"Taman milik tuan Dion," ucap pak Hari tersenyum, "Anda tidak akan menyesal jika pergi ke sana." "Kenapa?" tanya Sena penasaran. "Taman itu untuk Anda, tuan Dion yang menciptakannya sendiri." "Ha?" seketika Sena menganga terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Taman? Kapan Dion membuatkannya taman? Sena bahkan tidak tahu sama sekali. "Apa anda ingin kesana?" "Mau mau," ucap Sena semangat. "Baiklah … mari ikut saya." Sena mengangguk, dan mengikuti langkah pak Hari. Tadinya Sena berjalan di belakang, tapi pak Hari mempersilakan Sena untuk berjalan di depan. Alasannya adalah sang nona tidak boleh di belakang. Emm, alasan yang sejujurnya membuat Sena kurang mengerti. Mereka berjalan meninggalkan ruang tamu, namun baru beberapa langkah, panggilan Dion membuat mere

