2

1152 Kata
Sepulang dari acara pernikahan Ana, aku segera menuju ke tempat kerja. Aku bekerja di salah satu bimbingan belajar khusus matematika dan bahasa inggris. Kebanyakan murid di sini adalah anak di usia sekolah dasar. Aku mengambil bagian untuk mengajar anak-anak yang masih di level TK. Sepertinya mudah bukan mengajari anak-anak kecil itu? Tentu tidak, kesabaran adalah hal yang benar-benar harus dikedepankan. “Udah selesai acaranya?” “Belom, tapi gue cabut duluan.” “kenapa? Gak sanggup sama pertanyaan orang?” “Salah satu alasannya.” Aku melirik lusi yang duduk di sampingku. “Makanya suruh Mas Arghi buat cepet lamar kamu.” “Tidak semudah itu Ferguso, kalau hanya dengan berkata seperti itu dia ngawinin gue, gak usaah lo suruh juga udah gue bilang.” Arghi, laki-laki yang kini sedang menjalin hubungan denganku. Setelah perceraianku dengan Jihan, hanya Arghi yang bisa membuatku untuk membuka hati. Arghi adalah orang yang lama kukenal. Ia adalah tetanggaku, dulu saat kecil Arghi sering bermain di rumahku layaknya teman bermain sebaya lainnya. Hanya saja saat sekolah kami harus berpisah. Arghi harus bersekolah di luar kota dan tinggal di asrama. Ia ditawari oleh salah satu tetangga di lingkungan rumahku untuk bersekolah di sebuah yayasan khusus anak-anak Yatim dan piatu. Ayah Arghi sudah meninggal saat Arghi berusia 7 tahun. Arghi masih memiliki adik yang usianya hanya terpaut satu tahun. Yang kudengar mengapa Arghi menyetujui ajakan tetanggaku itu karena ia merasa kasihan pada ibunya yang harus bekerja untuk membiayai sekolah Arghi dan adiknya. Dua tahun setelah Arghi lulus sekolah, ia bekerja di salah satu minimarket. Aku sering berteemu dengannya jika kuliahku sedang libur, ya, meski hanya di tempatnya bekerja. Aku sengaja berbelanja atau terkadang hanya mampir sebentar untuk bisa bertemu dengannya. “kalian gak lagi berantem kan?” “ya gitu, hari ini chating, tiga hari lagi baru dibales.” “gila bener, serasa jadi ABG lagi kan mbak?” “ngelebihin Lus.” “Sibuk kali mbak,” “Sesibuk-sibuknya orang, kalau memang cinta pasti akan tetap meluangkan waktunya.” Ketika orang lain menasehatiku dengan argumen positif, aku sendiri malah menentangnya. Bukan aku tidak bersyukur memiliki Arghi yang masih perjaka untuk diriku yang bekas orang lain ini, tapi sikap dingin Arghi membuatku selalu beranggapan kalau aku memang tidak pernah dianggap oleh Arghi. Bahkan untuk membalas pesanku saja sepertinya Arghi menyepelekannya. Sudah jarang memberi kabar, dia malah membuat story WA yang membuatku overthinking. ☆ 'Hai, Ra. Apa kabar?' Aku berharap itu adalah pesan masuk dari Arghi. Namun, nama Hesyam terpampang di sana. Hesyam adalah laki-laki yang pernah memintaku untuk menjadi istrinya. Namun saat itu Jihan adalah yang terbaik di mataku. Daripada Jihan, sebetulnya aku lebih mengenal Hesyam. 'Baik, Syam. Kamu gimana?' Bahkan untuk kedua kalinya saja, aku masih mempertimbangkan pinangan Hesyam. Sebulan setelah perceraianku, aku mengabari Hesyam. Jujur, hatiku kalut. Aku seperti kehilangan sesuatu. Hesyam yang sedari dulu memang menginginkanku segera mengutarakan maksudnya kembali. Entah mengapa aku kembali menolaknya. 'Aku baik-baik saja. Ra, aku sudah diterima di salah satu perusahaan di Semarang.' Jantungku sudah berdegup kencang, aku tau Hesyam pasti akan membahas soal pernikahan lagi. 'Iya, Syam. Syukur kalau begitu.' Dulu aku pernah meminta Hesyam untuk mencari pekerjaan sebelum dia hendak melamarku. Hesyam seorang sarjana IT, namun karena orangtua Hesyam adalah orang berpunya, setelah lulus kuliah Hesyam tidak lantas mencari pekerjaan. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah. Mengajar anak-anak di lingkungan rumahnya. Hesyam mendirikan sebuah perpustakaan kecil di samping rumahnya. Ia juga menyediakan komputer untuk anak-anak di lingkungannya itu agar mengenal teknologi. Namun, tuntutam dari orangtua Hesyam padanya begitu besar membuat Hesyam merasa terbebani. Ia pun memilih pergi dari rumah dan meninggalkan semua yang sudah ia lakukan di rumahnya. Dan justru aku dulu juga memaksa Hesyam untuk bekerja di kantoran, sesuai dengan bidang yang ia kuasai. Apa bedamya alu dengan orangtua Hesyam, yang sama-sama menuntut Hesyam untuk menjadi orang lain. Tidak menikmati hidupnya. Atau mungkin itu semua hanya alasanku saja, agar Hesyam menjauh dari hidupku. Karena aku tau Hesyam tidak akan permah bisa menyanggupinya. Kenapa kehidupan itu lucu sekali. Di saat ada orang yang mencintai kita, justru kita lebih memilih mengejar seseorang yang jelas-jelas mengacuhkan kita. Seharusnya aku tau bagaimana rasanya diacuhkan, lalu mengapa aku masih bersikap acuh pada Hesyam. 'Apa tawaranku belum kamu pertimbangkan?' Aku menghela nafas dalam-dalam. Apa yang harus aku jawab? Aku memang tidak bercerita pada Hesyam kalau saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan Arghi. Dalam sisiku yang lain, ada rasa takut kehilangan jika aku memberitahu Hesyam tentang Arghi. Apa aku egois jika melakukan hal seperti ini? Di tengah ketidakpastian Arghi, aku menempatkan Hesyam sebagai ‘cadangan’. 'Ra, Ayahnya Anis meninggal.' Pesan dari Ana yang tiba-tiba saja itu mengalihkan perhatianku atas Hesyam. Aku segera membalas pesan Ana dan menghiraukan pesan Hesyam. 'Innalillahi, kapan An? Kenapa mendadak sekali?' 'Iya, aku baru dikasih kabar sama keponakannya. Kapan mau pergi melayat?' Aku menatap jam di pergelangan tanganku, sudah pukul 17.30 untuk pergi sekarang rasanya tidak mungkin. 'Besok aja gimana? Kamu sama Reihan?' Berhubung Ana sudah menikah, tidak mungkin aku langsung to the point mengajaknya pergi berdua saja. Ah, memang benar, ditinggal nikah mantan kekasih itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ditinggal menikah oleh seorang sahabat. Ana adalah orang yang selalu menemaniku saat aku pergi ke manapun. Begitu pun sebaliknya, saat hendak bepergian ia selalu mengajakku untuk menemaninya. Tentu saja, saat dia menikah aku sangat merasa kehilangan. 'Gak, aku sama kamu lah. Besok pagi jam setengah 8 aku jemput kamu.' 'Ok' Setelah membalas pesan Ana, aku kembali menatap kontak Hesyam. Perasaan bersalahku kembali muncul seketika saja. Hesyam apa yang harus lakukan padamu? ☆ Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap. Aku adalah tipikal orang yang tidak enakan, daripada aku yang ditunggu lebih baik aku yang menunggu. “Ra, mau ke mana?” “Mau takziah bu.” “Ke mana?” “Ayahnya Anis meninggal.” “innalillahi, kapan?” ibu segera meletakkan pisau yang sedang ia gunakan untuk mengiris mentimun. “Beliau sakit?” “Iya, darah tinggi katanya bu.” “Ya, Allah ... kamu mau ngelayat sama siapa? Bawa motor?” “Gak, aku sama Ana. Nanti Ibu sama Bapak aja, siangan juga gak apa-apa.” “Ya udah, oh, ibu titip kamu ya?” “Apa bu?” “Baju, bawain ke rumah Mbak Ida, ya?” “Iya, taruh di depan biar aku gak lupa.” Mbak Ida adalah sahabat karib ibuku. Mereka berteman sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Mbak Ida seorang janda dengan anak satu. Anaknya perempuan, sekarang ia masih duduk di bangku SMA. Untuk memenuhi kebutuhannya, Mbak Ida bekerja sebagai penjahit. Ibuku sering membawa baju miliknya atau milik bapak yang robek atau perlu dipermak ke tempat mbak Ida. Ibu bilang ini adalah bentuk tolong menolong tanpa harus menyinggung perasaan mbak Ida. *Image Aku udah sewa, jadi kan? Mataku membelalak saat melihat pesan masuk dari Arghi. Foto dengan gambar sebuah kunci kamar hotel Arghi tunjukkan padaku. Aku hanya bisa menelan ludah dalam-dalam. Apa harus sampai begini Ghi, untuk bisa mendapat perhatian kamu? ☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN