Bab 9 : Dua Dunia di Satu Meja

1238 Kata
Bandara Soekarno-Hatta selalu terasa seperti tungku raksasa yang membakar kecemasan menjadi kegembiraan. Namun hari ini, panasnya Jakarta terasa berbeda. Aku berdiri di pintu kedatangan internasional, bukan lagi sebagai pengembara yang sendirian. Di sebelah kananku, Ibu berdiri dengan anggun mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dengan bordir emas tipis—pakaian terbaiknya. Di sebelah kiriku, Vian tidak bisa berhenti bergerak, matanya membelalak menatap kerumunan orang yang begitu padat. "Azad, kenapa orang-orang di sini tidak ada yang diam?" bisik Vian sambil membenarkan letak kerudungnya yang mulai miring karena keringat. "Ini Jakarta, Vian. Kalau kamu diam, kamu tertinggal," jawabku sambil terus memindai kerumunan. Lalu, aku melihatnya. Alana berdiri di dekat pilar nomor enam. Dia mengenakan kebaya encim berwarna putih bersih dengan kain batik yang serasi. Wajahnya berseri-seri, namun ada gurat ketegangan yang hanya bisa kutangkap karena aku sudah terlalu sering menatap wajahnya di layar ponsel selama berbulan-bulan. "Itu dia!" teriak Vian tanpa memedulikan tatapan orang sekitar. Pertemuan itu terjadi begitu cepat namun terasa lambat di kepalaku. Ibu maju lebih dulu. Dia tidak menunggu diperkenalkan. Ibu langsung merengkuh Alana ke dalam pelukannya, mencium kedua pipinya dengan tradisi kami yang hangat. Aku melihat Alana sedikit terkejut, namun kemudian dia membalas pelukan itu dengan erat. "Alana... my daughter," bisik Ibu dalam bahasa Inggrisnya yang lembut. Aku melangkah maju, menatap Alana. Jarak yang selama ini kami ukur dengan sinyal internet kini hanya tinggal beberapa senti. Aku ingin memeluknya, namun aku tahu Papa Alana berdiri tepat di belakangnya dengan tangan bersedekap. "Selamat datang kembali, Azad," suara berat papanya memecah suasana. "Terima kasih, Om. Perkenalkan, ini Ibu saya, Amina, dan adik saya, Vian." Papa Alana menyalami mereka dengan sopan, meski wajahnya tetap menunjukkan kewibawaan seorang mantan perwira. Sore itu, kami tidak langsung menuju hotel. Papa Alana bersikeras agar makan malam pertama dilakukan di rumah. "Agar keluarga kita tidak merasa seperti orang asing di restoran," katanya. Rumah Alana telah disulap. Meja makan panjang di tengah ruangan penuh dengan hidangan yang baunya memenuhi setiap sudut. Ada rendang yang kehitaman, sate ayam dengan bumbu kacang yang kental, dan tentu saja, sambal yang warnanya merah menyala. Di sisi lain, kami tidak datang dengan tangan hampa. Ibu telah mengeluarkan "senjata" andalannya. Di atas meja, berdampingan dengan rendang, kini tersaji nampan besar berisi Dolma—daun anggur dan sayuran yang diisi nasi rempah—serta sekeranjang Baklava yang masih mengkilap oleh sirup madu. Itu adalah pemandangan yang aneh namun indah. Perpaduan rempah Minang dan aromatik Mesopotamia di satu meja yang sama. "Silakan, Nyonya Amina," Mama Alana mempersilakan Ibu dengan ramah, meski komunikasi mereka lebih banyak menggunakan bahasa isyarat dan senyuman. Ibu mencicipi rendang itu. Matanya membelalak. Dia segera meraih gelas air putih. "Sangat... berani," kata Ibu dalam bahasa Kurdi yang aku terjemahkan sebagai "pedas sekali." Papa Alana terkekeh. "Bilang pada Ibumu, Azad, itu adalah ujian pertama untuk menjadi bagian dari keluarga Indonesia. Kalau bisa bertahan dengan sambal, dia bisa bertahan dengan apa saja." Aku menerjemahkannya, dan Ibu tertawa sambil mengangguk-angguk. Kemudian, giliran Papa Alana mencicipi Dolma buatan Ibu. Beliau mengunyahnya perlahan, ekspresinya serius seperti sedang memeriksa barisan prajurit. "Asam, tapi segar. Seperti karakter orang-orang di sana ya? Keras di luar, tapi penuh rasa di dalam," komentar Papa Alana yang membuat Alana mengembuskan napas lega. Namun, suasana santai itu berubah menjadi formal saat kami pindah ke ruang tamu untuk prosesi yang sesungguhnya: Lamaran. Ibu mengeluarkan sebuah kotak kayu zaitun yang diukir tangan. Di dalamnya bukan hanya perhiasan emas yang pernah kutunjukkan pada Alana, tapi juga sebuah selendang sutra berwarna hijau—warna kemakmuran bagi kami. "Om, Tante," aku memulai, suaraku kini sepenuhnya tenang. "Saya datang dari jauh, melewati banyak rintangan dokumen dan jarak, bukan hanya untuk membawa Alana pergi. Saya datang untuk meminta restu agar saya bisa menjadi pelindungnya, sebagaimana Om telah melindunginya selama ini." Aku menoleh ke arah Ibu. Beliau mulai berbicara dalam bahasa Kurdi, suaranya dalam dan penuh emosi. Aku menerjemahkannya kalimat demi kalimat. "Ibu saya bilang, di tanah kami, seorang wanita yang bersedia menyeberangi lautan untuk cinta adalah seorang ratu. Kami tidak punya banyak hal untuk ditawarkan selain kehormatan keluarga kami. Ibu berjanji, Alana tidak akan pernah merasa menjadi orang asing di rumah kami. Dia akan menjadi putri kedua di keluarga kami." Vian menyerahkan kotak perhiasan itu kepada Mama Alana. Di dalamnya, emas Kurdi itu berkilau menantang lampu ruang tamu. Papa Alana terdiam cukup lama. Beliau menatap Alana, lalu menatapku. "Azad, sejujurnya, sampai tadi malam saya masih ragu. Saya masih berpikir untuk menyuruh Alana membatalkan semuanya. Berita di TV tidak pernah membuat saya tenang." Hatiku berdegup kencang. Alana menggenggam jemarinya sendiri di bawah meja. "Tapi," lanjut Papa Alana, "melihat Ibumu menempuh perjalanan belasan jam di usianya yang sekarang, hanya untuk memastikan putri saya merasa diterima... itu bicara lebih banyak daripada dokumen mana pun. Dokumen bisa dipalsukan, tapi ketulusan seorang ibu tidak bisa." Papa Alana berdiri, menghampiriku, dan untuk pertama kalinya, beliau meletakkan tangannya di bahuku. Bukan sebagai ujian, tapi sebagai dukungan. "Jaga dia. Kalau sampai saya mendengar dia menangis karena merasa tidak aman di sana, saya sendiri yang akan menjemputnya, tidak peduli seberapa jauh Erbil itu." "Saya berjanji dengan nyawa saya, Om," jawabku tegas. Malam itu, setelah prosesi selesai, aku dan Alana duduk di teras depan. Ibu dan Vian sedang asyik "mengobrol" dengan Mama Alana di dalam menggunakan aplikasi penerjemah suara yang sering kali menghasilkan kalimat-kalimat lucu. "Kita melakukannya, Azad," bisik Alana. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Liontin matahari itu kini bersentuhan dengan gelang emas yang baru saja dipakaikan Ibu ke tangannya. "Ini baru permulaan, Alana. Besok kita ke kedutaan untuk urusan terakhir, lalu minggu depan... kita akan mengucapkan janji di masjid itu," aku menunjuk masjid di ujung jalan yang suaranya selalu menenangkan hatiku. "Aku takut, tapi aku tidak ragu," kata Alana pelan. "Melihat Ibumu memelukku tadi, aku merasa seolah Erbil tidak lagi sejauh yang kupikirkan. Ternyata rumah itu bukan soal koordinat di peta, ya?" "Bukan. Rumah itu soal di mana hatimu merasa aman untuk berlabuh." Aku mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakuku. Tiket pesawat satu arah untuk Alana. Tanggal keberangkatannya adalah tiga hari setelah pernikahan kami. Alana menyentuh tiket itu dengan jari yang gemetar. "Sekali jalan?" "Sekali jalan menuju hidup yang baru. Tapi aku berjanji, kita akan sering kembali ke sini. Aku tidak akan membiarkanmu kehilangan akarmu." Kami terdiam, mendengarkan suara jangkrik dan hiruk pikuk Jakarta yang lamat-lamat. Di atas sana, bulan tampak separuh, namun cahayanya cukup terang untuk menerangi jalanan. *** Besok adalah hari-hari yang sibuk. Fitting baju pengantin—perpaduan antara adat Jawa dan sentuhan Kurdistan yang diminta Alana. Mengurus administrasi terakhir di KUA. Memastikan katering tahu bahwa tamu-tamuku tidak bisa makan makanan yang terlalu pedas. Namun di tengah semua kerumitan itu, aku merasa sangat ringan. Beban satu ton yang kusebutkan saat pertama kali datang ke rumah ini telah menguap. Digantikan oleh tanggung jawab yang manis. Ibu keluar dari rumah, menghampiri kami. Dia memegang tangan Alana dan tanganku, menyatukannya. "Xwa ewa bparezet," bisik Ibu. "Apa artinya?" tanya Alana. "Semoga Tuhan menjaga kalian berdua," jawabku. Malam itu, di bawah langit Jakarta, dua keluarga yang berasal dari dua peradaban yang berbeda akhirnya menemukan frekuensi yang sama. Tidak ada lagi pembicaraan soal perang atau konflik. Yang ada hanyalah diskusi tentang warna seragam keluarga dan rencana perjalanan menuju kehidupan baru di atas pegunungan Kurdistan yang menanti. Aku menatap Alana untuk terakhir kalinya sebelum pamit kembali ke hotel. Dia adalah petualangan terbesarku. Dan saat aku melihatnya tersenyum, aku tahu bahwa semua kertas, stempel, dan debat dengan Papa Alana adalah harga yang sangat murah untuk mendapatkan surga kecil yang kini ada di depan mataku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN