Nadira bukan sosok spesial seperti Aira. Ia hanya seseorang yang kebetulan kuingat saat aku sedang senggang.Biasanya, aku akan melihat ponsel, mengecek status chat atau travelling ke media sosialnya sebentar. Ingin tahu apa yang sedang Nadira lakukan dan alami seharian ini.Tapi hanya sebatas itu saja, tidak lebih. Bagiku yang sedang kesepian, penting juga mencari sebuah kesibukan. Jadi, saat Nadira menawariku sebuah pekerjaan remeh, aku tanpa pikir panjang menerimanya. Ya, paling tidak kedatangan juga bantuanku berguna bagi orang lain. "Atas kemauanku sendiri. Benar aku memang berbohong, tapi kamu memang butuh bantuanku kan?" tanyaku menatap sepasang bola mata Nadira yang sempat menyipit lantaran curiga. Baiklah, dia memang cantik, tubuh semampai putih dengan rambut panjang lurus. Tapi ba

