Tidak terima Daffa yang langsung pergi begitu saja, Juni langsung beranjak dari tempat duduk nya dan berlari mengejar Daffa keluar dari cafe tempat mereka bicara sebelum nya. “Daffa!” sahut Juni sambil menangis di tempat nya. Daffa menghembus kan nafas nya kasar lalu berjalan kembali mendekati Juni, telapak tangan nya yang berukuran jauh lebih besar dari milik Juni berhasil mendekap seluruh lengan nya dan membuat perempuan itu menangis tepat di depan wajah Daffa. “Gue di panggil bokap gue sekarang, karena lo juga udah tau cerita asli keluarga gue yang sebenar nya, lo ikut aja sama gue ke kantor bokap, kalau soal yang lo bilang tadi kita bicara kan lagi nanti,” Juni mengusap air mata di wajah nya lalu mengangguk kan kepala sekilas. Tangan nya yang mungil di genggam oleh Daffa lalu denga

