"Maaf ma, Dion-" "Kamu juga Dion!" Dion menunduk, membiarkan mamanya marah-marah. Dion akui ia salah. Hampir saja ia kelepasan. Mungkin kalau mamanya tidak datang kesini, mungkin saja dia dan Sena- tidak, tidak. Jangan berpikiran kotor Dion. Jangan. Sena harus dijaga bukan dibuka. Dijaga sampai akad telah terucap, dijaga sampai janur kuning melintang, dijaga sampai ada kata sah berkumandang. Dan dijaga sampai cincin telah melekat di dua jari manis di depan penghulu dan para saksi. "Bisa-bisanya kalian ngelakuin perbuatan kayak gitu, siang begini!" Dion dan Sena menutup mata, menunggu ungkapan marah yang meledak-ledak. "Kenapa ga malam aja?!" "Loh?" Sontak Dion menaikan wajahnya, bingung. "Ha?" Sena juga sama bingungnya, menaikan wajahnya menatap Diana yang berdiri di ambang pint

