bc

Lanjar

book_age18+
304
IKUTI
1.4K
BACA
love-triangle
possessive
second chance
dominant
twisted
sweet
bxg
coming of age
self discover
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

"Kalau saya berjuang sesudah menikahi kamu bagaimana? sepertinya menghalalkan dulu hubungannya, insyaallah perjuangannya akan di ridhoi Allah SWT dan menambah pahala kita sebagai suami-istri."

Ada satu hal yang harus kita benar-benar sadari dan kita tanamkan dalam diri kita bahwa cinta itu adalah anugerah dari langit. Bahwa cinta itu adalah pemberian dari Allah SWT dan tidak mungkin Allah memberikan rasa cinta yang membuat seorang hamba bertambah dosa.

"Aku pernah gagal dalam berumahtangga, bukankah aku harus berhati-hati?"

"Tentu saja, asal kamu tidak salah jalan saja. Yang menambah dosa, yang menambah kita jauh dari Allah, itu namanya bukan cinta."

Entah mengapa ucapan Hesyam seolah menamparku. Tiba-tiba aku teringat akan kejadian di hotel tempo hari.

"Cinta itu berasal dari Allah SWT, begitu juga dengan segala penghidupan di dalamnya.Dan cinta yang Allah titipkan kepada hamba-hambanya di bumi ini, cuma satu bagian dari 100 bagian yang Allah simpan di dalam surga. Dari satu bagian itulah kita bisa melihat Cinta seorang ibu kepada anak, seorang ayah kepada putranya, seorang anak pada orangtuanya dan cinta pasangan ke pasangan lainnya."

Setelah perceraiannya dengan Jihan, Kiara kembali dipersulit dalam urusan cintanya. Kiara terjebak dalam cinta yang tidak pernah ia bayangkan. Tiga laki-laki dengan kepribadian yang berbeda, datang secara bersamaan dalam kehidupan Kiara. Kiara bingung, satu memiliki sifat dingin dan cuek, satu memang perhatian, yang satu lagi sering kali menarik ulur perasaan Kiara. Di antara banyaknya dorongan untuk kembali segera menikah, pada siapakah hati Kiara akan berlabuh?

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Lanjar Aku tersenyum saat melihat Ana diiring oleh keluarganya menuju masjid di mana dia akan melangsungkan akad nikah dengan calon suaminya, Reihan. Dari ke-4 sahabatku, Ana lah yang terakhir menikah. Anis, anak terpintar kedua dalam circle pertemanan kami menikah lebih dulu, ia sudah memiliki seorang anak perempuan yang usianya menginjak angka 8. Rima, anak terpintar pertama dia menikah di urutan nomor ke 3, sekarang ia sedang mengandung, kandungannya kini berusia 7 bulan. Dan Ana, setelah sekian lama ia menunggu kedatangan seorang pangeran dalam hidupnya akhirnya, hari ini ia dipersunting oleh Reihan. Lalu bagaimana denganku? Di antara para sahabatku, akulah yang paling tidak beruntung. Tiga tahun yang lalu, aku menikah dengan seseorang yang sebenarnya aku impikan. Bagaimana tidak, semasa aku duduk di bangku SMA aku adalah pengagumnya, namanya Jihan Zulfahmi. Sempat rasa kagum itu membuat keegoisan dalam diriku meronta, berharap perasaanku terbalaskan oleh Jihan. Namun, kenyataannya aku harus menunggu sampai hampir 4 tahun. Kala itu aku kembali dipertemukan dengan Jihan di platform media sosial f*******: . Berawal dari sebuah komen, akhirnya hubungan kami berjalan mulus. Dua tahun aku berpacaran dengannya, membuatku mantap untuk menerima pinangannya. Kami berdua memutuskan untuk menikah. Khayalan seorang gadis, memiliki suami yang mapan, ibu mertua yang baik, kakak ipar yang saling mendukung, nyatanya hanya ada dalam sebuah dongeng. Apa yang aku alami jauh dari khayalan yang aku bayangkan dulu. Semua yang ditunjukkan dalam sinetron menyoal biduk rumahtangga memang ada benarnya. Perbedaan pendapat, menjadi salah satu momok masalah yang paling menakutkan. Dua kepala dengan ego masing-masing, yang sedikitpun tak ingin terkalahkan, bersikukuh untuk menarik yang lainnya agar memiliki pemikiran yang sama. Di saat sebuah adaptasi pada lingkungan baru belum begitu sempurna, tekanan tentang sebuah prinsip untuk bisa satu pendapat membuat hubungan pernikahan itu berubah menjadi siksaan. Bukan lagi kebahagiaan, hanya formalitas agar dianggap bisa sama dengan orang lain yang juga sudah berkeluarga. Dan keharmonisan iklan sebuah produk s**u berbanding terbalik dengan kenyataan dalam berumahtangga. Ego, gengsi kami yang begitu tinggi membuat kami setiap hari bertengkar, menyalahkan satu sama lain. Kepercayaan kami seolah tak bisa dijadikan pondasi lagi. Hari-hari kami hanya berisi adu mulut satu sama lain. Membenarkan apa yang ada di dalam pikiran masing-masing. Orangtua Jihan yang juga terlalu ikut campur dalam urusan rumahtangga kami berdua, membuatku kian bertanya apa posisiku di dalam hidup Jihan? Jihan belum bisa berdiri tegak di kakinya sendiri, ia masih belum mampu mengambil keputusan. Di saat ia bertengkar denganku, dia akan menghampiri ibunya, membicarakanku, pun sebaliknya, di hadapanku di akan membelaku saat aku tidak suka dengan sikap ibunya padaku yang seolah tidak menghargai diriku ini sebagi anak menantunya. Cerai menjadi jalan keluar untuk hubunganku dengan Jihan. Jihan menggugatku, saat usia pernikahan kami masih begitu muda. Kami berdua saling egois, aku dengan segenap keyakinanku dan Jihan dengan prinsipnya yang dalam kacamataku prinsip Jihan hanya menguntungkan dirinya sendiri. “Apa keputusan kita sudah benar?” Aku menatap sebuah amplop dengan alamat Pengadilan Agama tertera jelas di sana. Orang yang duduk di sampingku saat ini, beberapa minggu lagi akan menjadi mantan suamiku. “Ternyata cinta saja tidak cukup.” Jihan kembali bersuara. “Aku gak mau bertahan karena keterpaksaan, rasanya sebesar apapun rasa cintaku buat kamu, itu gak akan cukup untuk jadi tameng atas sikap ibu dan kak Rina.” "Ki ..." "Aku sudah memberi kamu kesempatan, tapi kamu lebih memilih ibumu dan kakakmu." “Apa kamu akan bahagia, Ra?” Perasaanku, untuk saat ini aku hanya merasa lega karena lepas dari dua orang yang selama ini tidak pernah menyukaiku. Menganggapku rubah, tanpa mau mencoba mengenalku lebih dalam. Soal Jihan, bagaimanapun perasaanku padanya tetap sama, aku masih mencintai Jihan sedalam dulu saat aku hanya bisa mengaguminya saja. “Jangan begitu, kita sudah sepakat soal ini, Han." “Aku kira aku menyesal, Ra.” "Tawaranku masih sama, ayo kita bangun rumah sendiri, kita hidup sendiri dengan uang hasil jerih payah kita berdua. Tidak mengandalkan uang ibumu atau harta benda ibumu. Agar mereka bisa mengahargaiku, bukan hanya menganggapku seorang pembantu saja." Sejak dulu aku selalu hidup mandiri, apa yang aku butuhkan selalu aku cukupi dengan hasil jerih payahku sendiri. Sedangkan Jihan, bukan hanya dari keluarga berada, tapi juga dia afalah anak bungsu di mana apapun yang ia inginkan pasti akan diberikan oleh orangtuanya. Dari sana, prinsip kami saja sudah jauh berbeda. Aku yang bersikap mandiri dan Jihan yang selalu membutuhkan ibunya. Begitu banyak rencana yang sia-sia saja, bahkan sebelum menikah kami sudah merencanakan nama untuk anak kami kelak. Bayangab akan kebahagiaan sebuah keluarga kecil, hidup yang tentram seperti iklan produk s**u di tv, nyatanya hanyalah isapan jempol belaka. Yang Jihan impikan adalah aku segera hamil. Dia ingin segera dipanggil ayah. Nyatanya, tekanan yang diberikan oleh ibu mertua dan kakak iparku hanya menghasilkan pertengkaran di antara aku dan Jihan. Seharusnya kami menghabiskan waktu berdua untuk mempelajari srtiap detail hal yang ada pada diri kami masing-masing yang tidak bisa kami perlihatkan. Tapi, di sini aku harus mencoba memahami sikap ibu mertua dan kakak iparku. Atas keputusanku itu, banyak sekali yang berubah dalam hidupku. Terutama dalam lingkungan keluarga dan teman-temanku. Banyak dari saudaraku yang menjauh, selalu memandangku sebelah mata. Berkata, bahwa hidupku sudah sepenuhnya gagal karena sebuah perceraian. Satu persatu teman meninggalkanku. Menghakimiku atas sikapku yang lebih memilih untuk menjadi wanita karir daripada mengurusi suami dan keluarganya. Itu semua sempat membuatku terpuruk. Aku merasa dipojokkan. Badanku kurus, rambutku yang panjang mulai rontok, duniaku seperti hancur seketika. Hingga sempat terlintas dalam benakku, bagaimana jika aku mati saja? Untunglah, kedua orangtuaku selalu mendukungku dan Ana sahabat terbaikku selalu menyemangatiku. Menjadi tempatku pulang dalam ketersesatanku dalam sebuah kebimbangan. “Ki, Kiara, ayo sini,” Suara Rima membuyarkan lamunanku. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku duduk di sampingnya. Hasan, suaminya segera bergeser memberikan ruang untuk Rima mendekat padanya, agar aku bisa duduk di samping Rima. Aku, Anis, Ana adalah saksi bisu hubungan Hasan dan Rima sejak mereka duduk di bangku kelas 2 SMA. Rima sempat meninggalkan Hasan untuk pergi mondok ke pesantren. hampir 9 tahun Rima belajar di pesantren, tanpa kabar, namun mereka nyatanya bisa bertahan bahkan sampai detik ini. “ok,” Jika melihat Rima dan Hasan, aku merasa sangat iri. Bahkan kadang aku seperti ‘menghakimi’ Tuhan bahwasanya Tuhan tidak adil. Bagaimana bisa? Rima, sejak SMA dulu dia begitu pintar. Bukan hanya bermodal otak saja, tapi wajah Rima yang juga ayu, ia kerap kali dijadikan rebutan oleh para kakak kelas. Hasan dan Rima berpacaran saat mereka masih duduk di bangku SMA. Sampai Rima pergi ke pondok pesantren, Hasan masih tetap setia menunggu. Meski banyak aral melintang, Hasan tetap berjuang untuk Rima. Sampai akhirnya mereka menikah dan selang tiga bulan , aku mendengar berita kalau Rima hamil. Bagaimana orang bisa selancar itu dalam membina sebuah hubungan? Sedangkan aku di sini, seperti halnya memecah batu. “Kapan kamu nyusul, Ra?” Hasan menyapaku tiba-tiba saat aku sudah duduk di samping Rima. Sekilas aku melihat sikut Rima menyenggol lengan Hasan. “Nanti, kalian harus kondangan lagi pokoknya.” Kelakarku pada Hasan. “gak usah dengerin Hasan, Ra.” “gak baik lama-lama sendiri, emang kamu gak mau kaya Rima ini.” Hasan membanggakan hasil kerja kerasnya yang kini sudah mulai membesar itu. Siapa yang tidak mau punya keluarga yang baik dan keluarga yang harmonis, semua orang mau. Tapi, mungkin rejekiku belum diberikan sekarang. Kalau sudah begini aku hanya bisa tersenyum kecut. Han, kalau saja kita tidak bercerai apa sekarang kita sudah memiliki momongan? Tuhan, kenapa aku kembali mengingat Jihan. Bukankah seharusnya aku mengingat Arghi, kenapa aku justru mengingat Jihan, mantan suamiku. Hampir seminggu ini, aku sering mendapatkan kabar soal Jihan dari beberapa temanku. Mereka mengirimi beberapa screenshot dari sosial media Jihan. Ya, terpampang di sana, Jihan dan kekasih barunya. Di awal aku merasa tidak percaya dan merasa secepat itukah Jihan mendapat calon pengganti, namun kembali lagi, aku pun sama, kini aku sudah memiliki Arghi dalam hidupku. Yang aku dengar, calon istri Jihan adalah seorang guru agama di salah satu sekolah Dasar yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Ya, mungkin seharusnya Jihan mendapatkan wanita seperti itu. Wanita yang menurut pada suaminya, wanita yang mengerti agama, berbeda denganku. Aku selalu melawan Jihan, bahkan orangtuanya juga.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pengganti

read
304.0K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Happier Then Ever

read
92.8K
bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K
bc

Ditaksir, Pak Bos!

read
149.8K
bc

Rainy

read
19.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook