Tak ada yang lebih membuat Alex sedemikian marah dan bertindak menggila ketika menyaksikan seseorang melukai Jillian tepat di depan matanya.
Tiga orang berpakaian hitam ada di dalam Bloem’s. Satu di antaranya memukul kepala Jill hingga gadis itu menjerit. Jill terhuyung, berusaha melindungi kepalanya dengan kedua lengan yang disilangkan tepat di depan wajah.
Alex memelesat. Seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Target pertama yang ditujunya adalah penyerang Jill. Alex memukul pria tersebut dengan keras tepat di tulang rahangnya. Pistol yang tadinya digunakan untuk memukul Jill terlempar begitu saja. Alex menendang, membuat pria di hadapannya terhuyung ke belakang, menubruk rak-rak kayu yang menempel di dinding. Kaleng-kaleng besar berisi bunga yang ada di atasnya segera jatuh berhamburan. Menimbulkan bunyi gaduh memekakkan telinga. Papan-papan kayunya patah.
Si pria merunduk, mengambil patahan kayu lalu memukulkannya ke arah Alex. Alex menahan pukulan tersebut dengan lengan kirinya sebelum berhasil menghantam tubuhnya. Alex mendorong Jill, menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Dua orang lainnya mendekat, masing-masing membawa sesuatu sebagai senjata dadakan. Papan, kaleng besar, bahkan pipa besi kecil panjang tempat menggantung pot.
Alex menendang-nendang secara membabi buta. Salah satu dari tiga pria tersebut berhasil memukul kakinya menggunakan pipa besi. Lutut Alex tertekuk seketika, membuatnya berlutut dengan paksaan. Tak disia-siakan, seorang lainnya memukul punggung Alex dengan papan kayu. Sisanya, berusaha menarik tubuh Jill dari perlindungan Alex.
Alex mencoba bangkit, meninju pria yang mencengkeram lengan Jill. Pria tersebut jatuh tersungkur, membuat Alex memilih untuk menendangnya berulang-ulang kali hingga sasarannya bergelung melindungi diri. Ketika dilihatnya salah satu dari mereka mengambil pistol yang tadi sempat terjatuh, Alex segera meraih lengan Jill. Menariknya berlari menjauh.
Mereka menerobos para pejalan kaki yang memadati trotoar. Tak urung, beberapa di antaranya memaki-maki Alex ketika dia mendorong mereka terlalu keras. Alex dan Jill berlari bersisian, berderap, menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari Bloem’s.
“Masuk!” Alex berteriak kepada Jill yang sempat terlihat bingung, sementara dirinya sudah hampir duduk di belakang kemudi. Jill menurut, terburu-buru masuk ke sisi penumpang.
Alex menyalakan mesin, menekan pedal kuat-kuat hingga mobilnya melesat cepat. Dia menyetir dengan ugal-ugalan, membelah jalanan. Di belakang, tampak mobil van hitam mengejar mereka dengan kecepatan yang juga tak dapat diremehkan. Sepertinya, para penyerangnya bergerak cepat membuntuti.
Alex menyelip dengan lihai, menghindari mobil-mobil yang geraknya sedikit lamban. Tubuh Jill terguncang ketika Alex beberapa kali melakukan manuver. Alex melirik gadis di sampingnya lalu berteriak,”Pasang seatbeltmu!”
Jill terlihat shock. Tangannya mencengkeram erat-erat pegangan di bagian atas pintu mobil. Wajahnya pias.
Alex tak sabar sekaligus tak tega. Satu tangannya mencengkeram kemudi erat-erat, tangan lainnya menarik seatbelt milik Jill. Ketika hampir saja mengunci seatbelt, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari salah satu jalan kecil di samping kanan mereka. Alex terkejut. Dia membanting mobil ke kiri, sedikit turun dari jalan beraspal, melindas kerikil-kerikil dan bebatuan kecil tak rata di atas tanah. Mobilnya berguncang-guncang hingga nyaris kehilangan kendali.
Alex membanting setir. Membuat mobilnya kembali berada di jalanan mulus yang ditandai dengan satu guncangan kecil ketika rodanya naik ke atas aspal. Lagi, Alex menarik seatbelt dan berhasil menguncinya untuk Jill.
