Liora terbangun di ruangan dingin penuh debu. Tangan dan kakinya terikat. Lampu minyak redup memantulkan bayangan kelam.
Tak lama kemudian, seorang pria berjas gelap masuk. Lord Falthren.
“Selamat malam, Mawar Liar,” Lord Falthren berkata sinis, “Kau membuat kerajaan kacau!”
Rupanya prajurit yang dibawa oleh Aldric sebelumnya gagal menemukan Liora karena disembunyikan di dalam gudang ditutupi jerami makanan kuda juga terletak cukup jauh dari bangunan utama kediaman Lord Falthren.
Liora menatap tajam pria seusia ayahnya di depannya tersebut, “Aku tidak membuat kacau. Tapi Anda lah yang takut pada seorang wanita!”
Lord Falthren tertawa kecil, meraih sebuah kursi kecil yang diberikan pengawal, lalu mendudukinya berjarak lima langkah di depan Liora, “Tidak, kami tidak takut padamu. Tapi kami takut pada raja yang kehilangan kendali karena wanita!”
Liora mendengkuskan tawa, “Anda akan menyesal melakukan ini, Lord Falthren!”
“Tidak, Liora. Yang akan menyesal adalah raja. Dia akan dipaksa menikah dengan Putri Elowen besok pagi. Dan kau …” Lord Falthren mencondongkan wajahnya ke depan dengan sinar mata licik, “…kau akan menghilang secara tragis!”
Liora menyunggingkan senyum. Ia sama sekali tidak takut dan ayahnya tak pernah mengajarkannya gentar pada ancaman.
Wajah Liora tetap tegak, mengunci pandangan pada Lord Falthren juga mengingat kerutan ekspresi yang dibuat pada wajah pria tua itu, sungguh sangat jauh dari ketampanan ayahnya yang masih sangat menawan di usia senja.
“Anda pikir raja tidak akan membakarmu hidup-hidup ketika menemukanku?” cetus Liora santai yang membuat Lord Falthren tertawa terbahak-bahak.
Tapi mata jeli Liora berhasil menangkap sinar ketakutan dalam netra Lord Falthren yang sedang tertawa tergelak hingga tubuh berguncang di atas kursi kayu dudukannya.
“Aldric tak akan mengetahuinya!” ucap Lord Falthren setelah tawanya mereda.
Lord Faltren bangkit berdiri dari duduk, membawa lampu minyak bersamanya, meninggalkan Liora dalam kegelapan gudang yang pengap juga sangat dingin beralaskan tanah.
Hujan masih turun deras, belum reda sama sekali.
Sekembalinya ke istana, Aldric masih belum bisa beristirahat. Ia berjalan bolak-balik dalam ruang kerja, mengingat semua hal tentang Liora yang memang tak ia ketahui gadis itu dekat dengan siapa saja.
Pintu ruangan kerja diketuk dari luar, Arven, kapten pengawal istana sekaligus pemimpin keamanan dalam kerajaan, masuk menghadap Aldric.
“Yang Mulia … sebaiknya Anda istirahat. Setelah hujan mereda, saya akan perintahkan orang kembali melakukan pencarian ...”
Aldric menatap sekilas, lalu duduk pada kursi kebesarannya dalam ruang kerja, “Kau tahu dia berbeda, Arven.”
“Aku tahu.”
“Jika sesuatu terjadi pada Liora…” Aldric mengepalkan tangan di atas meja, “…aku akan menghancurkan istana ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebelum Marquis Kael Thornhart menghancurkannya.”
Arven menunduk. Ia tahu Aldric tidak berbicara metafora. Sejak remaja dan masih menjadi putra mahkota, Aldric memang memiliki prinsip tegas yang membuatnya berbeda dengan putra mahkota kerajaan lainnya.
Lebih dari itu, Arven juga sangat memahami emosi Marquis Kael Thornhart, Ayahnya Liora yang tak banyak bicara juga memutuskan menarik diri dari politik kerajaan, tetapi jika pria berwibawa tersebut diganggu melalui putrinya, sungguh perang besar bisa terjadi sangat ganas.
“Kalau begitu, saya akan kembali ke kediaman Lord Falthren.” Arven berkata hati-hati memandang Aldric yang menatapnya tajam.
Aldric bangkit berdiri dari duduknya, berjalan tegap lalu berdiri di samping Arven, “Kau harus menemukannya.” titahnya dingin sambil berlalu keluar dari ruangan kerja, menuju kamar tidurnya di ujung istana Edevane.
“Kau harus menjaga raja agar istirahat malam ini dan menghadiri rapat Dewan esok pagi.” Arven bertutur pada Gavin sebelum pria itu pergi mengantarkan Aldric ke depan pintu kamar.
**
Petir masih menggelegar, sesekali kilat menyambar membuat pandangan mata seketika menjadi gelap gulita, tetapi dua kuda jantan terus berlari kencang seakan tak mengindahkan hujan deras dengan angin dingin bergulung-gulung seperti badai tersebut.
Mendekati pintu gerbang kediaman Lord Falthren, kedua kuda berhenti, mereka membawa kuda bersembunyi di balik semak perdu samping benteng kediaman.
Tak lama kemudian, dua siluet tubuh berpakaian hitam meloncat melewati benteng samping Lord Falthren yang setinggi tiga meter.
Para penjaga kediaman Lord Falthren sedang beristirahat di ruang jaga karena hujan sangat deras juga berangin dingin, sama sekali tak menyadari ada dua orang penyusup masuk kediaman.
**
Arven dan rekannya yang tak lain adalah Aldric, memakai cadar hitam menutupi separuh wajah memindai ke sekeliling kediaman Lord Faltren.
Tiba-tiba mata mereka menangkap, seseorang berlari menembus hujan, keluar dari gudang yang ditumpuk jerami pada bagian pintunya, masuk ke halaman belakang kediaman Lord Falthren.
Tanpa menunggu, Arven bersama Aldric bergegas pergi ke gudang dan menendang tumpukan jerami sehingga bisa melihat pintu.
“Pantas tadi kami tidak menemukannya. Ternyata …” Arven bergumam pelan, tetapi Aldric sudah mendobrak pintu hingga terbuka lebar.
Sangat gelap di dalam gudang, bahkan gigi yang putih pun tak bisa terlihat sama sekali.
“Liora …”
Liora menegakkan tubuhnya bersandar pada dinding dingin, begitu telinganya mendengar suaranya dipanggil.
Beberapa saat setelah Lord Falthren pergi, napas Liora mulai terasa semakin berat. Dadanya sesak, seolah udara di sekitarnya menekan masuk tanpa memberi ruang untuk bertahan. Ia terbatuk pelan, berusaha menahan suara, hingga tubuhnya perlahan kehilangan kekuatan dan sandarannya runtuh sedikit demi sedikit.
Dalam keadaan setengah sadar, Liora merasa mendengar namanya dipanggil. Suara itu samar, nyaris tenggelam di antara dengung dalam telinganya, namun terlalu dikenalnya untuk diabaikan.
“Liora …”
Bayangan gelap bergerak di dalam gudang. Aldric meraba dinding yang dingin, melangkah perlahan dengan kelopak mata yang terus mengerjap, berusaha menembus kegelapan dan udara yang terasa tidak wajar di paru-parunya.
“Apakah kau ada di sini …?”
Batuk Liora terdengar lemah, memecah kesunyian gudang. Ia memukul dadanya perlahan, napasnya tersendat dan dangkal, tubuhnya gemetar menahan dingin dari lantai tanah yang lembab.
Sebelum tubuhnya benar-benar terjatuh, sepasang lengan menangkapnya. Pelukan itu erat, protektif, seolah menolak membiarkannya menyentuh tanah.
“Arven.” Aldric memanggil dengan rahang terkatup, suaranya rendah dan bergetar oleh kemarahan yang tertahan.
Arven segera bergerak, membuka jalan ketika Aldric menggendong Liora keluar dari gudang. Saat itulah keduanya menyadari bau yang aneh, asap tipis yang menyusup dari bawah pintu, meninggalkan rasa pahit di tenggorokan dan berat di d**a. Udara itu tidak terlihat mematikan, namun jelas tidak diciptakan untuk membuat seseorang bertahan hidup.
Aldric membuka ikatan di tangan dan kaki Liora dengan tergesa, giginya mengatup kuat saat tali-tali itu terlepas satu per satu. Wajahnya tegang, napasnya kasar, namun gerakannya tetap terkendali.
“Temukan tabib! Bawa ke istanaku!” perintah itu singkat dan tegas, dilontarkan sebelum Aldric menaikkan tubuh Liora ke atas kuda.
Aldric duduk dengan Liora di depan dadanya, jubahnya melingkupi mereka berdua, mengikat tubuh mereka menjadi satu. Kudanya dipacu cepat, derap langkahnya menghantam tanah malam seperti detak jantung yang tak sabar.
Tubuh Liora semakin ringan di pelukannya. Aldric merasakan napas gadis itu melemah, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ketakutan menyusup tanpa izin ke dalam dadanya.
“Jangan pergi,” Aldric berucap lirih, bukan sebagai titah, melainkan permohonan. Suaranya pecah, hilang tertelan angin malam.
“Bertahanlah.”
Aldric menundukkan wajahnya sedikit, seolah ingin memastikan Liora masih mendengar.
“Sebentar lagi,” Aldric berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “My Lady… bertahanlah untukku.”