BAB 38

1860 Kata
Mobil Wira perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya. Lelaki itu masih menatap rumahnya yang tampak terbengkalai seolah tak berpenghuni. Aditya, sopir perusahaan, mengenali Wira yang terus memandangi rumahnya dan berinisiatif mengajak pria itu berbicara. “Saya yakin Bu Callista akan baik-baik saja, Pak,” kata Aditya sambil menatap Wira yang duduk di kursi penumpang belakang melalui cermin di depannya. Wira memandang Aditya melalui kaca spion, “Terima kasih, ini,” jawab Wira. Ponsel Wira langsung berbunyi, membuat pria itu langsung membuka jasnya dan mengeluarkan ponsel dari saku jas yang dikenakannya. Matanya menyipit saat melihat nama di layar ponselnya. Tak mau menunggu lama, Wira langsung menekan tombol hijau untuk menerima telepon masuk dari Yunita – ibu mertuanya. "Hai bu," sapa Wira tepat setelah mereka dipukul. Beberapa kali Aditnya tampak menoleh melihat Wira sibuk memanggil mertuanya, beberapa kali Wira mengangguk seolah menerima setiap perintah yang diberikan Yunita kepadanya. 'Terima kasih banyak, Bu,' jawab Wira. Tak lama kemudian, Wira menutup telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. Pria itu tampak menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Apakah semuanya baik-baik saja, Tuan?" tanya Aditya. "Ya. Ibu mertua saya akan tinggal selama saya di Jepang. Dia khawatir tentang kehamilan putrinya yang sedang tumbuh. Sepertinya ayah saya langsung memberi tahu dia bahwa saya akan pergi ke Jepang hari ini," jawab Wira. Aditya tersenyum mendengarnya, "Setiap orang tua pasti khawatir dengan anaknya, Pak. Apalagi Callista saat ini sedang mengandung cucu pertama dari kedua belah pihak keluarga, kan? Semua orang pasti mengkhawatirkannya." 'Kamu benar. Bahkan aku memilikinya. "Apakah Anda tidak ingin menelepon Nyonya Callista?" Wira tertawa mendengar perkataan Aditya, "Tidak. Aku baru putus dengannya beberapa menit yang lalu. Besok pagi dia akan membersihkan dapur dan menyirami tanaman di halaman belakang. Aku tidak ingin mengganggu kebiasaannya." "Kamu sepertinya suami yang sangat perhatian. Bu Callista pasti beruntung punya suami seperti kamu," kata Aditya. "Terima kasih banyak. Oh ya, apakah kamu tidak berpikir untuk menikah sendiri?" tanya Wira kepada sang sopir sambil mengingat pria di hadapannya itu masih lajang. “Belum pak. Mungkin nanti. Saya ingin menikmati waktu mencari uang dulu,” jawabnya. Dari kaca spion, Aditya bisa melihat Mahawira yang jauh lebih santai dari sebelumnya. Pria itu sudah terlihat menyandarkan tubuhnya ke jok mobil dengan pandangan ke luar. Mobil Aditya akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen di kawasan Jakarta Barat. Aditya sengaja memarkir mobilnya di pinggir jalan, tanpa memasuki area apartemen. kokang! Pintu mobil di sisi lain Aditya terbuka untuk memperlihatkan seorang wanita dengan rok mini dan mantel krem. Wanita itu tersenyum pada Wira dan menyapanya: 'Selamat pagi, Pak,' katanya. Wira hanya menoleh dan mengangguk tanpa menanggapi perkataan wanita itu. 'Bisakah kamu mengangkat koperku? Kayaknya berat banget,” tanya Ayu kepada Aditya lalu menutup pintu mobil yang sudah dibukanya tadi. Aditya segera melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Pria itu memutar bola matanya saat melihat koper berwarna putih yang dibawa Ayu. "Begitu besar?" kata Aditya. "Ya. Saya harus membawa lebih banyak karena sepertinya akan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan," kata Ayu. Tanpa menunggu lama, Aditya langsung membuka bagasi dan meletakkan koper Ayu di dalamnya, sehingga berada di sebelah koper Wira yang diletakkan lebih dulu. “Terima kasih,” kata Ayu setelah melihat Aditya memasukkan kopernya ke bagasi. Ayu masuk ke sisi penumpang, berbaring di sebelah Aditya. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. “Sepertinya kamu punya banyak barang bawaan, Bu Ayu,” kata Wira sambil melihat ponsel di tangannya. "Ah iya pak. Saya bawa pelurus dan pengering rambut. Kalau-kalau tidak tersedia di hotel," jawab Ayu. