bc

Menikahi Seorang Gangster

book_age18+
34
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
HE
fated
gangster
blue collar
bxg
cruel
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Ini kisah seorang wanita yang hampa, kehilangan semua ingatannya membuat ia jatuh ke dalam keterpurukan akibat trauma di masa lalu. Shella dinikahkan dengan seorang anggota gangster terkuat di Kota Kembang, ialah Ramon.

Sepanjang perjalanan, meniti hidup bersama dengannya, perlahan ingatannya mulai pulih sedikit demi sedikit. Meski begitu semua ingatannya memicu ketakutan, kemarahan dan kebencian yang luar biasa. Namun berkat Ramon yang ternyata memiliki hubungan dengannya di masa lalu, serta kasih sayang atau rasa cinta yang datang tiba-tiba membuat Shella selalu bisa bangkit.

Hubungan mereka yang dipikir akan berlanjut, tetapi tidak lagi setelah para gangster dan orang-orang berstatus tinggi mulai menyadari siapa identitas Shella dan mengganggu hubungan pernikahan mereka.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Pria dan Wanita
Rambut merah tua berkibar di bawah rembulan malam. Wanita tanpa mengenakan alas kaki itu terus berlari sampai napasnya tersengal-sengal. Wajahnya memucat karena takut akibat beberapa pria mengejarnya dari belakang. "HENTIKAN WANITA ITU! JANGAN SAMPAI KEHILANGANNYA ATAU KALIAN SEMUA AKAN AKU BUNUH!" teriak seorang pria berbadan gempal, memimpin sejumlah orang guna menangkap wanita itu. "Ugh! Mereka masih saja mengejar, lalu aku harus bagaimana? Ke mana aku akan pergi? Ramon, tolonglah aku, di mana dirimu sekarang?" Wanita itu terus merengek, memohon pertolongan pada seseorang yang ia kenal. "Mau ke mana kau? Jangan melarikan diri seperti pengecut!" "Aku tidak akan kembali! Aku tidak mau kembali ke neraka itu! Dasar orang-orang dungu!" pekiknya selagi terus berlari tanpa henti. Namun, secara berkala langkah kakinya melemah dan membuat ia tertangkap oleh sejumlah orang tersebut. "Akhirnya tertangkap. Kau pasti jadi lemah karena obat. Kasihan sekali," ejek pria sombong itu sambil mencengkram kuat pergelangan tangan wanita berambut merah yang sudah tersudutkan di suatu jalan sepi. "Kau pikir aku akan tertangkap begitu saja? Meskipun aku melemah, tapi akan aku pastikan bahwa kali ini aku bisa melarikan diri dari tempat ini!" Sorot matanya berubah, ia kemudian menghentakkan kaki kiri lalu muncullah sebuah pisau dari balik jas hitam yang dikenakannya. Tanda-tanda akan menyerang. Dalam sekejap, tanpa diketahui siapa pun di sana dan ditutupi oleh banyak suara kendaraan berlalu-lalang, wanita berambut merah tua itu telah menghabisi musuh-musuhnya yang lengah. "Aku akan pergi menemui Ramon." Segera ia pergi sebelum kelompok lainnya akan ikut mengejar nanti, namun ia harus menahan rasa sakit akibat sedikit dari perlawanan mereka saat diserang sebelumnya. Setetes demi setetes darah pun akhirnya mengalir keluar dengan deras dari lubang di perutnya. "Ramon keluarlah. Aku sendirian. Karena itu, keluarlah dan temui aku. Aku sangat ketakutan sekarang," ucapnya sambil terus berjalan hingga tak sadar telah berada di depan rumah seseorang dan kemudian ia pun ambruk di tempat. Seseorang yang merupakan si pemilik rumah, mengintip dari balik tirai jendela. Sekilas ia hanya melirik sinis ke arah seorang wanita yang sekarat di depan rumahnya. "Ada siapa di sana?" tanya seorang wanita yang berada dalam rumah itu juga. “Hanya orang sekarat. Kita tidak perlu membantunya. Dia pasti anggota gangster yang kabur dari kelompok." "Astaga, kota ini semakin lama semakin berbahaya." "Kau benar. Mungkin tak seharusnya kita tinggal di tempat seperti sampah ini." Kedua orang di dalam rumah mengabaikan ia. Sementara itu, raut wajahnya semakin memucat, sorot mata terlihat seperti ikan mati. Ia mungkin akan tiada di tempat itu tapi kehendak berkata lain saat sebuah kendaraan beroda empat terhenti di dekat sana. "Istriku, sepertinya ada seseorang yang menjadi korban lagi. Aku sangat cemas, apakah kita bisa hidup sampai besok atau tidak." "Jangan berkata seolah kau akan mati, suamiku. Lebih baik cepatlah tolong wanita itu. Aku tidak tega." Ternyata masih ada sosok manusia berhati nurani. Entah bagaimana dengan lelaki bernama Ramon yang sejak tadi dipanggilnya namun tidak kunjung datang. "Baiklah. Aku mengerti, tapi kita harus menanggung resiko besar jika ingin membantunya. Apakah kau siap?" "Wanita itu akan mati jika kau terlambat menolongnya. Cepatlah!" Si Istri mendesak dan dengan bersuara tinggi. Di tengah derasnya hujan, darah segar mengalir cepat dan membuat tubuh wanita muda itu semakin dingin. Sosok pria tua itu memandang dengan rasa kasihan, sebelum menggendongnya dengan hati-hati, ia mencoba untuk memeriksa ke sekitar. "Bagus, tidak ada orang. Untung saja hujan, karena dengan begini jejaknya akan hilang," gumamnya lekas pergi. *** Dua tahun berlalu, di kota kembang, wilayah utara. “Shella! Ayo bangun dan sarapan! Semua orang sudah menunggu." Tiara, Ibu angkat memanggil dengan suara keras. "Baik Ibu! Aku akan turun." Shella, wanita muda yang sewaktu itu ditolong oleh pasutri ramah. Rambut merah tuanya sudah tergantikan dengan warna hitam legam. Lantas, Shella tersenyum namun sorot mata yang mati itu tidak pernah berubah. “Nak, bagaimana keadaanmu? Semalam kamu sempat demam. Aku harap kamu sudah sehat." "Aku sudah tidak sakit. Hanya saja aku mengingat hal aneh, mungkin hanya sekadar mimpi buruk." "Mimpi buruk? Apa itu, nak?" Ibunya panik saat tahu Shella bermimpi buruk semalam. "Tidak apa, bu. Aku hanya bermimpi dikejar oleh beberapa orang pria. Mereka berteriak memintaku menunggu tapi anehnya aku selalu berlari sambil memaki mereka," ungkapnya dengan tenang selagi duduk dan bersiap untuk sarapan. "Astaga, jauhkan mimpi buruk itu dari putriku. Aku tidak mau melihatnya menderita," pinta sang Ibu pada Yang Maha Kuasa di atas langit. Rupanya Tiara sangat cemas sekali. Shella bermimpi? Tidak, itu salah besar. Shella bahkan tak sadar bahwa itu adalah ingatan dua tahun yang lalu. Lantas mengapa ia bermimpi? Jelas saja ia mengalami amnesia atau hilang ingatan. "Ibu, itu hanya mimpi buruk. Bagiku itu bukanlah masalah." "Tidak masalah apanya, ibumu itu sangat khawatir. Lain kali aku akan memberikanmu tanaman lavender di kamar, dengan begitu kamu bisa tidur nyenyak," sahut si Ayah-Kanda. "Tidak perlu Ayah," tolak Shella secara halus. "Tidak usah bilang tidak perlu. Lalu, hari ini kamu akan bertemu dengan calon suamimu. Katakan jika merasa tidak cocok, ya." "Calon? Apa aku harus menikah?" tanya Shella sedikit bimbang. "Kamu tidak usah khawatir. Dengan menikah dari orang yang punya pengaruh besar akan membuatmu hidup aman dan tentram," kata sang Ayah. "Baiklah, Ayah. Aku akan menurut." Pernikahan itu adalah hal yang sakral. Hilangnya ingatan Shella membuat distraksi antara kenyataan dengan mimpi atau ilusi. Pagi ini Ayahnya mengatakan bahwa Shella akan menikah dengan orang yang berpengaruh besar. Tapi apakah ini satu-satunya jalan keluar? Di mana Shella saat ini bahkan dari dulu sudah diincar oleh banyak orang dengan niat buruk. "Aku bertanya-tanya, apakah aku harus menikah dengannya hanya karena seseorang akan datang dan mencoba melukaiku?" "Iya Shella. Ini demi kebaikanmu. Percayalah." "Baiklah Ayah." Tatapan sendu dalam arti yang mendalam, antara rasa kesedihan karena suatu saat akan berpisah dengan kedua orang tua angkatnya dan dengan rasa yang sulit diucapkan melalui kata-kata. 'Perasaanku terasa janggal. Aku gugup? Tidak, aku mungkin sedang bingung karena semalam bermimpi buruk dan aneh itu,' batin Shella seraya menggelengkan kepala. Pukul 9 pagi. Cuaca yang baik diawali pula dengan kegiatan sehat. Langit kebiruan terlihat begitu memancar, seakan kebahagiaan akan datang pada sosok wanita yang malang itu. "Aku penasaran, siapa pria yang akan kunikahi? Yah, pastinya kami tidak akan pernah saling mencintai. Apalagi aku bukanlah orang yang pantas untuk dicintai seseorang," rutuk Shella. Ia saat ini sedang duduk di halaman belakang dan menunggu calon suaminya datang. Sembari menunggu, ia terus mendongakkan kepala tuk menatap langit yang biru. "Siapa yang bilang kamu tidak berhak untuk dicintai? Jangan katakan itu," sahut Tiara yang menghampiri dengan wajah cemas. *** Di suatu tempat yang sepi nan gelap. Terdapat seorang pria berambut merah tua berdiri di bawah lampu kuning dan sedang menatap jengkel ke arah pria yang merupakan musuhnya. "Tolong ampuni aku." "Tidak akan." Pria yang bersimbah darah itu telah bertekuk lutut dan memohon ampunan namun tidak diberikan rasa kasihan sedikit pun. "Kau pikir aku mau membiarkanmu berkeliaran di wilayah utara? Dan juga kau melecehkan seorang wanita, dasar sampah," hinanya tanpa ampun. Pria berambut merah tua, perawakan yang tinggi dengan paras rupawan. Sosoknya disegani oleh banyak orang karena tidak ada seorang pun bisa menandingi kekuatannya. Meski begitu ia hanyalah seorang anggota gangster di wilayah utara dengan julukan terkenal. "Penjagal Merah, kau!" Musuhnya berniat kembali menyerang tapi sebilah pisau itu lebih dulu yang mengakhiri hidupnya. SLASH! "Hah, menyebalkan!" gerutunya seraya menghela napas. "Hei, Ramon! Bos memanggilmu!" seru seorang anggota lainnya menghampiri Ramon di jalan gelap. "Tumben sekali memanggilku." "Mana aku tahu, pokoknya cepat kembali ke markas." Di sudut jalan yang gelap, sangatlah berbeda ketika Ramon mulai melangkah ke arah berlawanan. Terhitung 5-7 langkah, suasana di sekitar berubah drastis. Orang berlalu-lalang, kendaraan, keramaian ini jauh berbeda dari sudut jalan yang ada di belakangnya. *** BRAKK! Ramon datang dengan cara yang heboh, ia sengaja mendobrak pintu ruangan yang dimasukinya. Lantas semua orang di dalam melirik Ramon dengan sinis. "Halo! Pagi semua! Hei, Ayah! Kali ini ada apa?" tanyanya dengan riang seakan ia masih remaja. "Dari mana saja kau?" Sosok pria di hadapan Ramon, ialah bos di wilayah utara. Hanya bos kecil yang kebetulan menguasai wilayah ini. Yuda. "Malam ini seperti biasa, meraka tersesat atau mungkin sengaja mencari dewa kematian," jawab Ramon seraya mengangkat kedua bahu. "Ramon, kau sedang tidak ada kerjaan bukan?" "Iya, benar. Memangnya ada apa? Apa yang perlu aku lakukan?" tanyanya antuasias. "Kau menganggapku sebagai Ayah, jadi terima permintaan ini." Sejenak Yuda menjeda kalimatnya selagi menghela napas pendek. "Menikahlah," imbuh Yuda. "Baiklah." Awalnya Ramon mengiyakan begitu saja. Tapi setelah beberapa lama ia tersadar. "Tu-tunggu sebentar!" Dengan terbata-bata ia berteriak sambil menggebrak meja. "Ada apa Ramon? Kau keberatan. Katamu aku ini Ayahmu, kau sudah banyak bekerja keras, jadi ini adalah tugasmu yang terakhir. Menikahlah," ujar sang bos tanpa berbasa-basi. Ekspresinya pun sama sekali tidak berubah, selalu datar seakan ini masalah sepele. "Yang benar saja? Aku menikah? Tidak mau!" Ramon menolak mentah-mentah. Kemudian Ramon menunjuk bos sekaligus sosok yang disebut sebagai Ayah baginya dan berteriak sekali lagi, "Kau 'kan tahu aku sudah mencintai seorang wanita! Jadi mana mungkin aku mengkhianati perasaanku dengan menikahi wanita lain?" Cinta adalah hal yang sulit didapatkan bagi para gangster. Akar dari mereka saja sudah busuk, persetan membangun keluarga, memiliki rekan saja itu sedikit mustahil. "Ramon, aku tahu kamu mencintai seorang wanita yang telah lama kau cari. Ini sudah 10 tahun terakhir semenjak kau kehilangan dirinya." "Iya, kau tahu itu. Lalu kenapa memintaku menikah?" Batin Ramon terasa sesak di d**a. Alasan mengapa ia berdiri di tempat seperti ini sebagai anggota gangster yang ditakuti hanyalah untuk menemukan kembali kekasih tercintanya. "Aku tidak mau menikahi wanita yang tidak aku cintai. Meski ini hanya tugas, tetap saja ini sulit." "Iya, ini tugasmu. Hanya kau yang bisa melakukannya." "Apa maksudmu?" Ramon bertanya, ia kemudian mengangkat kepalanya lagi agar dapat menatap wajah bos utara. "Wanita bernama Shella membutuhkan perlindungan khusus. Tidak bisa jika hanya sekadar mengawal, dia diincar oleh gangster entah dari wilayah mana, kita belum tahu," ungkap si bos. "Apa bos membutuhkan sesuatu dari keluarganya sampai membuatku harus turun tangan dan menikahi wanita yang kelihatan suram ini?" Sekali lagi Ramon bertanya. Ramon menunjuk selembar foto seorang wanita yang barusan disodorkan oleh orang lain. Menanggapi pertanyaan Ramon, Yuda mengangguk dengan ringan tanpa mengeluarkan ekspresi sekecil apa pun itu. "Aku anggap kau menerima permintaan konyol ini demi mendapatkan sesuatu yang besar," sindir Ramon. "Itu tidak salah. Aku butuh persenjataan, dan keluarganya mampu memberikan itu berapa pun," kata Yuda tanpa menutupinya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook