Liora hampir terlelap di pembaringan ketika telinganya menangkap ketukan pelan—ritmenya menyerupai ranting kecil yang menyentuh kaca. “Aldric?” Liora terkekeh rendah saat melihat sosok lelaki itu mengetukkan ujung ranting ke jendela kamarnya. “Kupikir kau tak akan datang,” bisiknya sambil membuka jendela. Aldric langsung meloncat masuk, seolah satu detik saja terlambat bisa berakibat fatal. Liora menutup mulutnya, menahan tawa yang nyaris lepas. Cara Aldric menyelinap masuk ke kamarnya benar-benar jauh dari bayangan seorang raja muda yang dikenal dunia luar sebagai pria dingin dan tak tergoyahkan. “Aku tak bisa tidur sebelum memelukmu,” ucap Aldric rendah, lengannya sudah melingkar di pinggang Liora. “Kita sudah terlalu banyak berpelukan hari ini, Yang Mulia,” goda Liora lirih sambil

