Suara ritsleting koper yang tertutup rapat itu terdengar seperti sebuah vonis final. Klik. Selesai sudah. Seluruh hidupku kini telah diringkas ke dalam dua koper besar dan satu tas jinjing.
"Alana, tidurlah sebentar. Kita harus berangkat pukul tiga," suara Azad lembut, namun aku tahu dia pun tidak akan bisa memejamkan mata.
Aku merebahkan diri di tempat tidurku yang sudah terasa asing. Sprei yang biasanya beraroma deterjen rumah kini tertutup sisa-sisa kelopak melati yang jatuh dari sanggulku tadi. Di sebelahku, Azad berbaring tanpa melepas kemeja putihnya. Kami saling menatap dalam remang lampu tidur. Ruangan ini, yang telah menjadi saksi tangisku saat patah hati atau tawa rahasiaku saat meneleponnya diam-diam, kini terasa seperti dermaga yang akan segera kutinggalkan.
"Apa yang paling akan kamu rindukan?" tanya Azad pelan, jarinya menelusuri garis rahangku.
"Bubur ayam di ujung jalan setiap Minggu pagi," jawabku spontan, membuat kami berdua terkekeh pelan.
"Dan suara Papa yang batuk-batuk kecil sambil menyiram tanaman di depan rumah. Bagaimana denganmu?"
Azad terdiam sejenak. "Aku akan merindu bagaimana Jakarta menerimaku saat aku bukan siapa-siapa. Tapi sekarang, aku membawa bagian terbaik dari kota ini bersamaku." Dia menarikku ke dalam pelukannya.
Waktu seakan berlari. Sebelum mataku benar-benar terlelap, alarm ponsel sudah berteriak. Pukul 02.45.
Suasana rumah di jam sesubuh ini biasanya sunyi, namun pagi ini berbeda. Mama sudah berada di dapur, membungkus nasi uduk ke dalam kotak-kotak kecil. "Untuk sarapan di jalan," katanya pendek, suaranya serak. Dia tidak menatapku. Aku tahu, jika mata kami bertemu, bendungan itu akan runtuh lagi.
Papa berdiri di teras, memperhatikan sopir taksi yang memasukkan koper-koper kami ke bagasi. Udara pagi Jakarta yang sedikit berpolusi terasa begitu berharga saat ini. Aku menghirupnya dalam-dalam, mencoba menyimpannya di paru-paruku.
"Jaga diri baik-baik, Lan," Papa memegang kedua bahuku saat kami berpamitan di depan pintu mobil. "Ingat pesan Papa semalam. Jangan pernah merasa sendiri di sana. Kalau ada apa-apa, telepon. Jam berapa pun."
Aku memeluk Papa erat, lalu beralih ke Mama. "Ma, maafkan Alana..."
"Sstt," Mama mengusap air mataku dengan ujung daster yang dia tutupi jaket. "Jangan berangkat dengan tangisan. Bawa senyummu ke rumah barumu. Biar orang-orang di sana tahu kalau perempuan Indonesia itu kuat."
Vian dan Ibu Amina sudah menunggu di taksi lain. Kami berangkat dalam konvoi kecil menuju Soekarno-Hatta. Sepanjang perjalanan, aku menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang mulai menyalakan lampu-lampu puncaknya. Tol Dalam Kota yang biasanya kulewati dengan gerutu karena macet, kini terasa begitu melankolis.
Sesampainya di terminal keberangkatan internasional, keriuhan bandara menyambut kami. Bau kopi bandara, suara pengumuman penerbangan, dan deru mesin pesawat di kejauhan. Azad menggandeng tanganku dengan mantap saat kami berjalan menuju meja check-in.
Saat petugas imigrasi mengecap paspor biruku—paspor yang baru saja kuterima—aku merasakan sebuah pergeseran identitas yang nyata. Namaku kini memiliki nama belakangnya di dalam sistem mereka.
"Siap?" tanya Azad saat kami berdiri di depan gerbang keberangkatan.
Aku menoleh ke belakang, ke arah pintu kaca besar tempat Mama dan Papa melambai dari kejauhan. Mereka tampak kecil di antara kerumunan orang. Aku mengangkat tangan, melambai setinggi mungkin, hingga sosok mereka hilang saat kami berbelok masuk ke dalam lorong garbarata.
Di dalam pesawat, aku duduk di dekat jendela. Azad duduk di sampingku, memastikan sabuk pengamanku terpasang dengan benar. Saat pesawat mulai bergerak mundur dari gerbangnya, jantungku berdegup kencang.
Pesawat mulai melaju di landasan pacu. Mesin menderu, menciptakan getaran yang merambat ke seluruh tubuhku. Dan saat roda pesawat meninggalkan aspal landasan, aku merasakan sensasi melayang yang aneh. Di bawah sana, kerlap-kerlip lampu Jakarta perlahan menjauh, mengecil, hingga menyerupai hamparan permata yang berserakan di atas kain hitam.
Aku memejamkan mata. Di depanku, ada ribuan mil jarak, bahasa yang belum sepenuhnya kukuasai, dan budaya yang menantang untuk dipahami. Namun, saat tangan Azad meremas jemariku di bawah selimut pesawat, ketakutan itu perlahan menguap.
Aku bukan lagi Alana yang sekadar mengejar tenggat waktu. Aku adalah Alana yang sedang mengejar takdirnya melintasi benua.
"Kita pulang, Alana," bisik Azad.
"Ya," jawabku mantap, menyandarkan kepalaku di bahunya saat pesawat menembus awan fajar. "Kita pulang."
***
Penerbangan menuju Erbil terasa seperti sebuah kapsul waktu. Di atas ketinggian ribuan kaki, aku berada di antara dua dunia: Jakarta yang baru saja kutinggalkan dan Kurdistan yang menungguku di balik cakrawala. Azad tertidur di bahuku, napasnya teratur, sementara aku masih terjaga, menatap hamparan awan yang mulai memerah terkena sinar matahari terbit pertama yang kami saksikan dari balik jendela pesawat.
Aku mengeluarkan ponselku, membuka galeri foto. Di sana ada foto kami beberapa jam lalu. Aku dengan kebaya putih dan Azad dengan beskapnya. Kami tampak begitu serasi, namun di balik senyum itu, aku tahu ada beban tanggung jawab besar yang baru saja kami pikul.
"Sudah bangun?" suara parau Azad memecah lamunanku. Dia mengucek matanya, lalu mengecup keningku singkat.
"Aku belum tidur, Zad," aku mengaku.
"Rasanya aneh. Seperti sedang bermimpi tapi sadar."
Azad membetulkan posisi duduknya, menatapku dalam. "Beberapa jam lagi kita mendarat di Doha untuk transit, lalu langsung menuju Erbil. Apa kamu merasa mual? Atau pusing?"
Aku menggeleng. "Hanya... berdebar."
Transit di Doha berlalu seperti kilasan cahaya. Bandara Hamad yang megah dengan beruang kuning raksasanya menjadi saksi bisu langkah kaki kami yang terburu-buru. Di sana, suasana mulai berubah. Aku mulai melihat pria-pria dengan jubah panjang dan wanita-wanita dengan abaya hitam yang anggun. Bahasa Arab mulai mendominasi pendengaranku. Vian dan Ibu Amina tampak lebih santai, seolah-olah mereka sedang menghirup udara yang lebih akrab bagi paru-paru mereka.
Saat kami menaiki pesawat terakhir menuju Erbil, atmosfernya berbeda lagi. Penumpang di sekitar kami mulai berbicara dalam dialog yang lebih keras dan penuh semangat—Sorani, bahasa ibu Azad.
"Mereka bicara apa?" bisikku pada Azad saat mendengar seorang pria paruh baya di kursi depan kami tertawa terbahak-bahak sambil memukul lengan temannya.
"Dia bilang dia tidak sabar ingin makan Dolma buatan istrinya," Azad tersenyum, menerjemahkan untukku. "Dia baru pulang dari perjalanan bisnis di Dubai."
Aku tersenyum tipis. Ternyata, di mana pun negaranya, kerinduan akan rumah adalah bahasa universal.
Dua jam kemudian, pengumuman pilot terdengar. Kami akan segera mendarat di Bandara Internasional Erbil (EBL). Aku menempelkan wajahku ke jendela. Di bawah sana, pemandangannya bukan lagi beton dan aspal Jakarta yang padat, melainkan daratan cokelat kekuningan yang luas dengan pegunungan yang menjulang di kejauhan seolah membentengi kota.
Begitu roda pesawat menyentuh landasan, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.
"Selamat datang di tanah tumpah darahku, Alana," bisik Azad lembut tepat saat pesawat berhenti sempurna.
Proses imigrasi di Erbil ternyata lebih ramah dari yang kubayangkan. Petugas yang melihat paspor baruku dan visa tinggal permanen tersenyum lebar.
"Welcome to Kurdistan!" katanya dengan aksen Inggris yang kental. Dia melirik Azad, lalu mengangguk hormat.
Begitu kami keluar dari pintu kedatangan, sebuah pemandangan luar biasa menyambut kami.
"AZAD! VIAN!"
Sekelompok besar orang—mungkin sekitar dua puluh orang—berdiri di sana. Mereka membawa buket bunga mawar merah yang besar dan beberapa spanduk kecil dalam bahasa Kurdi.
Seorang pria tua dengan kumis putih yang rapi dan pakaian tradisional Kurdi—Rank u Chogha berwarna cokelat—melangkah maju.
Itu adalah Paman Azad, kakak dari almarhum ayahnya.
Dia memeluk Azad dengan sangat erat, menepuk punggungnya berkali-kali seolah memastikan keponakannya itu benar-benar kembali dengan utuh. Lalu, perhatiannya beralih kepadaku.
Semua orang terdiam. Aku merasa ribuan pasang mata menatapku. Gadis asing, bertubuh mungil, dengan wajah khas Asia Tenggara yang kini menjadi bagian dari klan mereka.
Ibu Amina maju, berbicara dengan nada cepat dalam bahasa Kurdi, seolah sedang memperkenalkanku dengan penuh bangga. Paman Azad tersenyum, lalu meletakkan tangannya di dadanya—sebuah tanda hormat—dan membungkuk sedikit padaku.
"Alana," katanya dengan suara berat.
"Erbil adalah rumahmu."
Aku merasakan kehangatan yang menjalar. Meskipun aku tidak mengerti kata-kata lainnya, sorot mata mereka yang tulus meluruhkan rasa cemas yang sedari tadi membatu di dadaku.
Bunga-bunga mawar diserahkan ke pelukanku hingga aku hampir tidak bisa melihat jalan di depanku.
Kami dibawa menuju rumah keluarga besar di pinggiran kota Erbil menggunakan iring-iringan mobil. Di sepanjang jalan, aku melihat kontras yang luar biasa. Gedung-gedung modern dengan arsitektur kaca berdiri di samping bangunan batu yang tampak sudah berusia ratusan tahun. Di kejauhan, aku bisa melihat Citadel of Erbil, benteng kuno yang berdiri megah di atas bukit di pusat kota.
"Itu pusat sejarah kami," kata Azad, menunjuk ke arah benteng. "Nanti aku akan membawamu ke sana. Kita akan minum teh sambil melihat matahari terbenam di atas kota."
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan gerbang besi tempa yang indah. Begitu aku turun, aroma daging panggang dan rempah-rempah yang tajam langsung menusuk hidungku. Di halaman dalam, sebuah meja panjang sudah disiapkan.
Acara penyambutan ini terasa seperti perpanjangan dari resepsi kami di Jakarta, namun dengan energi yang berbeda. Musik Kurdi yang ritmis dimainkan dari sebuah pemutar musik besar. Para wanita—sepupu dan bibi Azad—mengerumuniku, menyentuh tanganku yang masih berhias sisa-sisa inai, memuji kecantikanku dengan kata-kata yang tidak kupahami tapi bisa kurasakan maknanya.
Azad tidak pernah jauh dariku. Dia menjadi penerjemah setiaku, namun lebih dari itu, dia menjadi pelindungku. Setiap kali aku tampak bingung dengan tradisi baru—seperti cara mencelupkan roti ke dalam piring besar berisi hummus atau cara duduk yang sopan—dia akan memberikan kode kecil atau bisikan penenang.
Malam itu, setelah keramaian mereda, Azad membawaku ke balkon kamar kami di lantai atas. Udara Erbil terasa kering dan sejuk, sangat berbeda dengan kelembapan Jakarta yang menyesakkan. Di langit, bintang-bintang tampak lebih terang, seolah jarak antara bumi dan langit di sini lebih dekat.
"Bagaimana hari pertama sebagai Nyonya di Erbil?" tanya Azad, memelukku dari belakang.
Aku menyandarkan punggungku pada dadanya yang bidang. "Luar biasa. Melelahkan, tapi... aku merasa diterima. Keluargamu sangat hangat, Zad."
"Mereka mencintaimu karena aku mencintaimu," jawabnya jujur. "Tapi besok, petualangan yang sebenarnya dimulai. Bukan lagi tentang pesta, tapi tentang hidup sehari-hari. Berbelanja di bazaar, belajar bahasa, dan mungkin menghadapi tatapan penasaran orang-orang di luar sana."
Aku berbalik, menatap matanya yang gelap namun bersinar. "Aku tidak takut lagi. Selama aku punya kamu, dan selama aku punya matahari ini," aku menyentuh liontin di leherku, "aku akan baik-baik saja."
Azad tersenyum, lalu menunjuk ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah kami. "Lihat itu, Alana. Itu adalah kota yang akan kita bangun bersama. Ini bukan lagi sekadar tempat persembunyian bagiku, atau tempat pelarian bagimu. Ini adalah rumah kita."
Aku menatap pemandangan di depan mataku. Jakarta kini berada ribuan mil di belakang, namun aku tidak merasa kehilangan. Aku justru merasa seperti baru saja menemukan bagian dari diriku yang selama ini hilang di antara pasir dan pegunungan Kurdistan.
Aku menarik napas dalam, menghirup aroma musim gugur yang mulai menyapa Erbil. Baunya harum—bau petualangan, bau keberanian, dan yang terpenting, bau masa depan.