Asha membuka matanya dan bangkit dari tidurnya, mengambil posisi duduk sebelum dirinya meraih ponsel di nakas dan melihat jam digital di lockscreen ponselnya. "Udah jam dua?" Asha bangkit dia menguap sebentar kemudian berjalan keluar dari kamar.
Asha melirik sekitar, mendengar suara air di kamar mandi, membuat Asha reflek berjalan ke arah dapur dimana kamar mandi itu berada, disana dia bisa melihat Ozan, suaminya tengah mengambil air wudhu, Asha diam, dia tidak bersuara, sampai Ozan selesai mengambil air wudhu dan berjalan mendekati Asha.
"Kok bangun? Mau Tahajjud juga?" tanya Ozan kepada Asha. Asha tidak menjawab dia hanya mengangguk lemah kemudian berjalan mendahului Ozan untuk ke kamar mandi mengambil air wudhu.
Ozan lagi-lagi hanya bisa menghela napas berat, memilih berjalan masuk ke kamar dan melaksanakan sholat disana. Ozan mengambil dua sajadah dan menggelarnya di lantai kamar, berniat mengajak Asha untuk berjamaah saja.
Tak lama kemudian, Asha tiba di kamar, ia tidak mengucapkan sepatah katapun, ia mengerti bahwa Ozan mengajaknya untuk sholat berjamaah. Setelah memakai mukenanya,
Setelah mereka berdua kemudian mulai melakukan sholat Tahajjud berjamaah dalam keadaan khusyuk, sampai akhirnya Ozan menyampaikan salam di akhir sholat dan mengakhiri sholat mereka, setelah membaca doa, Ozan mengulurkan tangannya ke Asha.
Asha hanya meraih tangan itu dan menyalaminya, setelahnya Ozan tidak melepasnya malah menarik tangan Asha sehingga Asha terjatuh ke hadapan Ozan dengan posisi wajahnya mendarat di d**a bidang suaminya itu.
"Maafkan saya yah," Ozan melingkarkan tangannya di pinggang istri kecilnya itu. "Saya akui saya yang salah, saya yang tidak jujur kepada kamu, tapi jangan diam seperti ini, kamu tanya tentang laki-laki yang jatuh cinta hanya sekali kan, saya bukan laki-laki seperti itu Sha."
"Saya menikahi kamu, bukan untuk melanjutkan hidup, saya menikahi kamu karena Allah, karena ingin menjadikan kamu seorang bidadari, saya sudah menyiapkan surga didalam pernikahan ini, tapi bagaimana bisa ada surga jika tidak ada bidadari di dalamnya?" lanjut Ozan mengusap puncak kepala istrinya yang tertutupi mukena.
Sekilas Asha tersenyum tipis, tangan kanannya memegang d**a Ozan, ia melepaskan diri dari posisi itu kemudian menatap dalam-dalam sang suami. "Asha gak marah kok."
Ozan mengangkat alis. "Tapi kenapa kamu diemin saya dari kemarin?" Asha menyentuh pipi suaminya lalu beralih mengusap bulu tipis yang tumbuh di sekitar dagu suaminya itu. "Bagaimana aku, bisa marah kepada suami yang setulus, Om Ozan?"
Ozan meraih tangan Asha dan mengecupnya pelan. "Saya bisa memberikan semua yang kamu butuhkan sebagai seorang istri, tapi untuk cinta saya selalu mengusahakan itu, saya percaya itu meskipun kamu dan saya belum cukup mengenal."
"Asha jadi inget kisah Rasulallah dan Aisyah, saat Rasulullah menikahi Aisyah tanpa rasa cinta tapi beliau memperlakukan istrinya layaknya orang yang sangat dia cintai, setelah kematian Khadijah waktu itu, Rasulullah menikahi Aisyah karena Allah, dan aku harap Om Ozan adalah orang yang tepat seperti Aisyah yang mendapat jodoh yang tepat untuknya," jelas Asha.
"Insha Allah, Sha," jawab Ozan balik.
Setelah kejadian pada saat sholat Tahajjud tadi, Asha dan Ozan lebih memilih untuk menunggu subuh, dan pagi ini, hari keberangkatan Asha dan Ozan pun sudah tiba. Mereka tinggal menunggu truk barang yang akan menjemput barang mereka menuju kontrakan barunya.
"Sudah selesai semua Om?" tanya Asha berjalan ke arah Ozan yang baru saja memakai kemejanya. Ozan mengangguk. "Sudah."
Asha mengambil sisir di nakas. Ia menarik tangan Ozan untuk duduk di pinggir ranjang dan mulai menyisir rambut pria itu. Ozan hanya diam mendapat perlakuan seperti ini. Dia benar-benar merasa hidup di dekat Asha.
"Udah panjang banget Om, gamau di potong?" tanya Asha kepada Ozan. "Kamu mau potongin?" jawab Ozan kepada Asha.
Tapi baru saja mereka menikmati waktu berdua, suara lemparan batu yang mengenai jendela rumah membuat Ozan dan Asha saling menatap, mereka berdua kemudian keluar dari rumah dan menuju teras dimana, di luar rumah sudah ada beberapa ibu-ibu yang tengah meneriaki Asha.
"Pergi kalian! Dasar kamu anak haram! Pak Ozan! Kalau Bapak Ozan menikah dengan anak haram itu, lebih baik Bapak Ozan pergi saja dari sini! Kamu tidak mau komplek perumahan disini menjadi sial karena ada anak hasil Zina!" Teriakan itu jelas mengarah langsung ke Asha. Tapi darimana mereka tahu kalau Asha anak haram.
-
Asha dan Ozan keluar dari dalam rumah, dan mendapati beberapa ibu-ibu tengah berkumpul didepan rumah mereka, Ozan dan Asha saling menatap sejenak sebelum kembali meladeni ibu-ibu itu.
"Ada apa ini, Ibu-ibu apa yang terjadi, kenapa kalian malah anarkis begini didepan rumah saya?" ujar Ozan mengangkat tangannya. "Pak Ozan! Lebih baik Bapak bawa istri pembawa sial Bapak ini pergi dari sini! Kami tidak ingin ada kesialan di komplek ini!"
"Astagfirullah! Istighfar Ibu-ibu, tidak ada yang seperti itu Bu! Ini sebenarnya kalian kenapa tiba-tiba begini, dan darimana kalian tahu kalau saya sudah menikah?"
"Beritanya sudah tersebar di sosial media Pak! Sekali anak haram tetaplah anak haram!" ujar salah satu dari mereka. "Ayok Bu, lemparin lagi!"
Ibu-ibu itu melemparkan kerikil kecil ke arah Asha, Ozan yang sigap reflek melindungi Asha, sampai kepalanya terkena lemparan batu dan mengeluarkan darah.
"Argh!" Ozan jatuh berlutut memegang bagian pelipisnya. "Om! Om!" Asha meraih wajah Ozan dengan panik. Melihat itu entah keberanian darimana Asha bangkit dan menghampiri mereka semua.
"SUDAH! SUDAH CUKUP! Bagaimana sebagian dari kalian menunjuk orang lain sedangkan empat jari kalian menunjuk diri sendiri? Saya tidak berhak sama sekali atas penghakiman itu, dan kalian tidak punya hak menghakimi saya atas ini!" ujar Asha menatap nanar mereka semua.
"SUDAH! SUDAH CUKUP! Bagaimana sebagian dari kalian menunjuk orang lain sedangkan empat jari kalian menunjuk diri sendiri? Saya tidak berhak sama sekali atas penghakiman itu, dan kalian tidak punya hak menghakimi saya atas ini!" ujar Asha menatap nanar mereka semua.
"Diem kamu! Kamu tuh pembawa sial!"
"Kesialan apa yang saya lakukan? Kalian sesuai apasih untuk menghakimi orang lain, apa karena memang sifat dasar manusia adalah menghakimi tapi melihat dirinya sendiri, bahkan genangan air keruh tidak bisa memperlihatkan diri kalian, bagaimana bisa lontaran penghakiman keluar dari bibir kalian? Apakah kalian manusia yang tanpa dosa!" jelas Asha kepada mereka semua.
"Kamu tuh anak haram!"
"Dia bukan anak haram!" Suara Ridwan mengalihkan pandangan mereka semua. Ridwan berjalan ke arah kerumunan itu dan berdiri di samping Asha. "Dia anak saya! Saya Ayahnya! Dan tidak ada seorangpun yang bisa menganggapnya anak Haram!" jelas Ridwan kembali.