4

1187 Kata
Aku mencoba menghindar dari Arghi, kupalingkan wajahku dari tatapannya. Sebelum aku menyerahkan hargadiriku, aku harus memastikan bagaimana perasaan Arghi padaku. “Boleh aku tanya sesuatu, Ghi?” “Apa?” “Kenapa kamu selalu bersikap cuek sama aku?” “Ternyata kamu ngerasain itu juga.” Dengan entengnya Arghi menjawab seperti itu, jadi memang sebenarnya dia tau dengan apa yang ia lakukan padaku selama berbulan-bulan ini. “Kenapa?” “Gak tau, rasa cinta itu hilang begitu saja. Rasa yang dulu waktu pertama aku jatuh hati sama kamu.” Seharusnya aku tidak bertanya, kalau tau begini jadinya. Hatiku sakit mendengar jawaban Arghi barusan. “Jadi, kalau ada orang yang hendak melamarku, apa kamu tidak marah?” Aku bisa melihat sedikit keterkejutannya, ia menatapku sejenak, namun kembali memalingkan wajahnya. “Silahkan, kalau kamu bahagia, aku juga ikut bahagia, Ra.” Bukan, bukan ini yang mau aku dengar dari mulut Arghi. Kenapa dia sama sekali tidak mempertahankanku, kenapa dia sama sekali tidak takut kehilangan aku? “Apa aku boleh jujur?” tiba-tiba Arghi bertanya. “silahkan.” Dia tampak menghembuskan nafas kasar, sedang aku mencoba mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang akan dia utarakan. “Jujur, sebelum kita menjalin hubungan, aku sudah lebih dulu mencintai seseorang.” Hatiku seolah dihantam ribuan batuan, lalu apa maksudnya dengan mengajakku untuk kembali berhubungan, bahkan mengajakku untuk serius. “Dia adalah seorang janda dengan satu anak. Aku bertemu dengannya saat di toko. Dia sering berbelanja di sana. Dia seorang pemandu lagu di salah satu tempat karoke.” Aku masih terdiam, mendengarkan kelanjutan cerita dari Arghi. Aku mencoba menyembunyikan airmataku. “Aku sudah akrab dengan keluarganya, bahkan mungkin kamu sudah dengar bahwa dia juga datang saat pemakaman ibuku, waktu itu.” “Lalu?” “Kamu gak heran kenapa aku minta melakukan seks sama kamu?” “Maksud kamu?” “Aku dan janda itu sering melakukan hubungan seks, saat aku pergi menemuinya di rumah kost, terkadang ia hanya memakai BH dan celana dalam saja. Laki-laki mana yang bisa menahan nafsu melihat hal seperti itu?” Aku benar-benar marah mendengarnya, apa maksud perempuan itu, kenapa dia harus merusak seseorang dengan kelakuannya itu. “Puncaknya dua bulan yang lalu dia bilang padaku kalau dia hamil. Dia memintaku untuk bertanggungjawab. Atas dasar cinta, aku siap untuk menanggung semuanya. Aku pun menantikan kelahiran bayi itu, antara takut dan bahagia, aku mencoba untuk meyakinkan diri membawa dia ke hadapan keluargaku.” Ya, Tuhan, kenapa dia setega ini. Jadi selama ini aku hanya dijadikan pelampiasan untuknya. Di saat aku berharap untuk dinikahi, justru dia sedang belajar untuk melupakan perempuan itu dengan cara menyakiti aku. “Tapi, Kakakku tidak menyetujuinya.” “Kenapa?” “Dia bilang, punya berapa banyak uang sampai kamu sudah siap untuk menikahi janda dengan satu anak.” “Jadi sebenarnya kamu belum siap?” "Secara keuangan? ya, tentu saja. Aku belum punya tabungan untuk kujadikan mahar nantinya. Tapi saat itu posisinya bayi masih ada dalam kandungan dia, jadi aku terus mencoba meyakinkan kakakku. Tapi dia tetap tidak merestui.” “Lalu bagaimana dengan gadis itu?” “Dia menyerah, dia bilang akan menggugurkan kandungannya." Kenapa semudah itu, kalau memang itu adalah anak dari hasil hubungannya dengan Arghi bukankah seharusnya dia harus gigih untuk mempertahankannya. "Lalu?" "Dia meminta uang dariku, katanya ada temannya yang bisa membantunya untuk membeli obat penggugur kandungan di online." "Kamu kasih?" "Aku memberikannya uang untuk membeli obat aborsi itu, dia bilang harganya sembilanratus ribu, aku memberikannya limaratus ribu, sisanya ia pakai uangnya sendiri." Airmataku mengalir deras, hatiku hancur berkeping-keping. Orang yang selalu aku idamkan nyatanya tidak lebih busuk dari setan. “Inilah aku, Ra. Terserah sekarang mau gimana.” Aku kecewa, benar-benar kecewa dengan fakta ini. Aku merasa marah, tapi anehnya kemarahanku justru terarah pada perempuan itu. Kenapa dia merusak Arghiku, kenapa dia mengubah Arghi menjadi setan seperti ini? “Bagaimana kalau itu bukan bayimu?” Penilaianku beralasan, belum lagi pekerjaan gadis itu seorang pemandu lagu di tempat karoke, bagaimana jika Arghi dijebak untuk bertanggung jawab? "Kenapa kamu bilang gitu, Ra?" "Ya, bisa saja di tempat kerja dia melakukan dengan orang lain? Ya, wajar aku berkata seperti ini, apalagi pekerjaannya juga seorang pemandu lagu di tempat karaoke, Ghi." “Maksud kamu?” “Bagaimana jika ayah dari bayi itu oranglain? Kenapa dengan mudahnya dia melakukan hubungan seks sama kamu? Pasti juga dia dengan mudah melakukan hubungan seks dengan orang lain juga kan?” Aku dan dia memang sama-sama wanita, tapi aku tidak suka caranya yang merusak kehidupan Arghi. "Iya, juga, kenapa aku gak mikir sampai situ." "Lalu bagaimana hubungan kalian sekarang? kalian masih saling berkabar?" "Tidak sama sekali, dia juga tidak tau kalau aku sudha dipindah tugaskan ke toko lain." "Nomor telfonnya masih kamu simpan?" "Udah gak ada. Bisa gak, kita gak usah bahas dia lagi? Sekarang kita bahas soal kita berdua saja." "Iya, bagaimana, kalau memang kamu tidak bisa memcintai saya seperti dulu, sebaiknya kita selesaikan saja hubungan kita. Aku akan menghapus nomor kamu, dan melupakan semuanya. Aku gak mau berharap lagi, Ghi." Airmata sudah mengalir deras di pipiku, meski aku tak ingin berpisah dengan Arghi, tapi daripada aku harus bersaing dnegan masalalunya, itu jauh lebih akan menyakitkan. Memcintai seseroang yang masih menginginkan masalalunya sama saja mencoba menancapkan pisau ke perutnya sendiri. "Kok gitu, aku gak mau kalau kaya gitu." Di luar dugaan, Arghi menolak tawaranku. "Lalu bagaimana? kamu saja tidak peduli denganku, Ghi." "Makanya, kita melakukan ini. Siapa tau dengan melakukan ini, rasa cintaku akan kembali seperti dulu." Mulut lelaki saat merayu bisa semanis madu, ia kalau pada akhirnya dia mencintaiku. Lalu bagaimana kalau dia akhirnya meninggalkanku? "Ra ..." Arghi tiba-tiba saja mencium pipiku, tangannya mengelus bagian pipiku yang lain. "Ayolah," Kini tangannya mengarahkan tanganku untuk memegangi ketangguhannya sebagai laki-laki jantan. "Ghi ..." "Ayolah, aku mau kita lakuin ini." Arghi berbalik, ia memunggungiku. Kenapa aku takut mengecewakan Arghi, padahal aku tau yang diminta oleh Arghi adalah sebuah dosa besar yang nantinya akan kami tanggung seumur hidup kami. Aku memeluk Arghi dari belakang, "Jujur aku gak mau kehilangan kamu, Ghi." Arghi mrngelus lenganku yang masih memeluk tubuhnya. "Sayang ..." Arghi berbalik, kini ia mencium keningku. "Aku sedih kalau kamu cuek sama aku, Ghi ..." Entah kemana arah pembicaraan kami berdua, tapi yang jelas aksi Arghi meraba tubuhku sudah dimulai. Aku hanya bisa pasrah. Sentuhan-sentuhan Arghi mematikan fungsi sel otakku untuk bisa berpikir realistis tanpa membawa perasaan. Aku benar-benar sudah hialng akal, sampai aku tidak sadar kalau sekarang tak ada sekat sehelai benang pun di antara kami berdua. Jemari Arghi mulai mengaduk sesuatu di bawah sana, sedang bibirnya mulai melumat bibirku. Kepuasan nafsu yang kian memuncak di ubun-ubun, benar-benar membuat kami lupa diri. Aku menyerahkan segalanya pada Arghi hari ini, dari ujung rambutku, hingga ujung kaki. "Aku mau memasukannya." "hmmm ... Ghi ..." Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. "Kenapa?" Posisi Arghi sekarang sudah ada di atasku, "Anghh ..." Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku pelan. "Kamu malu?" "Hmmm ... Lanjutkan saja, Ghi." Dari sela jemariku aku bisa melihat senyum Arghi, Arghi mulai menikmatinya. Menaik turunkan tubuhnya pelan. Dosaku sudah tertulis, dosa yang mungkin tidak akan pernah bisa diampuni. Imanku begitu tipis, sampai aku mau tergoda dan terjerumus dalam lembah zinah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN