Montmartre
Alamat yang dimaksud Magnus adalah sebuah komplek apartemen yang terdiri dari empat gedung yang tak terlalu tinggi. Alex menghitung ada lima tingkat balkon. Berarti di tiap bangunan hanya terdiri dari lima lantai. Gedungnya relatif masih baru. Dengan desain semi klasik yang tiap-tiap dindingnya dicat berwarna-warni.
"Van Gogh," Alex bergumam. Kacamata hitamnya sengaja dilepas saat pandangannya tertuju pada bangunan di samping kanannya yang bertuliskan frasa yang sama dengan yang dimaksud Magnus dalam pesan pendeknya.
Alex berjalan maju. Mengamati bangunan tersebut dengan seksama. Blok Van Gogh dicat dengan warna kuning yang menyala. Dengan aksen mural berupa sekumpulan bunga matahari yang juga berwarna kuning, pada salah satu dinding di bagian luar di dekat pintu masuk gedung. Alex menebak, mural tersebut mengacu pada Vase with Five Sunflowers milik Van Gogh.
Dia tidak kuper-kuper amat. Setidaknya, dia tahu judul salah satu lukisan Van Gogh.
Alex menengadahkan kepala. Menatap pada balkon-balkon di tiap-tiap kamar yang berhadap-hadapan dengan gedung di depannya. Balkon tersebut dikelilingi oleh besi veerkan berukir yang meliuk-liuk dan dicat warna hitam anti karat. Sebagian di antaranya ada yang sudah diganti dengan susunan tembok bata ekspos warna merah tua.
Tepat di depan gedung Van Gogh, Alex mendapati sebuah gedung lain yang dicat dengan d******i warna biru. Alex berjalan mendekat, menemukan papan nama Picasso pada bagian atas pintu masuk. Lagi, dia menengadahkan. Mempelajari posisi yang memungkinkan untuk pengintaiannya nanti.
Setelah menemukan apa yang dicarinya, Alex tersenyum. Dia menyentuh alat di telinganya dan suara Magnus kembali terdengar tak lama kemudian.
'Ya, Alex?'
"Aku ingin bayaranku dinaikkan dua kali lipat untuk kasus ini."
'Diamlah, Alex. Atau aku tidak akan pernah menyetujui permohonan pensiunmu.'
“Tiga kali lipat.”
‘Satu setengah!’
Alex terkekeh. Ia tak menunggu hingga malam turun untuk memulai pergerakan. Dia masuk ke dalam gedung diam-diam, menyelinap melewati pos penjagaan dengan mulus, mencari tangga untuk jalan naik ke atas. Sesampainya di atap, Alex merasa keberuntungan tengah berpihak padanya. Suasana tengah lengang dan dia yakin tak akan ada seorang pun memperhatikannya.
Alex menoleh ke bawah, memperhitungkan jarak dan lokasi yang akan dituju. Dia mengambil ancang-ancang, merunduk, berpegangan pada balok pengaman sepanjang tepian atap. Lalu dalam sekali gerakan ayun dia sudah turun satu lantai di sebuah balkon. Seekor kucing berbulu kelabu mengeong dengan keras ketika kaki Alex menjejak lantai balkon tempat dia bermalas-malasan. Kucing itu tiba-tiba saja bangun dan mengeluarkan geraman. Bandul kalungnya berbunyi tiap kali si kucing gendut bergerak. Dan rupanya hal itu menarik perhatian si pemilik.
"Tom, kenapa kau mengeong seperti itu?" Terdengar suara wanita dari dalam apartemen. Disusul suara langkah kaki mendekat ke arah balkon. Dari nada derapnya yang nyaris tak terdengar,
Alex menebak pemilik langkah kaki tersebut membalut kakinya dengan sandal rumahan
berbulu yang tebal.
Dengan cepat, Alex berpegangan pada besi tepian balkon. Berayun sekali lagi untuk sampai ke balkon sasaran. Saat menjejakkan kaki pada lantai, ia nyaris menyenggol salah satu pot berisi bunga yang tertata sepanjang tepian besi pengaman balkon.
Alex merapat ke salah satu dinding tepat ketika si wanita pemilik kucing berkata. "Ada apa Tom? Tidak ada apa-apa di sini. Kenapa kucing ini begitu berisik hari ini?”
Suara kucing yang masih saja berisik itu berubah samar lalu menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup.
Alex merabai pintu kaca di depannya. Dia tak perlu repot-repot mencongkel ataupun merusak kunci. Tampaknya, si pemilik balkon orang yang teledor. Dia meninggalkan apartemen dalam keadaan pintu balkon yang tak terkunci.
Alex berjalan gegas. Masuk ke dalam lalu memulai pencariannya. Di ruang tamu, ia bergerak mendekati sebuah meja lampu di samping sofa dengan nakas bertumpuk. Memeriksa tiap lapis isinya. Lalu, ia memeriksa karpet, bantal sofa, dan semua tempat yang memungkinkan untuk menyembunyikan benda berharga. Semua dilakukannya dengan rapi. Tanpa merubah sedikit pun susunan awal perabot si target.
Pencariannya yang terakhir di area ruang tamu adalah dengan mengetuk-ngetuk tiap-tiap bagian dinding. Mencoba menemukan tempat persembunyian rahasia. Namun, hasilnya nihil. Sesaat kemudian terdengar suara anak kunci dimasukkan ke dalam pintu. Alex terkesiap. Ia semakin yakin target telah kembali pulang saat mendengar suaranya dari balik pintu. Dia berdiri tegak, secepat kilat berlari ke arah balkon. Lalu, Alex terpaksa menghentikan pencariannya. Ia memanjat besi pengaman, sedikit berjinjit untuk meraih pembatas balok di atas kepalanya. Mengambil ancang-ancang, lalu dalam satu kali ayun ia berhasil memanjat kembali ke balkon atas tempat si kucing malas.
Kucing itu berdiri di depan pintu di dalam apartemen. Ketika melihat Alex, si kucing kembali mengeong dengan kencang. Tubuhnya menegang. Alex tak mau ambil resiko. Ia kembali berayun hingga berhasil sampai di lantai atap. Alex menarik napas. Nyaris saja ketahuan. Dia lalu menekan alat di telinganya hingga suara Magnus kembali terdengar.
‘Ya Alex?'
"Aku belum berhasil menemukan berlian itu." Alex mundur, menyandarkan punggungnya pada tepian atap gedung. “Kau yakin di sini tempatnya?”
'Apa rencanamu selanjutnya?'
Alex diam untuk sesaat. Sebagai gantinya ia berdiri, meletakkan tangannya di pinggang kemudian mengamati sekeliling dengan seksama. Lalu, ia berkata,"Aku ingin menyewa apartemen di Gedung Picasso. Akan aku kirimkan nomor apartemennya padamu."Alex menatap salah satu kamar pada gedung di seberangnya. "Tolong aturkan segera. Paling lambat malam ini."
***
"Marco, aku benar-benar minta maaf." Jill mendesah. Satu tangannya memegang ponsel yang ditempelkan di telinga, sementara tangan yang lain sibuk memasukkan anak kunci ke dalam lubang kunci pintu apartemennya. Seharusnya, itu pekerjaan teramat mudah. Namun, Jill terlalu kacau untuk bisa melakukan hal normal dengan pikiran yang jernih.
'Apa kamu baik-baik saja?'
"Jangan mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa menyesal karena tidak bisa mengirim bunga-bungaku hari ini. Maaf." Jill mendorong pintunya dengan sedikit kesal. Buket tulip yang diapit oleh salah satu lengannya nyaris terjatuh ketika ia berusaha meraih pegangan pintu. Saking kesalnya, ia membalikkan badan dan langsung menutup pintu dengan salah satu kaki.
Jill masuk ke dalam apartemen. Berjalan menuju pantri dan mengisi vas kaca dengan air dari keran yang mengalir. Dia lalu memindahkan buket tulip miliknya dari pembungkus kertas berwarna coklat ke dalam vas. Dia masih mengapit ponsel diantara bahu dan telinga. Seolah lupa bahwa tengah berbicara dengan Marco, dia menggerutu. "Wanita itu menyiram kopi ke wajahku, ke laptopku yang sedang menyala, juga ke atas kertas yang berisi sket desainku. Aku hanya sedikit–kesal."
Jill mendesah lagi. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan berlebihan. Satu jam yang lalu, Jill memilih untuk membuka tokonya lebih siang. Dia ingin mengerjakan sketsa-sketsa bunga dan quote dari cat akrilik yang dilukis di atas potongan kayu dengan tone kusam yang tak sempat disentuhnya selama beberapa hari. Semua itu pesanan dari para pelanggannya.
Maka, kafe kecil dengan andalan aneka menu baking, seperti kue-kue manis dengan taburan icing sugar di atasnya dan dipadu kopi menjadi pilihannya kali ini. Meski alasan sebenarnya ia memilih tempat itu adalah karena kopinya yang enak. Jill pecandu kafein. Dan bekerja ditemani aroma nikmat kopi yang menyengat membuatnya jauh lebih bersemangat.
Lalu, semua rencana briliannya hancur seketika. Seorang wanita tiba-tiba saja datang dan membuat keributan dengannya. Menumpahkan gelas kopi kedua yang dipesan Jill. Bukan, bukan. Lebih tepatnya wanita itu menyiramkan kopi ke wajah Jill. Membasahi pakaian yang dikenakannya serta laptop dan gambar-gambar sketsa tangan miliknya yang tersebar di atas meja. Dan semua itu adalah pekerjaan yang dijanjikannya selesai hari ini juga pada Marco.
Semua kesalahpahaman ini dikarenakan laki-laki genit yang baru saja menggodanya.
'Jillian, apa saya harus ke apartemenmu sekarang?'
Suara Marco menyadarkannya kembali. Jill melihat ke arah balkon. Matanya mengerjap-ngerjap ragu. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Yang berada di kuar kebiasaannya. Ia berjalan pelan menuju balkon.
Jill tertegun. Pintu kaca gesernya terbuka lebar. Bergegas, ia memeriksa bunga-bunga hyacinth miliknya yang ditata di dalam pot warna-warni bersusun di tepian balkon. Masih utuh seperti sedia kala.
Jill bergumam,"Aku rasa aku sudah mengunci pintu ini tadi."
'Jill?'
Jill melongok ke bawah, lalu ke atas. Tidak ada apa-apa. Dia mengedikkan bahu lalu kembali masuk ke dalam apartemen."Pintuku terbuka. Sepertinya aku lupa mengunci pintu sebelum pergi."
'Jill, berhati-hatilah. Saya mohon.'
Jill tersenyum. Mengangguk meski lawan bicaranya tak bisa melihat. Pembicaraan selesai setelah Marco berkali-kali memastikan Jill baik-baik saja. Lelaki itu terlalu berlebihan. Seringkali, perhatiannya membuat hati Jill menghangat.
Jill membelai-belai tulip yang ada di dalam vas. Mengambilnya setangkai, meletakkannya di depan d**a, lalu mendekapnya erat-erat. Dia membelinya di sebuah toko bunga di ujung jalan dalam perjalanan pulang tadi. Buket tulip selalu bisa memperbaiki suasana hatinya yang buruk.
Setidaknya, Joanna yang bilang begitu. Membelai tulip tanpa menyertakan kenangan tentang Joanna di dalamnya, bagi Jill itu terasa janggal. Maka, Jill meletakkan satu tangkai tulip di atas nakas di samping sofa. Tepat di depan pigura foto.
Foto seorang wanita yang memeluk gadis kecil. Bola mata wanita itu berwarna biru, tatapannya tegas namun senyumnya ramah. Gadis kecil di sampingnya mewarisi bola mata biru, senyum memikat, serta kulit seputih pualam miliknya. Juga rambut ikal panjang yang dijalin dengan begitu cantik, yang terlihat berkilau-kilau ketika ditimpa cahaya. Gaun berenda warna merah jambu yang dikenakan si gadis kecil, membuatnya tampak seperti malaikat yang dikirim dari langit hanya untuk Joanna seorang.
Jill tersenyum. Menyentuh foto itu dengan ujung jarinya. Dia bergumam, nyaris berbisik. "Aku akan mengunjungimu akhir minggu ini. Aku janji."