"Sayang, pesen hatimu dong..."
Karam menoleh tajam kearah lelaki yang kini tengah tersenyum-senyum sok manis. Rasanya Karam ingin melemparkan nampan yang dipegangnya atau mungkin kursi café sekalin. Biar mati terus nggak ganggu hidup Karam lagi.
"Kalau pesen langsung ke kasir," jawabnya tidak bersahabat.
Lelaki itu, Pian Mauza tertawa senang mendapati jawaban dari Karam. Pian menganggurkan laptop yang seharunya ia gunakan untuk mengerjakan tugas dan lebih fokus menggoda pelayan seksi yang galak dan mata duitan ini. "Kapan selesainya?" tanya Pian saat Karam melewati mejanya.
"Jam dua siang," Karam dan Pian memang memiliki janji untuk mengerjakan tugas Pian yang baru setengahnya selesai. Itupun termasuk keajaiban. Semalam Karam dengan hebatnya menyelesaikan dua proposal sedangkan Pian hanya bantu mengedit. Pian ternyata hanya sepintar lumba-lumba. Lelaki itu sudah menyerah pada bagian latar belakang proposal. Pada akhirnya Karam memberinya tugas untuk mengedit bagian proposal. Pian memang tidak berguna.
"Nanti mau makan apa?" tawar Pian melihat ada raut cemberut di wajah Karam. Biasanya jika seperti itu Karam sedang lapar.
"Gue pengen makan yang ada sayurnya," ucap Karam dengan binaran mata yang tidak bisa disembunyikan.
"Siap!" ujar Pian dengan semangat. Dengan begini ia akan lolos dari cercaan Karam ketika lapar.
***
"Kar, lo marah ya sama gue?" Pian bertanya dengan nada nelangsa yang ketara.
Karam tertawa kecil, "Apaan?" tanyanya sok polos.
"Ngapain kita ke café kek gini. Lo marah gegara gue nggak bisa ngerjain proposal ya? Jujur aja deh..." Pian memperhatikan tampilan luar café. Mereka berhenti di café yang sering menjadi perbincangan teman-temannya. Café Noname terkenal di kalangan mahasiswa.
"Lo nggak kuat bayarin gue?" tantang Karam dengan pandangan mengejek.
"Bukan nggak kuat. Lo kan kalau makan sama piring-piringnya." Karam berdecak sebal.
"Gue tau lo nggak bakal mampu, makanya gue baik hati traktir lo." Karam berucap dengan percaya diri. Perempuan itu kemudian mengangkat beberapa kertas bertuliskan kupon diskonan yang membuat Pian kagum dengan cara Karam bertahan hidup.
"Lo traktir gue? Seriusan?!" Pian berucap tak percaya. Ini Karam loh, manusia yang suka menguras dompetnya.
"Traktiran gue berupa kupon gratisan. Lo harus beli minimal 150 ribu dulu," cengir Karam yang membuat Pian sadar jika Karam memanglah Karam, si ratu hemat.
"Lo bisa dapet itu kupon dari mana?" tanya Pian. Keduanya berjalan memasuki café dan Pian sedikit merasa aneh ketika Karam disapa oleh beberapa pegawai di sana. Pian bertanya-tanya, kapan Karam ke tempat seperti ini? Karena setahunya Karam adalah orang yang paling anti membuang-buang uang untuk kehidupan hedonisme. Lebih baik beli mie sekardus, katanya dulu.
"Manusia hidup dengan bersosialisasi. Kita harus menjalin hubungan baik dengan banyak orang," Karam berujar dengan nada sok-nya. Seolah sudah terbiasa, Karam langsung mengambil duduk di tempat kemarin ia menghabiskan waktu untuk memandangi Badai.
"Belibet, jawab yang bener napa." Pian tak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Gue kan cantik, cewek cantik itu hidupnya dimudahin," Karam dengan seenaknya mengambil tas Pian yang diletakkan di kursi samping dan mengeluarkan putih dengan logo apel kegigit.
"Perasaan hidup lo susah deh," jawab Pian lagi.
Karam melirik sinis, lalu menjawab dengan nada sok cantik. "Meski gue missqueen, tapi gue punya banyak keberuntungan."
"Contohnya?"
"Ada lo di hidup gue," Karam berujar dengan senyum manis yang rasanya belum pernah Pian dapatkan. Biasanya Karam tersenyum kesetanan atau kesurupan. Kali ini tersenyum bagai malaikat tanpa embel-embel maut. "Geer ya?" lanjut Karam kembari ke mode iblisnya.
"Iya geer, tanggung jawab lo. Nikahin gue."
"Dihh, mana mau gue nikah ama cowok dengan kecerdasan lumba-lumba. Bikin proposal Bab I aja kagak bisa." Karam berucap sambil menoleh kearah menu besar yang dipampang di atas kasir café.
"Gue jagonya bikin Bab II Pembahasan, bahas hubungan kita yang gini-gini aja." Pian berujar dengan senyum kecil di bibirnya.
"Gue paling pinter bikin Bab III Penutup," jawab Karam dengan senyum mengejek.
Pian mendumel kesal. Hubungannya dengan Karam selalu berakhir dengan debat romantis tanpa kesimpulan. Pian tahu bahwa Karam tak pernah memandang serius dirinya, dan Pian sendiri terlalu pengecut untuk mengambil langkah serius.
Ia terlalu takut, persahabatan yang telah dinodai penolakan akan menghadirkan kecanggungan. Dalam hal cinta, lelaki itu menjadi begitu pengecut.
"Lo pesen apa? Biar gue yang pesenin." Karam berujar ketika ia telah memutuskan makanan apa yang akan ia makan. Café Badai memang menyajikan menu lengkap untuk tempat sekelas café. Ada minuman dan makanan ringan sampai berat. Mungkin itu yang menjadikan tempat ini selalu ramai dipenuhi pengunjung.
"Burger deh," Pian memberikan dompetnya pada Karam.
"Jangan keseringan makan junk food," komentar Karam saat berdiri dari duduknya.
"Dih ngaca, lo bahkan hampir tiap hari makan mie instan."
"Itu kalau tanggal tua aja," balas Karam tak terima. Karam lalu melesat menuju kasir dan berbincang dengan ramah. Di mata Pian, Karam terlihat seperti seorang pelanggan. Mata Pian memicing menatap ekspresi pegawai lelaki yang tergolong tampan itu, lalu mendesah sebal. Sudah biasa... pikirnya. Benar kata Karam, hidup perempuan cantik itu dimudahkan dalam segala urusan. Karam pasti sedang melakukan kegiatan nyepik agar mendapatkan diskon berlebih.
Kening Pian kembali berkerut ketika melihat Karam beralih berbincang dengan lelaki yang cukup familiar di mata Pian. Siapa? Batin Pian penasaran terlebih ketika lelaki yang berdiri di sebelah kasir menoleh kearah Pian. Mata keduanya terhubung dan seolah sudah hukum alam, keduanya melemparkan tatapan tidak bersahat.
***
Badai melihat perempuan itu, perempuan yang Badai lupa bagaimana caranya hingga bisa sedikit menginvasi kehidupannya. Melihat Karam membuat Badai kembali pada saat ia berbohong dan mengatakan bahwa Karam adalah gebetannya. Jika dipikir-pikir, bagaimana bisa Badai dengan bodoh mengatakan perempuan kucel yang terlihat seperti berandalan itu adalah gebetannya?!
Manik mata memicing ketika melihat Karam memesan dengan sebuah dompet tebal ditangannya. Itu sudah jelas bukan dompet perempuan. Dompet itu berwarna cokelat gelap berbahan kulit dan terlihat seperti dompet khas milik lelaki. Tetapi jika memang dompet itu milik Karam, entah mengapa Badai tidak terkejut. Yang lebih mengejutkan Badai adalah ketika perempuan itu mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan dengan wajah riang. Sudah dipastikan bahwa itu bukan dompet Karam. Karam tidak akan melakukan hal seboros itu jika memang dompet itu benar miliknya.
Dengan langkah pelan, Badai berjalan menyusup dan berdiri di samping pekerjanya. Badai hanya diam, menunggu Karam menyadari keberadaannya. Perempuan itu menunduk membaca menu-menu sambil sesekali mengucapkan pesanannya. Saat Karam mengangkat kepalanya, manik mata bulatnya melebar dan menatap Badai terkejut.
"Ya ampun, kok bisa dementor nyasar kesini?!" ceplos Karam tak dapat meninggalkan sifat menyebalkannya.
"Harusnya gue yang bilang gitu," jawab Badai datar, padahal dirinya kesal hingga ingin memasukkan Karam ke dalam penggorengan.
Karam tersenyum sok manis, "Sekarang Dedek Karam jadi pelanggan yang terhormat!"
"Oh," Badai berucap dengan ekspresi cuek seolah Karam hanyalah debu yang tidak terlihat.
Pada akhirnya Karam hanya mendesis sebal, kalau Badai sudah menjawab singkat seperti itu rasanya Karam tidak memiliki alasan untuk mendebat lelaki itu lagi. Karam kembali menyebutkan pesanannya, perempuan itu melirik ke belakang memastikan bahwa tak ada orang lain yang sedang mengantri untuk memesan. Dengan begitu Karam bisa memesan dengan perasaan tenang, riang, dan hati gembira karena bisa menguras dompet Pian.
Ngomong-ngomong, Pian memang kelihatan gembel dari luar (Karam lupa jika dirinya juga terlihat seperti gembel), tetapi dompet Pian selalu dipenuhi dengan uang seratus ribuan. Biasanya paling sedikit ada sepuluh. Karam selalu menghitungnya ketika memegang dompet Pian. Intinya, Pian itu termasuk kaya tapi memasang wajah gembel agar dompetnya tidak dikuras Karam. Itulah yang Karam pikirkan.
"Itu dompet siapa?"
Karam menoleh setelah menyerahkan lembar uang yang sedari tadi ia pegang. Kening Karam berkerut dan langsung menjawab panik.
"Ini emang dompet orang, tapi gue nggak nyopet sumpah. Gue udah dapet izin dari orangnya!" tutur Karam takut di tuduh macam-macam.
"Mana orangnya?" tanya Badai lagi.
Karam langsung menunjuk kearah tempat duduk yang kemarin menjadi tempat duduk Badai dan Karam. Kini, tempat itu diduduki lelalaki lain. Lelaki dengan mata bulat yang menatap tajam kearah Badai. Tetapi, tentu Badai lebih mahir jika harus di suruh memberikan tatapan tajam setajam silet. "Itu, yang cakep tapi kayak gembel itu."
"Oh..." gumam Badai lagi. Badai kemudian keluar dari area pegawai ketika Karam selesai memesan makanan. Karam berhenti dan menoleh kearah Badai yang kini berjalan di sampingnya.
"Ngapain?" tanya Karam merasa aneh. Jangan bilang kalau Badai mengikutinya, buat apa coba?
"Mastiin kalo lo nggak nyopet."
Astaganaga, sekriminal itukah wajah Karam di mata Badai? "Ya ampun jahat banget... Segitu nggak percayanya sama gue ya?!"
"Gue cuma mastiin lo sama dia saling kenal." Badai tentu saja berdalih. Sebenarnya Badai hanya penasaran, hanya penasaran, hanya penasaran. Beneran, sumpah katanya.
"Ini namanya pencemaran nama baik. Lo harus kasih gue sosis bakar gratis!" Karam menjawab ketika mereka sampai di depan Pian. Tanpa di perintah Badai lansung menarik tempat duduk, berlaku seolah Pian hanyalah tumbuhan hias di sana.
"Ya."
"Eh, beneran?!" Karam menatap Badai yang duduk di sana dengan terkejut. Tumben Badai baik, biasanya nggak akan langsung setuju.
"Ya." Jawab Badai lagi.
Pian menatap keduanya dengan pandangan tak nyaman. Badai secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia dan Karam cukup dekat. Terbukti dengan bagaimana lelaki itu mengetahui satu-satunya hal yang membuat Karam bisa melupakan segalanya, makanan.
"Oh ya, kenalin. Pian ini Badai, kakak tingkat kita. Badai ini Pian, temen sekelas gue. Kami berdua saling kenal, iyakan Pian?" Karam mengenalkan keduanya dengan cepat sekaligus menunjukkan bahwa ia dan Pian memang saling kenal. Dengan begitu Badai tidak memiliki alasan untuk menuduhnya sebagai pencopet. Cukup kata gelandangan cantik saja yang melekat padanya, jangan pencopet cantik. Ia belum siap jadi buronan polisi.
"Hallo salam kenal..." Pian memasang senyum, namun terlihat jelas bahwa senyum itu nampak tak ikhlas. Biasanya jika berada di situasi biasa, Pian akan menggunakan kata Bang sebagai sapaan. Namun melihat Karam yang memanggil Badai hanya dengan sebutan biasa, Pian juga entah mengapa merasa enggan.
"Ya," balas Badai sambil mengangguk kecil.
Tak lama, Pian dan Karam kini secara bersamaan memandang Badai yang masih duduk santai di sana. Pikiran Karam dan Pian sama, kenapa ini orang masih duduk di sana?
"Apa?" tanya Badai.
"Kenapa masih di sini?" Karam berucap tanpa sungkan. Ia heran.
"Emangnya kenapa?"
"Kan udah terbukti kalau Pian temen gue." Sebelumnya Karam berpikir jika Badai akan langsung melesat pergi setelah tahu bahwa Pian benar-benar teman Karam.
"Terus?"
"Kenapa masih di sini?" ulang Karam mengajukan pertanyaan yang sama.
"Ini kan café gue. Terserah gue mau duduk di mana." Jawab Badai cuek. Setelahnya lelaki itu memanggil salah satu pelayan untuk dimintai tolong mengambilkan tas yang ada di ruang staff.
Karam dan Pian saling berpandangan, namun keduanya entah mengapa tidak ada yang berniat untuk mengusir. Karena entah mengapa ucapan Badai terasa benar, meski Pian dan Karam merasa ada yang ganjil di sana. Ini café Badai, dan lelaki itu bebas duduk di mana saja, termasuk di counter pesanan sekaligus. Mendadak Karam merasa mereka seperti sekumpulan anak SMA yang tengah melakukan acara kerja kelompok.