"Aduh!"
Sesungguhnya, Alex hanya berpura-pura kesakitan ketika Jill menyentuh sudut bibirnya. Ya, dia memang sempat terkena pukulan, tapi tentu saja tidak melukainya dengan serius. Alex jelas-jelas sedang berpura-pura demi mendapat perhatian dari Jill. Dan hal itu sangat menyenangkan. Jill mengaku bahwa dia sempat ketakutan setengah mati ketika diserang secara tiba-tiba. Sebelum akhirnya Alex datang menolongnya. Dan beberapa petugas keamanan yang datang beberapa saat kemudian karena melihat p*********n tersebut melalui kamera pengawas. Selanjutnya, gadis itu memaksa Alex untuk mampir ke apartemennya demi melihat luka Alex.
"Apakah sakit?" Jill mengoleskan salep pada sudut bibir Alex dengan penuh hati-hati. Dia berjengit mundur, ketika untuk ke sekian kalinya Alex mengaduh kesakitan. "Maaf maaf."
Sekali lagi, Jill mengusap bibir Alex dengan kapas putih dengan penuh hati-hati. Gadis itu mendekat, dan semakin mendekat, hingga mereka nyaris tak berjarak. Ditiup-tiupnya dengan lembut luka di sudut bibir Alex.
Berada sedekat ini dengan Jill, membuat Alex tak bisa berpikir jernih. Aroma lembut musim semi yang menguar dari tubuh mungil di hadapannya, benar-benar merenggut kesadaran. Alex menangkap tangan Jill. Menatap gadis itu lekat-lekat. Ketika menemukan sorot kekuatiran dari bola mata berwarna hijau itu, Alex tersenyum lalu berkata, "Jangan kuatir. Aku tidak apa-apa. Benar-benar tidak apa-apa."
"Tapi kau terluka karenaku. Karena melindungiku." Jill menjawab takut-takut.
Alex mendesah. "Apa aku punya pilihan lain? Melihatmu diserang seperti itu, apa aku bisa diam begitu saja?"
Jill menunduk. Menyembunyikan wajahnya dari tatapan Alex. "Terima kasih." Lalu, gadis itu menarik tangannya dari genggaman Alex. Namun, Alex menahannya. Bahkan menggenggamnya jauh lebih erat.
"Apa yang sebenarnya kau punyai?" Alex bertanya. Kali ini nadanya berbeda. Muram. "Dalam waktu yang berdekatan, dua kali ini kau diserang seseorang yang berusaha mencuri sesuatu darimu."
Jill mengangkat wajah. Dia mengerjap-ngerjapkan mata. Dahinya berkerut seolah-olah sedang mengingat-ingat sesuatu. "Dua kali?"
Alex tersadar. Kali ini, dia membuang muka. Melepaskan genggamannya begitu saja. Jill tidak pernah tahu dan seharusnya tidak boleh tahu kalau dia pernah jadi incaran pencuri di dalam bis waktu itu. Dan, kekuatiran Alex tentang keselamatan Jill mengaburkan akal sehatnya. "Lupakan saja." Alex mengayunkan tangannya. Dia mengusap lehernya sembari berkata, "Kau bukan tuan rumah yang baik karena membiarkan tamumu kehausan."
Mendengar Alex berkata demikian, Jill langsung bangkit dari duduknya. Dia berjalan gegas menuju pantri. Membuka pintu lemari kabinet gantung, lalu mengeluarkan dua cangkir, dan dua wadah tin dari dalamnya.
"Kopi atau teh?" Jill memamerkan kedua wadah dalam genggamannya kepada Alex.
Alex menoleh, memusatkan perhatian pada gadis berambut brunette tersebut. "Kau punya wine? Koktail? Tropical summer?"
"Hah?" Jill menatap Alex polos. Dia menggeleng. "Maaf, aku tidak pu—"
"Bercanda," Alex menyela kalimat Jill dengan cepat. Dia menunjuk wadah dengan label putih bertuliskan coffee di bagian depan, lalu mengibaskan tangannya. "Kopi sajalah."
Jill mengangguk. Dia mengisi ketel kecil dengan air dari keran yang mengalir, lalu menjerangnya di atas kompor. Terdengar bunyi mendesis riuh setelah beberapa saat, diikuti denting sendok logam yang beradu dengan cangkir porselen. Menciptakan semerbak aroma kafein yang menguar memenuhi udara.
Tak lama kemudian, Jill membawa dua cangkir dalam genggamannya dan kembali duduk menjejeri Alex. Dia mengoper salah satu cangkir, sambil tetap menggenggam sisanya. Uap panas beraroma kopi mengepul dari cangkir di genggamannya.
"Kau tahu, kita baru berkenalan tapi kau sudah memberiku banyak kejutan."
Alex menerima cangkir kopinya sembari mengerutkan dahi. Jill menatap Alex lalu tersenyum. "Kau tiba-tiba saja masuk ke dalam tokoku. Menghadiahiku buket tulip buatanku sendiri. Kau ternyata tinggal di Montmartre." Jill tertawa kecil. "Kau menjemputku dengan porsche. Tapi tidak, jangan salah sangka padaku. Aku bukan gadis seperti itu, yang menilai seorang lelaki dari mobil yang dikendarainya. Yang yah...kau tahu apa maksudku..."
Alex ikut tertawa. "Sebenarnya aku sudah membawa mobil itu di hari pertama aku datang ke Bloems. Tapi sayang, kau tidak sempat melihatnya. Padahal aku sangat ingin pamer." Dia mengedikkan bahu. "Ya, meski kau tahu aku memang tukang pamer. Seperti itulah kira-kira."
Jill tergelak. Dia lalu menyesap kopinya pelahan meski uapnya masih menyembul pekat. "Dan hari ini kau menolongku." Jill meletakkan cangkirnya di atas meja dengan penuh hati-hati. Ia lembali menatap Alex lekat-lekat. "Terima kasih, untuk semua kejutanmu."
Alex balas tersenyum. Dia mengerling. "Kau melupakan detail bahwa kita sempat mengaku sebagai pasangan suami istri?" Alex mencuri pandang pada Jill yang terkikik geli. Dia sangat menyukai cara gadis itu tertawa. Juga, bagaimana gadis itu tersenyum. Alex menyukai semuanya. Alex tergila-gila kepada Jillian.
"Haruskah aku mencium dan memeluk istriku sekarang?" Alex merentangkan tangannya sembari mengerling jenaka. Dia memajukan badan hendak melingkarkan kedua lengannya di bahu Jill. Jill mengelak. Sebagai gantinya dia memukuli Alex menggunakan bantal sofa dengan sangat gemas. Tawa mereka memenuhi udara. Berdua. Hanya ada mereka berdua dan Alex menyukai kenyataan itu.
"Alex—" Ketika tawanya mulai mereda, Jill kembali bertanya, "Di apartemen mana kau tinggal?"
Alex mengerjapkan mata. Ah, dia tidak mungkin menjawab pertanyaan Jill yang satu ini. Tidak boleh dan tidak akan pernah boleh. Magnus bisa membunuhnya jika ia sampai membocorkan tempat tinggalnya. Terlebih, jika orang tersebut adalah target mereka.
Alex memutar otak. Mencari-cari alasan agar Jill melupakan pertanyaannya barusan. Kali ini, Alex mengusap-usap perutnya. "Apa kau tidak punya sesuatu untuk dimakan? Haruskah kita pesan pizza? Burger? Atau sandwich tuna? Kudengar bibi di kafetaria bawah punya menu roti isi tuna yang sangat lezat."
Jill menggeleng. "Aku sedang tidak punya sesuatu untuk dimakan, tapi kalau kau mau menunggu, aku akan turun ke minimarket di bawah dan akan kumasakkan sesuatu untuk kita berdua. Tapi, kalau kau sudah terlalu lapar, maka aku bisa membelikanmu roti isi tuna sesuai keinginanmu. Kalau pesan pizza, rasanya bisa sampai terlalu lama kemari."
Alex menepukkan kedua tangannya. "Deal! Ide yang sangat brilian sekali, Sayang." Alex mengedipkan mata. "Aku sangat ingin menikmati masakan istriku."
"Oh, hentikan, Alex."Jill tertawa. Gadis itu bangkit dari sofa, berjalan ke depan sembari meraih jaket bertudung berwarna merah jambu yang dicantolkan di tiang kayu di sisi pintu. Sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu, gadis itu menambahkan, "Alex, jangan sentuh apapun."
"Siap!" Alex memiringkan tangannya di depan dahi. Namun, satu tangannya yang lain, menyilangkan jari di belakang punggungnya.
"Apa aku bisa memercayaimu?" Jill mencebik. "Kau sangat usil dan selalu ingin menggodaku. Jadi, jangan sentuh apapun. Duduklah dengan baik, kau bisa menonton televisi selama menungguku. Jadilah anak yang baik." Di akhir kalimat, Jill tertawa kecil.