Magnus menepikan mobil miliknya, mematikan mesin sebelum akhirnya turun dari mobil. Dia sedikit menarik perhatian. Mengenakan kaca mata hitam dengan lensa berbentuk bulat sempurna, mantel panjang, topi fedora, serta syal rajut yang melilit lehernya meski cuaca siang ini amatlah terik. Kesemuanya berwarna hitam pekat dari atas hinga ke bawah. Seolah-olah, dia berpenampilan demikian karena hendak menghadiri pemakaman salah satu kerabat dekat. Magnus kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam salah satu bistro di pusat kota. Terdengar bunyi berdencing satu kali ketika dia membuka pintu. Suasana di dalam bistro begitu tenang. Dengan aroma bistik panggang dipadu dengan musik klasik yang mengalun memenuhi ruangan. Dia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kepada deretan kursi-kursi dan mej