Tak berhenti sampai di situ. Tiba-tiba saja terdengar bunyi letusan yang memekakkan telinga. Alex menoleh ke belakang. Para musuh yang mengejar mereka dengan van hitam mengacungkan senjata api.
“Alex! Mereka akan membunuh kita!” Jill panik.
Alex mengerem mobilnya mendadak. Memutarnya lalu berbalik arah seketika. Kemudian, dia menekan pedal kuat-kuat. Dengan kecepatan penuh, dia memelesat. Melaju sekencang mungkin seolah-olah hendak menantang dan menubruk van hitam dengan sengaja.
“Alex! Apa yang kau lakukan? Kita akan mati!”
“Tidak akan.”
Alex berhasil melewati van hitam dengan mulus. Terus melaju dan melarikan diri masuk ke dalam jalan bebas hambatan. Dia semakin menambah laju mobilnya hingga mobil van hitam di belakang mereka sudah tak terlihat lagi.
“Jill— kau oke?” Alex melirik Jill yang masih saja terlihat tegang dan tak berani bergerak. Dia melihat ada darah segar di dahi gadis itu. Mungkin bekas pukulan yang tadi. “Jill, kau berdarah.”
“A— apa?” Jill menggerakkan tangannya. Meraba-rabai dahinya. Ketika ada noda darah menempel di jarinya, dia menjerit keras-keras.
***katiamidela***
Ketika matahari sudah hampir beranjak tinggi di atas kepala, Jill baru membuka mata. Sprei putih, dinding putih, ruangan yang begitu tertata rapi. Sesaat, dia belum ingat sepenuhnya dimana dia berada saat ini. Tempat asing yang sama sekali tak dikenalinya.
Jill menyibakkan selimut, kedua kaki telanjangnya yang turun dari ranjang diselipkannya pada sandal tipis berwarna putih. Kepalanya luar biasa pening, hingga tubuhnya terasa oleng ketika dia mencoba berdiri tegak. Jill berjalan pelan-pelan menuju jendela yang tertutup tirai berwarna hitam. Dalam sekali sentakan, dia membuka tirai tersebut. Membuat ruangan seketika menjadi terang oleh cahaya matahari.
Jill menyipitkan mata, menatap ke arah luar jendela. Tak perlu berpikir lama, dia langsung menyadari bahwa dirinya berada di area apartemen Montmartre. Lalu, mata Jill menatap gedung di seberang. Dia menyipitkan mata. Tepat di seberang, di lot apartemen yang sejajar dengan tempatnya berdiri sekarang, Jill menyadari bahwa di seberang sana adalah apartemen miliknya. Gedung dengan dinding bercat kuning dengan ciri khas mural bunga matahari. Balkon dengan warna-warni bunga yang ditanam di dalam pot hingga ke seluruh dinding balkon. Jill yakin, sepenuhnya yakin itu adalah apartemen miliknya.
Mata Jill teralih pada teropong yang dipasang pada tripod dan mengarah ke gedung seberang. Jill merunduk, mencoba mengintip kemana fokus teropong ini menuju. Dugaannya tak meleset. Memang benar, pemilik apartemen ini sedang mengawasinya. Di dinding dekat jendela, dia baru menyadari ada foto dirinya dalam ukuran sedang. Jill berjalan mendekat. Di sampingnya, ada foto dirinya yang tengah berada di Bloem’s Florist dan apartemen yang ditinggalinya. Serta selembar kertas putih yang ditempel di bagian bawah foto dirinya. Kertas tersebut bertuliskan nama Jill, beserta beberapa kebiasaannya yang rutin dilakukannya. Di bagian atas kertas, ditulis dengan spidol berwarna merah dan dilingkari dengan tegas : Misi Pandora.
Dahi Jill berkerut samar. Pandora? Seolah-olah menyadari sesuatu, Jill reflex meraba-rabai lehernya yang kini telanjang. Kalungnya hilang! Belum selesai keterkejutannya, derik pintu terdengar. Ketika ia membalikkan badan, didapatinya Alex telah berdiri di ruangan yang sama.
"Kau sudah sadar?" Alex tampak sama terkejutnya ketika melihat Jill tengah berdiri di depan jendela. Jeda sesaat, tanpa menunggu jawaban, Alex berjalan mendekat dan langsung menubruk Jill. Menenggelamkan tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya.
Jill tak berani bergerak. Dia hanya diam mematung sembari berusaha mengumpulkan ingatan tentang kejadian sebelumnya di Bloem’s. Yang jelas, sepertinya dia tak sadarkan diri ketika melihat noda darah di dahinya.
Lalu, semuanya menjadi semakin membingungkan ketika dia terbangun dan menemukan sesuatu hal yang janggal di sini. Takut-takut, Jill bertanya,”Kau— selama ini memata-mataiku?”
ῶῶῶ
"Kau— selama ini memata-mataiku?"
Hati Alex mencelus, mendadak hampa ketika Jill menuduhnya demikian. Maka, ketika dilepasnya tubuh mungil Jill dari dalam pelukan, genap sudah kekosongan dalam jiwanya.
"Alex?"
Alex tahu, gadis itu menuntut jawabannya. Dirangkupnya wajah Jill dengan satu tangan. Dilihatnya lekat-lekat wajah pias yang berubah ketakutan di depannya. Alex, tak ingin mengaku. Tidak, tidak untuk saat ini. Tidak pula untuk selanjutnya. Dia, terlalu takut kehilangan Jill. Namun, di saat yang bersamaan dia harus kehilangan Jill agar gadis itu tak semakin terluka.
Tak punya pilihan lain, Alex kembali menarik Jill dalam pelukannya. Semakin Jill meronta, semakin Alex memperat pelukannya. Alex sudah mengambil kalung milik Jill, lalu menyerahkannya kepada Magnus. Seharusnya, semuanya sudah usai. Seharusnya, Jill tidak akan terluka lagi seperti ini.
ῶῶῶ
Jill meronta. Untuk pertama kalinya sejak bertemu Alex, dia disergap ketakutan. Alex memata-matainya. Untuk apa?
“Maafkan aku—.”
Didengarnya Alex berbisik lirih tepat di telinganya. Jill memukul-mukul tubuh Alex, meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun, tubuh mungilnya tentu saja bukan tandingan yang sepadan bagi lelaki itu. Lelah, dia berhenti. Waktu seolah-olah membeku. Dan Alex masih tak melepaskan pelukannya.
Kemudian, tanpa peringatan terlebih dahulu, lelaki itu merenggangkan pelukannya. Sebagai gantinya, dia merangkup wajah Jill dengan kedua tangan. Lalu, dihujaninya Jill dengan ciuman memburu, menuntut. Kedua tangan Alex berpindah, jari-jemarinya masuk ke dalam juntai-juntai helai rambut Jillian. Ada luapan emosi yang tak terkatakan dalam ciumannya.
Tiba-tiba, seseorang mendobrak pintu. Sontak, Alex dan Jill menoleh ke sumber suara. Keheningan terpecah oleh keributan yang sekonyong-konyong muncul dalam sosok beberapa orang berpakaian setelan gelap.
Alex melepaskan pelukannya. Dia membalikkan badan, menyembunyikan tubuh Jill dalam perlindungannya. “Kalian siapa? Mau apa?”
Mereka tak sudi menjawab. Sebagai gantinya, langsung merangsek maju dan menyerang. Alex memukul dan menendang dengan acak. Namun, bisa dipastikan bagaimana akhirnya karena mereka kalah jumlah.
Salah satu dari pria berpakaian hitam mendekati Jill, lalu membekap mulut Jill dengan kain putih yang dilipat-lipat menjadi satu. Jill meronta. Pria tersebut memegangi lengan Jill dengan kencang. Bau menyengat sengaja dihirupkan kepada Jill, membuat gadis itu tak punya pilihan lain. Tubuhnya lemas, kakinya lunglai. Lamat-lamat, dilihatnya mereka juga melakukan hal yang sama kepada Alex.
Setelahnya, matanya terasa berat. Dan dia merasa tubuhnya begitu ringan. Melayang-layang dengan mudah, terjatuh dalam gendongan salah satu lelaki berpakaian hitam.