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dan Ayu merasa nyaman dengan sabuk pengamannya, Aditya langsung melajukan mobil yang dikendarainya menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk mengantar Wira dan Ayu. Sebenarnya, hanya Wira dan Ayu yang pergi ke Jepang. Meski Aditya tidak seperti itu, pria itu hanya mengantar bosnya ke bandara lalu kembali ke kantor untuk menjaga selama Wira berada di Jepang. "Semua dokumen ada, kan, Ayu?" tanya Pahlawan. 'Ya pak. Aku sudah mempersiapkannya sejak tadi malam. Tapi sepertinya ada beberapa perubahan, Pak," kata Ayu. Wira menatap Ayu dan mengerutkan kening pada wanita yang kini menoleh ke arahnya. 'Apa maksudmu?' tanya Pahlawan. "Tadi malam saya menerima bahwa acara di Jepang bisa berlangsung selama sebulan. Karena Pak Bara akan bertemu langsung dengan pimpinan cabang Singapura." "Apa?!" Pahlawan berteriak. "Kenapa tidak langsung memberitahuku?" Pahlawan melanjutkan. "Permisi, Tuanku." Raut wajah Wira langsung berubah saat mendengar waktu yang dibutuhkannya lebih lama dari yang diperkirakan. Pria itu bahkan melonggarkan dasi yang dikenakannya dan melihat ke arah lain. Tanpa disadari mobil yang dikendarai Aditya tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk penerbangan ke luar negeri, pria tersebut langsung mengendarai mobilnya hingga akhirnya berhenti di Terminal 3. Pria tersebut langsung berlari keluar mobil dan membantu menurunkan koper Wira dan Ayu yang berada di dalam mobil, di bagasi. Wira segera turun dari mobil, begitu pula Ayu yang turun dan menunggu Aditya menurunkan tasnya. "Beri tahu saya jika terjadi sesuatu. Datanglah ke rumah saya sesekali untuk melihat istri saya," kata Wira. "Baik Pak," jawab Aditya. Setelah menerima koper tersebut, Wira langsung meninggalkan Aditya bersama koper berwarna merah yang dibawanya dengan tangan kanannya. Ayu berpamitan dengan Aditya sebelum akhirnya berpisah di bandara. "Mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk," gumam Aditya sambil menggelengkan kepalanya, naik ke mobil dan mengemudikan mobil keluar dari halaman bandara. Suasana bandara yang sibuk juga membuat Wira dan Ayu harus berjalan lebih cepat untuk sampai ke meja check-in. Mereka harus mengkonfirmasi keberangkatan mereka sebelum akhirnya terbang ke Jepang dalam beberapa menit. * * * * * Callista berjalan menuju pintu masuk ketika dia mendengar bel berbunyi di telinganya. Langzaam stapte de woman die 8 bulan zwanger berada di fotennya. Cklek ! ! ! ! ! ! Pintu terbuka. Bertemu dengan sosok wanita paruh baya berjaket tosca dengan kacamata hitam memegangi wajahnya. "Ibu?" Callista berteriak saat dia pergi ke pakaiannya, dan dia adalah seorang wanita untuk pakaiannya. Wanita itu menoleh ke Callista. Glimlacend naar rumah rumah dan juga pelukan. Saya lupa memberi tahu Anda kapan saya akan berkomentar. Mereka sangat khawatir als je alleen zou worden gelaten, katanya. Bahkan al haar man net satu jam sejak vertrokken. Callista sendiri tidak sempat memberi tahu ibunya bahwa dia akan pergi bersama suaminya dalam perjalanan bisnis ke Jepang. "Ah, iya, Bu," jawab Callista. "Mag ik binnenkomen?" Hai awal. Callista menggeser tubuhnya dan memberikan seorang wanita untuk pergi, bersama dengan kotak gel besar yang akan tidur. Yunita segera meninggalkan kopernya di ruang tamu, dengan anak laki-laki yang menelepon ke rumah dari Callista dan Mahawira berbalik. “Enak saja dipakai, formatnya minimalis saja, interiornya paling mewah,” ujar Yunita. Bahkan tatapan Callista mengikuti ibunya, dan dia juga telah diciptakan di rumah di mana pintu khusus telah dirancang. Sendiri, juga rumah lainnya, rumah dari Callista ini hanya tipe 36 dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi. Tidak terlalu istimewa kecuali lantai rumah yang diganti marmer dan dindingnya kedap suara. Callista pergi ke rumah panas lagi, deed de deur close en vergat home bukan op slot yang Anda lakukan. 'Apakah akan minum? Biarkan aku menjadi apa yang harus diminum, 'bood hij aan. Yunita, yang awalnya di rumah, masuk ke Callista dan berjalan ke gulungan Callista, itu benar-benar utzag besar bahkan dia pada saat itu berdiri di benteng. “Moeder ada di sini untuk kamu bantu, bukan untuk kamu tahu tanggul, kebun binatangku,” jawab Yunita. "maar-" "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Biarkan ibu khawatir, oke. Oh ya, ibu tidur di kamar ini, ya?" Sebelumnya Yunita, menunjukkan ke ruang kaki yang tidak ada di rumah. "Bukankah kau baru saja tidur di sampingku?" Callista awal. "Apakah dia pergi?" Callista punya kepala. Prok! Yunita langsung bertepuk tangan hingga terdengar tepuk tangan: “Ini tepuk tangan. Pasti mama yakinkan yang harus saya miliki. Pengalaman saya sulit di trimester ketiga. Sampai jumpa,” kata Yunita. Wanita paruh baya itu langsung tidur kembali ke kamar Callista. Letakkan koper tepat di sebelah lemparan. "Apakah kamu ingin mandi?" Callista awal. Yunita mengangkat tangannya dan menangkupkan area ketiaknya, "Apa aku bau?" "Aku bisa pakai besok saja. Aku bisa pakai kamar mandi, ada air panasnya," kata Callista. Meski sudah 2 tahun Callista tidak punya waktu bersama Yunita, ia mengingatkan agar selalu bersama ibunya. "Oke, aku tidak bisa berenang," kata Yunita sambil meletakkan kopernya dan mengeluarkan beberapa pakaian sebagai pakaian tambahan untuk dipakai. Kemudian Yunita de zonnebril menghabiskan jasje dat ze panas yang sebelumnya droeg di dalam koper. Aku akan membiarkan diriku makan siang hari ini. Sibukkan dirimu juga dengan menonton TV,' perintah Yunita. "Saya harus de achtertuin nog vegen, Bu," kata Callista. terima kasih! Yunita menyeringai ketika dia baik, tidak terkendali untuk menjaga adalah, "Wees not cupid. Kamu terlalu besar. Ketika ibu ada di sini, biarkan ibu membantumu," kata Yunita dan memimpin kamar Callista dengan seorang wanita. . Baju gelaten keren Callista. Ketika ditanya apakah egois dan perasaan berkomentar, jawabannya adalah Yunita. Bahkan, setiap karakter regular dan elk langsung menjadi pintu rumah Yunita. Callista sendiri tidak mengerti mengapa mereka memiliki semua sifat buruk yang bisa diterima ibunya. Meskipun ia tumbuh sebagai sosok seperti ibu tunggal, Callista masih menyimpan lebih banyak dari Yunita dan yang lainnya. Meskipun perasaan ibunya untuk melindungi, Callista awal tidak pernah di mana rahim biologisnya berada. Tangan seorang van Callista membelai perutnya yang buncit. "Je tidak bisa seperti ibumu, Nak," kata Callista kepada bayi dalam kandungannya. Dia terutama beralih ke ponsel yang tergeletak di malam hari, dan dia merencanakan telepon terkenal di lantainya. Ia pun melangkah menghampiri ponsel miliknya dan melihat ke arah layarnya, "Mas Wira?" gumam Callista sambil membaca nama yang tertera pada layar ponselnya. Tanpa menunggu waktu lama, Callista segera menggeser tombol hijau pada layarnya dan menempelkan ponsel tersebut ke arah daun telinganya. "Halo," ujar Callista sambil mendudukan dirinya di tepi tempat tidur. "Halo sayang. Ibu sudah datang?" tanya Wira dari seberang telepon tepat setelah sambungan panggilan mereka terhubung. "Kamu yang meminta Ibu datang pagi - pagi ya?" tuduh Callista. "Tidak. Aku hanya mengingatkan Ibu untuk menemanimu. Aku tidak tahu jika Ibu langsung berangkat ke rumah," jawab Wira. "Benarkah? Astaga Ibu," gumam Callista sembari memegangi kepalanya yang tak habis pikir dengan Ibunya. "Ibu pasti khawatir dengan keadaanmu sayang. Ibu mana yang tidak khawatir saat tahu anaknya yang sedang hamil besar seorang diri?" "Mas benar," jawab Callista. "Kamu lagi apa sekarang?" tanya Wira lagi. "Hanya duduk di tepi tempat tidur karena Ibu memintaku untuk tidak melakukan pekerjaan rumah apapun. Sepertinya Ibu khawatir aku kelelahan." "Apa perlu kita mempekerjakan asisten rumah tangga?" "Mungkin bisa dibicarakan nanti saja, Mas. Aku belum berpikir ke arah sana." "Iya sayang. Oh ya, aku sudah ada di bandara dan sebentar lagi akan take off. Sekarang aku sudah ada di ruang tunggu," ujar Wira. Sayup - sayup Callista memang mendengar suara ramai dari seberang telepon bahkan terdengar suara pengumuman beberapa kali di sana. "Kabari aku jika sudah tiba di Jepang," pinta Callista. "Tentu sayang," balas Wira. Tiba-tiba, Callista mendengar suara seorang wanita melalui telepon yang dia pikir adalah rekan kerja suaminya. Tak lama kemudian, Wira kembali berbicara dengan Callista. 'Sayang. Aku akan menutup telepon dulu, oke. Kita harus memeriksa tiketnya sekarang. Saya akan memberi tahu Anda nanti. Hai sayang, aku mencintaimu, kata Wira. Tut. Sebelum Callista sempat menanggapi ucapan Wira, pria itu sudah mematikan teleponnya. Menatap layar ponsel, Callista menanggapi ucapan Wira, "Aku juga mencintaimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN