Mereka duduk saling berhadapan, terhening di pagi yang kacau. Di antara mereka, ada bocah yang menjadi pokok permasalahannya. Asal muasal perebutan tak berkesudahan itu. Juvenal melirik bolak-balik, bingung mau bicara apalagi saat ajakan negosiasi yang ia tawarkan ditolak mentah-mentah. Salah Richard, raksasa kesayangannya itu seenaknya saja meninggalkan tempat persembunyian mereka yang aman. Pergi menghampiri Daddy j*****m untuk bicara baik-baik. Seolah lelaki pirang itu bisa diajak bicara saja, padahal Juvenal sudah berkali-kali menegaskan betapa buruknya sifat ayahnya itu. Tak ada perasaan yang bisa masuk ke hati yang beku, tak ada pengertian yang bisa membuat otaknya paham. Hanya ada emosi yang meledak-ledak dalam dirinya, sekumpulan kebusukan yang menyatu sempurna dalam satu wadah.

