BAB 31

1605 Kata
Asha terduduk di atas sofa kemudian menuliskan selembaran kertas dengan tinta berwarna hitam di bawah sinar cahaya lampu. Tangannya terus menuliskan kata demi kata di atas kertas kemudian setelahnya melipat kertas itu menjadi 4 bagian dan memasukan ke dalam amplop. Amplop rapi dengan cap keluarga Pandora diberikan olehnya kepada seorang pria yang kebetulan akan pergi ke Terassen malam ini menerjang badai yang lebat dan malam yang gelap. "Tuan Rusdy, apa saya boleh menitipkan ini kepada anak saya?" tanya Asha sambil memberikan sebuah surat dengan cap keluarga Pandora di atasnya. Rusdy, salah satu tamu yang diundang dalam acara pameran itu menatap ke arah surat dan menerimanya, "Tentu. Saya akan memberikan kepada putri Anda," ujar Rusdy. "Terima kasih atas kemurahan hati anda," balas Asha. "Apa tidak sebaiknya anda ikut saja ke Terassen bersama dengan saya, Nona Asha?" tanya Rusdy. Asha menggelengkan kepalanya, "Besok saya masih harus membantu Nona Kalea untuk acara berikutnya. Sepertinya tidak akan sempat jika pulang sekarang dan kembali besok pagi. Sebaiknya saya bermalam disini," ujar Asha. "Baiklah kalau begitu. Kalau begitu aku pergi," pamit Rusdy kemudian keluar dari pintu dan hempasan angin menerpa rambut Asha sampai mengembang. Pintu kembali tertutup dan hempasan angin berhenti. Dari jendela, Asha melihat Rusdy yang masuk ke dalam kendaraan miliknya dan meninggalkan tempat dimana Asha berada. Perjalanan yang ditempuh Rusdy pun jauh lebih lama, terlebih karena badai lebat menutup akses di beberapa tempat dan menyebabkan air menggenang di beberapa titik sehingga Rusdy harus memilih tempat yang tidak tergenang air dengan baik. * * * * * Kediaman Keluarga Pandora Kota Terassen * * * * * Tok ! Tok ! Tok ! Suara ketukan pintu membangunkan Rosamund yang terlelap di atas sofa. Wanita itu sengaja tidak tidur di kamar karena menunggu kedatangan Asha. Sontak saja saat mendengar suara ketukan pintu di tengah malam, Rosa langsung terbangun dan berlari ke arah pintu. "Tunggu sebentar," pekik Rosa sambil mengikat rambutnya yang terurai dan berlarian ke arah pintu. Ckleeeeekkkk ! ! ! ! ! Pintu rumahnya pun terbuka namun bukan sosok Asha yang ia tunggu ada di depan pintu, melainkan sosok pria dengan kumis tebal dan topi hitam yang menutupi kepalanya. Mata Rosa memicing dan berusaha mengenali pria itu, kemudian ia pun teringat sosok pria itu. "Paman Rusdy?" tanya Rosa. "Iya Rosa, ini aku. Aku menyampaikan surat dari Ibumu," ujar Rusdy kemudian merogoh saku pada jubahnya dan memberikan sebuah amplop dengan cap keluarga Pandora di depannya. Rosa menatap ke arah surat itu dan mengambilnya, "Apa ini?" "Sebaiknya kau baca saja. Kalau begitu aku pamit pergi karena ini sudah sangat larut," pamit Rusdy. "Ah iya. Terima kasih Paman Rusdy," balas Rosa. Rusdy pun kembali masuk ke dalam kendaraannya, sedangkan Rosa kembali masuk ke dalam dan menutup pintu rumah lalu menguncinya. Rosa berjalan ke arah tempat duduknya barusan dan membuka surat yang diberikan oleh Rusdy barusan. Setelah duduk, Rosa mulai membaca isi surat itu dan berisikan jika Asha tidak bisa pulang malam ini karena masih harus membantu rekannya, "Jadi Ibu tidak pulang ya?" gumam Rosa kemudian meletakkan surat itu di atas meja dan beranjak dari tempat duduknya/ Rosa berjalan ke arah lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya seperti biasa. Hera yang kebetulan menginap malam ini tidur di kamar tamu yang ada di lantai 1, itu pun atas permohonan Veza karena dia tak mau Asha marah saat melihat orang asing dibiarkan tidur di tempat tidur anaknya sendiri. Akhirnya Hera mengalah dan akhirnya terlelap di kamar tamu, bersama dengan seimut tebal dan bantal hangat milik Rosa yang dipinjamkan secara cuma - cuma kepada Hera. Rosa beberapa kali berusaha memejamkan matanya namun rasa kantuk tak kunjung datang, sebaliknya ia justru tetap terjaga padahal waktu sudah berlalu 1 jam lamanya. "Astaga kenapa aku jadi sulit tidur? Apa karena aku ketiduran di ruang tengah tadi?" gumam Rosa lalu duduk dari posisi tidurnya dan beranjak dari tempat tidurnya. Rosa berjalan mengelilingi kamarnya, berharap rasa kantuk kembali datang namun hasilnya nihil. Ia masih terjaga dan terasa bugar. "Apa segelas air hangat bisa membuatku mengantuk? Ah tidak, aku bisa buang air kecil di tengah mimpi," gumam Rosa yang teringat jika air hangat tak membantunya. Kesal karena rasa kantuk yang tak kunjung datang, Rosa pun kembali menyalakan lampu kamarnya dan keluar dari kamarnya. Wanita itu turun ke bawah dan berjalan ke arah taman belakang lalu membuka pintu yang membatasi antara bagian dalam rumahnya dengan taman. Kakinya melangkah keluar dari rumah dan berjalan ke tengah taman. Kepalanya menatap ke arah langit dan melihat bintang yang bertebaran dengan indah, ditambah dengan sinar rembulan yang terang. "Sayang sekali tak ada Ibu. Bagaimana bisa jika di Kota Adarlan badai lebat sedangkan disini terang seperti ini?" gumam Rosa sambil menatap langit yang indah. Angin bertiup kencang, meniup kulitnya yang tipis dan memberikan sensasi dingin. Rosa menggigil dibuat angin malam yang terasa sejuk tapi menusuk. "Kenapa belum tidur?" tanya suara seorang pria yang terdengar tidak asing bagi Rosa. Tidak, itu bukan suara Ayahnya. Melainkan suara seorang pria yang kehadirannya selalu dinantikan oleh Rosa. Entah itu di dunia mimpi atau di dunia nyata. Rosa berbalik dan menemukan seeorang pria dengan pakaiannya yang berwarna putih berdrii di belakangnya, "Evander?" panggil Rosa. Evander berjalan mendekati Rosa, "Belum tidur?" tanya Evander. Rosa menggelengkan kepalanya, "Rasa kantukku menghilang." "Mau aku bantu membuatmu merasa mengantuk?" "Memang bisa?" Evander langsung mengulurkan tangannya, tapi Rosa memegang tangan Evander dengan cepat dan menurunkan tangannya, "Tunggu!" ujar Rosa. "Ada apa?" "Ada yang mau kutunjukkan kepadamu." "Kepadaku?" Rosa menganggukan kepalanya lalu menarik tangan Evander masuk ke dalam rumahnya. Evander mengedarkan pandangannya lalu menatap ke arah tangannya yang ditarik oleh Rosa secara paksa tapi ia justru menuruti ke arah manapun Rosa menariknya tanpa penolakan sedikit pun. Rosa mengajak Evander ke sebuah kamar, lebih tepatnya kamar tamu yang ditempati oleh Hera. "Ssshhh! Jangan berisik," bisik Rosa saat membuka pintu kemudian masuk perlahan ke kamar dan mengajak Evander. Evander berdiri di samping tempat tidur. Melihat seorang wanita yang tidur memunggunginya. Seolah sadar dengan kehadiran dengan seseorang, wanita di atas tempat tidur itu menggeliat dan berbalik hingga wajahnya terlihat oleh Evander. Mata Evander membulat saat melihat sosok wanita yang sedang terlelap di hadapannya. "Kau mengenalnya?" tanya Hera. "Tidak, tapi dia seorang siren, bukan?" tanya Evander lalu menatap Rosa. Rosa menjawabnya dengan anggukan. "Ternyata dia ada disini," ujar Evander. "Baru saja aku bertemu dengannya tadi siang. Seorang pria mengejarnya dan dia ketakutan lalu meminta tolong padaku. Aku membawanya kemari," ujar Rosa. "Sedang apa kau di Adarlan?" "Bagaimana kau tahu dia di Adarlan?" Evander berdehem, lalu menatap Rosa dengan tatapan intimidasi sehingga Rosa menjawab pertanyaannya. "Aku habis mengantarkan Ibuku ke Adarlan. Aku pikir ingin berbelanja di Solandis sekaligus melihat seperti apa Solandis, lalu bertemu dengan dia," jawab Rosa. "Kau sudah tahu identitas asli dia?" Rosa mengangguk, "Sudah." "Kalau begitu aku akan menjemputnya besok." "Besok?" "Iya. Biar Ratunya sendiri yang membawanya, aku tidak ada hak untuk itu," balas Evander kemudian keluar dari kamar dan tanpa meninggalkan sepatah kata apa pun. Rosa ikut berlari menyusul Evander yang berjalan dan menutup pintu kamar perlahan lalu berlari lagi ke arah taman belakang, tempat Evander berada. "Syukurlah jika dia ada bersamamu. Aku khawatir di kemana," ujar Evander. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa seorang siren yang hidup di laut ada di daratan?" tanya Rosa. Evander berbalik dan menatap mata Rosa dengan lekat, "Seseorang berusaha menculiknya. Sepertinya berharap mendapatkan kekuatan siren atau entahlah motifnya apa. Tetapi jika sekarang dia ada padamu dan dia percaya padamu, kau beruntung. Jika tidak, dia bisa saja membunuhmu," ujar Evander. Wajah Rosa memucat, "Apa?" "Siren adalah bangsa yang berbahaya Rosa. Ada rasa khawatir sesaat saat melihat siren di kamarmu. Tapi beruntung bagimu dia bisa terlelap seperti itu," ujar Evander. "Sejujurnya aku tak mengerti." "Aku juga, Rosa. Kejadian ini membuatku penasaran." "Kejadian? Ada apa?" "Beberapa pria dari Solandis berlayar di tengah malam dan bernyanyi dengan nyanyian siren. Banyak korban jiwa dan hanya 3 yang selamat kabarnya. 1 orang sudah meninggal dan Gerhard mengurusnya. 2 orang lagi belum ditemukan," ujar Evander. "2 orang ya? Tapi aku hanya menemukan 1," balas Rosa sambil berusaha mengingat kejadian di pasar Solandis tadi. "1? Apa kau tahu namanya?" Rosa mengangguk, "Hera memberitahu kepadaku tadi siang." "Siapa?" tanya Evander penasaran. "Akan kutukar namanya dengan cerita tentang siren, bagaimana?" ujar Rosa. "Apa kau sedang melakukan transaksi kepadaku sekarang?" Rosa mengangguk lagi, "Bisa dibilang begitu." "Baiklah. Besok akan kuceritakan semuanya selagi meminta Meira menjemput Hera disini. Sebaiknya awasi dia dan jangan buat dia meninggalkan tempat ini. Cukup sulit melacak keberadaan bangsa siren," ujar Evander. "Serahkan padaku." Evander mengangguk kemudian berbalik hendak pergi dari sana. Namun belum sempat Evander berteleportasi, tiba - tiba Rosa menahan tangannya hingga Evander menoleh. "Ada apa?" tanya Evander. "Bisa disini lebih lama? Aku ingin bersamamu," pinta Rosa. Evander menatap Rosa dengan lekat, "Apa maksudmu?" "Aku sudah mengutarakan perasaanku kan?" "Iya, lalu apa? Kau bahkan tak tahu siapa aku. Mengapa kau mengutarakan perasaanmu kepadaku?" "Kata siapa? Aku tahu siapa kau, Evander Cassiopeia," ujar Rosa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Sungguh?" "Pencipta Lacoste," jawab Rosa. Evander memejamkan matanya dan menghela napasnya, "Terdengar keren. Tapi juga menyedihkan," gumam Evander. Rosa menatap wajah Evander, "Memang ada apa?" "Ceritanya panjang," balas Evander. "Apa itu?" Evander menatap Rosa, "Sebaiknya kau tanyakan pada Gerhard. Dia tahu semuanya." "Gerhard Khrysaor?" "Iya. Dia temanku." Mata Rosa seketika membulat, "Tidak heran sih. Baiklah aku akan ke Istana Twyla nanti." "Sekarang aku sudah boleh pergi kan? Aku harus memberitahu kepada Meira." Rosa terdiam lalu memanggukan kepalanya, "Baiklah. Sampai jumpa besok." Tubuh Evander terasa kaku mendengar kalimat itu. Padahal tidak pernah ada orang yang menantikan kehadirannya karena bagi mereka, Evander hanya sosok mimpi buruk. Tapi berbeda dengan Rosa, Rosa justru menantikannya. "Iya," jawab Evander kemudian . . . Whooosshhh ! ! ! ! Pria itu pun menghilang dalam sekejap dari hadapan Rosa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN