4.Mencari Liora

1219 Kata
Marquis Kael Thornhart mendengar suara kaki gemerisik di luar ruangan kerjanya. Setelah menunggu beberapa saat, tetap tidak ada siapapun yang datang. Sang Marquist menghela napas panjang, meletakkan kuas lukisan pada tempatnya di atas meja, lalu bangkit berdiri, sudah waktunya ia istirahat. Aldric yang memilih Liora dan putrinya menolaknya di hadapan bangsawan serta Dewan Kerajaan, mau tidak mau membebani pikiran Kael Thornhart. Sungguh, keinginan Kael sangat sederhana untuk Liora, yaitu putrinya itu hidup bahagia bersama pasangannya. Seperti dahulu ia bersama istrinya, Ibunya Liana dan Liora. Sayang, sang istri meninggal sepuluh tahun silam karena wabah penyakit dan sejak itu Kael hanya tinggal berdua bersama Liora di kediaman karena Liana sudah menikah secara politik dengan putra Duke negara tetangga yang keduanya saling mencintai. “Ini ...” Kael Thornhart memungut dompet kain merah di atas lantai yang sangat ia tahu itu milik Liora, hadiah dari putri tertuanya, Liana. “Tuan, ada kereta kuda mencurigakan baru saja berlari kencang di depan gerbang kediaman.” Dorian berlari tergopoh melapor pada Kael Thornhart. “Liora …dimana dia?” Kael Thornhart bertanya sedikit panik, menggenggam kuat dompet kain merah dalam kepalan tangannya. Dorian turut merasa gugup, “Lady …tadi masih berkuda di halaman …” “Cepat panggil dia untuk menemuiku!” Dorian bergegas pergi ke halaman, melihat penjaga yang menggelengkan kepala seperti baru terbangun dari tidur, “Apa yang kalian lakukan? Berjaga sambil tidur? Dimana Lady Liora?” Para penjaga saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka menjawab ragu, “Lady sudah berada di kamarnya …uhm, uekk …!” Pupil Dorian membulat terkejut melihat para penjaga satu persatu muntah-muntah mengeluarkan cairan perut. Dengan langkah besar, ia pergi ke istal, melihat kuda jantan kesayangan Liora ada di sana. Dorian berlari kecil masuk ke dalam kediaman, bertemu Kael Thornhart di lorong depan kamar Liora. “Morgan ada di istal, tapi Lady Liora tidak ada.” Dorian memberitahu dalam satu tarikan napasnya ke depan sang Marquis. “Para penjaga mengalami muntah-muntah, sepertinya mereka …” Marquis Kael Thornhart menegakkan tubuhnya tegap, sebelah tangan menggenggam dompet kain milik Liora, terkepal di belakang pinggang, “Liora tak ada di kamar. Perintahkan pasukan mengejar kereta kuda yang sebelumnya melintas depan gerbang! Jangan kembali sebelum menemukan putriku!” Dorian menunduk dalam sebelum bergegas memberitahukan pasukan pribadi keluarga Thornhart yang bergerak cepat menyusuri jalanan gelap dan berbatu-batu mencari keberadaan kereta kuda yang disinyalir menculik Liora Thornhart. Sementara Marquis Kael Thornhart menunggangi kudanya sendiri, pergi ke istana Edevane melalui gerbang pribadi yang penjaganya sudah sangat mengenalnya. “Masuk dan duduklah.” Aldric membukakan pintu kamar tidurnya yang diketuk oleh Kael Thornhart, “Apakah ada sesuatu yang mendesak sehingga Anda harus menemuiku malam-malam begini, Marquis Thornhart?” “Maaf mengganggu waktu Anda, Yang Mulia. Putriku, Liora diculik dalam kediamanku!” Kael berkata terus terang dengan wajah tegas memandang lurus ke netra Aldric yang duduk di depannya. “Liora diculik? Dalam kediaman Thornhart?” Aldric mengepalkan telapak tangan, memukul pinggiran meja dan wajahnya menegang karena emosi. Marquis bangkit berdiri dari duduknya, memandang tajam pada Aldric, “Jika terjadi sesuatu pada putriku …” “Akan ku pastikan orang itu menyesal seumur hidup!” Aldric menyambung perkataan Kael Thornhart yang sudah sangat ia paham ujungnya adalah ancaman. Bukan untuk Aldric semata, melainkan ancaman pada tahta dan kerajaan Ebrath. Meskipun Marquis Kael Thornhart bawahan setia Raja terdahulu, tetapi sejak kematian Ayah Aldric tersebut, Marquis Kael Thornhart menarik diri dari urusan kerajaan. Hanya mengijinkan Liora menghadiri jamuan atau undangan dari kerajaan. Sepuluh ribu pasukan pribadi Marquis Kael Thornhart yang dahulu digunakan untuk melindungi raja, bukanlah tandingan bagi Aldric yang baru diangkat menjadi raja. Aldric bahkan masih belum bisa menentukan siapa orang yang loyal padanya. Bukan hal tak mungkin anggota Dewan Kerajaan menyusun rencana menggulingkan tahtanya karena menolak pernikahan politik dan memilih Liora. Dari balik pintu, terdengar ketukan lalu Gavin masuk ke dalam ruangan, “Anda memanggilku?” “Siapkan kudaku, sekarang!” Aldric langsung memberikan perintah pada Gavin yang sedikit mengernyitkan dahi. “Liora diculik dalam kediamannya! Aku harus mencari tahu sendiri siapa orang yang berani mengganggunya.” tegas Aldric dengan tatapan mata dingin juga sangat gelap. “Siapa yang menculiknya?” Gavin terkejut dan netra matanya membola besar, “Kediaman Thornhort bukan tempat yang bisa dimasuki sembarangan orang. Pasti ada pengkhianat di dalam yang memberikan akses …” Aldric berpaling menatap Gavin, “Kau selidiki kediaman Thornhort diam-diam dan laporkan hasilnya langsung!.” titahnya sebelum mengambil jubah hendak pergi keluar mencari Liora. “Tunggu, Yang Mulia …kita belum tau pasti siapa yang menculik Lady Thornhort dan ia dibawa kemana …sebaiknya …” “Tak ada waktu untuk menunggu, Gavin! Kael Thornhort bisa melepaskan kepalaku dari tubuh jika terjadi sesuatu dengan Liora.” Aldric memotong perkataan Gavin, “Semua ini mungkin juga kesalahanku yang terang-terangan menginginkannya.” Gavin mengangguk paham. Perang bisa pecah antara pasukan Thornhort dengan kerajaan. Tapi siapa yang punya nyali memprovokasi Kael Thornhort yang jika diganggu bisa seperti banteng terluka tersebut? Di depan istal kuda, Aldric dan Gavin dihentikan oleh penjaga. “Yang Mulia, malam gelap dan akan turun hujan. Itu berbahaya—” Aldric menoleh tajam, “Apakah aku minta pendapatmu kapan harus berkuda dan tidak?” Gavin sebagai orang terdekat dengan Aldric, tak pernah melihat raja tampannya sekejam ini. Beberapa pengawal terlatih yang melindungi Aldric turut pergi bersama-sama, berkuda di malam gelap ditengah guruh yang menggelegar dan kilat sesekali menyambar membuat pandangan menjadi silau sedangkan hujan belum turun. Aldric memimpin menunggangi kuda hitamnya paling depan. Angin bertiup seperti pisau dingin membawa titik-titik air hujan turun. Tapi Aldric tidak berhenti. “Temukan dan hentikan setiap kereta di jalan!” titah Aldric berteriak lantang. “Lima orang pergi periksa gudang, pondok dan tempat peristirahatan!” sambungnya yang juga diulangi oleh Gavin agar terdengar oleh semua pasukan di belakang mereka. Semua rumah, tempat peristirahatan dan gudang sepanjang jalan ke utara menjadi gempar dengan kedatangan prajurit yang menggeledah, mencari keberadaan Liora, namun jejak wanita itu seakan lenyap ditelan bumi. Hujan turun semakin deras, “Yang Mulia, sebaiknya kita kembali dulu ke istana. Hujan semakin deras, di ujung sana hanya ada kediaman Lord Falthren. Wajah Aldric tegang, marah, dan …takut. “Mari kita ke sana!” “Tapi …” Gavin tak melanjutkan kata-katanya karena Aldric sudah menoleh menatapnya sangat tajam. Lord Falthren adalah anggota sekaligus sesepuh di Dewan Kerajaan. Beliau tidak banyak bicara tetapi setiap perkataannya dipatuhi oleh anggota Dewan Kerajaan yang lainnya. Selain itu, meskipun hubungan Lord Falthren dengan Kael Thornhort kurang harmonis, mereka bersama-sama melindungi raja terdahulu sehingga percikan sekecil apapun dalam kerajaan tak terjadi. Mendatangi kediaman Lord Falthren di tengah malam dan hujan demi menjadi Liora yang diculik, Gavin berpikir bisa terjadi kesalahpahaman yang memicu perang. Tetapi, ia tak bisa menghentikan Aldric yang sudah mendekati pintu gerbang kediaman Lord Falthren. ** “Anda datang kemari ditengah hujan dan badai hanya karena demi Lady Thornhort, Yang Mulia?” Lord Falthren bertanya dengan wajah tersenyum sopan dan menunduk pada Aldric yang menelisiknya tajam. “Lady Thornhort wanita yang bebas dan ia pandai berkuda. Rasanya mustahil wanita sehebat dirinya bisa di culik dan kenapa Anda bisa berpikir ia ada dalam kediamanku?” lanjut Lord Falthren terdengar remeh. “Saya tidak menuduh, tapi hanya mencari. Bisa jadi penculik itu berhenti dan bersembunyi di kediaman Anda yang luas ini.” Aldric juga tidak mau kalah, menatap tegas pada Lord Falthren sejenak lalu memerintahkan prajuritnya melakukan pencarian meskipun belum mendapatkan ijin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN