Jembatan di Atas Awan
Pesawat Qatar Airways yang membawaku seharusnya menjadi ruang isolasi yang tenang, namun pikiranku justru lebih gaduh dari mesin Boeing 777 ini. Aku menyandarkan kepala pada jendela yang dingin. Di bawah sana, kerlap-kerlip lampu Jakarta perlahan mengecil, berubah menjadi hamparan kunang-kunang elektrik yang akhirnya lenyap ditelan gumpalan awan hitam.
Aku baru saja meninggalkan separuh jiwaku di Terminal 3.
Tanganku meraba saku jaket, mencari selembar tisu yang tadi sempat diberikan Alana saat kami duduk di bangku taman. Masih ada sisa aroma parfumnya—lembut, seperti melati setelah hujan. Aku memejamkan mata, mencoba merekam kembali suara tawanya sebelum ingatan itu memudar oleh tekanan udara kabin.
"Azad, you okay?" seorang pramugara bertanya saat lewat. Aku hanya mengangguk singkat. Aku tidak sedang sakit fisik, aku hanya sedang mengalami amputasi emosional.
Aku membuka ponsel dalam mode pesawat, memandangi foto yang kuambil secara sembunyi-sembunyi tadi pagi.
Alana sedang menatap danau, sinar matahari pagi jatuh tepat di garis rahangnya, dan liontin matahari Kurdi itu melingkar di lehernya. Dia tampak sangat... tepat. Seolah perak dari pasar kuno Erbil itu memang diciptakan hanya untuk kulitnya.
Namun, pesan dari manajerku di Erbil kembali terngiang di kepala, merusak momen puitis ini.
“Azad, situasinya agak memanas di perbatasan utara. Proyek bendungan dipercepat karena kita butuh cadangan air sebelum musim kering dan kemungkinan blokade. Kamu harus di lokasi lusa pagi.”
Duniaku memang seperti itu. Selalu ada 'tapi' di balik setiap kebahagiaan. Di Jakarta, masalah terbesar yang kami bicarakan adalah macet dan restu Papa Surya. Di Erbil, masalah bisa berarti pasokan listrik yang diputus atau suara jet yang terbang terlalu rendah.
Aku menghela napas, mencoba membuka draf surel yang sudah kusiapkan untuk pengacaraku di Erbil.
Subjek: Dokumen Pernikahan Internasional (Indonesia).
Aku mulai mengetik poin-poin yang harus diurus:
* Izin dari Kementerian Dalam Negeri KRG.
* Verifikasi status lajang dari Direktorat Status Sipil.
* Sertifikat kesehatan dan tes darah sesuai regulasi.
Melihat daftar itu, aku merasa seperti sedang menyusun strategi perang.
Menikahi Alana bukan sekadar membawa gadis cantik ke rumah, tapi membawa seorang warga negara asing ke dalam sistem yang terkadang curiga pada bayangannya sendiri. Aku harus memastikan setiap koma dan titik di dokumennya sempurna. Aku tidak ingin dia tertahan di imigrasi atau, lebih buruk lagi, tidak diakui secara hukum saat kami sudah tinggal bersama.
Transit di Doha terasa seperti keabadian. Aku duduk di dekat Gate keberangkatan menuju Sulaymaniyah—karena bandara Erbil sedang mengalami pembatasan penerbangan malam. Aku menyalakan internet. Ratusan pesan masuk.
Pesan dari Alana adalah yang pertama kubuka.
“Aku baru saja bicara dengan Mama dan Vian lewat video call. Azad, kenapa kamu tidak bilang adikmu sangat enerjik? Dia sudah merencanakan menu makan malam untuk setahun!”
Aku tersenyum sendiri di tengah keramaian bandara. Ibu dan Vian rupanya tidak sabar. Aku tahu mereka meneleponnya. Ibu pasti sudah jatuh cinta pada Alana sejak melihat foto yang kukirim saat aku mengenakan batik. Bagi Ibu, keberanian Alana untuk menerima pria dari tanah yang penuh luka seperti kami adalah bentuk kehormatan tertinggi.
Namun, di bawah pesan manis Alana, ada notifikasi berita dari grup w******p kantor. Foto-foto truk militer yang bergerak menuju perbatasan.
Hatiku mencelos. Inilah yang ditakutkan Papa Alana. Ketidakpastian. Aku mengetik balasan untuknya dengan jempol yang sedikit gemetar.
“Alana, senangnya kalian sudah saling bicara. Vian memang sedikit berlebihan, tapi dia sangat tulus. Aku sedang di Doha sekarang. Jangan terlalu banyak melihat berita hari ini, oke? Fokus saja pada daftar dokumen yang kita buat. Aku akan menyelesaikannya dari sini secepat kilat.”
Aku berbohong. Aku sendiri tidak bisa berhenti melihat berita. Tapi aku harus menjadi jangkar baginya. Jika aku terlihat goyah, bagaimana dia bisa percaya untuk melompat ke pelukanku melintasi benua?
Saat roda pesawat menyentuh aspal di tanah kelahiranku, udara dingin pegunungan langsung menyambut. Aroma tanahnya berbeda dengan Jakarta. Di sini lebih kering, lebih tajam, dengan bau debu dan asap kayu yang khas.
Aku melewati imigrasi dengan cepat. Petugasnya, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal, melihat pasporku lalu menatap wajahku yang kelelahan.
"Dari mana, Kak?" tanyanya dalam bahasa Kurdi.
"Jakarta. Indonesia," jawabku.
Dia menaikkan alisnya. "Jauh sekali. Cari apa di sana? Rempah-rempah?"
"Cari masa depan," jawabku pelan.
Dia tertawa, lalu mengecap pasporku dengan keras. "Welcome home, Engineer. Semoga masa depanmu tidak terlalu sulit diurus."
Kalimatnya terasa seperti ramalan.
Sepanjang perjalanan pulang dengan taksi, aku melihat bendera-bendera berkibar di sepanjang jalan. Erbil tetap terlihat cantik dengan kastil kunonya yang megah di tengah kota, berdiri kokoh ribuan tahun melewati berbagai perang. Itu memberiku sedikit kekuatan. Jika benteng itu bisa bertahan, maka hubunganku dengan Alana juga harus bisa.
***
Begitu sampai di rumah, Ibu langsung menghambur memelukku. Dia mencium kedua pipiku, lalu aroma kantin rumah sakit—dia baru pulang dinas.
"Mana fotonya? Yang baru!" tagihnya bahkan sebelum aku melepas sepatu.
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto kami di taman kemarin. Ibu mengambil ponselku, membawanya ke bawah lampu ruang tamu, lalu matanya berkaca-kaca.
"Dia memakai matahari kita," bisik Ibu.
"Azad, dia cantik sekali. Matanya... matanya jujur."
"Dia juga takut, Bu," kataku jujur sambil duduk di sofa tua kami. "Ayahnya khawatir tentang keamanan di sini."
Ibu duduk di sampingku, menggenggam tanganku yang kasar. "Wajar. Kalau aku jadi ayahnya, aku juga akan takut. Tapi Azad, cinta itu bukan tentang mencari tempat yang aman. Cinta itu tentang membangun benteng bersama-sama. Kamu harus buktikan pada mereka bahwa di rumah ini, Alana tidak akan kekurangan perlindungan."
Vian muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi teh dan Kleecha (kue kering khas Kurdi). "Aku sudah riset tentang Jakarta! Ternyata mereka punya makanan bernama Seblak yang sangat pedas. Apa Alana akan suka masakanmu yang hambar itu, Kak?"
Ledekan Vian sedikit mencairkan suasana. Tapi aku tahu, perjuangan sesungguhnya dimulai besok.
Pagi berikutnya, aku sudah berada di depan kantor administrasi pemerintahan sebelum pintunya dibuka. Aku memakai setelan kantorku yang paling rapi, membawa map tebal berisi salinan paspor Alana, foto-fotonya, dan surat pengantar dari perusahaanku.
"Menikah dengan orang Indonesia?" petugas administrasi itu mengernyitkan dahi. "Kenapa tidak yang dekat saja? Turki? Suriah? Atau lokal?"
"Karena hati saya tidak mengerti peta, Pak," jawabku diplomatis.
Petugas itu mendengus, tapi mulai memeriksa berkas-berkas itu. "Kamu butuh surat legalisir dari Kedutaan Besar Irak di Jakarta. Lalu surat ini harus diterjemahkan ke bahasa Kurdi dan Arab oleh penerjemah berlisensi pengadilan. Setelah itu, kamu harus menghadap hakim di pengadilan keluarga untuk wawancara kelayakan."
"Berapa lama?" tanya ku.
"Tergantung. Kalau sistem internet tidak mati dan hakimnya tidak sedang cuti... mungkin sebulan. Mungkin lebih."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Sebulan. Itu waktu yang lama untuk Alana menunggu dalam ketidakpastian.
Sore harinya, aku pergi ke lokasi proyek bendungan di pinggiran Erbil. Angin bertiup kencang, membawa debu dari gurun. Aku berdiri di atas beton yang setengah jadi, menatap ke arah cakrawala. Di balik pegunungan itu adalah perbatasan yang sedang memanas. Di belakangku adalah rumah yang sedang kusiapkan untuk seorang gadis dari Jakarta.
Aku mengambil ponsel, mencari sinyal di ketinggian ini. Berhasil. Aku melakukan panggilan video.
Wajah Alana muncul. Dia sedang di kamarnya, rambutnya agak berantakan, dan dia sedang memegang tumpukan map plastik.
"Azad! Aku baru pulang dari kantor kelurahan. Ternyata mengurus surat numpang nikah untuk warga asing itu ribet banget! Mereka tanya banyak hal sampai aku bingung," dia mengadu dengan nada manja yang membuatku merindukannya setengah mati.
"Sama di sini juga, Alana," kataku, mencoba tersenyum secerah mungkin.
"Petugasnya tadi bertanya kenapa aku tidak cari yang dekat saja."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang, aku sudah menemukan berlian di Jakarta, masa aku harus pulang bawa batu kali?"
Alana tertawa, dan suara tawanya menembus bising angin di lokasiku.
"Gombal! Tapi Azad... aku serius. Tadi di berita... aku lihat ada ketegangan lagi di sana. Kamu benar-benar aman?"
Aku mengarahkan kamera ponselku ke arah matahari yang terbenam di balik pegunungan Kurdi. Langitnya berwarna ungu dan emas, sangat indah dan tenang.
"Lihat ini. Cantik, kan? Selama matahari ini masih terbit, aku akan baik-baik saja. Dan ingat liontin di lehermu? Itu janji dariku. Aku akan menyelesaikan semua kertas-kertas ini, meski aku harus mendatangi kantor gubernur setiap hari."
"Aku percaya kamu," bisiknya. "Aku sudah mulai belajar bahasa Kurdi sedikit. Spas?"
"Spas artinya terima kasih. Kamu harus belajar satu kata lagi," kataku.
"Apa?"
"Choni? Artinya: apa kabar? Tapi jawabannya harus selalu Basim, aku baik. Karena bagiku, kabar baik darimu adalah bahan bakarku untuk bertahan di sini."
Kami terdiam sejenak, hanya saling menatap lewat layar yang sedikit pixelated. Jarak 7.000 kilometer itu terasa nyata, namun secara ajaib, kehadiran teknologi mengecilkan semesta.
"Azad," panggilnya sebelum kami menutup telepon.
"Ya?"
"Papa tadi tanya... dia mau bicara sama kamu lagi akhir pekan ini lewat Zoom. Dia mau tanya soal jaminan asuransi kesehatan dan keamanan untukku kalau aku pindah. Kamu siap?"
Aku menarik napas panjang. Menghadapi Papa Surya mungkin lebih menantang daripada menghadapi birokrasi Irak. Tapi aku tidak punya pilihan.
"Sampaikan pada Papa, aku akan menyiapkan presentasi paling meyakinkan dalam sejarah hidupku. Aku bukan cuma mau membawamu pergi, Alana. Aku mau menjemputmu untuk pulang ke tempat yang baru."
Setelah menutup telepon, aku kembali melihat ke arah bendungan. Air yang tertampung di sana akan memberi kehidupan bagi ribuan orang. Dan cinta yang sedang kuperjuangkan ini, semoga saja, akan memberi kehidupan bagi jiwaku yang selama ini merasa asing di tanahnya sendiri.
Aku merogoh saku, mengeluarkan secangkir kecil kopi yang kubawa dari rumah dalam termos mini. Rasanya pahit, tapi setelahnya ada manis yang tertinggal di pangkal lidah.
Persis seperti kata Papa Alana. Perjuangan ini pahit di depan, tapi aku akan memastikan akhirnya semanis janji yang kuucapkan di bawah pohon angsana Jakarta.