Tanpa rasa takut, Karam melangkah melewati Wulan dan berdiri di depan Nissa. Ia bisa melihat wajah Nissa yang nampak gugup. "Nis, bener Badai tunangan lo?" Karam berujar dengan cukup lantang. Jika Nissa ingin mengajaknya berperang, Karam harus mengetahui posisi Nissa ada di pihak lawan atau kawan. Hati Karam sakit meliha satu-satunya teman seakan mempermainkannya. Namun ia butuh kejelasan. "Badai Athafariz Hizam, beneran tunangan lo?" ulang Karam. Nissa nampak marah, Karam tidak tahu alasannya apa. Ini adalah ekspresi kemarahan pertama yang ia dapatkan dari Nissa. "Iya, dia tunangan gue. Nyokap gue sama Badai udah setuju. Dan bukannya lo tau kalau dia tunangan gue?!" Nissa berujar dengan kegentaran yang coba ia perkuat. Seketika itu hati Karam serasa diremas. Ternyata sebuah kata teman h

