Bab 5 : "Sidang Paripurna" Keluarga Besar dan Diplomasi Kopi

1126 Kata
Kalau kemarin di Monas adalah tes fisik, maka hari ini adalah tes psikologi. Di rumahku, setiap hari Minggu terakhir di awal bulan adalah waktu keramat: Pengajian Keluarga Besar. Artinya, rumah bakal penuh dengan aroma jasmin, suara gemericik air wudu, dan yang paling horor, rentetan pertanyaan dari para Tante (yang kami sebut "Agen Intelijen Domestik"). "Lan, Azad sudah siap?" tanya Mama sambil merapikan tumpukan mukena di ruang tamu. Aku melirik ke arah kamar tamu. Azad keluar dengan mengenakan kemeja batik sogan yang baru kubelikan kemarin di Thamrin City. Warnanya cokelat tua dengan motif parang. Pas sekali di badannya yang tegap. Jujur, dia kelihatan seperti ekspatriat yang sudah tinggal di Jakarta sepuluh tahun. "Wow, Azad. Kamu kelihatan... sangat Indonesia," puji Papa sambil mengacungkan jempol. Azad tersenyum gugup. Dia sibuk membetulkan kerah bajunya. "Alana, apakah batik ini tidak terlalu ketat? Aku merasa seperti aktor sinetron yang kamu ceritakan itu." "Nggak, Azad. Kamu kelihatan ganteng banget. Ingat ya, nanti kalau ditanya-tanya, senyum saja. Kalau bingung, lihat aku," pesanku. Pukul sepuluh pagi, tamu-tamu mulai berdatangan. Om dan Tante dari pihak Mama dan Papa berkumpul. Ada Tante Ratna yang paling kepo, Om Surya yang mantan tentara dan selalu curigaan, sampai sepupu-sepupuku yang masih SMA dan sudah siap dengan kamera HP-nya. Begitu Azad masuk ke ruang tengah dan mengucapkan "Assalamu’alaikum" dengan pelafalan yang hampir sempurna, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju padanya. "Ini ya, calonnya Alana yang dari luar negeri itu?" suara Tante Ratna memecah kesunyian. Beliau mendekat, memindai Azad dari atas sampai bawah. "Mancung ya, Lan. Kayak perosotan anak TK." Azad menunduk sopan, menyalami satu per satu para sesepuh. Dia ingat pesanku: salim (mencium tangan) adalah kunci. Dan benar saja, begitu Azad mencium tangan Om Surya, raut wajah si Om yang tadinya kaku langsung sedikit melunak. "Duduk, duduk! Siapa namanya tadi? Adzab?" tanya Om Surya dengan suara baritonnya. "Azad, Om. Azad Sherko," koreksiku cepat sebelum Azad dikira "Azab" dari judul sinetron religi. "Oh, Azad. Dari Irak ya? Kamu di sana ikut kelompok apa? Kenapa nggak cari istri di sana saja?" Pertanyaan Om Surya langsung to the point, tajam seperti silet. Aku baru mau membela, tapi Azad menahan lenganku. Dia menatap Om Surya dengan tenang. "Om Surya," kata Azad dalam bahasa Inggris, yang kemudian aku terjemahkan. "Saya dari Kurdistan, wilayah di utara Irak. Saya bukan anggota kelompok bersenjata. Saya seorang insinyur. Saya membangun gedung, bukan menghancurkannya. Dan soal Alana... hati tidak punya paspor, Om. Hati saya memilih dia, meski harus terbang sepuluh jam." Suasana mendadak jadi puitis. Tante-tante di pojokan langsung bilang, "Aduh, romantis banget sih!" sementara Om Surya cuma berdeham, berusaha tetap terlihat galak padahal hatinya mulai goyah. *** Acara pengajian berlangsung khidmat. Azad duduk bersila di pojokan, tampak sangat berusaha mengikuti ritme bacaan meski dia tidak paham artinya. Dia duduk tegak selama satu jam tanpa mengeluh kakinya kesemutan—sebuah prestasi besar untuk orang yang biasa duduk di kursi. Setelah acara inti selesai, tibalah sesi makan-makan. Inilah saat "sidang" yang sebenarnya dimulai di meja makan. "Azad, di Kurdi sana makanannya apa? Ada kerupuk nggak?" tanya salah satu sepupuku, Dito. Azad tertawa kecil. "Kami punya Dolma, sayuran yang diisi nasi dan daging. Kami punya banyak roti tipis. Tapi kami tidak punya kerupuk yang bunyinya 'kriuk' seperti ini," katanya sambil mencoba kerupuk udang. Lalu, Azad melakukan sesuatu yang tidak kusangka. Dia meminta izin ke dapur. Ternyata, dia membawa satu kantong kecil biji kopi yang dia bawa langsung dari Erbil. "Saya ingin membuatkan kopi untuk Anda semua," katanya. Dia menyeduh kopi itu dengan cara yang unik, aromanya sangat kuat dan rempah. Dia menyajikannya dalam cangkir-cangkir kecil untuk para Om dan Bapak-bapak. "Kopi Kurdi itu kuat, seperti orang-orangnya," kata Azad sambil memberikan cangkir terakhir pada Papa. "Kami meminumnya untuk mempererat persaudaraan." Sambil meminum kopi, Azad mulai bercerita. Bukan soal politik yang berat, tapi soal kehidupan sehari-hari di pegunungan Kurdistan. Dia bercerita tentang perayaan Newroz (Tahun Baru Kurdi) di mana orang-orang memakai baju warna-warni dan menari di sekitar api unggun. Dia bercerita tentang betapa miripnya nilai-nilai keluarga di sana dengan di Indonesia—soal menghormati orang tua dan pentingnya makan bersama. Perlahan tapi pasti, dinding kecurigaan itu runtuh. Om Surya yang tadinya sangar, sekarang malah asyik bertanya soal sistem konstruksi bangunan di Erbil. Tante Ratna sibuk menjodoh-jodohkan baju adat Kurdi dengan kebaya Jawa di pikirannya. Sore harinya, saat tamu-tamu sudah mulai pulang, aku dan Azad duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga di halaman samping. Azad tampak sangat lelah tapi wajahnya terlihat lega. "Bagaimana? Capek ya disidang begitu?" tanyaku sambil menyodorkan segelas es teh manis. "Melelahkan, tapi menyenangkan," jawabnya. "Keluargamu sangat... ramai. Tapi aku suka. Di rumahku, suasana juga seperti ini. Selalu ada banyak suara, selalu ada banyak makanan." Dia menatapku, senyumnya sedikit memudar, digantikan tatapan yang lebih serius. "Alana, tadi sepupumu bertanya, Apakah aku akan membawamu pergi selamanya?“ Jantungku berdegup kencang. "Terus, kamu jawab apa?" "Aku bilang, aku tidak akan mengambilmu dari keluargamu. Aku hanya ingin memperluas keluargamu sampai ke pegunungan Kurdistan. Jika kita menikah nanti, rumah kita akan punya dua bendera di dalam hati." Dia meraih tanganku, kali ini dia menggenggamnya lebih erat. "Aku tahu tantangan di depan masih banyak. Urusan dokumen pernikahan beda negara itu seperti labirin, aku sudah riset. Tapi setelah melihat bagaimana keluargamu menerimaku hari ini, aku yakin kita bisa." Aku menyandarkan bahuku di lengannya. "Kamu tahu nggak, Azad? Tadi Tante Ratna bilang apa?" "Apa?" "Dia bilang, 'Lan, kalau si ganteng ini nggak jadi sama kamu, kasih nomor HP-nya ke anak Tante ya.” Azad tertawa terpingkal-pingkal. "Wah, sepertinya aku harus hati-hati dengan Tante Ratna." Namun, di tengah tawa kami, HP Azad bergetar. Sebuah notifikasi berita muncul di layarnya dalam bahasa Kurdi. Aku melihat wajahnya mendadak berubah sedikit tegang. "Ada apa?" tanyaku. "Hanya... ada sedikit demonstrasi di dekat perbatasan. Jalan-jalan ditutup untuk sementara," jawabnya pelan. Dia memasukkan HP-nya kembali ke saku. "Itulah realitas di sana, Alana. Terkadang keindahan tertutup oleh berita-berita seperti itu. Apakah kamu benar-benar siap menjadi bagian dari itu?" Aku menatap matanya yang cokelat gelap. Di dalamnya ada kekuatan, tapi juga ada kerentanan. Aku sadar, mencintai Azad berarti mencintai seluruh dunianya—termasuk ketidakpastian yang dia bawa dari tanah kelahirannya. "Azad," kataku pelan. "Aku sudah melewati kemacetan Jakarta, KRL jam pulang kerja, dan sidang Tante Ratna demi kamu. Kurasa aku cukup tangguh untuk menghadapi apa pun di Kurdistan." Dia tersenyum, lalu mengecup keningku sekilas—sebuah tindakan yang kalau terlihat Mama pasti bakal bikin heboh, tapi di bawah naungan pohon mangga yang mulai gelap ini, terasa seperti sebuah janji yang sakral. Malam itu, saat aku mengantar Azad kembali ke hotel tempatnya menginap, aku merasa babak baru hidupku benar-benar sudah terbuka. Kami bukan lagi sekadar dua orang yang bertemu di aplikasi. Kami adalah dua orang yang sedang berusaha membangun jembatan di atas jurang perbedaan yang sangat dalam. Dan jembatan itu, mulai hari ini, sudah punya fondasi yang kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN