Chapter 15: Tidur

2090 Kata
Kalau suka boleh dong masuki ke reading list~  Jangan lupa klik bintang buat Pian...  *** "Gue yang pukul! Puas lo!" Badai berteriak. Ia tak dapat memikirkan apapun untuk mengusir Pian dari kekacauan ini. Karam jelas tak ingin menyebutkan kata Ayah dan Pian menginginkan sebuah nama. Badai merasa marah, namun amarahnya cukup surut saat keheningan tercipta. Hanya beberapa saat, sebelum bogeman keras yang mampu membuat telinganya berdenging terasa begitu menyakitkan di pipinya. Badai hampir tidak sampai tersungkur, namun lelaki itu sempat oleng. Karam memekik dan segera maju untuk berada di antara Badai dan Pian. Karam sudah menangis. Ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Hatinya sakit dengan rasa kecewa dan bersalah. Badai tidak sepatutnya mendapatkan pukulan setelah apa yang lelaki itu lakukan hari ini. Pian nyaris merangsek maju namun kemudian berteriak ketika Karam dengan refleks menendang tulang kering lelaki itu. "Pian jangan gila! Bukan Badai, otak lo kemana sih?!" Napas Karam tersengal, ia membutuhkan banyak energi untuk berteriak. Karam menoleh kearah Badai yang nampak marah. Lelaki itu memegang rahangnya namun benar-benar menahan diri untuk tidak menonjok balik manusia berotak lumba-lumba itu. Bukan perkara mudah bagi Badai untuk menahan diri. Dia lelaki jantan, tidak melambai, dan panggilan untuk membalas pukulan itu benar-benar memenuhi egonya. Namun, Badai menahan diri. Karam ada diantara mereka. Perempuan itu baru saja mengalami kekerasan dan menampilkan keras tentu akan memperparah keadaan Karam. Badai mendadak mengagumi dirinya sendiri. Ia tidak percaya jika dirinya bisa begitu memahami keadaan. Kemungkinan-kemungkinan itu berputar di otaknya saat melihat wajah lebam Karam. Sebelumnya, Badai tidak pernah seteliti ini memperhatikan seseorang. Karam merasakan kelegaan saat melihat Badai bisa menahan emosinya. Karam tahu itu sulit. Pandangan Karam beralih kepada Pian yang masih meringis sambil menghentakkan kaki kanannya, kaki yang baru saja Karam tendang dengan sepenuh jiwa dan raga. Pian tak lagi memiliki keinginan untuk menonjok Badai, sepertinya tahu jika Karam tidak akan tinggal diam. Detik selanjutnya, Karam serasa tak bisa menahan isakannya. Hatinya yang sebelumnya sedikit sembuh seakan kembali robek. Ini adalah hari yang berat. Dan Karam tidak menyangka Pian akan memperkeruh keadaan seperti ini. Karam terisak dengan keras, tangisnya pecah seolah telah terbendung terlalu lama. Hatinya seakan diremas dengan denyut menyakitkan. Ini benar-benar hari terburuk. Karam tidak melaluinya dengan baik. Mendadak Karam ingin menghilang dari dunia yang b******n ini. Menjadi buih di lautan mungkin lebih baik daripada dibuang. Badai hendak mengulurkan tangannya namun Pian lebih dulu membawa Karam dalam pelukan. Lelaki itu membisikkan kata maaf, seolah saraf otaknya yang terputus baru saja disambung. Isakan Karam memecah malam juga hati para pendengar. Rasanya ada retakan nyata yang bisa dilihat di sana. Karam membalas pelukan Pian seolah itu adalah satu-satunya tempatnya berpijak. Pian memejamkan mata mendekap semakin erat. Menggumamkan kata penenang yang baru kali ini ia haturkan dengan benar. "Ayo masuk," Badai berucap dengan nada asing sebelum berbalik memasuki café. Ketiga temannya secara sadar mengekori Badai. Lelaki dengan rahang kiri yang lebam itu menoleh menatap dua orang yang masih berpelukan seolah bumi akan berhenti berotasi jika mereka menjauhkan diri. Beberapa jam yang lalu, Badai sempat berada di posisi Pian. Memeluk perempuan itu dan membiarkan Karam membuat kaosnya basah. Tapi, dalam pandangan Badai saat ini, pelukan Pian dan Karam seakan berbeda. Mereka terlihat lebih dari sekadar yang ia duga. *** Badai tidak menyangka ia akan menghabiskan waktunya dengan Pian yang duduk dalam meja yang sama. Lelaki itu hendak mematik rokok namun Badai dengan cepat mengintrupsi. "Kalau ngerokok di luar," ucap Badai dingin yang membuat Pian setengah hati meletakkan korek dan batang rokoknya. Bayu dan Juno berada di meja lain dengan handphone di tangan mereka, main bareng game tembak-tembakan. Lisa menemani Karam tidur di ruang staf dengan kantong tidur yang dibawa Bayu. Dan Badai dan Pian memilih untuk menyelesaikan masalah mereka di meja beraura mistis ini. "Sorry," Pian membuka suara. Berucap maaf namun bagi Badai terdengar seperti umpatan. Badai tak menjawab, hanya melipat tangannya dan memandang Pian tajam dengan harapan tatapan matanya mampu membawa santet kearah lelaki kampret itu. "Bukan salah gue, lo yang bilang sendiri kalau lo mukul Karam. Gue sebagai lelaki sejati wajar dong jotos lo." Badai paham betul jika makhluk blangsat di depannya benar-benar tidak ada keinginan untuk meminta maaf. "Lain kali pake otak, jangan cuma dijadiin hiasan tempurung aja." Pian membuang muka, tak memiliki pembelaan untuk hal satu ini. "Gimana caranya Karam ada di sini?" "Masuk lewat pintu," jawab Badai acuh tak acuh. Ini adalah kali kedua Pian menemukan orang yang sangat-sangat menyebalkan. Sifat menyebalkan Badai hampir sebelas dua belas dengan Karam. Namun bedanya Karam masih ada manis-manisnya, Pian masih betah. Sedangkan Badai pahitnya sampai ke sumsum tulang belakang. Pengen nampol, sumpah. "Gue tanya baik-baik," seru Pian kesal bukan main. "Nggak kedengeran kayak gitu." "Jujur aja. Gue nggak tahu lagi harus tanya sama siapa. Karam tutup mulut dan adanya cuma elu. Kalau gue tau siapa yang mukul, setidaknya gue lindungi Karam dari orang itu." Pian nampak setengah frustasi. Bayangan-bayangan tentang bagaimana seseorang memukul Karam membuat dadanya nyeri. "Kalau Karam tutup mulut. Gue nggak ada hak buat buka suara. Lo harus belajar ngehargain pilihan orang lain. Otak taruh di kepala, jangan di otot." Badai berujar sinis kemudian berdiri dari duduknya. Rasanya Badai ingin menyiram wajahnya sendiri. Baru saja ia bertingkah seolah menjadi orang paling perhatian sedunia, sedangkan tau sendiri bahwa untuk peduli saja rasanya seperti menguras setengah energi. "Pulang sana café udah tutup." Pian menggerutu karena sadar seberapa pun ia mencoba membuka mulut lelaki itu, Badai tidak akan menjawab dengan jawaban yang Pian inginkan. Yang ada jawaban bikin emosi. "Gue nginep sini, jagain Karam." Badai menatap Pian beberapa saat. Hari ini Badai baru sadar jika manusia satu ini sangat keras kepala dan tidak tahu malu. "Café gue bukan hotel." "Kalau bukan hotel kenapa Karam tidur sini." "Mau gue bangunin Karamnya, biar lo tanya sendiri?" ancam Badai yang membuat Pian mendesis sebal. Badai memilih untuk pergi dari sana dan menghampiri Juno dan Bayu yang sedang memegang ponsel dalam mode landscape. Mereka memang datang ke café Badai karena wifi di café ini yang paling jos katanya, cocok buat mabar tanpa ngelag. Sebelum Badai duduk, ia melihat kearah Pian yang kini memegang ponselnya, nampak bingung. Dugaan Badai sepertinya Pian baru saja mendapatkan pesan dari seseorang. Lelaki itu kemudian berdiri dengan gelisah dan berbincang dengan Bayu. Badai cukup terkejut karena ini. "Bang Bayu, gue harus balik. Lo bisa gue maintain tolong buat jagain Karam nggak?" tanya Pian dengan sungguh-sungguh. Bayu nampak kebingungan, ia menoleh kearah Badai beberapa kali. Keduanya tadi memang sempat berbincang, dan sikap akrab Bayu yang hampir sama dengan Pian menjadikan Pian lebih akrab dengan teman Badai dibanding Badai sendiri. "Kalau Karam tanya, bilangin kalau nyokap suruh gue pulang. Tadi gue cabut tiba-tiba soalnya. Dan gue minta tolong banget jangan sampai Karam diganggu ama torpedo. Tau lah ya..." Bayu tertawa pelan, hingga matanya menyipit. "Santai aja bro. Torpedonya gue buang ke laut entar. Hati-hati di jalan yak!" serunya dengan ramah. "Buruan Yu entar kalah," Juno yang masih fokus pada permainan menyela. Bayu dan Juno sedang dalam pertempuran sengit di dunia game dan Pian menghambat mereka. Juno nampak terlihat kesal. Pian sadar akan hal itu. "Yaudah gue pamit, makasih ya Bang." Pian menatap Badai dengan mata disipitkan. Mencoba memberikan pandangan awas yang sebenarnya tidak berpengaruh sama sekali pada Badai. Saat Pian pergi dari café dengan deru motornya. Badai berucap kepada temannya. "Jun, besok lo cari foto Pian ya." Badai berucap dengan ekspresi datar. "Buat apaan? Mau lo santet apa gimana?" tanya Juno dengan pandangan yang masih terfokus pada layar ponselnya. "Mau gue taruh di pintu masuk." "Pian dilarang masuk gitu?" sahut Bayu yang bisa menebak jalan pikiran Badai. "Dilarang bawa hewan peliharaan," ucap Badai sedatar jalan tol namun sanggup membuat kedua temannya tertawa. Bahkan Juno yang terkenal sama dinginnya dengan Badai. "Tapi gue kaget loh, tadi lo nggak bales pukulan itu kunyuk." Juno tersenyum ketika game yang ia mainkan bersama Bayu baru saja berakhir dengan kemenangan di pihaknya. "Pian nggak salah-salah amat, kan Badai yang mancing," entah mengapa ucapan Bayu terdengar seperti pembelaan. Saat Bayu mendapat tatapan dari kedua temannya yang sama-sama eskimo itu. Bayu dengan cepat menambahkan. "Pian itu aslinya baik, cuma emosinya aja masih labil." "Rasanya pengen gue gantiin nonjok," Juno bergumam dengan kesal. Melihat teman baiknya ditonjok di depan matanya tentu membuat Juno marah. "Kenapa nggak lo pukul balik aja sih." "Nggak tega," jawab Badai pelan. Lelaki itu memijat pelipisnya yang terasa agak pusing. Bukan karena kurang tidur, Badai sudah biasa begadang ditemani kopi seperti ini. Ia pusing membalas pesan dari tante-tante yang tak lain adalah ibunya sendiri. Gila ini udah dini hari masih melek aja itu ibunya. "Lo nggak tega sama Pian?" Bayu menyahut dengan pelototan lucu. "Najis. Sama Karam-nya lah. Tuh anak abis kena pukul, masa lihat orang adu pukul." Badai berkomentar bersamaan dengan acara balas pesannya. Badai kemudian mendesah kesal saat kontak ibunya tertera memenuhi layar smartphone-nya. "Kalian diem bentar," seru Badai sebelum mengangkat teleponnya. Bayu dan Juno seolah sudah terbiasa. Mereka berdua sudah akrab dengan ibu Badai mengingat mereka bereman sejak di Sekolah Menengah Pertama. Dibanding dengan Ayahnya Badai lebih dekat dengan ibunya. Badai anak tunggal dan ibu Badai sangat memanjakannya, berbanding terbalik dengan Ayahnya yang keras. "Ini lagi sama Bayu dan Juno," Badai berucap menjawab pertanyaan ibunya. "Kan tadi aku udah izin sama Mama." "Mama kesel sama kamu. Masa dikirimi foto kayak gini!" Badai merasakan kepalanya berdenyut lagi. Mamanya protes bukan karena dia tidak pulang malam ini. Melainkan karena foto yang sebelumnya Badai janjikan ternyata jauh dari ekspektasi Mamanya. "Itu udah yang paling bagus lo." Sejak Badai mengatakan punya gebetan, harinya bukan makin tenang malah makin runyam. Ibunya mendesak untuk segera mengirimkan foto Karam jika tidak rentetan jadwal kencan buta sudah menanti Badai. Pada akhirnya Badai lelah sendiri dan tadi malam ia mengirimkan foto Karam. Ternyata ibunya malah tidak suka dan marah-marah. "Kamu ngerjain Mama ya! Punya anak satu kok agak-agak. Foto ngeblur gini mana bisa dilihat. Mama minta foto yang jelas, bukan foto hasil CCTV kayak gini! Awas ya, hari ini juga mama atur kencan kamu sama anaknya Bu Wijaya!" Badai mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memang sengaja mengirimkan foto blur hasil rekaman CCTV dengan harapan ibunya tidak melihat wajah Karam terlalu jelas. Bukan menghargai malah marah-marah. "Iya Ma beneran deh nanti siang aku kirim. Kali ini beneran." Badai merayu ibunya. Anaknya Bu Wijaya, si Nissa sepertinya benar-benar berubah pikiran. Kata ibunya, Nissa sudah beberapa kali meminta ke ibunya yaitu Bu Wijaya untuk mengatur ulang acara pertemuan mereka. Ibu Badai sampai tidak enak hari karena harus terus-terusan menolak. "Bener ya?!" "Iya..." "Yaudah!" Bunyi sambungan terputus membuat Badai tersadar jika ibunya kini benar-benar marah padanya. Biasanya sang ibu masih memberikan wejangan-wejangan tentang jam tidur dan pola makan. Tapi kali ini tante berjiwa muda itu benar-benar ngambek. Malapetaka akan datang jika Badai tidak menepati janjinya. Badai menutup wajahnya dengan frustasi. Bagaimana caranya ia mendapatkan foto Karam tanpa membuat perempuan itu curiga. Badai benar-benar tidak punya bakat untuk memotret perempuan diam-diam. Mau difoto waktu tidur, takut-takut ibunya malah mengira Badai dan Karam sudah tidur bareng. Langsung dibawa ke KUA nanti. Kan mampus tujuh turunan dirinya. "Ini hari apasih, sial banget," gerutu Badai sambil berdiri dari duduknya. "Mau kemana?" tanya Bayu melihat Badai menjauh dari meja. "Tidur," jawab Badai singkat sebelum mengunci pintu café. "Bangunin gue jam lima-an ya," ucapnya yang kemudian di acungi jempol oleh Juno. Badai masuk ke dalam ruang staf, mendapati dua orang perempuan yang tertidur dengan sleeping bag. Lisa tidur dengan wajar di dalam sleeping bag, sedangkan Karam sudah keluar dan hanya menjadikan kantong empuk itu sebagai bantal. Tubuhnya meringkuk dan Badai tergerak untuk mengambil jaket miliknya yang tergantung, kemudian menyelimutkan kepada Karam. Badai berpikir dimana ia harus mengistirahatkan punggungnya. Badai tak menemukan tempat memungkinkan lain. Ruang staf itu berukuran lima kali empat. Cukup luas namun tidak dengan karpetnya. Setelah ini Badai mungkin akan meluangkan waktu untuk membeli satu karpet lagi. Merasa sangat lelah, Badai dengan cuek memilih tidur dengan berbantal sleeping bag melintang yang juga dipakai Karam. Tidur seperti ini sudah sering ia lakukan mengingat dulunya ia adalah anggota aktif organisasi kemahasiswaan. Asalkan tidak hanya berdua dengan lawan jenis, tidur bersama sudah menjadi hal umum. Badai menghela napas lega saat punggungnya bertemu dengan bidang datar. Rasa lelahnya mendadak terasa ketika ia beristirahat. Badai memiringkan wajahnya untuk mendapati wajah Karam yang tengah tertidur pulas. Manik mata Karam sedikit bengkak dan lebam itu benar-benar mengganggu Badai. Ini adalah hari yang benar-benar buruk bagi perempuan itu. "Karam nggak akan tenggelam," Badai berucap pelan. "Gue janji," lanjutnya pada dirinya sendiri. Melihat Karam, membuat Badai ingin menarik perempuan itu ke permukaan. Dengan janji yang hanya didengar olehnya sendiri. Badai memejamkan mata, namun Karam masih ada dalam benaknya. Aku memejamkan mata, dan kamu masih ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN