ke kamar," ucap Vanya yang bakit dari tempat tidur. Dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena hari ini hari senin dia harus bekerja. Pukul tujuh pagi Vanya keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. "Pagi Mama, Pagi Papa," sapa Lavanya saat melihat kedua orang tuanya sudah berada di ruang makan. "Pagi juga Sayang," balas David. "Pagi juga Sayang, mau kerja hari ini? Kayaknya semalem kecapean makanya langsung tidur," tanya Nadia. "Harus kerja dong Ma, lagian Vanya udah nggak capek kok," tutur Vanya sambil tersenyum. "Pagi semua, maaf ya lama," ucap Lucas yang baru masuk ke ruang makan. "Pagi juga Kak," balas Lavanya yang sudah duduk di kursinya. Karena semua sudah berada di meja makan maka mereka pun mulai sarapan bersama. "Semalam pulang jam berapa kamu?" Tanya Nadia yang tidak melihat Lucas pulang. "Jam satu sampai rumah Mah, hehe maaf Mah," jawab Lucas sambil meminta maaf. Mendengar jawaban Kakaknya membuat Lavanya seketika terdiam. Karena dia berpikir tak lama dia pulang kakaknya pun pulang dan membawanya ke dalam kamar. "Oh ya semalem Alex beneran langsung keluar kota Va?" Tanya Lucas. "Hah? Nggak tau," jawab Vanya dengan jujur. "Lha emangnya kamu nggak nanya apa pas dia nganterin kamu pulang?" Tanya David. "Nggak Pah," jawab Vanya dengan polosnya. "Vanya ketiduran di mobil dan sampai sekarang belum chat pak Tama lagi," sambung Vanya. "Memangnya kenapa?" "Kantor cabang di Semarang kebakaran Va, makanya Alex kesana," jawab Lucas membuat Vanya terdiam. "Jadi semalem ada yang digendong sampe ke kamar nih ye," goda Lucas membuat Vanya memukul lengannya. "Apaan sih Kak," gerutu Vanya membuat Papa Mamanya tertawa. "Gimana, calon yang Papa jodohin baikkan? Nggak salahkan pilihan Papa?" ucap David yang tidak di tanggapi Lavanya. "Udah udah jangan digodain terus Vanya nya nanti ngambek loh," ujar Nadia menghentikan Lucas dan David agar tidak menggoda Lavanya lagi. "Iya Mah," ucap Lucas. "Sudah jatuh cinta belum sama Alex?" "Kakak!" keluh Lavanya membuat Lucas terkekeh. "Dah ah Vanya berangkat," ucap Vanya dengan kesal. Dia bangkit dan mencium tangan kedua orang tuanya. "Nggak dihabiskan dulu Sayang?" Tanya Nadia saat Vanya mencium tangannya. "Gak, udah kenyang. Assalamu'alaikum," ucap Vanya yang berjalan keluar dari rumah dengan muka masamnya. "Vava jangan marah," teriak Lucas yang tidak didengarkan Lavanya. "Kamu sih, sudah tau adiknya betean masih aja godain," omel Nadia. "Maaf Mah, lagian lucu kalau godain dia hehe," ucap Lucas yang tidak ada kapok-kapoknya membuat Lavanya kesal. Lavanya menaiki taxi menuju ke perusahaan tempat dia bekerja. Disana dia langsung menuju ke ruang kerjanya, dia menyalakan komputernya untuk mulai bekerja. Ting. Satu pesan masuk ke dalam ponselnya membuat Vanya meraih ponselnya dan membuka pesan itu. Cecil: "Beb, pulang kerja gue jemput ya." Vanya: "Okay Sayang." Jawab Vanya yang kemudian meletakkan ponselnya lagi dan kembali fokus untuk bekerja. Di kantor banyak yang membicarakan soal kantor cabang yang kebakaran. Kerugian diperkirakan cukup besar karena ada beberapa berkas yang terbakar. Vanya hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa ikut menimpali. Mendengar obrolan mereka membuat Vanya khawatir dengan kondisi Tama. Dia pun membuka ponselnya hendak mengirim pesan kepada Tama, namun Vanya terlihat ragu. "Vanya, makan yuk," ajak Dila teman kerjanya. "Oh iya," jawab Vanya yang bangkit dari duduknya mengikuti langkah Dila menuju kantin. Sampai disana Vanya memilih memesan bakso untuk makan siangnya. "Pak Tama nggak kelihatan ya," ujar Dila. "Kayaknya di Semarang deh," ucap Feny yang duduk di depan Vanya. "Aku denger-denger sih ada yang sengaja ngebakar gitu, kayaknya saingannya Pak Tama deh," sambung Feny. Vanya hanya mendengarkan obrolan mereka. Semakin mendengar pembicaraan mereka semakin membuat Vanya khawatir dengan Tama. Dia pun mengeluarkan ponselnya berniat mengirim pesan kepada Tama. Vanya: " Pak, sudah makan?" Tanya Vanya singkat, Vanya memutuskan mengirim pesan kepada Tama. Walaupun dia tidak suka dengan Tama tetapi Tama tetaplah calon suaminya. Memberikan sedikit perhatian tidak salah pikirnya. "Va, Vanya," panggil Dila membuyarkan lamunan Lavanya. "Ah iya kenapa?" Tanya Vanya. "Kamu dari tadi kenapa sih? Ngelamun mulu," tanya Dila. "Hm nggak papa," jawab Lavanya menggelengkan kepalanya. "Sudah nggak usah mikirin Jordan lagi, cowok masih banyak nggak usah mikirin cowok b******k," ucap Feny yang mengira jika Lavanya masih memikirkan Jordan. Vanya pun hanya tersenyum mendengar perkataan Feny. *** Pulang kerja Lavanya sudah ditunggu Cecil di depan, dia adalah Cecilia teman kuliahnya dulu yang sekarang menjadi sahabat dekatnya. Vanya tersenyum melihat Cecil yang sudah menunggunya. "Sory lama ya?" "Nggak papa santai aja," ucap Cecil. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil. "Kita makan di apartemen gue aja ya," sambung Cecil yang mendapat anggukan dari Lavanya. Cecil mengendarai mobilnya menuju ke apartemen miliknya dengan kecepatan sedang. Sampai di apartemen keduanya langsung masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. "Mau makan apa?" Tanya Cecil yang duduk disebelah Lavanya. "Pizza ajalah," jawab Lavanya. Cecil lalu memesan pizza untuk mereka berdua. "Sorry ya gue baru balik, gimana ceritanya?" Tanya Cecil. Dia baru saja pulang berlibur dengan Kakaknya, dan baru bisa menghampiri Lavanya hari ini. Cecil terlihat kesal saat Lavanya menceritakan soal Jordan yang selingkuh. Dia tidak terima sahabatnya diselingkuhi seperti itu. "Udah-udah nggak usah dipikirin lagi, lupain Jordan ya," ujar Cecil yang mengusap pundak Lavanya. "Lu kalau mau nangis nangis aja nggak usah ditahan gitu," sambung Cecil. Vanya menghela nafasnya untuk menenangkan hatinya. "Masih sakit sih rasanya, apalagi saat Papa netapin pernikahan aku tanggal dua Maret," ucap Lavanya. "Hah?" Tanya Cecil terkejut. "Serius?" "Hm iya, hati gue belum sembuh Ce malah harus nikah sama orang yang nggak gue cintai." "Udah ketemu Alex? Gimana orangnya?" "Alex yang Papa gue maksud itu ternyata Pak Tama, bos gue yang dingin itu," terang Vanya membuat Cecil kembali terkejut. "Kezel bangetkan." "Eh tapi lu tau nggak sih, cowok dingin tuh biasanya lebih romantis tau," timpal Cecil agar Lavanya tidak mengeluh lagi. Ting tong. Terdengar bel berbunyi, Cecil pun bangkit dari duduknya untuk membuka pintu. Ternyata pizza pesanan mereka datang, Cecil membawanya ke ruang tamu. "Gue ambilin minum dulu," ucap Cecil setelah meletakkan pizzanya di atas meja. "Air putih aja," ucap Lavanya. Tak lama kemudian Cecil kembali dengan membawakan dua gelas berisi air putih untuk mereka berdua. Mereka berdua kembali mengobrol sambil memakan pizza. Pukul sembilan malam Cecil baru mengantar Lavanya pulang, dia langsung berpamitan dengan Nadia. Setelah Cecil pulang Lavanya masuk ke dalam kamarnya, dia meregangkan tangannya lalu menuju ke kamar mandi untuk mandi. Karena sudah malam Vanya memilih untuk tidak berendam di bathtub dia langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Selesai mandi Lavanya memakai baju tidurnya dan duduk di meja rias untuk memakai skincare malamnya. Ting. Satu pesan masuk ke dalam ponselnya membuat Vanya meraih ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur. Pak Tama: "Sudah." "Aku chat kapan dibalasnya kapan, singkat padat dan jelas nggak ada niatan nanya balik gitu," gerutu Lavanya saat membaca balasan pesan dari Alex. Dia lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur lagi dan tidak berniat membalas pesan itu. Setelah selesai memakai skincare, Vanya memilih untuk langsung tidur. Dia merebahkan dirinya diatas tempat tidur dan menutup dirinya menggunakan selimut. Dilain tempat Alex baru saja sampai di hotel tempatnya menginap, dia baru selesai membereskan masalah kantor yang terbakar. Namun, siapa dalang dibalik itu semua sebenarnya belum diketahui. Kepala Alex terasa pusing karena hal itu harus terjadi disaat dirinya masih sibuk mengurus pernikahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN