Bab 10

1107 Kata
Namun, itu hanya sebatas janji. Ketika Jill benar-benar pergi, Alex terlonjak dari sofa. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya tertuju pada bingkai di atas bufet kecil yang menempel di salah satu dinding di dekat sofa. Alex berjalan mendekat. Bingkai itu berisi foto seorang wanita dan seorang anak perempuan kecil. Menilik dari kemiripannya, Alex menebak gadis kecil itu pastilah Jill. Di sebelahnya, terdapat dua bingkai lain dengan sosok yang sama. Gadis kecil yang beranjak dewasa dan si wanita yang memeluknya erat. Alex mengenali latar belakang dalam foto tersebut. Bloem’s Florist. Meski memang, ada beberapa perubahan yang terjadi dengan Bloem’s di masa kini, tapi Alex benar-benar yakin kalau foto itu diambil di Bloem’s.  Sementara satu foto lainnya, berisi gambar si wanita dengan Jill di sisinya. Keduanya tersenyum. Si wanita mengenakan gaun bermodel kuno dengan kerah rendah, yang memperlihatkan kalung berbandul bunga tulip di lehernya. Alex tercengang. Apa mungkin itu adalah berlian Tulip yang dicarinya? Alex berpikir keras. Lalu dia memutuskan bergerak gegas menuju kamar tidur Jill.  Hanya ada satu buah ranjang yang diletakkan dekat dengan jendela kaca besar, dan satu buah lemari built in yang dilekatkan di dinding dekat pintu. Alex memilih ranjang sebagai tujuan pertamanya. Dia merabai setiap sisi, setiap sudut. Tidak ada yang terlewat. Alex merunduk, memeriksa kondisi di bawah ranjang. Lalu, Alex bergerak cepat beralih ke lemari. Pintu lemarinya tidak dikunci hingga Alex dapat membukanya dengan mudah. Dia kembali merabai setiap sudut, setiap lipatan baju. Bahkan, memeriksa apakah ada laci tersembunyi yang terkunci di dalam lemari. Hasilnya nihil.  Alex berkacak pinggang. Dimana sebenarnya Jill menyimpan berlian itu? Alex melihat sekeliling kamar sekali lagi, lalu menemukan satu bidang plafon yang kentara sekali garis batasnya. Dengan lincah Alex melompat naik melalui ranjang, mendorong bidang plafon tersebut lalu menggesernya sedemikian rupa hingga terbuka. Alex melompat sekali lagi. Menahan beban tubuhnya pada tepian kecil lubang plafon yang terbuka dengan salah satu lengannya. Alex menyalakan lampu senter yang bersumber dari arloji yang dikenakannya. Dia menyorot ke sekeliling plafon yang gelap. Tidak ada sesuatu yang ganjil yang ditemukannya. Alex meluncur turun. Setelah menutup kembali plafonnya, Alex pergi dari kamar. Dia memutuskan memulai pencariannya di area balkon.  Ketika membuka pintu kaca geser, segera saja Alex disambut aroma lembut yang sangat dikenalnya.  Aroma wangi tubuh Jill. Alex berjalan mendekat. Ke arah deretan bunga-bunga berwarna-warni di dalam pot di sepanjang tepian balkon. Alex merunduk, membauinya satu persatu.  Benar. Ini adalah aroma musim semi milik Jill.  Alex tertegun. Terpesona untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dapat meraih kesadarannya kembali. Dia bergerak mundur. Tak sengaja menabrak sesuatu di belakangnya. Alex membalikkan badan, dan dia menemukan beberapa baju Jill yang masih setengah lembab disampirkan pada jemuran lipat kecil. Alex mengernyit. Dia meraih salah satu pakaian dalam Jill, lalu mengamatinya.  Bra berenda berwarna hitam.  Segera saja dibayangkannya Jill mengenakan benda itu sembari berputar-putar di hadapannya. Dan itu membuat pipi Alex merona merah. Alex menyadari, itu pikiran kotor, tapi normal. Pria normal membayangkan hal-hal mengasyikkan seperti itu. "34?" Alex mengernyit saat membaca label kecil dari kain berwarna putih yang dijahit di ujung bagian kait.  "Apanya yang 34?" Alex mengangkat wajah. Sejenak, dia terpaku ketika melihat Jill sudah berdiri di hadapannya. Kedua tangannya penuh dengan plastik yang mungkin saja berisi belanjaan makanan seperti yang dijanjikan gadis itu. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu di udara, lalu sama-sama beralih ke benda hitam yang tengah berada di genggaman Alex. Bola mata Jill melebar dan membulat. Sedetik kemudian, gadis itu menjerit histeris.  "Aleeeeeeex....!!!" **katiamidela** "Magnus...," Alex memasang kembali alat komunikasinya dengan Magnus ketika dia sudah berada dalam apartemennya sendiri. "Magnus, apa kau sudah tidur?" Namun, Magnus tidak menyahut. Setelah mengunci pintu, Alex melepas blazer yang dikenakannya lalu melemparkannya begitu saja ke tiang cantolan kayu di samping pintu masuk. Alex berjalan ke kamar, membuka sisa pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengisi bak dengan air panas, menuangkan wine dalam gelas bening tinggi berkaki dan meletakkannya di samping bak, lalu menenggelamkan tubuhnya.  "Magnus..." Lagi, Alex memanggil Magnus. Dia menyandarkan kepalanya di tepian bak mandi. Tubuhnya yang letih kembali menghangat. "Kau marah?" 'Kukira kau sudah pensiun tanpa mengajukan surat padaku terlebih dahulu.'  Alex menahan-nahan senyumnya. Magnus tidak akan pernah bisa menolaknya. Yang perlu Alex lakukan hanyalah bersabar dan terus membujuknya agar mau menerima panggilannya. "Aku tidak kemana-mana. Hanya sedang menjalankan tugas. Kau tahu itu." Terdengar suara Magnus berdecak. Mencibir. 'Tugas dan berkencan itu dua hal yang berbeda, Alex.' "Dalam kamusku tidak ada bedanya." 'Bersikaplah profesional, Alex. Kau mematikan semua alat komunikasi dan alat pelacakmu.' “Tidak.” Alex berbohong. Namun, dia sedang mencoba menggoda Magnus dengan kebohongan kecilnya barusan. ‘Kau tahu bahwa aku tahu semua hal, Alex.’ “Kau bukan Tuhan, Mags.” ‘Kalau begitu, anggap saja aku adalah malaikat pencatat amalmu.’ Magnus terdengar terkekeh dari seberang. "Ck. Kau benar-benar sangat menyebalkan, Magnus." 'Oh, Alex. Kau tahu kau sangat menyayangiku.' Alex berdecak kesal. Dia meraih gelas wine di samping sandaran lengannya, lalu menyesap sebagian isinya. "Ada orang lain selain klien kita yang mengincar Pandora." 'Apa maksudmu?' "Jill diserang. Dua kali. Pada kasus serangan yang pertama, kukira itu hanya perampasan biasa. Tapi hari ini, aku tahu perampasan itu punya tujuan tertentu." ‘Kasus pertama yang mana yang sedang kau bicarakan?’ Magnus bertanya. “Kasus ketika di bis. Di hari pertama aku mendapat tugas untuk membuntutinya. Bukankah aku sudah pernah bercerita kepadamu?” Dahi Alex berkerut. Ia membiarkan sesapan wine menggelincir di tenggorokannya. 'Mungkinkah ada pihak lain yang mengincar berlian itu?' Alex mendesah. Dia membayangkan bagaimana Jill dikepung dan diserang sedemikian rupa seperti tadi.  Sendirian.  Seketika, amarah yang menggelegak kembali berkobar, merayapi perasaannya. "Aku tidak mengerti, di mana dia menyembunyikannya. Di apartemennya tidak ada. Aku sudah menggeledahnya." 'Kau tidak menemukan petunjuk apa pun?' Alex meringis. Setidaknya, dia mendapatkan ukuran 34 plus bonus omelan dari Jill karena Alex menyentuh benda pribadinya. Tapi tentu saja, dia harus merahasiakannya dari Magnus. Lelaki sejati tidak akan berbagi rahasia tentang benda pribadi kekasihnya. Apa dia tadi baru saja menyebut Jill sebagai kekasih? "Aku akan mencari di toko bunga Jill,"Alex mengenyahkan pikiran liar dalam kepalanya."Mungkin dia menyimpan berlian itu di suatu tempat tersembunyi." Lalu, seolah teringat sesuatu, Alex menambahkan,"Tapi aku sempat menemukan foto Jill bersama seorang wanita —entah siapa— yang mengenakan kalung berbandul berlian berbentuk bunga tulip." 'Apa kau tahu siapa dia?' Alex mengedikkan bahu meski ia tahu Magnus tidak akan dapat melihatnya. "Tidak. Aku akan menanyakannya nanti." 'Baiklah, segera selesaikan kasus ini, Alex.' Magnus mendesah. 'Dan tolong, jauhi gadis itu.' Alex terdiam. Ia melepaskan alat bantu komunikasi di telinganya dan meletakkannya di samping gelas wine. Alex memerosotkan punggungnya hingga seluruh tubuhnya nyaris terendam air. Menyisakan sebatas area wajah yang masih dapat menghirup udara segar melalui hidung dengan bebas. Matanya terpejam pelan-pelan. Tidak, dia tidak dapat menjauhi Jillian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN