"Hemm …" Dion menghela nafas berat, setelah berdebat hebat dengan ibunya. Bukan berdebat, tapi lebih seperti menampar Dion. Diana benar-benar marah besar. Bahkan nyeri di pipi kirinya masih berdenyut, saking kencangnya. Jika bertanya kemana Diana, Diana sudah pulang dari 2 jam yang lalu. Dan disinilah Dion, duduk di meja belajarnya dengan layar komputer yang masih menyala. Pikirannya sama sekali tidak konsen. Sudah dua jam Dion mengurung diri di kamar, ingin fokus mengerjakan tugas saja. Tapi kenyataanya tidak bisa. Hati dan pikirannya sama. Sama-sama berantakan. "Hah." Dion menunduk, memijit pelipisnya. Ia benar-benar pusing sekarang. Tok tok tok. "Dion." "Sena boleh masuk?" Dion tidak menjawab. Tak lama, pintu terbuka. Gadis yang memakai piyama lebah berwarna biru dong

