Bab 6 : Kembali Jauh

1722 Kata
Lampu-lampu jalan Jakarta mulai berpijar saat taksi yang membawa Azad menjauh dari pagar rumahku. Aku berdiri sejenak di depan pagar, menghirup aroma tanah basah sisa siraman tanaman Papa. Udara malam ini terasa lebih ringan, meski beban di pundakku justru terasa bertambah satu ton. "Lan, masuk! Nanti masuk angin," teriak Mama dari ambang pintu. Aku melangkah masuk dan menemukan ruang tamu yang sudah kembali rapi, namun sisa-sisa "peperangan" tadi siang masih terasa. Papa sedang duduk di kursi goyangnya, menyesap sisa kopi Kurdi yang dibuat Azad. Ekspresinya sulit dibaca. "Gimana, Pa?" tanyaku ragu sambil duduk di karpet dekat kakinya. Papa meletakkan cangkir kecil itu. "Kopinya pahit, tapi setelahnya ada rasa manis yang tertinggal di pangkal lidah. Persis seperti orangnya. Dia punya prinsip, Alana. Papa bisa lihat itu dari cara dia menjawab pertanyaan Om Surya." Aku menarik napas lega. Tapi Papa belum selesai. "Tapi cinta saja nggak cukup untuk pindah ke negara yang... yah, kamu tahu sendiri beritanya di TV seperti apa. Papa nggak mau kamu cuma jadi pengantin yang cantik sebulan, lalu jadi pengungsi di bulan berikutnya." "Azad bukan pengungsi, Pa. Dia punya karier, dia punya rumah yang stabil di Erbil," belaku, meski dalam hati, berita demonstrasi di HP Azad tadi sore kembali membayangi. "Papa tahu. Tapi stabilitas di sana itu seperti pasir, Lan. Kena angin sedikit, bisa bergeser. Malam ini, Papa mau kamu pikirkan baik-baik. Bukan soal gantengnya dia, tapi soal apakah kamu siap kalau suatu hari keadaan jadi sulit di sana." Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku berguling ke kanan dan ke kiri, menatap langit-langit kamar. Aku meraih ponsel dan membuka mesin pencari. Jari-jariku mengetik: "Life in Erbil for expats" dan "Indonesian-Kurdish marriage requirements". Hasilnya? Sebuah labirin birokrasi yang mengerikan. Surat keterangan single, legalisir Kedutaan, terjemahan tersumpah, hingga izin dari otoritas setempat. Belum lagi soal perbedaan budaya yang lebih dalam dari sekadar urusan kerupuk dan kopi. Sebuah pesan masuk di w******p. Azad: I’m at the hotel. Thinking about your Dad’s coffee cup. I hope I didn't leave any bad impression. Alana: He liked the coffee, Azad. And he liked you. Just... cautious. Azad: He has every right to be. If I had a daughter like you, I would probably hire a private investigator to follow me around Jakarta today. Aku tertawa kecil membaca balasannya. Azad: Alana, news from home is getting a bit loud. My manager called. There’s a project deadline moved forward. I might have to leave two days earlier than we planned. Deg. Dadaku mendadak sesak. Dua hari lebih awal? Itu artinya lusa. Padahal kami sudah merencanakan untuk pergi ke Kota Tua dan mencoba naik TransJakarta sampai ujung rute hanya untuk mengobrol. Alana: Two days? That’s so soon. Azad: I’m sorry. Reality is calling me back. But before I go, I want to take you somewhere. Just us. No aunts, no uncles, no spies. Can we meet tomorrow morning? Keesokan paginya, aku menjemput Azad. Kami sepakat untuk tidak pergi ke mal atau tempat wisata mewah. Aku membawanya ke sebuah taman kecil di pinggiran Jakarta yang jarang dikunjungi orang. Tempat itu punya danau buatan dan deretan pohon angsana yang sedang berbunga kuning. Kami duduk di bangku taman yang agak berkarat. Azad memakai kaus santai, tampak lebih rileks dibandingkan saat memakai batik kemarin. "Alana, aku sudah menyiapkan ini sejak dari Erbil," katanya sambil merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil kayu dengan ukiran khas Timur Tengah. Di dalamnya bukan cincin berlian yang berkilau, melainkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk matahari kecil—simbol yang sangat identik dengan bendera Kurdi. "Ini perak dari pasar kuno di Erbil. Ibuku yang memilihnya. Dia bilang, jika aku menemukan wanita yang berani mencintaiku, berikan ini padanya sebagai tanda bahwa dia punya tempat berteduh di rumah kami," suaranya merendah, parau karena emosi. Aku menyentuh liontin dingin itu. "Azad, ini terlalu berharga..." "Tidak seberharga keberanianmu," potongnya. "Besok aku pulang. Kita akan menjalani bulan-bulan yang sulit lewat layar ponsel. Mungkin akan ada saat di mana koneksi internet di sana diputus karena politik, atau saat di mana aku terlalu sibuk dengan proyek di pegunungan." Dia memakaikan kalung itu ke leherku. Jarinya yang kasar namun lembut bersentuhan dengan kulitku, mengirimkan gelombang hangat yang membuat mataku memanas. "Aku akan kembali dengan semua dokumen yang diperlukan. Dan saat aku kembali nanti, aku tidak akan datang sebagai tamu. Aku akan datang untuk menjemput bagian dari hidupku yang tertinggal di sini," janjinya. Aku menatap pantulan diriku di air danau. Gadis Jakarta yang biasa mengejar diskon di mal dan mengeluh soal macet, kini memakai simbol matahari dari negeri yang jauh. "Aku akan menunggumu, Azad. Tapi berjanjilah satu hal," kataku sambil menggenggam tangannya. "Apapun." "Jangan pernah matikan ponselmu terlalu lama. Karena di sini, ada satu orang yang akan langsung cemas setiap kali berita tentang perbatasan muncul di televisi." Azad tersenyum, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang terdengar lamat-lamat dari kejauhan, aku merasa duniaku baru saja meluas melewati batas-batas peta yang pernah kupelajari di sekolah. Kami menghabiskan sisa hari itu dengan membicarakan hal-hal konyol—bagaimana nanti kami akan menggabungkan nasi goreng dengan dolma, atau bagaimana anak-anak kami nanti akan bicara dengan tiga bahasa sekaligus. Namun, saat aku mengantarnya ke gerbang keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta esok harinya, kenyataan menghantamku keras. Melihat punggungnya yang menjauh menuju pintu imigrasi, aku tersadar bahwa perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Layar besar di bandara menampilkan berita sekilas: Tensions rise at the border... Aku memegang liontin matahari di leherku, meremasnya kuat-kuat. "Hati tidak punya paspor," bisikku menirukan ucapannya kemarin. Dan hari ini, hatiku baru saja terbang menuju Erbil, mendahului pemiliknya. *** Punggung Azad perlahan menghilang di balik kerumunan calon penumpang di Terminal 3. Aku masih berdiri mematung di balik pembatas kaca, memegang liontin matahari yang kini terasa hangat karena suhu tubuhku. Rasanya aneh. Baru beberapa jam yang lalu kami tertawa meributkan rasa sambal terasi, tapi sekarang, jarak ribuan kilometer sudah mulai membentang di antara kami. Aku berjalan lunglai menuju parkiran. Jakarta sore itu mendung, seolah langit ikut merasakannya. Saat aku baru saja menyalakan mesin mobil, ponselku berdenting. Azad: I’m at the gate. My heart is still at your wooden bench under the mango tree. I love you, Alana. Aku tersenyum tipis, mengetik balasan singkat sebelum melajukan mobil membelah kemacetan tol ke arah pusat kota. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Begitu sampai di rumah, suasana sudah berubah. Di ruang makan, Papa sedang duduk dengan laptop terbuka. Di sampingnya, ada beberapa lembar artikel cetak tentang kondisi geopolitik Timur Tengah. Mama sedang sibuk di dapur, tapi wajahnya tampak tegang. "Baru pulang, Lan?" tanya Papa tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Iya, Pa. Azad sudah masuk pesawat." Papa menghela napas panjang, lalu memutar laptopnya ke arahku. "Tadi Papa bicara lagi sama Om Surya. Kamu tahu kan, dia punya teman di Kedutaan. Lan, mengurus pernikahan dengan warga negara sana itu bukan cuma soal cinta. Ada prosedur keamanan yang ketat. Dan satu lagi..." Papa menjeda kalimatnya. "Status wilayah Kurdistan itu unik. Secara administrasi mereka Irak, tapi mereka punya otonomi sendiri. Urusan dokumennya bisa jadi dua kali lipat lebih rumit." Aku duduk di kursi di depan Papa. "Aku tahu, Pa. Aku sudah mulai baca-baca." "Bukan cuma soal kertas, Alana," Mama menyela sambil membawa nampan berisi teh. "Mama tadi baca berita. Katanya di sana sering ada gangguan sinyal kalau lagi ada konflik. Gimana kalau kamu di sana, terus kita nggak bisa hubungi kamu? Mama bisa jantungan." "Ma, Azad itu insinyur. Dia tahu cara menjaga dirinya dan aku. Dia bukan orang baru di sana," jawabku berusaha tenang, meski sebenarnya aku sendiri masih terbayang notifikasi di ponsel Azad kemarin sore. Tiba-tiba, ponselku bergetar lagi. Bukan pesan dari Azad, tapi sebuah panggilan video dari nomor asing dengan kode negara +964. Jantungku mencelos. Aku mengangkatnya dengan ragu. Muncul wajah seorang wanita paruh baya dengan kerudung motif bunga yang cantik. Matanya besar dan dalam, sangat mirip dengan mata Azad. Di sampingnya, ada seorang gadis muda yang melambaikan tangan dengan semangat. "Alana?" suara wanita itu terdengar lembut, meski logatnya sangat asing. "Yes... hello?" jawabku gugup. "I am Azad’s mother," katanya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. "And this is Vian, his sister. Azad... he tell us everything. He send photo of you in batik." Gadis di sampingnya, Vian, menyambar ponsel itu. "Alana! You are so beautiful! Azad said you give him the best coffee in the world. We are waiting for you in Erbil. Don't listen to the news, it’s safe here. We have big garden and many pomegranates!" Melihat senyum mereka yang begitu tulus lewat layar kecil itu, beban di dadaku tiba-tiba terangkat sedikit. Mereka bukan sekadar entitas asing dari zona konflik yang sering digambarkan di TV. Mereka adalah sebuah keluarga yang sedang menantikan kepulangan anak laki-lakinya—dan mungkin, kehadiran anggota baru. "Thank you... thank you so much," kataku dengan mata berkaca-kaca. "Alana, please," lanjut ibunya Azad. "Take care of your heart. Azad is a good man. He will come back for you." Panggilan itu berakhir setelah Vian memamerkan sepiring kue baklava yang katanya disiapkan khusus untuk menyambut Azad besok. Aku meletakkan ponsel di meja, lalu menatap Papa dan Mama yang ternyata diam-diam ikut menyimak percakapan tadi. "Tuh kan, Pa, Ma," kataku pelan. "Mereka cuma orang biasa. Sama kayak kita. Bedanya cuma mereka tinggal di tempat yang lebih... berisik." Papa terdiam cukup lama, lalu perlahan menutup laptopnya. Beliau mengambil cangkir tehnya, menyesapnya sedikit, lalu menatapku dengan tatapan yang lebih lembut—tatapan yang sama saat beliau pertama kali melepas aku pergi kuliah di luar kota dulu. "Oke," kata Papa pendek. "Tapi satu syarat. Setiap minggu, kamu harus kasih Papa update soal proses dokumennya. Dan kalau ada satu saja hal yang mencurigakan, Papa nggak akan segan-segan minta kamu batalkan semuanya." Aku langsung memeluk Papa. "Makasih, Pa!" Malam itu, aku duduk di balkon kamar, menatap langit Jakarta yang tanpa bintang. Di suatu tempat di atas sana, sebuah pesawat sedang membawa pria yang mengubah seluruh perspektif hidupku. Aku menyentuh liontin matahari di leherku sekali lagi. Babak tes fisik di Monas sudah lewat. Babak tes psikologi dengan keluarga besar sudah terlewati. Sekarang, aku masuk ke babak yang paling berat: Babak Kesabaran. Aku membuka aplikasi catatan di ponselku, mulai membuat daftar apa saja yang harus kusiapkan besok pagi ke kantor kelurahan dan kedutaan. Langkah pertama memang selalu yang paling berat, tapi setidaknya sekarang aku tidak berjalan sendirian. Di kejauhan, suara takbir mulai terdengar dari masjid dekat rumah, mengingatkanku bahwa hidup terus berjalan, dan doa adalah satu-satunya jembatan yang tidak akan pernah putus oleh jarak ataupun birokrasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN