Bab 01. Pengantin Tanpa Nasab
"Bagaimana apakah semua sudah siap?" Penghulu tersebut tampak bertanya kepada Hedo yang kini dalam balutan Jas dan Kemeja putihnya. "Sudah, Pak." jawab Hedo kepada penghulu tersebut.
Asha, pengantin wanita dari Hedo tampak tersenyum dan duduk disamping Hedo, siap untuk menjalani akad nikah mereka. Asha seorang Gadis Yatim Piatu, dia hanya tinggal sendiri sejak SMA, dan kini dia akhirnya bisa menikah dengan pria yang tulus mencintainya, yaitu Hedo.
Setelah menjalani hubungan dua tahun, akhirnya mereka sampai di hari bahagia mereka. Hedo didampingi oleh ayah kandungnya, Ozan, yang sudah bercerai dengan ibunya, disampingnya juga ada Ridwan ayah sambung dari Hedo.
Sedangkan Asha, hanya diwakili oleh wali hakim, karena secara defacto dia sudah tidak memiliki anggota keluarga lagi. "Bismillah."
Penghulu itu menjabat tangan Hedo, dan dibalas oleh jabatan tangan dari Hedo juga. "Daryanto Hedo Aryawiguna bin Ashran Fauzan Harris, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan ananda, Ashafa Na'ifah Naza binti Naila Laidatul dengan Mas Kawin tersebut dibayar tunai!"
Hening, beberapa tamu yang hadir berbisik, dikarenakan binti yang dipakai oleh Asha adalah binti almarhumah ibunya, bukan Ayahnya.
"Saya-"
"HENTIKAN SEMUA INI!" Suara seorang wanita tampak membubarkan acara itu membuat Hedo dan Asha menatap ke arah wanita itu.
"Mama?" Hedo bangkit dan menghampiri Ibunya. "Mama ngapain disini?"
Naura, ibu kandung dari Hedo berjalan ke arah Hedo dan menatap nanar Asha. "Sampai matipun Mama tidak akan setuju kamu menikah dengan Gadis Tanpa Nasab ini!"
"Ma, bukannya kita sudah obrolin ini? Tekatku untuk menikahi Asha sudah bulat, dan Papa Ridwan juga setuju, Ma," jelas Hedo. Asha ikut bangkit dia berjalan ke samping Hedo.
"Bu Naura, maafkan saya jika saya membuat keluarga Bu Naura malu akan status saya," jelas Asha. Asha menunduk menahan air matanya yang jatuh. Naura menggeleng.
"Saya tidak masalah Asha jika kamu Gadis Tanpa Nasab, tapi saya yang mempermasalahkan, karena kamu itu adalah anak Haram dari suami saya!"
Semua mata terbuka lebar bahkan Hedo juga, Ridwan yang merupakan suami Naura juga diam menunduk. "Asha! Adalah anak haram Papa sambung kamu Hedo! Sebelum menikah dengan Mama, Ridwan sudah memiliki anak diluar nikah dengan Naila!"
Semua shock, bahkan Asha juga shock, sosok ayah yang selama ini dia cari, ternyata adalah calon mertuanya sendiri. Tapi kenapa Ridwan tidak pernah mengatakan sejujurnya.
"Dan sampai matipun, saya tidak Sudi menerima anak haram seperti kamu di keluarga saya Asha! Apalagi kamu anak haram dari suami saya!" Asha duduk di lantai dengan wajah sendu.
Hatinya remuk seketika, seolah dia kehilangan akal dan hasrat untuk mempertahankan dirinya tetap tegap dan berdiri. Fakta ini sangat menyakitkan.
- Flashback On
"Bunda sebenarnya Ayah biologis Asha siapa, Bund?" tanya Asha kepada Naila pada hari itu. Naila yang sedang melipat baju tampak tersenyum, dia mengusap wajah Asha. "Kamu tidak perlu tahu, Nak." jawab Naila sang Ibu.
"Tapi kenapa?"
"Karena Bunda bisa menjadi semua yang kamu mau, Bunda bisa jadi Ibu, Bunda bisa jadi ayah, Bunda bisa jadi apa aja sayang."
Asha terdiam, dia merangkak ke arah Naila dan menidurkan kepalanya di paha Naila sehingga Naila dapat mengusap kepala putri semata wayangnya.
"Bunda, Asha anak Haram yah?"
"Bukan sayang, Tidak pernah ada anak Haram, tidak pernah ada seorang anakpun yang harus terluka atas kesalahan orang tuanya, kamu bukan Anak Haram," Air mata Naila menetes. "Perbuatan Mama dulu yang Haram, sayang."
"Jadi Ayah itu jahat?"
"Tidak sayang, Ayah kamu baik, sampai suatu saat kamu ketemu dia, jangan pernah sedikitpun ada kebencian dihati kamu, karena apa? Karena apapun yang terjadi, jangan pernah membelakangi Takdir Allah, Takdir Allah adalah sebaik-baiknya Takdir meskipun itu tidak ingin kita jalani."
Setidaknya itu yang di ingat oleh Asha sehari sebelum besoknya Bundanya harus meninggal akibat kecelakaan saat berjualan sayur. Padahal waktu itu dia sudah mendekati kelulusan SMA.
- Flashback Off
Asha menatap Ridwan. "Om Ridwan, benar? Aku anak Om Ridwan?" Ridwan terdiam dia membuang muka. "Jawab Om!" Asha menangis sesenggukan.
"Benar, Asha." Ridwan menjawab pelan membuat Asha benar-benar patah. Setahun lalu Bundanya baru meninggal, dan setelah kelulusan dia langsung dilamar oleh Hedo, yang tua setahun darinya.
Gadis berusia sembilan belas tahun itu, tampak diam, dia tidak bisa mencerna apapun lagi sekarang. "Tapi, kenapa?" Asha terdiam lagi. Dia menatap Hedo. "Kak, Kak Hedo gapapa kan kalau aku anak haram dari Om Ridwan?"
Hedo terdiam, dia menimbang, Asha meraih tangan Hedo tapi dilepaskan perlahan oleh Hedo. "Maaf Asha, sepertinya perkataan Mama, Kakak tidak ingin nama keluarga jelek karena menikahi Anak Haram dan Ayah sambungku sendiri."
"K-Kak?"
"Pernikahan ini, Kakak batalkan Asha."
Deg! Asha berasa dihantam banyak sekali benda tajam yang menghunus batinnya, benar-benar membuat Asha kehilangan tenaganya untuk berkata-kata.
—
Semua mata memandang risih kepada Asha yang masih menangis, ia merasa paling disudutkan karena statusnya, sedangkan Ridwan, ayah kandungnya malah terlihat tidak bisa melakukan apa-apa.
"Bangkitlah Asha, tidak sebening pun air mata harus jatuh apalagi itu bukan kesalahanmu." Asha membuka mata perlahan dan melihat sebuah tangan kekar menyentuh pundaknya dan mengarahkannya berdiri. "Om Ozan?"
Ozan, ayah kandung dari Hedo yang masih berusia tiga puluh sembilan tahun itu, tampak membangkitkan Asha dari posisinya yang duduk. "Tidak ada yang disalahkan disini! Anak ini tidak bersalah atas kesalahan yang tidak dia lakukan, lantas mengapa hanya dia yang di anggap anak haram?" ujar Ozan.
Naura, Hedo dan Ridwan menatap ke arah Ozan. Ozan menggeleng pelan. "Dengarlah Hedo, sebagai Ayah kandungmu, Ayah hanya memberikan nasehat, menikahi Asha bukanlah aib, karena kekotoran yang disematkan kepadanya, bukanlah salahnya."
Hedo diam, dia tidak menjawab. "Kenapa kita harus menghakimi seseorang yang tidak melakukan apapun? Bukan inginnya menjadi anak yang haram, tapi Allah menempatkannya di dunia, pasti ada sebabnya."
Naura berjalan ke arah mantan suaminya itu dan menunjuknya. "Gak usah ceramah kamu Mas, Gadis ini adalah Aib! Dan sebusuk-busuknya Aib, dia tetaplah Aib!"
"Ucapan mu seolah kamu luput dari dosa saja, Naura." Ozan menskakmat Naura sejenak dan menatap Asha yang masih menangis sesenggukan.
Naura meraih tangan Hedo. "Jangan libatkan anakku lagi untuk menikah Gadis Tanpa Nasab ini, jika kau benar ingin mensucikannya kenapa tidak kau saja yang menikahinya!" ujar Naura.
Semua jelas terkejut atas penuturan Naura, tapi semua lebih terkejut lagi saat. "Baik, saya yang akan menjadi pengantin pria itu Gadis ini!" ujar Ozan lantang.
Asha diam sejenak. Dia berusaha menolak tapi Ozan menatap wajahnya dan menggeleng. "Semuanya akan baik-baik saja."
Asha pasrah, dia tidak punya kekuatan apapun untuk menuturkan ucapan yang ingin dia ungkapkan. "Pak Penghulu, Nikahkan saya dengan Gadis ini!" Penghulu itu mengangguk tapi sebelum semuanya terlaksana Naura menghalangi aksi Ozan sejenak.
"Tunggu dulu Mas Ozan! Hedo sudah mengeluarkan banyak uang untuk meminang Gadis itu, kau harus menggantinya, anggap saja ku Gadaikan Gadis itu padamu!" ujar Naura kepada Ozan. Ozan menggeleng pelan, bisa-bisanya Naura masih membahas tentang itu disini setelah kekacauan yang dia lakukan.
"Kau anggap apa Gadis ini Naura? Dia bukanlah barang yang kau pikir bisa kau Gadaikan! Hedo sendiri yang membawanya kesini, bukan keinginannya, lantas kenapa seolah-olah dia adalah barang sekarang?" Ozan tidak habis pikir dengan pola pikir mantan istrinya itu. "Tidak usah banyak bicara Mas, ganti saja uang yang sudah anakku keluarkan," jelas Naura tajam.
Ozan mengangguk. "Setelah saya menikahi Asha, saya akan membayar berapapun yang kamu minta."
Ozan kemudian mengajak penghulu tersebut untuk menikahkan keduanya, acara pernikahan itu berlanjut tapi bedanya kini Ayah Kandung Hedo yang menggantikan Hedo duduk sebagai pengantin pria.
"Ashran Fauzan Harris Bin Harris Azzam, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Ananda, Ashafa Na'ifah Naza Binti Naila Laidatul dengan Mas Kawin tersebut dibayar Tunai!" Hening.
Ozan menghela napas panjang kemudian menatap wajah Asha yang masih menunduk dengan sisa-sisa air mata. Dia meyakinkan batinnya sendiri.
"Saya Terima, Nikah dan Kawinnya, Ashafa Na'ifah Naza Binti Naila Laidatul, dengan Mas Kawin tersebut dibayar, TUNAI!"
"Bagaimana para saksi?"
"SAH!" Ozan dan Asha saling menatap perbedaan usia berbeda dua puluh tahun itu pun terikat oleh janji pernikahan yang tidak disengaja.