Hujan & Kenangan

1066 Kata
“Anda tidak boleh berkata seperti itu pada raja, Lady Thornhart.” salah satu anggota Dewan Kerajaan memperingatkan Liora. “Saya tidak sedang bicara pada raja.” Liora menatap lurus ke mata Aldric yang mengunci pandangan padanya, “Saya bicara pada seorang lelaki keras kepala yang suka memerintah semua orang tanpa tahu alasan.” Aldric bangkit dari dari duduknya di singgasana. Para penjaga dan anggota Dewan Kerajaan, menegang. Aldric berjalan perlahan namun sangat berwibawa, sampai ia berdiri tepat di depan Liora. “Kau membuatku tidak bisa berpikir jernih.” bisik Aldric rendah, hanya bisa terdengar oleh telinga mereka berdua. “Bagus!” “Bagus?” Aldric menggertakkan gigi, menautkan alis, menatap lurus ke netra Liora yang seolah mengejeknya. Liora tersenyum tipis. “Raja yang terlalu jernih pikirannya, biasanya membosankan!” Aldric hampir refleks tertawa besar. Tetapi akhirnya ia berdehem keras seolah memarahi Liora, namun wajahnya maju hampir mencium gadis pemberani di depannya itu. “Liora Thornhart, Kau berkali-kali melanggar protokol kerajaan ..”Aldric berkata dengan nada tegas, menghentikannya sejenak, sudut matanya memperhatikan para anggota Dewan Kerajaan, “Untuk itu, kau dihukum menemaniku belajar di istana ini selama satu bulan!” Aldric memajukan tubuhnya, berbisik kembali ke telinga Liora, “Aku sedang menyelamatkanmu, tak perlu berterima kasih.” Di luar dugaan, Liora menjawab lantang, “Maaf, Yang Mulia, saya hanya putri bangsawan tanpa kekuasaan dan politik. Menemani Anda belajar di istana, itu akan membuat mata banyak orang menjadi sakit karena terganggu.” Liora balas memajukan tubuhnya, berbisik ke depan wajah Aldric yang memerah menahan emosi, “Anda teman belajar yang sangat membosankan, saya tidak tertarik!” Lalu melanjutkan dengan suara besar, “Terima kasih atas perhatian Yang Mulia, saya pamit undur diri.” Liora tak membiarkan Aldric memprotes tindakannya, pun sangat malas mendengarkan nasehat yang menyudutkan dari para anggota Dewan Kerajaan. Ayahnya Kael Thornhart tak mengajarkan Liora menjadi wanita yang tunduk pada aturan, wanita yang berakhir hanya akan menjadi permainan penghangat ranjang para pria berkuasa. Tetapi Kael Thornhart mendidik Liora menjadi wanita pemberani, tegas dan jenius sekaligus mengingatkan akan moral dan etika serta kepedulian pada semua orang terutama rakyat bawah ke putri keduanya itu yang sejak kecil sudah terlihat berjiwa bebas. Hari-hari berlalu tanpa masalah bagi Liora sejak kejadian ia dipanggil ke istana Aldric. Para anggota Dewan Kerajaan meskipun tak menyukai sikapnya, mereka tetap tak berani mengusik karena latar belakang keluarganya yang disegani. ** Liora terlalu asyik bermain di dalam hutan, memetik beberapa bunga liar dan bermain dengan kelinci liar hingga tak menyadari hari telah gelap, hujan akan turun. “Oh, Morgan, kita kehujanan.” Liora berucap pada kuda jantannya yang ia beri nama ‘Morgan.’ “Berhenti dulu di taman istana.” pinta Liora kemudian begitu tubuhnya telah menduduki punggung kudanya tanpa pelana. Hujan turun sangat deras, berpotensi menjadi badai karena angin bertiup bergulung-gulung, membuat udara jadi berkabut dan pemandangan sangat terbatas. Kaki kuda yang ditunggangi Liora berhenti dekat tanaman perdu taman kerajaan. Setelah mengikat tali kuda ke depan pepohonan, Liora pun berdiri di bawah pohon tersebut yang memiliki dedaunan rindang. Dahulu, taman istana ini pernah menjadi tempat bermain favoritenya. Ya, sebelum ia menjadi remaja dan merasa jika persahabatannya dengan Aldric sudah tak bisa lagi dipertahankan. Aldric dipersiapkan untuk menjadi raja, sedangkan ia hanya seorang putri bangsawan yang menolak terikat dengan aturan kerajaan. Sungguh sangat bertentangan! Akhir-akhir ini Aldric tak bisa tidur karena ada banyak pekerjaan yang harus ia pelajari dan selesaikan, sama sekali tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Tetapi jauh di dalam hatinya, ia merindukan tatapan mata kebebasan Liora. Aldric sedang berdiri depan jendela besar kamarnya yang menghadap ke taman, melihat tetes demi tetes air hujan yang jatuh. Hatinya sungguh iri pada Liora yang bebas melakukan apa saja tanpa takut mendapatkan hukuman keluarga ataupun menjadi gunjingan para pejabat kerajaan. “Alangkah menyenangkannya jika kau ada di sini.” Gumam Aldric lirih mengingat Liora. “Tapi …kau pasti membuat kekacauan dan kepalaku bisa pecah karenamu!” dengkus Aldric kemudian dengan mata tajam memandang ke depan menggemeretakkan giginya emosi karena Liora menolaknya. Tiba-tiba mata Aldric membulat sempurna begitu melihat kuda jantan yang sangat ia kenali sebagai ‘sahabat’ Liora sedang berlari kencang lalu berhenti di pojok taman istana yang tak jauh dari kamar tidurnya. “Seharusnya kau tau waktu jika bermain, bukan keluar saat hujan begini!” tegur Aldric setelah berada cukup dekat dengan Liora yang berdiri mematung berlindung di bawah pohon besar. “Kenapa?” Liora membalik tubuh. Melalui pencahayaan obor, Aldric bisa melihat rambut panjang Liora sedikit basah dan pipinya merah. Mata gadis itu terlihat bersinar, memantulkan cahaya obor. Aldric menelan ludah,“Karena berbahaya.” Liora menyeringaikan senyum tipis, “Saya tidak takut bahaya.” Aldric menarik napas dalam. “Sayangnya …aku justru takut ketika bahaya mendekatimu.” Liora tertegun. Matanya tak berkedip selama beberapa saat memandang Aldric yang memegang payung terbuat tulang ikan paus ditutupi kain kanvas berminyak. Aldric melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Kau membuatku marah. Setiap hari, aku mengingatmu dan itu membuatku hilang kendali. Aku ingin memanggilmu secara paksa untuk diberikan hukuman, tetapi kau juga membuatku ingin menolak semua aturan kerajaan.” Liora terdiam, hanya bisa memandang Aldric yang seperti mengeluarkan isi hatinya, tanpa ada niat ingin melawan atau membantah. “Aku merindukan saat kecil dahulu. Kita sering bermain di taman istana ini tanpa kuatir akan aturan apapun.” “Sekarang, kita berbeda. Anda adalah Yang Mulia Raja, sedangkan aku …putri keluarga Thornhart yang tidak diinginkan oleh siapapun di kerajaan ini, berdekatan dengan Anda.” “Tapi, aku menginginkanmu, Liora. Kau menantang ketenanganku yang justru membuatku terperangkap padamu.” Liora tersenyu, pelan-pelan berjalan mendekat sampai jaraknya hanya satu langkah di depan Aldric, tanpa mempedulikan tubuhnya basah oleh air hujan yang turun semakin deras. “Kalau begitu…” bisiknya, “biarkan aku menjadi kekacauanmu.” Aldric terpaku, pikirannya seakan padam, tak bisa berpikir, aroma tubuh Liora memenuhi penciumannya. Perlahan lengan Aldric terangkat, hendak menyentuh pipi Liora. Namun, detik itu pula seorang penjaga muncul di belakangnya. “Yang Mulia! Ada pesan dari Dewan ...” Aldric menoleh tajam. “PERGI!” Penjaga ketakutan dan mundur cepat. Ia berusaha mengintip dengan siapa sang raja berbicara, tetapi Aldric sudah lebih dulu menutupi Liora menggunakan payung hitamnya. Aldric kembali memandang Liora. Terlambat. Liora sudah mundur dua langkah. Senyum Liora terkembang nakal. “Kalau Anda ingin menyentuhku, lakukan tanpa saksi.” Lalu gadis itu pergi menunggangi kuda jantannya membelah air hujan, meninggalkan Aldric yang terengah dengan kemarahan dan kerinduan serta cinta, bercampur menjadi satu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN