Pukul empat pagi, Jakarta masih terlelap dalam sisa hujan semalam, tapi kamarku sudah terang benderang. Bau melati yang tajam menyeruak, bercampur dengan aroma hairspray dan bedak tabur. Aku duduk mematung di depan cermin besar, sementara tangan cekatan perias pengantin bergerak lincah di atas kepalaku.
Hari ini, statusku bukan lagi sekadar Alana, gadis Jakarta yang hobi mengejar tenggat waktu kantor. Hari ini, aku adalah sebuah jembatan.
"Lan, jangan melamun. Tarik napasnya yang dalam," bisik Mama sambil mengusap bahuku. Aku melihat pantulan Mama di cermin; matanya sembab. Aku tahu, semalam beliau pasti tidak tidur, menghitung jam-jam terakhirku sebagai penghuni tetap rumah ini.
Aku mengenakan kebaya putih panjang dengan ekor menjuntai, hasil perpaduan desain yang kami diskusikan selama berminggu-minggu. Potongannya klasik Jawa, namun di bagian bahu dan d**a, ada sulaman perak yang polanya diambil dari motif tradisional Kurdi—sebuah penghormatan untuk keluarga Azad. Di leherku, liontin matahari itu tetap melingkar, tidak tertutup oleh untaian melati.
"Sudah siap?" tanya Papa dari ambang pintu. Beliau memakai beskap lengkap dengan blangkon. Gagah, namun ada kesedihan yang coba beliau sembunyikan di balik kumis tebalnya.
Aku mengangguk pelan. "Siap, Pa."
Masjid dekat rumah sudah dipenuhi tamu. Suasana hening dan sakral begitu aku melangkah masuk. Aku duduk di kursi di belakang meja kayu jati tempat akad akan dilangsungkan. Di depan sana, aku melihat punggung seorang pria yang sangat kukenal.
Azad.
Dia mengenakan beskap putih, namun di pinggangnya tersampir selendang sutra hijau pemberian Ibunya semalam. Dia tampak tegang. Punggungnya tegak, namun tangannya yang diletakkan di atas lutut terlihat sedikit gemetar. Di sampingnya, Ibu Amina dan Vian duduk dengan tatapan haru. Vian mengenakan gaun Kurdi yang sangat berwarna-warni, kontras dengan nuansa putih di masjid, namun kehadirannya memberikan warna yang hangat.
Papa menjabat tangan Azad. Jantungku serasa berhenti berdetak saat penghulu mulai membuka khotbah nikah.
"Saudara Azad bin Muhammed... saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Alana Syakira binti Nugroho dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai..."
Suara Papa mantap, namun aku bisa mendengar getaran emosi di ujung kalimatnya.
Azad menarik napas panjang. Dia menatap Paap tepat di mata. "Saya terima nikah dan kawinnya Alana Syakira binti Bapak Nugroho dengan mas kawin tersebut, tunai."
Satu tarikan napas. Tanpa cela.
"Sah?"
"Sah!"
Gema kata "Sah" itu meruntuhkan pertahananku. Air mata jatuh membasahi pipiku, merusak sedikit riasan yang sudah dibuat berjam-jam.
Azad memutar tubuhnya ke arahku. Untuk pertama kalinya, dia menatapku bukan lagi sebagai kekasih, melainkan sebagai istrinya. Ada binar kemenangan di matanya—kemenangan atas jarak, birokrasi, dan segala keraguan dunia.
Saat prosesi sungkeman, tangisku pecah. Aku bersimpuh di kaki Papa.
"Pa, maafkan Alana kalau selama ini merepotkan. Terima kasih sudah mengizinkan Alana mengejar kebahagiaan Alana sendiri," bisikku di pelukannya.
Papa memelukku erat, sangat erat, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatannya ke dalam tubuhku.
"Pergilah, Lan. Jadilah istri yang baik. Jangan lupa, rumah ini tidak akan pernah berganti kunci untukmu."
Lalu, aku bersimpuh di depan Ibu Amina. Dia tidak bicara bahasa Indonesia, dan aku belum lancar bahasa Kurdi, tapi saat dia memegang wajahku dengan kedua tangannya dan mencium keningku, kata-kata tidak lagi dibutuhkan.
"Bexer bet, kcham," bisiknya. Aku tahu itu artinya: Selamat datang, putriku.
Resepsi diadakan di halaman rumah yang disulap menjadi taman minimalis. Musik yang diputar adalah campuran dari gamelan yang lembut dan denting instrumen Oud dari Timur Tengah.
Teman-teman kantorku datang dengan wajah takjub. "Lan, serius kamu mau pindah ke sana?" tanya mereka berulang kali. Aku hanya tersenyum. Mereka melihat risiko; aku melihat Azad.
Momen paling berkesan adalah ketika lagu tradisional Kurdi mulai diputar. Azad mengajakku berdiri. Di tengah halaman, di bawah lampu-lampu gantung, dia mengajariku langkah-langkah Govend—tarian tradisional Kurdi. Kami saling mengaitkan jari kelingking, bergerak mengikuti irama drum yang menghentak.
Vian melompat bergabung, diikuti oleh beberapa sepupuku yang tertawa kebingungan mencoba mengikuti langkah kaki kami yang cepat. Untuk sesaat, tidak ada lagi perbedaan antara Jakarta dan Erbil. Yang ada hanya tawa, keringat, dan kebahagiaan yang meluap.
"Kamu penari yang hebat, Nyonya Azad," bisik Azad di telingaku saat kami kembali ke pelaminan untuk beristirahat.
"Aku hanya mengikuti langkahmu, Tuan Insinyur," jawabku sambil menyeka peluh di dahinya dengan sapu tangan.
***
Malam semakin larut. Tamu-tamu mulai pulang. Aku duduk di sofa ruang tamu yang sudah kembali tenang, masih dengan riasan lengkap. Aku menatap koper-koper besar yang sudah berjajar rapi di dekat pintu. Besok subuh, kami akan berangkat menuju bandara.
Azad duduk di sampingku, melonggarkan kerah beskapnya. "Apa kamu lelah?"
"Lelah secara fisik, tapi hatiku rasanya penuh sekali," kataku. Aku menyandarkan kepala di bahunya. "Azad, apa kamu benar-benar yakin kita bisa melewati semua ini di sana?"
Azad mengambil tanganku, mencium punggung tanganku yang kini sudah berhias cincin kawin. "Alana, hari ini kita membuktikan bahwa dua dunia bisa duduk di satu meja. Di Erbil nanti, mungkin akan ada hari-hari yang sulit. Tapi setiap kali kamu merasa takut, ingatlah hari ini. Ingatlah bagaimana Papamu menjabat tanganku. Ingatlah bagaimana Ibuku memelukmu."
Dia berdiri dan mengambil sebuah kotak kecil dari atas meja. "Aku punya satu hadiah lagi untukmu. Bukan emas, bukan dokumen."
Dia membukanya. Di dalamnya ada sebuah paspor kecil berwarna biru tua dengan sampul bertuliskan "Republik Irak". Di dalamnya sudah tertempel visa tinggal permanen untukku.
"Ini adalah tiket kebebasanmu untuk pulang dan pergi bersamaku. Kamu bukan pengungsi, bukan tamu. Kamu adalah bagian dari tanah itu sekarang," katanya sungguh-sungguh.
Aku menutup mata, membayangkan pegunungan yang sering diceritakan Azad. Aku membayangkan pasar kuno tempat Ibunya membelikan perak untukku. Aku membayangkan suara azan di Erbil yang mungkin akan terdengar berbeda dengan Jakarta, namun tujuannya sama.
Malam itu, sebelum tidur, aku melepas kebaya putihku. Aku menggantinya dengan pakaian santai untuk perjalanan besok. Aku bercermin untuk terakhir kalinya di kamar masa kecilku ini.
Gadis yang ada di cermin itu tampak lebih dewasa. Ada sinar keberanian yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Matahari di leherku seolah bersinar lebih terang.
Aku berjalan menuju jendela, menatap jalanan depan rumah. Taksi bandara akan datang dalam beberapa jam. Aku menarik napas dalam, menghirup aroma Jakarta yang lembap untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, Jakarta. Terima kasih sudah menjagaku selama dua puluh lima tahun," bisikku pelan.
Lalu, aku berbalik, berjalan menuju Azad yang sedang menutup ritsleting koper terakhir kami. Aku tidak lagi takut pada berita di TV. Aku tidak lagi cemas pada jarak. Karena ke mana pun pesawat itu membawaku, selama ada tangan Azad yang menggenggamku, aku tahu aku sedang berjalan pulang.