Bab 3 - Bloems

1005 Kata
Namanya Jillian. Dia biasa dipanggil Jill. Alex tengah berdiri mematung di depan sebuah pintu kaca besar di balkon apartemennya, hingga kakinya nyaris kesemutan karena saking pegalnya. Tatapannya tertuju pada balkon gedung sebelah. Apartemen yang ditempati oleh target buruan barunya.  Alex memutuskan untuk mengintainya lebih lama lagi. Tentunya dengan pergerakan yang tak kentara. Maka, ia meminta Magnus mengatur berbagai hal agar Alex dapat menyewa apartemen di gedung Picasso, dengan posisi paling strategis. Tepat berhadapan dengan apartemen target. Ketika melihat foto serta data diri yang dikirimkan Magnus melalui email, Alex sedikit terkejut. Target yang bernama Jillian, atau seperti kata Magnus biasa dipanggil Jill, adalah gadis bernasib malang yang ditemuinya di kafe kopi kemarin. Gadis dengan sweter merah jambu dan rambut berwarna brunette yang digelung secara asal-asalan. Meski, ya, gelung asal-asalan seperti itu terlihat seksi sekaligus menggemaskan di mata Alex. Gadis yang entahlah, mungkin sedang tidak beruntung karena ikut terseret dalam kasus perselingkuhan salah sasaran. Alex mendesah. Gadis itu kini jadi buruannya. Ah, bukan, bukan. Lebih tepatnya berlian yang dimiliki gadis itulah yang jadi buruannya. Berlian yang diberi nama Pandora, yang sangat diinginkan oleh klien yang menyewa dirinya melalui Magnus. "Baiklah, mari bekerja dan selesaikan ini dengan cepat," Alex bergumam pada diri sendiri. Ketika melihat gadis itu menutup tirai pintu balkonnya, maka Alex pun melakukan hal yang sama. Dia membalikkan badan, dalam gerakan cepat meraih jaket bertudung dan topi berwarna hitam yang dikaitkan pada cantolan tiang kayu di dekat pintu, mengenakannya dengan gegas, mengunci pintu apartemen, lalu turun ke bawah.  Tepat di saat Alex keluar dari gedung, di saat yang sama gadis itu juga keluar dari gedung sebelah. Hari ini dia terlihat mengenakan rok lipit warna merah marun selutut dan sweter putih berlengan panjang dengan kerah berenda menutup leher. Jill tidak mengenakan sepatu hak tinggi sesuai padanan busananya. Dia justru mengenakan running shoes berwarna merah jambu yang menyala. Melihat itu, dahi Alex berkerut. Sungguh selera fashion yang yah, terasa menyedihkan. Alex merapatkan jaket dan menurunkan topi hingga menutupi sebagian wajah. Dia ikut berjalan dengan menjaga jarak aman beberapa langkah di belakang kaki Jill. Meski demikian, Alex dapat mencium aroma gadis itu.  Alex menaikkan kedua ujung bibirnya, tersenyum samar. Dia menyukai aroma bunga segar yang menguar dari tubuh Jillian. Semacam perpaduan aroma stroberi dan lemon segar.  Jill berhenti pada sebuah halte bis terdekat, duduk di satu-satunya bangku kayu panjang yang tersedia. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, terlihat tekun dan serius seperti tengah memeriksa sesuatu hal yang teramat penting.  Alex mengambil tempat, duduk tak jauh dari Jill. Namun, cukup dekat untuk tahu apa yang dilakukan oleh gadis itu. Beberapa orang yang juga duduk di dekat mereka, mampu menyamarkan posisi Alex. Sebuah bis berhenti di depan mereka. Jill buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas lalu berjalan gegas naik ke dalam bis. Gadis itu berjalan pelan-pelan ke tengah. Melewati beberapa penumpang yang berdiri berdesak-desakan. Alex pun melakukan hal yang sama. Kondisi di dalam bis yang sedemikian sesak memaksa Jill tetap berdiri dan berpegangan erat pada tiang besi yang dipasang melintang di atas kursi penumpang. Tingginya seukuran lengan orang dewasa di atas kepala. Bukan hal yang sulit bagi Jill. Tubuh rampingnya memudahkan ia menyelinap dengan lincah diantara penumpang, lalu tangannya langsung mencengkeram erat pegangan besi. Tentu saja, lagi-lagi Alex mengekor, mencoba berdiri di belakangnya. Mata Alex melihat ada sebuah pergerakan di antara padatnya penumpang yang berdiri. Sesosok laki-laki berpakaian hitam menyelinap, mengambil tempat tepat di samping Jill. Tangannya terulur masuk ke dalam tas gadis itu tanpa kentara. Alex mendekat. Tangannya mencengkeram erat lengan si laki-laki, membuatnya menoleh sembari meringis kesakitan. Alex menatapnya tajam. Si pengutil berusaha melepaskan cengkeraman Alex, namun Alex semakin mempererat genggamannya.  Kali ini, Alex bahkan memuntir lengan lelaki itu, meremas kelima jemarinya sekuat mungkin. Si pengutil mengaduh tanpa bersuara. Bis berhenti dan mengerem tiba-tiba. Alex sedikit terhuyung. Bersamaan dengan itu cengkeramannya terlepas dan si pengutil bergegas menjauh dari jangkauan Alex. Alex mengumpat. Terlebih ketika ia menyadari Jill telah berlalu dari sisinya. Alex mengedarkan pandangan dengan panik. Melalui kaca jendela, ia melihat Jill turun ketika bis berhenti. Dan kini, bis kembali berjalan. "Sial!" Alex berlari ke depan. Langkah kakinya menggema. Dia meminta sopir membuka pintu kembali dengan cara mengetuk-ngetuk kacanya secara memburu. Si sopir sedikit menggerutu. Namun, tak urung pintu pun terbuka. Alex dengan cepat turun dari bis. Berjalan gegas, setengah berlari. Kakinya berderap. Matanya tak lepas dari sosok Jill yang berjalan santai beberapa langkah di depannya. Jill berjalan di pedestrian yang dinaungi oleh daun-daun hijau dari dahan pohon trembesi yang berjajar-jajar di sepanjang tepian jalan. Melewati beberapa bistro dan kafe, serta toko-toko kecil yang menjual pernak-pernik hiasan. Dia terlihat beberapa kali menganggukkan kepala dan melambaikan tangan, menyapa orang-orang yang ditemuinya dengan ramah. Gadis itu berhenti di depan sebuah toko yang di depannya terdapat empat jendela kaca besar dan satu pintu kaca. Seluruh kusen dan dinding pada bagian fasad depannya dicat warna hijau tosca. Kanopi kain berwarna merah jambu dengan ujung rumbai berbentuk setengah lingkaran, menutupi sedikit bagian depan toko. Jill membuka pintu dan masuk ke dalam. Tak berapa lama, dia kembali keluar. Tubuh rampingnya terlihat tenggelam oleh satu timba kaleng besar yang didekap di depan dadanya. Dia menarik plastik-plastik bening tembus pandang yang menutupi kotak-kotak kayu di depan jendela. Jill tampak menyusun bunga-bunga yang dipindahkannya dari dalam kaleng ke dalam kotak-kotak kayu.  Seorang laki-laki tua yang keluar dari bistro di seberang, menyapanya. Jill balas melambaikan tangan, lalu ikut tersenyum. Rambut ikal brunettenya terlihat berkilau-kilau ditimpa cahaya matahari pagi. Ketika gadis itu menoleh padanya, tatapan mereka tak sengaja bertemu di udara.  Senyumnya sungguh memikat. Seolah mampu merenggut kemuraman hati seseorang.  Alex menahan-nahan diri untuk tak terlarut dalam senyuman gadis itu. Sebelum membalikkan badan, dia melihat sebuah mobil Lexus hitam berhenti di depan toko. Seorang laki-laki mengenakan jas dengan dandanan rapi dan formal keluar dari mobil tersebut. Dia melambaikan tangan. Membuat senyuman Jill terkembang semakin lebar. Begitu membalikkan badan, Alex menekan alat komunikasi di telinganya. "Magnus, tolong kirimi aku mobil sport dan satu setel pakaian bersih." Sebelum Magnus bereaksi, Alex menambahi, "Aku mau jas Armani. Jangan lupa. Kau bisa mengejanya, kan? Ar—ma—ni." Kemudian Alex menutup sambungan teleponnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN