Bab 2. Perasaan yang Tak Asing

1384 Kata
Sesaat, situasi di sana sangatlah hening seakan tidak ada seorang pun ada di ruangan ini. Para anggota yang berdiri memunggungi jendela juga terdiam dan memikirkan sesuatu di benak mereka. "Kalau situasi sudah aman, kau boleh menceraikannya," kata Yuda dengan mata terpejam. "Baiklah. Urusan tentang siapa yang mengincar, biar aku saja yang membereskannya." "Syukurlah kalau kau mau mengerti. Ingatlah satu hal, apa pun yang kau lakukan aku akan mendukungmu." Entah apa maksud dari perkataan Yuda yang merupakan bos-nya. Namun karena kalimat itu telah membuat ekspresi kaget di wajah Ramon. Yuda kemudian tersenyum menatap Ramon yang sudah dianggapnya sebagai putra sendiri. Terlihat wajah-wajah iri di antara para anggota no 3 ke bawah, melirik sinis pada Ramon yang akan memiliki seorang istri. "Ck, aku kalah. Padahal aku yang paling ngebet nikah," gerutu seorang anggota dengan suara lirih. *** Pada pukul 10 pagi, Ramon telah datang ke kediaman mewah milik pasutri Kanda dan Tiara. Pasutri itu memiliki satu anak kandung lelaki namun keberadaannya saat ini tidak diketahui. Lalu anak perempuan yang akan dinikahi Ramon adalah Shella yang tidak memiliki hubungan darah apa pun terhadap keluarga itu. "Wanita itu beruntung sekali memiliki orang tua seperti mereka. Tapi meski begitu kenapa sampai harus menikah?" Ramon agaknya sedikit bingung mengenai keputusan ini. Ting, tong! Suara bel berbunyi, tanda kedatangan Ramon di depan. Lekas kedua pelayan menyambutnya ramah. "Silahkan masuk, Tuan dan Nona sedang menunggu di halaman belakang." "Apa aku harus masuk ke dalam untuk sampai ke halaman belakang?" tanya Ramon. "Iya, benar. Silahkan ikuti saya." Rumah yang mewah memiliki bagian depan dan belakang secara terpisah. Jika sekilas dilihat rasanya seperti berada di istana kerajaan. Jujur saja Ramon mengagumi kekayaan ini. "Silahkan." Kedua pelayan membukakan sebuah pintu coklat di seberang, itu adalah jalan masuk halaman belakang. Saat Ramon masuk, ia dikejutkan oleh seorang pria tua yang menyapanya dengan ramah. “Oh, kau pasti adalah lelaki yang disebutkan Pak Yuda. Ramon, benar?" "Iya, itu benar. Dan kau adalah ...calon Ayah mertuaku?" ujarnya selagi menyeringai, seakan sedang mengejek. "Hahaha! Benar," katanya sambil tertawa girang. Kanda kemudian menunjuk ke arah kanan, memperlihatkan sesosok wanita berambut hitam lurus yang mengenakan gaun tipis minim aksesori. Ia berdiri di atas rerumputan hijau tanpa mengenakan alas kaki, diam dan menatap ke arah langit dengan tenang. "Baiklah, aku akan pergi dulu. Berbicaralah dengannya," ucap Kanda lantas pergi dan menutup pintu. Ramon yang saat ini hanya ditinggal berdua, hanya bisa terdiam dengan rasa takjub. Seolah sedang melihat bidadari, seakan terhipnotis. Ramon merasakan ada sebuah perasaan tak terhindarkan di hati kecilnya saat ini. Ia pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "Perasaan tidak asing apa ini? Padahal ini pertama kalinya aku bertemu dengan dia." Cuaca yang begitu cerah, pas sekali momen saat ini begitu spesial. Di samping perasaan Ramon terasa aneh ketika melihat wanita itu untuk pertama kalinya. Sangat berbeda dari foto yang diberikan. "Apa kamu suka melihat langit?" Ramon bertanya, seraya ia melangkah mendekati wanita itu. Satu, dua menit berlalu dan tidak ada jawaban darinya. Wanita ini masih terdiam dengan menatap langit. "Halo? Apa kamu mendengarku? Aku sedang berbicara denganmu, Nona Shella." Ketika disebut namanya, barulah ia menengok dan merespon sapaan basa-basi Ramon. "Kamu sudah tahu namaku, ya." Suara yang begitu lembut, untuk sesaat Ramon terpaku akan suaranya yang khas. "Eh, iya. Benar. Namaku Ramon." "Begitu ya. Salam kenal, Ramon. Meskipun kamu sudah tahu aku siapa, tapi perkenalkan aku Shella." Pertemuan di antara keduanya bukanlah kebetulan melainkan takdir yang telah direncanakan. Tetapi keduanya masih tidak saling mengenal satu sama lain, apalagi Shella sedang hilang ingatan. "Duduklah jika ada yang ingin dibicarakan," kata Shella, ia pun duduk di kursi panjang di dekatnya. Ramon tidak merasa sungkan lagi, ia juga langsung duduk di samping Shella selagi memperhatikan wajah wanita itu baik-baik. Ia sedang memastikan sesuatu. "Maaf sebelumnya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" "Apa maksudmu?" "Yah, aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya. Auramu terlihat seperti seseorang yang aku kenal," jelas Ramon. "Sepertinya kita tidak pernah bertemu. Aku mengurung diri selama dua tahun di rumah ini. Jadi tidak mungkin kita pernah bertemu." "Dua tahun itu waktu yang sangat singkat. Bisa saja kita pernah bertemu 3-5 tahun yang lalu," pikir Ramon. Shella menggelengkan kepala dan kemudian menjawab, "Tidak. Aku sudah melupakan sebagian besar dari ingatanku." Ramon terdiam, ia tidak bisa menjawab apa pun begitu tahu kondisi Shella hari ini. "Maafkan aku," ucap Ramon merasa tidak enak. "Tidak masalah. Lalu, bagaimana dengan kita? Hubungan ini akankah berlanjut atau tidak?" tanya Shella mempertanyakan status mereka ke depan. "Kita saling dijodohkan karena satu hal. Nona Shella sedang diincar oleh gangster yang belum diketahui berasal dari mana. Bos memintaku untuk menikah denganmu karena itu adalah cara yang paling aman." Shella menganggukkan kepala dan sekali lagi bertanya, "Tapi apakah tidak masalah, merepotkanmu seperti ini?" "Bagiku tidak masalah. Lagi pula, ini demi keselamatan seorang wanita. Di lain sisi pun aku juga sedang mencari keberadaan seseorang," ujar Ramon sambil tersenyum kecil. "Keberadaan seseorang?" "Ya. Dia wanita yang 5 tahun lebih tua dariku. Alasan warna rambutku berwarna merah marun ini juga karena dirinya," ungkap Ramon. "Oh, ternyata dia wanita yang memiliki warna rambut itu? Itu sangat jarang ditemui. Tapi sampai sekarang kamu belum menemukannya?" "Iya, begitulah. Lalu dengan kesempatan seperti ini, aku berharap aku bisa mencarinya lebih luas lagi. Siapa tahu dia ada di kota lain," kata Ramon. "Kalau begitu aku akan membantumu mencarinya, tetapi dengan satu syarat." Shella mengajukan syarat penting demi kerja sama yang akan ia jalin dengan pria bernama Ramon ini. Di dalam hatinya tidak ada rasa takut sama sekali meskipun ia sedang berhadapan dengan gangster. Lantas, Shella mendekatinya dan mulai berbisik langsung ke telinga Ramon, "Bantu aku untuk memulihkan ingatanku yang hilang." Pernikahan tanpa didasari dengan cinta, mungkin akan jadi cacat. Ketika memikirkan itu, Ramon justru tersenyum puas lantaran wanita ini memilih untuk memanfaatkan pernikahan dengan suatu tujuan tertentu. "Bagaimana jawabanmu?" tanya Shella. "Baiklah, aku cukup tertarik dengan ide kerja sama dan saling bantu ini," jawab Ramon setuju. Ramon mengangkat tangan kanan kepadanya sambil berkata, "Kalau begitu kita sudah sepakat. Kita akan menikah sampai tujuan kita tercapai." Tidak ingin menjabat tangan besar itu, Shella sejenak diam menatap Ramon selama beberapa saat, lalu ia mengenggam tangan besar Ramon dengan kedua tangannya. "Maaf dan terima kasih," ucap Shella merasa bersyukur telah bertemu dengannya. Inikah takdir? Kedua orang yang sudah lama ditakdirkan untuk bersama, meski dengan cara yang salah, kelak mereka akan memiliki hubungan yang abadi. 'Lagi-lagi aku merasa aneh dengan perasaanku sendiri,' batin Ramon dengan wajah yang sedikit memerah. Bagai dilapisi oleh cahaya yang bersinar, perasaan senang bercampur sedih tanpa diketahui sebabnya. Sentuhan tangan Shella membuat pria canggung itu menjadi gugup tak karuan. Ramon terdiam menahan rasa malu yang tiba-tiba muncul. *** Siang ini, Ramon mengajak Shella untuk pergi keluar. Setelah diijinkan, keduanya pun langsung pergi menuju ke suatu tempat. Restoran yang tidak tergolong mewah, sederhana namun elegan. "Apa kamu tidak ada nafsu makan?" tanya Ramon pada Shella yang duduk merenung di kursinya, ia bahkan tak menyentuh makanannya seakan ada sesuatu yang menganggu. "Katakan saja jika tidak selera, atau kamu ingin makanan lain untuk makan siang hari ini?" Ramon berusaha mencairkan suasana yang masih canggung ini. "Tidak," jawab Shella sambil menggelengkan kepala dengan wajah pucat. Semakin lama ia semakin merasa tidak enak badan. Sebenarnya Shella tidak merasa nyaman karena ini di luar rumah. Sudah lebih dari dua tahun menetap dalam rumah tanpa melihat dunia luar, ponsel pun hanya khusus untuk menghubungi keluarganya saja. "Lalu? Nona Shella—" "Maaf, aku akan ke kamar kecil sebentar," sahut Shella lantas beranjak dari tempat duduk. "Tunggu, Nona Shella! Biar aku antarkan," kata Ramon. "Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri. Aku akan kembali dalam beberapa menit," tolak Shella tersenyum masam. Ramon tidak benar-benar mengerti, meski ia sadar kalau Shella sedang merasa tidak nyaman karena sesuatu. Dalam satu kesimpulan, ia terpikirkan bahwa ia sendirilah yang mungkin menjadi penyebab Shella tidak nyaman. "Ini salahku?" Sudah lebih dari 10 menit, Shella tidak kunjung muncul. Ramon semakin gelisah dari waktu ke waktu hingga 20 menit telah berlalu. "Apa wanita itu selama ini saat berada di kamar kecil? Aku baru tahu," celetuk Ramon. Karena kegelisahannya ia menjadi tidak tenang, Ramon segera berlari ke arah kamar kecil. Khusus perempuan dan lelaki saling bersebrangan, melihat tidak ada orang di sekitar, Ramon lekas masuk ke dalam kamar kecil perempuan. "Nona, maaf. Aku—" Tak! Sepatu hak sedang dihentakkan ke lantai basah, Ramon diam mematung tepat setelah memasuki area di sana lantaran sebilah pisau tajam menyambutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN