PART 215 - BEBAN

1117 Kata

"Nanti kalau ada apa-apa telfon aku ya," ucap Dion mengantar Sena sampai depan kelas. Ia mengusap-usap rambut Sena yang begitu halus selembut sutera. Rambut Sena terlihat lebih panjang, di bawah punggung. Saat Dion pertama kali bertemu Sena, rambut gadis itu panjangnya di bawah bahu. "Tapi, kan Sena ga ngerti caranya telfon Dion. Itu kemarin Sena ga sengaja kepencet." Dion tertawa kecil, mencolek ujung hidung Sena yang bangir, "Kamu lupa ya, kan kamu udah punya teman." Hidung bangir = hidung yang mancung, kecil, dan proporsinya sempurna. "Hehehe, oh iya lupa," ucap Sena menepuk dahinya, "Nanti Sena tanya Andin hihihi," Sena tersenyum senang, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dion tersenyum tipis, mengusap rambut Sena, "Rambut kamu udah panjang , apa kamu ingin potong?" tawa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN