Alam mimpi Rosa
Sebuah ladang rumput dengan aliran sungai di sampingnya
Bersebrangan dengan hutan asing yang tak dikenal oleh Rosa
* * * * *
Suara percikan air mengalir mengiringi langkahan kaki Evander, Evander terus menyusuri aliran air sungai di depannya dan mencari sosok Rosa.
Tiba - tiba, sorot matanya menemukan sosok Rosa yang terlihat cantik dengan gaun merah sambil duduk di tepi sungai dengan sebuah kain di tangannya.
Evander pun melangkahkan kakinya ke arah Rosa dan berdiri di samping wanita itu, "Apa yang kau lakukan?" tanya Evander.
Rosa tersentak saat mendengar suara pria yang familiar di telinganya. Yang mengejutkan lagi, Evander bahkan berdiri di sampingnya dengan wajah yang sulit ditebak.
"Kau?! Masuk ke dalam mimpiku lagi?" tanya Rosa.
Meski ia ingin sekali mengusir Evander untuk keluar dari mimpinya, namun hatinya berkata ia ingin pria itu di sampingnya dan Rosa senang bertemu lagi dengan Evander setelah beberapa hari terakhir Rosa selalu bermimpi tanpa kehadiran Evander di alam mimpinya.
"Bukankah kau senang?" tanya Evander kemudian ikut duduk di samping Rosa dan mencelupkan kakinya ke air sungai yang mengalir.
Rosa tak menjawab, ia kembali membuat rajutan di tangannya dengan kaki yang menyentuh air sungai.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Evander.
"Merajut," jawab Rosa.
"Aku tahu. Untuk apa?"
"Berlatih saja. Karena aku ingin."
"Ternyata di alam mimpi sekalipun kau selalu melakukan hal yang tidak berguna."
Rosa menoleh, "Apa kau bilang?"
"Untuk apa merajut di alam mimpi? Benda itu tak akan kau bawa ke dunia nyata. Kau sendiri tahu, semua hal yang ada di dunia mimpi tidak sepenuhnya akan kau ingat ketika bangun nanti."
Rosa menghela napasnya dan meletakkan kain rajutannya, "Kau benar. Terkadang aku merasa bosan dengan mimpi yang selalu seperti ini. Aku selalu bermimpi hal yang sama ketika sendiri, sungai ini dan di dalam hutan," jawab Rosa.
"Selalu mimpi seperti ini? Bukankah terkadang di Istana juga?" tanya Evander.
Rosa menggelengkan kepalanya, "Tidak. Itu jika bersamamu entah kenapa kau selalu membangun istana untukku."
Evander beranjak dari tempat duduknya dan mengedarkan pandangannya. Ia yakin, jika ini adalah mimpi yang sama, berarti ada sebuah pesan yang hendak disampaikan kepada Rosa namun Rosa tak pernah tahu apa itu.
"Kau sedang apa?" tanya Rosa yang bingung melihat Evander tiba - tiba berdiri.
"Sepertinya aku mengenali tempat ini," ujar Evander.
Rosa ikut berdiri dan melihat sekelilingnya, "Aku tidak."
Evander menoleh ke arah Rosa, "Kau yakin?" tanya Evander yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Rosa.
Tiba - tiba, Evander pun teringat akan sesuatu. Pria itu kemudian berbalik dan meninggalkan Rosa. Merasa ditinggalkan oleh Evander, Rosa pun berbalik dan ikut mengejar Evander yang sudah meninggalkannya.
"Hei, tunggu aku!" pekik Rosa.
Rosa berusaha mengejar Evander namun pria itu bergerak lebih cepat dari perkiraannya.
"Astaga, apa yang ia lakukan? Seenaknya saja dia meninggalkanku seorang diri," gumam Rosa.
Sebetulnya Rosa masih merasa kesal ketika melihat wajah Evander, bahkan ini pertama kalinya lagi Rosa bertemu dengan Evander. Rosa sudah menyatakan perasaannya, tetapi Evander justru mengacuhkannya.
Hal itu membuat Evander sebagai pria pertama yang menolaknya. Padahal Rosa adalah gadis yang dicintai oleh banyak orang dan puluhan pria menanti untuknya.
"Apa dia tidak bisa berjalan sedikit lebih pelan?" gumam Rosa dengan tangannya yang rasanya ingin sekali menjambak kepala Evander.
Biasanya memang sejak awal Rosa tidur, selalu Evander yang menyambutnya di alam mimpi. Di baliknya hanyalah ada sebuah Istana megah yang entah berada di mana. Tapi akhir - akhir ini mimpi itu berubah dan Rosa sering berada di tepi sungai duduk termenung seorang diri tanpa kehadiran Evander.
Hal itu terjadi sejak Rosa menyatakannya perasaannya kepada Evander dan langsung ditolak mentah - mentah oleh Evander. Rosa tidak berusaha melupakan pria itu, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan wanita lainnya. Melainkan tetap diam seperti tak terjadi apapun dan membiarkannya mengalir seperti itu.
"Apa karena perasaan itu aku jadi memimpikan air?" gumam Rosa yang terasadar karena membiarkan perasaannya mengalir seperti air, makanya mimpinya jadi mengenai sungai dimana air mengalir.
Rosa terus berlari berusaha menyusul Evander, sampai akhirnya sosok Evander berhenti melangkahkan kakinya saat melihat sebuah tempat yang tanahnya terkuak seperti habis dicabut.
"Ada apa?" tanya Rosa yang baru saja tiba dengan napasnya yang terengah - engah karena sisa mengejar Evander barusan.
Rosa melihat ke arah mata Evander yang melihat sesuatu, kini Rosa melihat ke arah tempat yang sedang diperhatikan oleh Evander.
"Itu tanahnya tampak seperti ada yang habis mencabut tanaman dari atasnya," ujar Rosa.
Evander berjalan mendekati tanah yang berlubah itu dan berjongkok di hadapannya, "Ibu," gumam Evander.
Rosa tersentak dan membulatkan matanya, seolah bertanya - tanya kenapa Evander menyebut hal seperti itu di depan gundukan tanah yang terbuka?
"Ibumu dimakamkan disini? Atau bagaimana?" tanya Rosa.
Evander menoleh ke arah Rosa dan kembali menatap tanah di depannya sambil menyentuhnya dengan tangannya, "Apa kau tidak penasaran, dari mana bangsa sepertiku? Atau siapakah aku yang sebenarnya?" tanya Evander.
Memang benar, selama ini Rosa bahkan tidak tahu siapa Evander. Yang jelas Evander bukanlah bangsa elf, karena Evander tak memiliki telinga panjang ke atas seperti kebanyakan elf yang lainnya.
"Memangnya kau dari bangsa mana?" tanya Rosa.
"Kenapa baru bertanya sekarang?" balas Evander.
"Kau tadi menyuruhku bertanya. Aku selama ini tidak bertanya karena taku menyinggung perasaanmu, tahu!"
Evander berdiri dan berbalik menatap Rosa, "Kenapa tidak penasaran dari awal?"
"Karena awalnya kupikir kau manusia biasa . . . Tapi saat kau muncul di kamarku beberapa waktu lalu dan kemudian kau . . ." ucapan Rosa menggantung, wanita itu menundukan kepalanya dan memainkan jari - jari tangannya ketika sedang gelisah.
"Kenapa?" tanya Evander.
"Kau melompat dan menghilang begitu saja. Aku semakin yakin kau seorang majin," jawab Rosa.
Evander menyentuh dagu Rosa dan membuat Rosa menatap matanya, "Kau yakin?"
Rosa menganggukan kepalanya, "Kau bisa menghilang begitu saja dari depan mataku dan melompat tanpa ragu dari jendela kamarku yang terletak di lantai 2."
"Ya, kau benar dengan kalimat itu. Tapi kalimat sebelumnya salah."
Mata Rosa membulat, "Apa maksudnya?"
"Aku bukan seorang majin," ujar Evander sambil menatap tanah itu lagi dengan pandangan mata yang sedih dan sulit digambarkan.
"Lalu kau siapa?"
"Kau mau melihat wujud asliku? Bukankah sudah melihatnya sekilas waktu itu?"
Rosa menelan air liurnya susah payah namun ia pada akhirnya tetap menganggukan kepalanya.
"Tunjukan padaku," pinta Rosa.
Evander menatap mata Rosa berusaha mencari perasaan takut, namun yang ia temukan hanyalah perasaan yakin dan tekad kuat untuk melihat wujud asli Evander yang sebenarnya.
"Kau yakin?" tanya Evander sekali lagi.
Rosa mengganggukan kepalanya dengan mantap tanpa ragu.
"Baiklah. Kau bisa berlari atau terbangun jika takut melihat sosok asliku," jawab Evander.
Evander kemudian melangkahkan kakinya mundur dan seketika sebuah sinar cahaya berwarna putih keemasan keluar dari tubuhnya. Tubuhnya pun semakin membesar dan kian membesar. Tangan dan kakinya berubah, begitu juga dengan kuku tangannya yang terlihat tajam.
Bola matanya yang berwarna hitam, berubah menjadi kuning dan garis lurus dari atas ke bawah. Sebuah ekor muncul, begitu juga dengan sisik dengan warna putih keemasan yang muncul dari tiba - tiba.
Mata Rosa terbuka lebar, ia menyaksikan perubahan Evander di hadapannya. Bukannya merasa takut, Rosa justru takjub dengan pemandangan di depannya.
"Hydra?" gumam Rosa.
Evander yang mendengarnya menatap Rosa dengan matanya yang tajam dalam wujud naganya, "Kau yakin aku tampak sepergi Hydra?" tanya Evander.
Sosok Evander yang sangat besar bahkan sampai menyingkirkan pohon di sekitarnya dan merusak tanah yang dipijakinya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rosa.
Evander menyunggingkan senyumannya karena tak merasakan perasaan takut dari dalam tubuh Rosa.
"Rupanya kau tidak takut dengan penampilanku sama sekali," ujar Evander kemudian sosoknya kembali berubah seperti sedia kala.
Evander mendekati Rosa, "Cerita tentangku sangat panjang. Jika kau ingin tahu siapa aku, kau bisa bertanya pada temanku, Gerhard," ujar Evander.
"Gerhard?" gumam Rosa sembari berusaha mengingat nama itu, namun ia langsung membulatkan matanya saat sadar nama itu milik siapa.
"Maksudmu Tuan Gerhard Khrysaor dari Twyla?!" pekik Rosa.
Evander merasa tuli mendengar teriakan Rosa dan langsung memegangi kedua telinganya, "Astaga pelankan suaramu."
"Maaf," balas Rosa dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Evander melepas tangan dari telinganya, "Iya. Memang siapa lagi? Gerhard dan Maverick bisa dibilang temanku, meski aku yang menciptakan mereka sewaktu dahulu," ujar Evander.
Rosa semakin tak mengerti, Evander pun tahu jika Rosa tak mengerti dengan ucapannya.
"Sudahlah, dari pada kau berkutat dengan rasa penasaranmu, tanyakan pada mereka. Hari semakin pagi, aku harus kembali," ujar Evander.
Evander pun berjalan meninggalkan Rosa, kemudian menghentikan langkahan kakinya dan berbalik sebelum keluar.
"Oh ya, jangan terlalu sering menyantap makanan tak bergizi. Biasakan menyantap apa yang disediakan oleh Ibu dan juga pelayanmu. Mereka semua ingin yang terbaik untukmu," ujar Evander.
Rosa berbalik dan justru melihat Evander yang tersenyum ke arahnya.
Sejurus kemudian, Evander pun menghilang dari depan mata Rosa.
Setelah kepergian Evander, Rosa menatap gundukan tanah yang terbuka di depannya dan mengerenyitkan dahinya, "Apa Ibunya dimakamkan disini?" gumam Rosa karena ia teringat Evander memanggil gundukan tanah itu dengan panggilan Ibu barusan.