Gavin membukakan pintu kamar setelah menerima jawaban dari Aldric yang mengizinkan Marquis Kael Thornhart masuk menemuinya.
Langkah sang Marquis terlihat berat. Ia tak mengenakan jubah kebesaran, hanya pakaian sederhana seorang ayah yang diliputi kekhawatiran mendalam akan keselamatan putrinya.
Aldric membawa Kael Thornhart ke ruang pribadi yang terhubung langsung dengan kamar tidurnya.
“Yang Mulia…” Kael Thornhart menghentikan Aldric sebelum duduk. “Bagaimana keadaan putriku?”
Aldric lebih dulu duduk dan memberi isyarat agar sang Marquis melakukan hal yang sama.
“Liora baru saja sadar. Menurut tabib, ia terkena udara buruk ...” belum sempat Aldric menyelesaikan kalimatnya, Kael Thornhart yang baru duduk kembali berdiri tegak.
“Saya akan membawanya pulang!”
Aldric mengepalkan tangannya di bawah meja sebelum ikut berdiri, berhadapan dengan tatapan dingin sang Marquis.
“Semua ini tak akan terjadi jika Anda menerima pernikahan politik,” ucap Kael Thornhart lugas, sebagaimana kebiasaannya berbicara kepada mendiang raja terdahulu. “Karena kekeras-kepalaan Anda, nyawa putriku kini terancam.”
Aldric mengangguk pelan. Ia tahu, tak ada bantahan yang bisa ia menangkan. Semua yang diucapkan Kael Thornhart adalah kebenaran. Liora tak akan diculik jika ia tidak dengan lantang memilihnya di hadapan Dewan Kerajaan dan para bangsawan.
“Tubuh Liora masih lemah,” ujar Aldric akhirnya. “Sebaiknya ia beristirahat beberapa hari di sini.”
Sudut bibir Kael Thornhart terangkat dalam senyum sinis.
“Apakah Anda ingin putriku mati di istana ini? Atau Anda meragukan kemampuanku menjaga darah dagingku sendiri?”
“Tapi Liora diculik di kediaman Anda,” balas Aldric, tak ingin menyerah.
Kael Thornhart tertawa pendek, tanpa humor. “Jika Anda sungguh mencintainya, biarkan Liora menjadi dirinya sendiri yang bahagia, tanpa dikekang aturan dengan dalih kesopanan, etika dan adab!”
Kael Thornhart berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah, “Dan ketahuilah, Anda bisa kehilangan mahkota jika terus bersikeras seperti ini, Yang Mulia Aldric Leonhart.”
“Aku tidak peduli pada mahkota,” jawab Aldric lirih. “Aku hanya ingin Liora menjadi istriku.”
Kael Thornhart melangkah mendekat. Tatapannya tajam, namun di baliknya tersembunyi ketakutan seorang ayah yang hampir kehilangan segalanya, “Jika Anda masih mengaku pria terhormat,” katanya dingin, “bawa saya bertemu Liora sekarang!”
Aldric memberi isyarat pada Gavin. Pintu menuju sisi lain kamar dibuka perlahan.
Liora terbaring dengan wajah pucat, rambut pirangnya terurai di atas bantal. Kelopak mata Liora terpejam dan nafas halus, nyaris tak terdengar.
Sekilas Kael Thornhart mencium aroma ramuan tabib masih menggantung di udara. Hatinya sebagai Ayah bergetar karena Liora selamat dan Aldric sang raja muda terlihat peduli akan keselamatan putrinya. Namun, pria itu pula yang sudah menempakan Liora ke dalam bahaya.
"Ayah ..." Liora membuka kelopak matanya perlahan, memanggil Kael Thornhart yang tertegun sedih memandangnya.
Untuk sesaat, seluruh kemarahan sang Marquis runtuh. Ia berjalan mendekat tanpa suara, berlutut di sisi ranjang. Tangan Kael Thornhort yang biasa menggenggam pedang dan kuasa memimpin pasukannya, bergetar saat menyentuh jemari Liora.
Putrinya diculik dari kediamannya sendiri dan diracuni hingga hampir sekarat. Sungguh, orang yang melakukannya sudah memantik api perang yang tinggal menunggu waktu terjadinya. Karena Marquis Kael Thornhart pasti akan mengusut dalang penculikan Liora ini.
"Ayah akan membawamu pulang."
Bibir Liora tersenyum tipis dan kelopak matanya bergetar pelan,
“Maafkan aku, Ayah.” bisik Liora, nyaris seperti hembusan nafas.
Kael Thornhart mengeratkan sedikit genggamannya pada tangan Liora, "Ayah yang minta maaf, karena sudah membuatmu dibawa pergi bahkan dalam kediaman kita. Bisa kita pulang sekarang atau kau masih ingin berduaan dengan pria itu?"
Liora semakin menarik sudut bibirnya tersenyum, menggerakkan ujung jemarinya dalam genggaman kokoh sang Ayah yang bisa ia rasakan ketakutan.
“Ayah marah?” tanya Liora setelah menarik napas panjang dan melepasnya perlahan.
Kael Thornhart semakin memajukan wajah, membawa tangan Liora dalam genggaman ke depan mulutnya yang tersenyum tipis, senyum yang tak pernah dilihat banyak orang selain pada kedua putrinya.
“Ayah takut,” jawab sang Marquis jujur menunjukkan kelemahan di hadapan putrinya, “Dan ketakutan membuat ayah lupa bagaimana caranya melepaskan.”
Liora menelan ludah. Rongga dadanya seperti sesak akan rasa cinta pada Ayahnya, “Aku …tidak ingin menjadi beban.”
“Kau bukan beban!” Kael Thornhart langsung menjawab tegas, melanjutkan dengan suaranya bergetar. “Kau adalah alasanku bertahan di dunia yang kejam ini setelah saudarimu menikah.”
"Mari kita pulang. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Kau ingin berkata jika dirimu sudah menerima perasaan raja? Lalu sekarang ingin meminta ijin dariku?" Kael Thornhart langsung bisa menebak keinginan Liora, karena putrinya itu sedari tadi selalu curi-curi pandang ke arah Aldric yang berdiri agak jauh dari mereka.
Kael Thornhart memejamkan mata sejenak, "Apakah kau tau keinginanmu, Liora? Istana akan berguncang dan Aldric yang baru menjadi raja akan ditekan oleh Dewan Kerajaan."
Liora berusaha membalas genggaman Kael Thornhart yang tak melepaskan tangannya, "Ayah tidak pernah mengajarkan ketakutan padaku. Apakah aku harus takut, Ayah? Apakah Ayah tak akan melindungiku lagi jika aku memilih Aldric?"
Kael Thornhort melabuhkan kecupan lembut ke kening Liora, "Kita bicarakan lagi setelah kondisimu membaik. Sekarang, mari kita pulang."
Kael Thornhart membopong Liora, mengucapkan terima kasih pada Aldric, sudah menyelamatkan separuh jiwanya kemudian berlalu meninggalkan istana saat matahari baru menampakkan sinarnya di ufuk timur.
Kini, Aldric menyadari, mencintai Liora, bukan hanya bisa mendatangkan bahaya pada gadis itu, melainkan juga berhadapan dengan cinta lain yang sama kuatnya dengan dirinya.
Cinta seorang ayah.
**
Aula Dewan Kerajaan sedikit berbeda pagi ini. Mereka berbisik-bisik yang disamarkan senyum tipis dan anggukan hormat sebagai kesopanan.
Para bangsawan dari berbagai wilayah duduk berderet, tapi Kael Thornhort yang seharusnya hadir, tak terlihat bayangannya.
Aldric Leonhart memasuki ruangan dengan langkah tenang diikuti oleh Gavin dan Arven di belakangnya.
Semua orang dalam ruangan sudah mengetahui penculikan Liora tadi malam, tetapi tak ada yang berani membicarakannya secara terang-terangan. meskipun sebenarnya sangat ingin tahu sekaligus memendam ketakutan akan terjadi pertumpahan darah yang juga mereka semua sama-sama memahami sebabnya yaitu wanita yang dipilih sang raja.
Lord Falthren berdehem, lalu ruangan langsung menjadi hening.
Aldric memperhatikan satu persatu orang yang ada di depannya. Seakan mengunci wajah mereka dalam benaknya untuk diingat, manakah pejabat yang loyal padanya dan seperti apa pejabat yang menginginkan kekuasaan bersamanya.
"Yang Mulia, pihak kerajaan tetangga masih menunggu jawaban akan pernikahan dengan Putri Elowen." Lord Falthren berbicara tenang, penuh kontrol emosi yang disembunyikan dalam sikap patuh palsunya setelah Gavin memberitahu, 'sidang dimulai.'
"Kami semua sudah menyetujui pernikahan ini demi kestabilan kerajaan Ebrath. Anda harus menikah dengan Putri Elowen." tambah Lord Falthren.