Diculik

1055 Kata
Beberapa hari kemudian, Dewan Kerajaan mengumumkan perjodohan Aldric dengan Putri dari negeri tetangga. Liora hadir di aula, sebenarnya Aldric mengirimkan pesan melalui Gavin yang memintanya datang. Hati Liora membeku tapi wajahnya tetap datar. Aldric berdiri di podium kerajaan. Para bangsawan menunggu jawabannya. Aldric menatap Liora. Dan gadis itu pun menatap balik. Penampilannya tenang …tapi mata terlihat ada badai, badai berapi. Aldric akhirnya berkata, “Aku menolak perjodohan ini.” Seluruh aula seketika terdiam. “Yang Mulia, itu akan memicu perang—” salah satu anggota Dewan Kerajaan senior berkata hati-hati. “Diam!” suara Aldric menggema seperti petir. Aldric menunjuk Liora yang menyeringaikan senyuman sangat tipis, “Kalau aku harus memilih seorang pendamping …dia hanya satu!” Semua mata menatap Liora yang tertegun dengan bola mata membulat menyadari telunjuk Aldric ke arahnya. Kaki Liora seakan terpaku ke lantai, tak bisa bergerak atau melarikan diri. Pun mulutnya yang biasanya pedas membantah protokol kerajaan seperti terkunci oleh telunjuk Aldric. Aldric turun dari podium, berjalan ke arah Liora. Di depan bangsawan Dewan Kerajaan, penasihat, dan para pejabat istana serta semua orang yang hadir di aula, Aldric berkata pelan namun terdengar oleh semua orang. “Liora Thornhart …aku memilihmu!” Suara Dewan Kerajaan riuh, mereka menyuarakan pertentangan, tetapi Aldric melanjutkan perkataannya, “Jika dunia menolakmu, maka biar dunia itu ku bakar!” Liora memelototi Aldric yang membuatnya kehilangan kata juga bingung dalam bersikap. “Konyol!” gumamnya yang seperti hanya menggerakkan bibir, kemudian melangkah mundur dari depan Aldric yang menatapnya dalam, sarat akan emosi. Liora melangkah cepat meninggalkan aula, tetapi dari arah samping Gavin menghadangnya dari depan, “Tidak bisakah Anda memikirkannya terlebih dahulu, Lady Thornhart? Raja …” “Menyingkir!” tegas Liora menatap Gavin tajam, “Dia hanya ingin melarikan diri dan menjadikanku tumbal atas kekerasan-kepalanya untuk menolak protokol kerajaan!” Beberapa langkah di belakang, Aldric menghembuskan napas ke samping, berjalan tanpa suara mendekati Liora yang masih ditahan Gavin. “Kau sungguh menolakku? Kenapa kau tak menyukaiku? Aku tampan dan berkuasa …aku bisa membuatmu bebas melakukan apa saja termasuk menjelajahi negri ini tanpa ada yang berani menghentikanmu.” “Bangunlah dari mimpimu, Aldric!” Liora membalikkan tubuhnya, tersenyum sinis pada lelaki tampan yang sebenarnya membuat jantungnya berdebar sangat tidak nyaman. “Kau lebih tau seperti apa protokol kerajaan terhadap wanita! Aku tak akan menghabiskan waktuku terkurung dalam tembok istana untuk melayanimu dan melahirkan anak. Lalu, jika kau bosan, kau bisa mengundang banyak putri dan wanita menemanimu tidur yang juga kau buahi!” Usai mengucapkan kalimatnya, Liora berbalik, mendorong Gavin, kemudian melangkah cepat dan gegas meloncat ke atas punggung kudanya yang ia pacu gesit menuju kediamannya. ** Rumor tentang Raja Aldric menolak perjodohan politik, pecah seperti kaca jatuh. Dewan kerajaan panik. Beberapa bangsawan senior membanting piala, beberapa yang lain menjambak rambut mereka sendiri. Satu nama berdengung seperti kutukan, merayap dari satu bibir ke bibir yang lain, menyebut, Liora Thornhart. Di ruang rapat Dewan yang hanya dihadiri oleh anggota Dewan Kerajaan, Kanselir Morlen berkata penuh amarah, “Jika wanita itu menjadi ratu, maka keluarga Thornhart akan menguasai istana!” Pejabat lain menimpali, “Aldric sudah gila karena wanita!” Mereka berdiskusi mencari cara menghancurkan Liora tanpa memancing kemarahan sang raja. Sementara itu, di rumah besar keluarga Thornhart, Liora duduk di ruang baca bersama Ayahnya yang sudah mendengar rumor mengenai raja Aldric menginginkan putrinya. Marquis Kael Thornhart adalah lelaki tampan berperawakan tegas dengan rambut perak dan mata penuh kebijaksanaan, kini menatap putrinya lama sekali sebelum ia menghembuskan napas pelan ke samping. “Kau membuat seluruh kerajaan gempar, Liora.” “Aku tidak melakukan apa-apa, Ayah,” jawab Liora tenang. “Aku hanya hidup seperti biasanya.” Kael menyesap teh yang sudah setengah dingin di atas meja, depannya. Kemudian menghela napas panjang, kembali memandangi putrinya yang dulu sangat imut dan keras kepala sewaktu kecil, sekarang sudah dewasa, sangat cantik mempesona namun berbahaya karena pola pikirnya yang bebas merdeka, tidak tunduk pada siapapun, apalagi aturan protokol kerajaan. “Aldric menolak perjodohan demi kau.” ucap Kael dengan tatapan lembut pada Liora yang mendengkus rendah. Liora tak menjawab. Di luar jendela hujan turun lagi dan suara desau anginnya membuat percakapan terasa lebih berat. “Apa kau …” Kael menatap dalam. “…punya perasaan pada raja?” Liora memandang Ayahnya lekat-lekat, “Aku …tidak tahu.” “Tapi ia melanggar protokol karenamu,” Kael berkata pelan.”Dulu kalian sering bermain bersama di istana, kini keputusannya yang memilihmu, sekarang pasti membuat Dewan Kerajaan cemas dan ketakutan.” “Sudahlah, Ayah. Aldric mungkin hanya tak memiliki seseorang yang bisa ia tumbalkan, makanya memilihku.” Liora bangkit berdiri dari duduknya, memberikan kecupan ke pipi Ayahnya, “Aku sedikit lelah, ingin istirahat.” lanjutnya seperti bisikan. Kael Thornhart menghela napas panjang begitu Liora berjalan pergi meninggalkan ruangan baca. Ia sangat mengenal putrinya yang akan ceplos menolak jika hatinya tak tersentuh. “Awasi putriku dan lindungi dia. Dewan Kerajaan pastinya tak akan menyerah dan berhenti membuat Aldric mematuhi protokol.” Kael berkata pada Dorian, salah satu pengawal terbaik yang ia perintahkan mengikuti Liora diam-diam. “Aldric keras kepala dan keselamatan Liora bisa terancam karenanya.” “Jangan kuatir, Tuan. Lady Liora bukan seseorang yang bisa ditindas dengan mudah. Anda sudah mendidiknya menjadi pribadi yang tangguh.” Dorian menyahut ditanggapi anggukan sang Marquis. Sudah tiga hari berlalu setelah penolakan Aldric yang menolak pernikahan politik dan memilih Liora, suasana terlihat tenang. Para anggota Dewan Kerajaan tak mengajukan pernikahan politik lagi di rapat pagi bersama raja. Liora pun tak terlihat keluar dari kediamanya, pesan yang dikirimkan oleh Aldric melalui Gavin, sama sekali tak ditanggapi gadis muda itu. Malam ini Liora menunggangi kuda, hanya berkeliling dalam taman kecil kediamannya. Ia menengadahkan wajah menatap langit malam yang penuh kabut, seakan ada firasat yang menyelinap ke relung hati. Gerbang kediaman Thornhart tampak sunyi. Terlalu sunyi dari biasanya. Liora membawa kudanya kembali ke istal, berjalan cepat menuju ruang kerja Ayahnya yang berada di sayap kiri paling ujung kediaman. Saat Liora melewati pelataran …sebuah bayangan gelap muncul dari balik pilar. Tangan sang bayangan bergerak cepat menutup mulut Liora, “Jangan teriak!” Liora menendang, menggigit, dan melawan seperti macan. Namun dua pria lain muncul dalam kesunyian, menahan kedua lengannya. Sehelai kain dengan aroma tajam menutupi hidung Liora. Liora berjuang sampai dunianya memudar. Sebelum hilang kesadaran, Liora sempat mendengar satu nama, “Bawa dia ke Lord Falthren.” Falthren adalah anggota Dewan Kerajaan, musuh keluarga Thornhart.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN