Sesampainya Yvone dan Ernest di kamar Rin, mereka lega. Melihat cebol itu menepati kata-katanya, “Sini! Gabung sama aku~” menyambut kedatangan mereka dalam bathtub penuh busa. “Yay!” Seru Ernest, ikut masuk. Sedangkan Yvone memeriksa sekeliling, mencari tanda-tanda adanya sisa pasir atau air laut yang mungkin ditinggalkan jika kecurigaanya benar. Ya, Yvone tak serta merta percaya begitu saja. Dia mungkin lega, tapi tak seutuhnya yakin Rin akan mengabaikan Avel dalam kondisi seperti itu. Itulah nilai sesungguhnya dari pertaruhan mereka, mengetes kesetiaan Rin dalam kondisi harus memilih antara hidup Avel atau perasaaan mereka. “Jaket Adolf yang tadi kau pakai dimana, Rin?” Deg. Rin tersentak. “Tuh di keranjang pakaian kotor.” Gadis itu menoleh pelan-pelan, takut-takut

