Bab 8 : Dokumen dan Doa yang Melangit

1433 Kata
Malam di Erbil selalu memiliki kesunyian yang berbeda. Di luar, angin musim gugur mulai menyisir jalanan berbatu, membawa hawa dingin dari puncak Gunung Safin. Di dalam kamar, aku duduk dikelilingi oleh tumpukan kertas yang seolah hendak menelan mejaku. Lampu meja berpendar kuning, menerangi paspor Alana yang sudah kupindai berkali-kali hingga aku hafal setiap angka di nomor paspornya. Besok adalah hari "sidang" itu. Pertemuan virtual dengan Papa Alana. Aku merasa lebih gugup menghadapi layar laptop besok daripada saat aku harus mempresentasikan desain bendungan di depan dewan menteri. Karena kali ini, taruhannya bukan kontrak jutaan dolar, melainkan izin untuk menjaga hidup seseorang. Aku membuka folder bertajuk “Alana – Marriage Requirements”. Isinya adalah labirin birokrasi yang melelahkan. Di Kurdistan, prosedur pernikahan dengan warga negara asing melibatkan setidaknya lima instansi berbeda. Pertama, aku harus ke Direktorat Keamanan (Asayish) untuk mendapatkan surat keterangan bersih. Mereka akan menyelidiki latar belakangku, memastikan aku tidak terlibat faksi politik radikal, dan kemudian mereka akan menyelidiki latar belakang Alana. Aku tersenyum pahit melihat formulirnya. Alana, gadis yang hobi mengeluh soal antrean kopi di Jakarta, kini namanya sedang diteliti oleh intelijen di Timur Tengah. Kedua, tes medis. Kami berdua harus menjalani tes darah yang sangat spesifik untuk memastikan tidak ada penyakit genetik atau menular yang akan menghambat garis keturunan kami. Alana sudah melakukannya di Jakarta, dan besok dia akan mengirimkan hasilnya lewat kurir internasional. "Kak, minumlah ini. Wajahmu sudah seperti semen yang kurang air," Vian masuk tanpa mengetuk, meletakkan segelas çay hangat dengan banyak gula di samping laptopku. "Terima kasih, Vian. Aku hanya ingin semuanya sempurna untuk besok." Vian duduk di pinggir tempat tidurku, melihat tumpukan dokumen itu. "Papa Alana itu... dia sangat galak ya?" "Dia tidak galak, Vian. Dia hanya seorang ayah yang takut putrinya hilang di tempat yang dia anggap berbahaya. Coba bayangkan kalau ayah masih ada, dan kamu ingin pindah ke negara yang setiap hari masuk berita karena bom?" Vian terdiam, lalu mengangguk pelan. "Aku akan berdoa lebih panjang malam ini. Ibu juga sedang menyiapkan perhiasan lamaran yang akan kita bawa saat kita ke Jakarta nanti. Ibu bilang, kita tidak boleh datang dengan tangan kosong, meski birokrasinya sudah mencekik kita." *** Hari Sabtu tiba. Pukul 07.00 pagi di Erbil, berarti pukul 11.00 siang di Jakarta. Aku sudah memakai kemeja biru muda yang disetrika rapi oleh Ibu. Aku sengaja mengatur latar belakang videoku di ruang tamu yang memperlihatkan rak buku dan foto keluarga kami yang utuh, untuk menunjukkan bahwa aku datang dari latar belakang yang stabil dan terdidik. Layar Zoom menyala. Wajah Papa Alana muncul, kaku seperti biasanya. Di sampingnya, Alana melambaikan tangan kecil ke arah kamera, matanya menunjukkan perpaduan antara rindu dan cemas. "Selamat pagi, Om," sapaku dengan bahasa Indonesia yang sudah kulatih semalaman. "Pagi, Azad. Langsung saja ya," Papa Alana tidak membuang waktu. Beliau memakai kacamata bacanya dan memegang sebuah buku catatan. "Alana bilang kamu sudah mulai mengurus dokumen di sana. Saya sudah bicara dengan teman saya di konsuler. Dia bilang, risiko terbesar bagi WNI yang menikah di sana adalah masalah perlindungan hukum jika terjadi konflik mendadak. Apa jaminan kamu?" Aku menarik napas dalam, menatap tepat ke arah kamera. "Om, saya sudah menyiapkan dua hal. Pertama, saya sudah mendaftarkan Alana sebagai tanggungan penuh dalam asuransi kesehatan internasional milik perusahaan saya. Perusahaan saya berbasis di Eropa, jadi evakuasi medis atau darurat tercakup sepenuhnya tanpa bergantung pada fasilitas lokal jika terjadi sesuatu." Aku membagikan layar (share screen) memperlihatkan draf kontrak asuransi tersebut. Papa Alana mengangguk kecil, mencatat sesuatu. "Kedua," lanjutku, "Saya sudah menyiapkan surat pernyataan di depan notaris di Erbil yang menyatakan bahwa Alana memiliki hak penuh atas rumah yang saya beli di daerah Dream City—itu kawasan paling aman dan paling modern di Erbil. Jika terjadi sesuatu pada saya, rumah itu secara hukum otomatis menjadi miliknya tanpa bisa diganggu gugat oleh keluarga besar saya." Alana tampak terkejut. "Azad, kamu tidak bilang soal itu..." "Aku ingin ayahmu tahu bahwa aku tidak membawamu ke sini untuk menjadi orang asing yang terlantar," kataku lembut. Papa Alana terdiam cukup lama. Beliau melepas kacamatanya. "Itu soal materi. Sekarang soal keamanan fisik. Kamu tahu sendiri, perbatasan utara sedang bergejolak. Apa rencana cadanganmu?" "Saya punya visa kerja aktif untuk proyek di Dubai yang berlaku selama dua tahun ke depan. Jika situasi di Erbil memburuk di luar kendali, kami punya tempat tinggal dan pekerjaan yang menunggu di sana. Kami bisa keluar dari sini dalam waktu kurang dari enam jam." Aku bisa melihat bahu Papa Alana sedikit menurun. Ketegangannya berkurang. Dia menoleh ke arah Alana, lalu kembali padaku. "Azad, saya ini tentara pensiunan. Saya tidak butuh janji manis. Saya hanya butuh rencana kontingensi. Dan kamu menyiapkannya dengan baik. Tapi ingat, surat-surat itu hanya kertas. Yang saya pegang adalah janji laki-lakimu." "Saya mengerti, Om. Saya mempertaruhkan nyawa saya untuk itu." Setelah panggilan berakhir, aku merasa seperti baru saja mendaki Gunung Halgurd. Keringat dingin membasahi punggungku. Namun, kemenangan kecil ini hanyalah awal. Minggu berikutnya adalah minggu yang penuh dengan debu dan kemarahan pada sistem. Aku harus mengantongi izin dari "Maktab al-Aqd" (Kantor Pernikahan). Aku berdiri mengantre selama empat jam di bawah terik matahari yang masih menyengat hanya untuk diberitahu bahwa tanda tangan Alana di surat kuasa harus disahkan kembali oleh Kementerian Luar Negeri di Jakarta, lalu dikirim dalam bentuk fisik asli. "Tapi ini sudah lewat kedutaan!" protesku pada petugas yang sibuk merapikan kumisnya. "Sistemnya berubah sejak kemarin, Tuan Insinyur. Aturan baru untuk mencegah pernikahan fiktif," jawabnya tanpa dosa. Aku keluar dari kantor itu dengan langkah gusar. Aku menelepon Alana saat itu juga. "Alana, kamu harus kembali ke Kemenlu. Ada berkas yang perlu dilegalisir ulang. Aku minta maaf, sistem di sini benar-benar membuat gila." "Nggak apa-apa, Azad. Aku sudah di depan kantor pos sekarang, mau kirim hasil tes darahku. Kita kerjakan satu per satu, ya? Jangan marah-marah, nanti gantengnya hilang," suaranya yang ceria adalah satu-satunya obat penenangku. Kami menghabiskan minggu-minggu itu dengan rutinitas yang aneh: saling mengirim foto resi pengiriman internasional, foto antrean di kantor pemerintahan, dan tangkapan layar terjemahan dokumen. Pernikahan kami tidak dibangun di atas persiapan pesta yang megah. Kami tidak meributkan soal warna dekorasi atau jenis katering. Kami meributkan soal stempel biru, tanda tangan basah, dan legalisasi kedutaan. Ada suatu malam di mana aku merasa sangat lelah. Proyek di bendungan sedang sulit karena masalah teknis, dan surat dari pengadilan keluarga belum juga keluar. Aku duduk di balkon, memandangi lampu-lampu Erbil. Aku membuka kotak perhiasan yang disiapkan Ibu. Sebuah gelang emas dengan ukiran khas Kurdi yang berat. Emas bagi orang Kurdi bukan sekadar perhiasan, melainkan tabungan di masa sulit. Ibu memberikan emas terbaiknya untuk Alana. "Apa aku egois?" tanyaku pada Ibu yang tiba-tiba muncul membawa sepiring buah delima yang sudah dikupas. "Egois kenapa?" "Membawa Alana ke sini. Ke hidupku yang rumit ini. Padahal di Jakarta dia bisa hidup tenang." Ibu menyuapkan sebutir delima ke mulutku. Manis dan sedikit asam. "Azad, hidup tenang itu membosankan. Alana bukan perempuan lemah. Kamu lihat matanya saat bicara di video itu? Dia punya api. Dia bukan mengikutimu karena dia butuh perlindungan, dia mengikutimu karena dia ingin membangun dunia baru bersamamu." Ibu benar. Alana tidak pernah mengeluh soal kerumitan ini. Dia justru yang paling bersemangat belajar cara membuat Dolma lewat YouTube agar bisa memasak untukku nanti. Persiapan pernikahan ini akhirnya mencapai titik terang saat surat dari Pengadilan Tinggi Kurdistan keluar. Aku dinyatakan "Layak Menikah dengan Warga Negara Asing". Aku langsung memesan tiket pesawat ke Jakarta untuk bulan depan. Kali ini, tiketnya bukan hanya untukku, tapi juga untuk Ibu dan Vian. Kami akan melakukan prosesi lamaran resmi dan pernikahan sederhana di Jakarta, sebelum membawanya pulang ke Erbil. Malam itu, sebelum tidur, aku menulis pesan untuk Alana. “Alana, dokumen terakhir sudah di tanganku. Jalannya sudah terbuka. Bulan depan, aku datang bukan sebagai tamu lagi. Aku datang sebagai seseorang yang akan menjemput takdirnya. Siapkan kopi pahit, karena kali ini aku akan memintanya untuk benar-benar melepaskan tanganmu ke tanganku.” Alana membalas dengan sebuah foto. Dia sedang memakai liontin matahari itu, di depan cermin, dengan latar belakang koper yang sudah mulai terbuka. “Kopinya sudah siap, Azad. Dan kopernya sudah mulai terisi. Separuh Jakarta, separuh rindu.” Aku mematikan lampu kamar dengan senyum yang tak kunjung hilang. Di luar, angin Erbil masih bertiup, tapi kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti ancaman, melainkan seperti nyanyian penyambutan. Kami telah melewati badai birokrasi, menghadapi keraguan orang tua, dan memenangkan jarak. Besok, aku akan mulai mengecat kamar pengantin kami dengan warna krem kesukaannya. Di sana, di sudut ruangan, aku akan meletakkan sebuah rak buku kecil untuk koleksi novelnya, dan sebuah jendela besar yang menghadap ke arah pegunungan. Persiapan fisik mungkin hampir selesai, namun persiapan hati adalah perjalanan seumur hidup. Dan aku siap, sangat siap, untuk memulai perjalanan itu bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN