6. Ciuman Pernyataan

1175 Kata
Liora dibawa ke kamar pribadi Aldric untuk dirawat. Arven datang setengah berlari diikuti oleh tabib istana di belakangnya menuju kamar tidur Aldric. “Kau tunggu di luar. Tingkatkan keamanan istana Edevane!” Aldric menghadang Arven yang sebelah kakinya hampir memasuki ruangan kamar. Gavin menarik lengan Arven, begitu pintu kamar tidur Aldric tertutup rapat setelah tabib istana berada di dalam ruangan. “Sejak kapan kalian bersekongkol meninggalkanku? Kau memintaku menjaga raja agar istirahat, tapi kau pula yang membawanya pergi hujan-hujanan keluar di malam badai!” Arven berdecih rendah, “Melihatmu bisa protes seperti bocah, sepertinya tak ada yang perlu ku kuatirkan tentang apakah kau sudah memberikan minuman penghangat tubuh untuk raja, hem?” Kedua mata Gavin terbelalak, ia benar-benar lupa, belum memerintahkan bagian dapur menyiapkan minuman untuk Aldric. Tadi ia terkejut melihat kedatangan Aldric membopong Liora dengan pakaian basah, lalu ia pun terburu-buru membukakan pintu ruangan kamar untuk raja mereka tersebut, tetapi Aldric segera mengusirnya keluar dari kamar. Tanpa menjawab perkataan Arven, Gavin gegas berbalik, mengibaskan jubahnya, berjalan cepat menuju dapur kerajaan untuk menyiapkan minuman penghangat tubuh serta camilan untuk sang raja muda mereka. Di dalam ruangan kamar, tabib berkonsentrasi memeriksa keadaan Liora yang bernapas pendek-pendek. Aldric sudah mengganti cepat pakaian basah Liora sebelumnya dan sekarang ia pun juga telah berpakaian kering dan santai. “Bagaimana keadaannya?” Aldric bertanya tenang tetapi sangat tajam dan sarat ancaman di sorot matanya yang memandang lekat pada tabib. Sang tabib menarik napas berat sejenak, lalu melepaskannya perlahan-lahan, “Lady Thornhort terkena udara buruk. Akibatnya paru-parunya menjadi melemah.” tuturnya pelan. Aldric mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat, “Apakah dia bisa sembuh? Lalu …apa yang harus ku lakukan agar dia cepat pulih?” Dada Liora masih turun naik yang terkadang berhenti selama beberapa saat, keringat mengucur di pelipisnya, bukan karena kepanasan, melainkan tubuhnya melakukan penyembuhan alami dari dalam. “Masa kritisnya belum lewat. Sebaiknya ditempatkan dalam ruangan yang tidak tertutup rapat namun tenang agar sirkulasi udara lancar. Lady Thornhort juga tidak boleh banyak pikiran karena emosi bisa memperburuk keadaannya.” “Untuk saat ini, mohon Yang Mulia perintahkan pelayan merebus racikan dari resep ini terlebih dahulu.” Tabib menyerahkan kertas yang ia tulis untuk resep pengobatan Liora pada Aldric, “Sebelum matahari terbit, saya harap dia sudah sadar. Dengan begitu, masa kritis terlewati.” Aldric meraih kertas yang diberikan tabib, melangkah besar menuju pintu, lalu menyerahkan pada Gavin yang setia berjaga bersama Arven. “Kau rebus sendiri ramuan obat Liora dan ketuk pintu jika sudah selesai.” entah kenapa Aldric menjadi skeptis, sulit mempercayai pelayan di dapur kerajaannya, terutama menyangkut Liora. “Apakah Lady Thornhort baik-baik aja?” Gavin bertanya dan tanpa sadar sedikit melongokkan wajah melihat ke celah pintu di belakang Aldric yang sedikit terbuka. “Ya.” Aldric menunjuk kening Gavin dan mendengkus masam melihat sahabatnya itu hampir melewati batas pribadinya. Aldric menatap Arven, “Beritahu Marquis Thornhort jika Liora ada bersamaku.” Arven gegas memberikan hormat, menundukkan kepalanya sedikit, “Saya sudah memerintahkan seseorang memberitahunya, Yang Mulia.” Aldric menghela napas rendah, sebelum ia berbalik masuk ke dalam ruangan tidurnya, ia kembali menghadap Gavin dan Arven, “Perintahkan pelayan membersihkan istana Violeta, besok pagi Liora akan di rawat di sana.” “Istana Violeta?” Arven bergumam kemudian gegas menundukkan kepala, “Baik, Yang Mulia.” Istana Violeta dahulunya merupakan kediaman Ratu, Ibundanya Aldric yang tewas meninggal ketika melahirkan adiknya, pun sang adik tak bisa terselamatkan oleh tabib kerajaan. Hal tersebut membuat sang raja tua, Ayahandanya Aldric jatuh sakit hingga perlahan semua tenaganya melemah dan meninggal di atas ranjang. Sejak itu, Aldric memerintahkan istana Violeta dikunci, siapapun tidak boleh mendekatinya. Tetapi, kini Aldric sendiri pula yang memerintahkan membersihkan istana Violeta untuk Liora. Sepertinya raja baru kerajaan Ebrath ini bersungguh-sungguh ingin menjadikan Liora ratu. ** Aldric mengusir tabib pergi istirahat, pun Gavin dan Arven sama sekali tak ia biarkan melihat Liora yang sedang terbaring lemah dan berwajah pucat di atas ranjangnya. “Kau harus bangun, harus hidup, harus sehat kembali juga kuat untuk beradu argumenku.” Aldric berkata sembari ia menyuapkan ramuan obat yang dimasak oleh Gavin sesuai resep tabib. Aldric mencengkeram pelan mulut Liora agar ramuan bisa masuk lebih banyak ketika ia suapi, namun tetap saja merembas keluar dari tepi bibirnya. “My Lady, kau tak boleh menyerah seperti ini.” Aldric mendesah lirih, “Kau harus bangun, menentangku, melawanku, membuatku emosi hingga kepalaku mau meledak karena tak bisa berhenti memikirkanmu!" Ramuan obat tinggal setengah mangkuk, lebih banyak keluar daripada yang masuk ke dalam mulut Liora. “Baik, jangan salahkan aku …kau yang menginginkan ini!” Aldric menyesap ramuan obat di dalam mangkuk, lalu memberikannya melalui mulutnya ke mulut Liora hingga semua cairan obat habis tak bersisa. Setelah membersihkan mulut Liora, Aldric jatuh tertidur kelelahan menyandarkan kening pada tepian ranjang tempat Liora berbaring. Entah berapa Liora pingsan hingga tertidur, suara jangkrik masih terdengar nyaring dari taman istana, hujan sudah mereda. Liora akhirnya membuka matanya perlahan. Selama beberapa detik, Liora memindai ruangan tempatnya dibaringkan di atas ranjang empuk berselimut tebal juga sangat lembut. Ketika Liora hendak menggerakkan jemarinya yang digenggam Aldric, saat itulah ia terkejut menyadari sedang berada dalam kamar tidur sang raja muda. “Liora …” Aldric terbangun karena merasakan genggaman tangannya kosong. Mata Liora beradu dengan pandangan lega Aldric yang semakin mendekatkan wajah hendak mengelap keringat yang jatuh di pelipis Liora. Tetapi … Bibir Aldric justru mendarat lebih dulu ke atas bibir Liora yang ia lumat lembut. Kedua netra Liora terbeliak sesaat, tetapi ia kemudian membiarkan Aldric menciumnya dan ragu-ragu membalas. Aldric semakin memperdalam ciumannya, membawa satu lengan Liora melingkari leher ketika merasakan gadisnya itu memberikan balasan. Jantung dalam rongga d**a Liora bergemuruh, berdetak sangat kencang juga cepat. Ia tak bisa lagi menolak perasaannya yang bergetar di frekuensi sama dengan Aldric. Liora menundukkan wajahnya ketika Aldric melepaskan tautan bibir mereka, “Kau milikku, Liora. Selamanya menjadi milikku!” bisik Aldric seraya menyentuh dagu Liora sekaligus membersihkan sisa pertukaran saliva mereka menggunakan ujung jempolnya. “Tapi status kita berbeda.” Liora menjawab lirih, memalingkan wajahnya ke samping, ada rasa ngilu merayap ke dalam dadanya, mengingat perkataan Lord Falthren yang akan menjodohkan Aldric dengan putri Elowen dari kerajaan tetangga. “Aku memilihmu bukan karena status tapi aku mencintaimu, Liora, Mawar Liarku!” Aldric meraih lembut dagu Liora untuk ia bawa kembali menatapnya. “Kau adalah badai …dan aku ingin tenggelam dalam badaimu.” Tanpa menunggu Liora bereaksi, Aldric naik ke atas pembaringan, menyelipkan sebelah lengan ke belakang pundak Liora, membawa gadisnya itu agar berbaring kembali dan ia pun merebahkan diri di sebelahnya. “Apa yang kau lakukan? Jika ada yang tahu, ini bisa menjadi skandal besar dan mahkotamu terancam, Aldric!” Liora meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan lengan Aldric juga menggunakan kata-kata sehari-hari sewaktu mereka dahulu masih kanak-kanak main bersama. Tetapi, tenaga Liora masih belum pulih, ia kembali berakhir dalam pelukan besar lelaki yang semakin membuat jantung dalam rongga dadanya berdentam-dentam seperti hendak meloncat keluar. Tok …tok …tok …!! “Yang Mulia, ada Marquis Thornhart datang.” Arven mengetuk pintu memberitahukan kedatangan Ayahnya Liora pada Aldric yang gegas bangun dari pembaringan namun wajah Liora sedikit merona malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN