Bab 8

1669 Kata
Hari ini, berkali-kali Jill mematut dirinya di depan cermin. Beberapa pengunjung Bloem’s yang mampir untuk membeli bunga pun berkali-kali pula memujinya. Jill hanya tertawa kecil dengan pipi yang merona, ketika mendengar pujian yang ditujukan padanya.  Dia mengenakan rok berlipit-lipit dengan panjang di bawah lutut berwarna merah, yang senada dengan warna sepatu boot membalut kakinya. Untuk atasannya, sweter krem dengan aksen glitter emas di bagian ujung lengannya. Rambutnya dibiarkan tergerai bebas. Ketika Jill selesai memulas kembali lipstik merah di bibirnya, seorang pengunjung datang. Ditandai dengan denting halus lonceng kecil yang diletakkan di atas pintu masuk. Jill menoleh, ternyata pengunjung tersebut adalah lelaki kecil berusia tak lebih dari sepuluh tahun, mengenakan kaus berwarna abu-abu yang kedodoran. Jill mengenalinya. Dia adalah cucu dari kakek pemilik bistro di seberang jalan. "Hai, Jim." Jill berjalan mendekat. Menyapa si anak lelaki sambil merunduk. Kedua lengannya bertumpu pada lutut hingga tinggi mereka kini nyaris sejajar. "Ada sesuatu yang kau butuhkan?" Jim terlihat ragu. Dia lalu mengeluarkan tiga lembar uang dari dalam sakunya lalu menyerahkannya kepada Jill. "Bisakah kakak memberiku buket tulip?" Alis Jill berkerut. "Tulip?" Senyuman Jill terkembang."Tentu saja. Tulip apa yang kau inginkan?" "Ehm..." Jim terdengar kembali ragu. Dia menatap sekeliling ruangan dengan pandangan takjub. Jim lalu menatap Jill sambil berkata, "Terserah. Yang penting buket tulipnya harus yang paling cantik." Jill menepuk kedua lututnya lalu berdiri tegak. "Siap." Dia berjalan gegas. Mengambil beberapa tangkai tulip segar, kertas pembungkus warna coklat lalu menarik pita warna merah jambu dari gulungan pipa yang ditata bersusun. Jill menimang-nimang pilihannya sekilas, lalu meletakkan kembali kertas pembungkus warna coklat. Sebagai gantinya, dia mengambil kain tile berenda yang bahannya agak kaku. Jill merangkainya dengan cepat namun penuh ketelitian. Tak berapa lama, ia menyerahkan buket tersebut kepada Jim. Yang segera disambut Jim dengan senyum sumringah.  Jim mengucapkan terimakasih beberapa kali sebelum akhirnya pergi dengan memegang buket miliknya dengan penuh hati-hati. Jill menduga-duga, mungkin saja orang yang beruntung mendapatkan buket dari Jim adalah kakeknya sendiri. Tiba-tiba saja, hati Jill menghangat. Dulu, dia sering melakukan hal seperti itu. Merangkai bunga kesukaan Joanna dan menghadiahkannya pada perempuan itu. Lagi, Jill mendengar lonceng berdenting. Dia mengangkat wajah, dan menemukan sosok Alex berdiri di depan pintu. Lelaki itu, seperti biasa, menularkan senyum keceriaan. Membuat hati Jill menghangat seketika. Kali ini, penampilan Alex terlihat sedikit formal. Dia mengenakan blazer berwarna abu-abu dengan potongan sederhana, yang kancingnya tidak dikatupkan. Melapisi kaus berwarna merah di bagian dalamnya. Kesemuanya terlihat pas di tubuh lelaki itu.  Baru kali ini, Jill dapat melihat wajah Alex dengan begitu jelas. Lelaki itu punya mata coklat yang pekat. Garis rahang yang tegas yang permukaannya terlihat habis dicukur rapi. Mengingat aroma lelaki itu, Jill menebak Alex memilih after shave berbentuk pasta berwarna biru muda dengan sensasi mint.  Alex berjalan mendekati Jill. Salah satu tangannya yang mulanya tersembunyi di bagian belakang punggung, menyodorkan buket bunga tulip. Buket tulip yang dirangkai khusus dengan kain tile berenda dan diikat dengan pita berwarna merah jambu.  Jill mengenali buket itu. Dia tertawa kecil. Ragu-ragu, dia menerima pemberian Alex."Tulip?" Alex mengedikkan bahu. "Karena yang kutahu, satu-satunya buket tulip yang paling indah hanya di toko bunga milikmu ini." Alex menahan kalimatnya. Mengerling sekali, lalu menatap Jill lekat-lekat. "Dan kau adalah florist paling cantik yang kukenal." Jill tersenyum. "Memangnya kau punya berapa kenalan yang berprofesi sebagai florist?" “No one. Except you.” Jill tergelak. Lelaki ini benar-benar.... "Baiklah. Mau kemana kita hari ini?" Alex berdehem. Dia menjejalkan tangannya ke dalam saku. "Karena aku baru saja pindah ke Montmartre, bagaimana kalau kau menemaniku memilih perabotan?" Jill menjawab dengan anggukan. Setelah menutup toko dengan mengunci pintu, Jill mengekor Alex. Lelaki itu berhenti di depan sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilat, yang diparkir tidak jauh dari Bloem's.  Jill mengernyit, “Porsche?”  Alex membuka pintu di sisi penumpang. "Ini mobilku. Kalau kau tidak percaya, kau mau lihat surat-suratnya?" "Kau tukang pamer, ya?" Jill merundukkan kepala lalu masuk ke dalam mobil. Alex berjalan memutar ke sisi pengemudi.  "Tidak selalu," Alex menjawab sambil lalu. Dia memasang sabuk pengamannya lalu menatap Jill."Maksudku, aku memang tukang pamer. Tapi tidak kepada semua orang. Aku hanya suka pamer pada orang-orang tertentu." Alex mengerling. "Pamer pada gadis cantik sepertimu, misalnya." Pipi Jill merona merah. Dan dia sungguh yakin Alex menyadarinya. Jill semakin salah tingkah ketika Alex tak segera menyingkirkan tatapan matanya. Bahkan, lelaki itu justru menjulurkan tangannya.  Jill terkesiap. Bola matanya membulat. Wajahnya memanas. Lelaki itu nyaris tak berjarak dengannya. Menularkan sensasi aroma dingin dari tubuhnya.  Namun, apa yang ditakutkannya tentunya tak akan terjadi. Lengan Alex terulur melewati bahunya. Menarik ujung sabuk pengaman dan memasangkannya pada Jill. "Kau kenapa? Wajahmu sampai memerah seperti itu." "Aku—" Jill tertawa canggung. "Sudahlah, lupakan saja." *** Sedari tadi, Alex menahan-nahan senyumnya setengah mati. Jill luar biasa cantik. Dan Alex harus mengakuinya. Jill dengan sabar menemaninya berkeliling. Sesungguhnya, Alex tidak terlalu membutuhkan perabot-perabot sialan yang dipajang di sini. Apartemen aslinya jauh lebih nyaman, lebih berkelas, dengan perabot-perabot elektronik modern yang lebih canggih. Dia tidak membutuhkan perabot baru untuk apartemennya di Montmartre.  Itu hanya apartemen sementara. Berulang kali Alex menekankan hal itu pada dirinya.  "Apa anda sedang membutuhkan sofa baru?"  Seorang pramuniaga mencegat Jill yang berjalan beberapa langkah di depan Alex. Gadis itu menatap Alex dengan tatapan ragu-ragu. Bibirnya mengucapkan sesuatu yang mengambang di udara tanpa suara. Semacam kau butuh sofa, tidak? Alex berjalan mendekat. Menjejeri Jill yang segera saja disodori brosur berisi model-model sofa terbaru. Alex berdehem. Apartemennya di Montmartre jelas tidak membutuhkan sofa. "Kami ada potongan harga khusus untuk pasangan yang baru saja menikah." Eh, apa katanya tadi? "Maaf, tapi kami bukan—" Alex mendekat, menggenggam tangan Jill erat-erat sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Alex menimpalinya menurut versinya sendiri, "Kalau begitu, berapa potongan harga yang bisa kami dapatkan?" "Sekitar dua puluh persen." Alex menatap Jill lekat-lekat. Bola mata gadis itu membulat. Kentara sekali kalau Jill terlihat bingung. Alex mengerling. "Ah. Kau dengar itu kan, Sayang? Kau boleh memilih sofa yang kau suka." Alex melirik papan nama si pramuniaga yang terlihat antusias ketika melihat Alex tertarik pada promo yang ditawarkannya. "Mungkin Mia bisa membantu kita." Pramuniaga bernama Mia tersebut mengangguk. Jill menatap Alex dengan putus asa. Senyumnya terlihat canggung. Namun, Alex memutuskan dia akan sedikit bermain-main dengan Jill. Alex justru melingkarkan lengannya di bahu Jill. Menarik gadis itu agar semakin mendekat ke sisinya. Tentu saja, Jill hendak protes. Buru-buru, Alex berbisik,"Sudahlah, dia tidak akan meminta surat nikah kita hanya untuk mengkonfirmasi potongan harga." Alex menahan senyum kemenangannya ketika Jill menyetujui permainannya. Dia bahkan tak melepaskan tangan Jill dari genggamannnya.  ***katiamidela*** Mulanya, Jill sedikit kesal karena Alex tidak sedikitpun berusaha mengkoreksi kesalahpahaman yang terjadi. Namun, ketika melihat mata lelaki itu berbinar-binar saat mendengar tawaran berupa potongan harga dengan nominal yang cukup lumayan, maka mau tak mau Jill terpaksa mengikuti permainannya. Jill baru tiga kali bertemu dengan Alex. Dan lelaki itu selalu membawa hal-hal baru di tiap pertemuan mereka.  Ketika melihat Alex masuk melalui pintu kaca di hari pertemuan pertama mereka di Bloem's, lelaki itu sudah mengejutkannya. Memesan buket tulip lalu menghadiahkannya kembali kepada Jill. Di pertemuan ke dua, Alex mengakui kalau dia juga tinggal di Montmartre. Di pertemuan ke tiga, Alex berkali-kali mengejutkannya.  Buket tulip yang dipesan melalui Jim. Porsche. Mengaku kepada pramuniaga sebagai pasangan yang baru menikah demi mendapat potongan harga. Lalu, kejutan apalagi yang dipunyai oleh lelaki itu?  "Kau tunggu di sini dulu ya. Aku akan mengambil mobil." Alex menyentuh bahu Jill dengan lembut. Lalu lelaki itu berjalan menjauh. Sentuhan itu mengirimkan sensasi aneh. Perasaan tenang dan hangat. Beberapa kali, kulit mereka tak sengaja bersentuhan. Terkadang, Alex menggenggam erat tangan Jill hingga gadis itu terdiam. Genggaman tangan Alex menawarkan kenyamanan. Berada di dekat lelaki itu membuatnya merasa terlindungi. Jill mengenyahkan bayangan Alex dalam pikirannya. Kedua tangannya menyentuh siku, bersidekap. Dia melemparkan pandangan ke sekeliling. Area parkir basement ini tergolong sepi. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir tanpa ada petugas yang berjaga dan berkeliling. Langit-langitnya rendah, dan Jill tidak pernah menyukai hal ini. Berada dalam ruangan dengan langit-langit rendah, membuatnya merasa terkungkung.  Sesuatu membuyarkan lamunannya. Seseorang yang mulanya bersembunyi dari balik pilar, tiba-tiba berlari mendekatinya. Mengejutkan Jill dengan berusaha menarik tasnya. Jill terkejut. Sontak, dia mendekap erat-erat tas miliknya di depan d**a. Si perampas tidak menyerah, berusaha merebut tas yang dipertahankan oleh Jill. Lalu, datang lagi dua orang yang lain. Mereka mengelilingi Jill. Membuat gadis itu jatuh terduduk. Lututnya tergores ketika membentur lantai berlapis semen yang kasar. Jill berusaha berteriak. Dia membungkuk, berusaha melindungi barang yang jadi incaran perampas. "Jill!" Samar-samar, Jill mendengar suara Alex meneriakkan namanya. Lelaki itu turun dari mobil dan berlari mendekat. Dia menerjang, membabi buta. Menendang salah satu perampas hingga jatuh tersungkur. Satu yang lainnya membantu rekannya. Dia melayangkan kepalan tinju kepada Alex. Secepat kilat, Alex berhasil menghindar. Tinju si perampas hanya menyentuh angin. Sebagai gantinya, Alex meninju balik. Tepat mengenai rahang lawannya.  Satu yang lainnya, berdiri lalu menerjang Alex. Alex tidak siap. Si perampas mendorong tubuh Alex hingga menubruk salah satu kolom beton. Membuat punggung Alex berjengit nyeri. Dia meninju Alex beberapa kali sebelum akhirnya Alex balas mendorong lawannya menjauh. Posisi mereka kini berbalik. Kini, Alex mengunci posisi lawannya. Menubrukkannya ke pilar beton terdekat, mengunci gerakan lawan dengan cara meletakkan lengannya yang melintang tepat di bagian leher. Alex meninju perut lawannya berulang-ulang kali. Setiap kali tinju Alex mendarat, setiap kali itu pula tubuh lawannya berjengit.  Tubuh Jill menegang. Kaku. Ketika melihat Alex berkelahi tepat di depan matanya. Tanpa disadarinya, perampas ke tiga mendekatinya diam-diam dan secepat kilat kembali berusaha merebut tas dalam dekapan Jill. Sontak, Jill berteriak kencang. Alex terkejut. Ketika berpaling dia mendapati seseorang tengah berusaha menyakiti Jill. Alex melepaskan lawannya dan tanpa berpikir panjang dia berlari menuju Jill. Seseorang memukul punggungnya dengan suatu benda tumpul yang berat. Sebelum Alex dapat melihat apa dan siapa yang memukulnya, dia kembali dipukul. Alex mengerang. Dia berusaha bangkit dan melawan. Lalu, terdengar bunyi gaduh disertai peluit yang bersahut-sahutan. Mulanya samar lalu berubah kencang. Terdengar derap langkah kaki mendekat dengan tergesa-gesa. Para penyerangnya langsung kabur ketika melihat beberapa orang berpakaian petugas keamanan datang. Alex hanya mengingat satu hal. Jillian. Gadis itu terisak. Bersimpuh di lantai. Alex segera berlari mendekat. Mendekap tubuhnya yang tengah menggigil hebat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN