Diana sadar, ia sangat menyayangi Sena. Ia tak dapat memungkiri hatinya, bahwa Sena lah gadis yang terbaik buat Dion. Setidaknya, begitulah batin seorang ibu. "Sena siapin ya ma," Sena tersenyum lebar, penuh semangat. "Tadi Sena sama Dion masak banyaaaak banget. Ada sayur sop, ayam goreng, sambal, dendeng-" Sena mendikte semua yang ia masak, "Terus-" Belum selesai Sena berbicara, tubuhnya direngkuh sang mama. Diana memeluk erat tubuh Sena, menangis tak bersuara. "Kamu jangan tinggalin Dion ya." "Maksudnya ma?" ucap Sena yang masih belum mengerti, "Sena, kan selalu di sini," jawab Sena tersenyum. "Apalagi di sini ada mama. Sena jadi tambah seneng." Diana menghapus air matanya di sudut mata, "Jangan tinggalin aja." Diana berusaha menahan mati-matian, tapi air matanya tak bisa berhen

