Bab 12 : Malam Pertama

1879 Kata
Malam di Erbil memiliki jenis kesunyian yang berbeda dengan Jakarta. Tidak ada raungan knalpot motor yang membelah dini hari, atau sayup-sayup musik dangdut dari hajatan warga di gang sebelah. Yang ada hanya desau angin yang turun dari pegunungan, menyelinap di antara celah jendela kayu kamar kami yang besar. Kamar ini adalah oase baru bagiku. Langit-langitnya tinggi, dengan ukiran geometris khas Timur Tengah yang dicat warna krem lembut. Sebuah permadani Persia berwarna merah marun membentang di bawah tempat tidur kayu jati yang kokoh. Di sudut ruangan, koper-koperku masih berdiri, sebagian sudah terbuka, menumpahkan isi hidupku yang lama ke dalam ruang yang baru ini. Azad masih berada di kamar mandi. Aku bisa mendengar suara gemericik air yang menenangkan. Aku berdiri di depan cermin rias, perlahan-lahan menghapus sisa riasan yang menempel di wajahku sejak fajar tadi di Jakarta. Tanganku sedikit gemetar saat melepas aning-anting emas pemberian Mama. Hari ini begitu panjang. Aku telah melewati dua benua, tiga zona waktu, dan ribuan emosi. Namun, saat melihat pantulan diriku di cermin, aku tidak melihat kelelahan yang kusam. Aku melihat seorang wanita yang baru saja terlahir kembali melalui sebuah janji suci. Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menyeruak keluar, membawa aroma sabun kayu cendana yang sangat maskulin. Aku menoleh melalui cermin. Azad keluar hanya dengan mengenakan celana kain panjang hitam, handuk putih tersampir di bahunya. Rambutnya yang hitam masih basah, beberapa tetes air jatuh ke dadanya yang bidang. Tiba-tiba, udara di kamar ini terasa lebih tipis. Ada getaran listrik yang melompat di antara kami—sesuatu yang selama ini kami jaga dengan sangat hati-hati di bawah pengawasan ketat norma dan keluarga di Jakarta. Tapi malam ini, dinding-dinding ini adalah saksi bahwa kami telah sah. Azad berjalan mendekat. Dia tidak bicara. Dia berdiri di belakangku, meletakkan tangannya yang hangat di bahu telanjangku yang hanya tertutup tali tipis gaun tidur sutra berwarna gading. Matanya menangkap mataku di cermin. "Kamu sangat cantik, Alana," bisiknya. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan intensitas yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kadang aku masih sulit percaya bahwa kamu benar-benar ada di sini. Di kamarku. Di Erbil." Aku memutar tubuhku, menghadapnya. "Aku di sini, Azad. Aku tidak akan pergi ke mana-mana." Dia mengulurkan tangan, menyentuh liontin matahari di leherku, lalu jemarinya turun menelusuri garis leherku hingga berhenti di tulang selangka. Sentuhannya seperti api yang merambat pelan di atas kulitku yang dingin. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat saat dia menarikku lebih dekat, hingga tidak ada lagi jarak di antara kami. Dia menunduk, mencium keningku lama sekali, seolah sedang menghirup seluruh keberadaanku. Lalu, bibirnya turun ke hidung, ke pipi, dan akhirnya berhenti di sudut bibirku. "Alana..." gumamnya. Suara itu adalah sebuah permohonan, sekaligus sebuah janji. Saat bibirnya akhirnya menyatu dengan bibirku, seluruh dunia di luar sana menghilang. Tidak ada lagi perang, tidak ada lagi birokrasi, tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanya rasa manis yang familiar namun kini terasa jauh lebih mendalam. Ciumannya tidak lagi tentatif seperti saat kami bersembunyi di pojok kafe Jakarta. Ciuman ini penuh tuntutan, penuh dengan rasa lapar yang tertahan selama berbulan-bulan perpisahan dan penantian. Tangan Azad berpindah ke pinggangku, mengangkatku dengan mudah hingga duduk di atas meja rias. Aku melingkarkan lenganku di lehernya, membenamkan jemariku di rambutnya yang masih lembap. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang menjalar ke tubuhku, menghancurkan sisa-sisa kedinginan dari perjalanan panjang kami. Setiap sentuhannya adalah sebuah penemuan baru. Cara kulit kasarnya bergesekan dengan sutra gaun tidurku, cara dia membisikkan kata-kata dalam bahasa Kurdi yang tidak kumengerti namun terasa begitu puitis di telingaku, semuanya terasa begitu sakral. "Aku mencintaimu," bisiknya di antara napas yang memburu. "Lebih dari kata-kata yang bisa diciptakan manusia." Dia membimbingku menuju tempat tidur. Cahaya lampu tidur yang temaram menciptakan bayangan yang menari di dinding. Di atas seprai bersih yang disiapkan Ibu Amina dengan penuh kasih, kami akhirnya benar-benar menjadi satu. Tidak ada ketergesaan. Semuanya dilakukan dengan kelembutan yang memuja. Azad memperlakukanku seolah aku adalah permata paling berharga yang pernah dia temukan di tengah reruntuhan. Gairah yang membuncah bukan sekadar pemuasan fisik, melainkan sebuah percakapan jiwa—sebuah perayaan atas kemenangan cinta kami melawan segala kemustahilan. Dalam dekapan Azad, aku menemukan rumahku yang sebenarnya. Bukan pada koordinat peta, bukan pada bangunan batu di Erbil ini, tapi pada ritme napasnya yang bersatu dengan napasku. Setiap inci kulitku seolah terbakar oleh sentuhannya, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan yang permanen. Beberapa jam kemudian, kegelapan malam mulai menipis menuju biru tua fajar. Aku berbaring dengan kepala di d**a Azad, mendengarkan detak jantungnya yang kini sudah tenang dan teratur. Selimut tebal menutupi kami dari udara malam Kurdistan yang mulai menusuk. Azad mengusap lenganku perlahan. "Kamu tidur?" "Belum," jawabku pelan. "Aku hanya sedang berpikir... betapa berbedanya hidupku sekarang. Kemarin pagi aku masih di kamarku di Jakarta, dan sekarang..." Azad mencium puncak kepalaku. "Sekarang kamu adalah ratu di sini. Besok, aku akan menunjukkan padamu dunia yang aku janjikan. Tapi malam ini, biarkan aku hanya menjagamu seperti ini." Aku memejamkan mata, menghirup aroma tubuhnya—campuran cendana, keringat yang manis, dan cinta. Rasa lelah yang luar biasa akhirnya menyergapku, namun bukan lelah yang membebani. Ini adalah lelah yang memuaskan. *** Di luar jendela, suara sayup-sayup azan subuh mulai terdengar dari kejauhan, bersahut-sahutan dari menara-menara masjid di kota Erbil. Nadanya berbeda dengan Jakarta—lebih meliuk-liuk, lebih melankolis, namun tujuannya sama: memuji Yang Maha Kuasa. Aku tersenyum dalam kantukku. Aku telah menyeberangi samudera untuk sampai ke titik ini. Dan saat aku mulai terlelap dalam pelukan pria yang telah mempertaruhkan segalanya untukku, aku tahu bahwa ini bukanlah akhir dari cerita. Ini hanyalah pembukaan dari bab baru yang jauh lebih indah. Erbil mulai terbangun, dan untuk pertama kalinya, aku akan menyambut matahari pagi bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari tanah ini. Fajar di Erbil pecah dengan warna ungu kemerahan yang dramatis di cakrawala. Aku terbangun bukan karena alarm ponsel, melainkan karena suara rendah Azad yang sedang melantunkan doa pelan di samping tempat tidur. Dia sudah rapi, mengenakan kaos santai, namun matanya masih memancarkan kehangatan yang sama dengan semalam. "Selamat pagi, zhianakam—hidupku," bisiknya saat melihat mataku terbuka. Aku meregangkan tubuh, merasakan pegal yang manis di sekujur ototku. "Jam berapa sekarang?" "Baru pukul enam. Tapi di bawah, aroma sarapan sudah sampai ke sini. Ibuku tidak bisa membiarkan tamu—maksudku, menantunya—kelaparan di hari pertama." Aku segera beranjak, mendadak gugup. Ini adalah ujian pertamaku: menghadapi keluarga besar Azad tanpa tameng pesta pernikahan. Aku memilih kemeja linen panjang berwarna hijau zaitun dan celana kain longgar, berusaha menyesuaikan diri dengan kesopanan lokal namun tetap mempertahankan gayaku sendiri. Saat aku menuruni tangga batu yang dingin, suara denting piring dan tawa Vian terdengar dari arah dapur. Bau roti segar yang dipanggang langsung di atas api—Nan-i Tir—menyeruak hebat. Di dapur, Ibu Amina sedang berdiri di depan kompor besar. Dia menoleh, wajahnya yang penuh kerutan halus itu langsung cerah. Dia meletakkan spatula kayu dan berjalan menghampiriku, memegang kedua pipiku dengan tangannya yang hangat dan sedikit kasar karena kerja keras bertahun-tahun. "Choni, kcham? (Apa kabar, putriku?)" tanyanya lembut. Aku tersenyum lebar, mencoba mengingat pelajaran singkat dari Azad. "Bashim, Daye. (Aku baik, Ibu.)" Mendengar aku memanggilnya "Daye", mata Ibu Amina berkaca-kaca. Dia langsung menarikku ke dalam pelukan yang beraroma tepung dan rempah-rempah. Di meja makan kayu yang panjang, sarapan sudah tersaji seperti sebuah pesta kecil. Ada berbagai jenis keju putih, madu liar yang kental, zaitun hitam, irisan tomat dan timun segar, serta telur orak-arik dengan potongan daging sapi kering (Pastirma). Vian muncul dari pintu belakang dengan nampan berisi gelas-gelas kecil berbentuk pinggang tawon berisi teh hitam yang sangat pekat dan manis. "Ayo, Kak Alana! Kalau di Jakarta kita sarapan bubur, di sini kita harus makan sampai kenyang sebelum matahari benar-benar tinggi," seru Vian dengan bahasa Indonesia yang semakin lancar. Kami duduk melingkar. Paman Azad, yang semalam menyambutku di bandara, juga bergabung. Suasana terasa sangat intim. Meskipun bahasa menjadi kendala, Azad terus menerjemahkan dengan sabar. Namun, ada satu momen yang membuatku tersentuh: Ibu Amina terus-menerus memindahkan potongan keju terbaik dan madu ke piringku, memastikan aku mencoba segalanya. "Ibu bilang," Azad menerjemahkan, "kamu terlalu kurus untuk ukuran istri pria Kurdi. Dia akan memastikan dalam sebulan pipimu akan lebih berisi." Aku tertawa, merasakan beban di pundakku perlahan luruh. Namun, tantangan sesungguhnya datang setelah sarapan. "Azad harus ke kantor kementerian sebentar untuk mengurus dokumen kerjamu," kata Vian padaku. "Ibu ingin mengajakmu ke Qaysari Bazaar. Dia ingin membelikanmu pakaian tradisional yang 'pantas' untuk kunjungan keluarga nanti malam." Aku menatap Azad dengan tatapan 'jangan tinggalkan aku sendiri'. Azad menggenggam tanganku di bawah meja. "Kamu aman bersama Ibu dan Vian. Aku akan menyusul dalam dua jam. Ini waktu yang bagus untuk kalian saling mengenal tanpa aku sebagai perantara terus-menerus." Satu jam kemudian, aku sudah berada di dalam mobil bersama Ibu Amina dan Vian menuju pusat kota. Erbil di pagi hari terasa sangat hidup. Debu-debu halus berterbangan di bawah sinar matahari yang mulai terik. Mobil-mobil membunyikan klakson dengan tidak sabar, dan di trotoar, pria-pria tua duduk berkelompok sambil memutar tasbih mereka. Kami sampai di depan Citadel of Erbil. Di bawah kaki benteng raksasa itu, terbentang Qaysari Bazaar—sebuah labirin pasar kuno dengan atap melengkung yang terbuat dari batu bata merah. Begitu melangkah masuk, aku merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu. Lorong-lorongnya sempit dan riuh. Bau sabun Aleppo, tumpukan kacang-kacangan, aroma kunyit, kayu manis, hingga wangi parfum minyak yang tajam bercampur menjadi satu. Ibu Amina berjalan dengan penuh percaya diri, menyapa hampir setiap pedagang. Aku, dengan wajah asingku, menjadi pusat perhatian. Namun, perhatian mereka tidak terasa mengancam; itu adalah rasa penasaran yang ramah. Beberapa pedagang menawarkan kurma kering padaku saat kami lewat. Kami berhenti di sebuah toko kain yang sangat mewah. Gulungan sutra, beludru, dan kain brokat dengan benang emas bertumpuk hingga ke langit-langit. Ibu Amina mulai berdiskusi sengit dengan si pedagang, mengeluarkan berbagai warna kain dan menempelkannya ke kulitku. "Ibu ingin kamu memakai warna biru langit," bisik Vian. "Katanya itu warna yang melambangkan kejernihan hatimu." Saat Ibu Amina sibuk memilih motif, aku berdiri agak jauh, mengamati keramaian pasar. Tiba-tiba, seorang wanita tua yang mengenakan penutup kepala hitam pekat mendekatiku. Dia menatapku tajam, lalu memegang tangan kananku, melihat cincin kawin dan sisa inai di sana. Dia membisikkan sesuatu dalam bahasa Kurdi yang terdengar sangat cepat dan dalam. Aku mematung, tidak tahu harus berbuat apa. Ibu Amina menyadari hal itu dan segera mendekat. Terjadi percakapan singkat di antara mereka. Wanita tua itu akhirnya tersenyum, mengangguk padaku, lalu pergi setelah menepuk bahuku pelan. "Apa yang dia katakan, Vian?" tanyaku cemas. Vian tersenyum simpul. "Dia bilang, dia melihat perjalanan jauh di matamu. Dia bilang kamu adalah 'Matahari dari Timur' yang akan membawa keberuntungan bagi rumah ini. Dia hanya mendoakanmu agar segera diberikan keturunan yang kuat." Wajahku merona merah. Di tengah pasar kuno yang berisik ini, aku menyadari satu hal: meskipun aku berasal dari Jakarta yang modern dan hiruk pikuk, akar kemanusiaan di sini sangat dalam. Mereka sangat menghargai ikatan, restu, dan doa. Ibu Amina akhirnya memutuskan sebuah kain brokat biru tua dengan sulaman perak. Saat dia membayar, dia menolak bantuanku. Dia memberikan bungkusan itu padaku dengan tatapan yang sangat lembut. "Ini bukan hanya baju, Alana," kata Vian menerjemahkan kata-kata ibunya. "Ini adalah tanda bahwa kamu bukan lagi tamu di Erbil. Kamu adalah putri rumah ini." Aku memeluk bungkusan kain itu erat-erat. Di tengah hiruk pikuk pasar Qaysari, aku merasa seolah satu akar lagi baru saja tumbuh dari kakiku, menghujam ke dalam tanah Kurdistan yang keras namun hangat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN