Night Conversation

2220 Kata
Wajah Zizi seketika berubah menjadi merah kuning hijau. Ia merasa tubuhnya kaku dan mati rasa dipeluk Cruise seperti itu. "Terima kasih karena telah menolongku sampai sejauh ini, Zizi," ucap Cruise sungguh-sungguh. Zizi hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, ia tidak mengerti Cruise barusan bicara apa, yang jelas, ia merasa lumpuh dan otaknya tidak berfungsi lagi. Jantungnya sudah naik turun seperti roller coaster. "Apakah dokter bilang, berapa lama aku akan bisa berjalan setelah dioperasi?" tanya Cruise sambil melepaskan pelukannya. Kaki Zizi sudah seperti jelly rasanya dan ketika Cruise melepaskan pelukannya, ia seperti kehilangan keseimbangan dan hampir saja jatuh jika Cruise tidak segera menahannya. "Zizi!!!" Cruise jadi terkejut ketika tubuh Zizi hampir luruh ke lantai. Untung saja tangan Cruise masih memegang pinggang gadis itu sehingga Zizi kembali dalam pelukan Cruise. "Kau kenapa, Zi?" tanya Cruise dengan wajah panik. "Ak-aku ...." Zizi mengerjap-ngerjapkan matanya tidak tau harus menjelaskan apa. Tidak mungkin 'kan kalau bilang dia lagi norak? Dipeluk saja bisa lumpuh seperti ini, benar-benar memalukan! "Apakah kau lelah? Wajahmu terlihat pucat ...." Cruise meraba wajah Zizi membuat gadis itu hampir putus nyawanya. Astaga! Tidakkah Cruise mengerti bahwa semua perlakuannya itu membuat Zizi semakin gugup dan hampir mati rasanya? "Ak-aku ... ti-tidak papa ..." Wajah Zizi sudah tidak tau berwarna apa. Semakin Cruise menatapnya, ia semakin hilang ingatan. "Sebaiknya kau istirahat saja di rumah, keliatannya kau kurang tidur. Coba lihat, ada lingkaran gelap di sekeliling matamu." Cruise menyentuh bawah mata Zizi dengan telunjuknya. Ya, Tuhan!! Zizi sudah tidak tau harus merasa apa jika sudah begini. Mulutnya terasa kelu dan ia tidak bisa berkata-kata, ia terus saja menatap Cruise yang sedang menasehatinya tanpa satu katapun yang bisa ia cerna dengan baik. "Apa kau mendengarku?" tanya Cruise. Hening ... Zizi terus menatap Cruise tanpa berkedip. "Zizi ... apa kau mendengarku?" ulang Cruise. "Fuhhhh! Zizi!" Cruise dengan gemas meniup wajah Zizi hingga gadis itu tersentak. "Ehh! A-apa?" Zizi mengerjap-ngerjapkan matanya dan ia dengan reflek mendorong tubuh Cruise. Berada di dalam pelukan pria itu sungguh sangat mematikan jiwa dan raga! "Apakah kau sakit?" tanya Cruise khawatir sambil menyentuh dahi Zizi. "Eh, tidak Cruise!" Zizi menghindari tangan Cruise yang akan menyentuh dahinya. "Lalu kau kenapa tadi?" tanya Cruise dengan wajah cemas. "Eh, ehm mung-mungkin aku lapar ... Ak-aku keluar dulu ya?" dalih Zizi. Ia pikir, ia butuh waktu untuk menenangkan perasaannya. "Ya, baiklah! Jika kau lelah, pulang saja tidak masalah. Kau bisa istirahat di rumah dibanding menjagaku di sini," ucap Cruise. "Eh, iya! Nanti aku pikirkan," jawab Zizi. Dan dengan cepat, ia pun berlalu pergi. Sesampainya di luar kamar, Zizi segera menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia lalu mendekap tubuhnya sendiri sambil memejamkan mata. Dipeluk Cruise begitu mendebarkan dan ia menyukainya. Sangat berbeda ketika ia dipeluk Luke kemarin! Astaga! Perasaan apa ini? Zizi begitu menyukainya dan tanpa sadar ia tersenyum-senyum sendiri hingga menjadi tontonan beberapa orang yang lalu lalang di koridor rumah sakit. Ia meraba wajahnya yang tadi disentuh oleh Cruise dan ia semakin senang. Ah! Bagaimana bisa, disentuh seperti itu saja sudah membuatnya seperti ingin terbang ? Zizi jadi tidak ingin cuci muka dan mandi jika sudah begini. Ia begitu menikmati perasaannya entah untuk berapa lama di depan kamar Cruise, sampai seorang perawat yang hendak masuk ke dalam kamar rawat membuatnya kaget. "Nurse, apakah Anda ingin memeriksa Cruise?" tanya Zizi ingin tau. Perawat tersebut menggelengkan kepalanya. "Pasien di kamar ini bukan hanya Tuan Cruise saja, banyak yang harus saya periksa," sahut perawat tersebut sambil berlalu meninggalkan Zizi. Zizi langsung menepuk jidatnya! Benar juga! Cruise ia masukkan ke kamar dengan kelas terendah karena ia tidak punya uang banyak untuk biaya rumah sakit. Dan, di dalam sana, ada tiga pasien termasuk Cruise yang harus diurus oleh tim medis rumah sakit ini. Ah! Dia terlalu baper ternyata! Zizi lalu pergi menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya, entah kenapa ketika hatinya senang, perutnya jadi terasa lapar. Dan, setelahnya ia membelikan Cruise roti sandwich dan beberapa roti lainnya. Sekembalinya ke kamar rawat, nampak Cruise tertidur. Mungkin diinfus membuat seseorang mudah mengantuk, begitulah pikir Zizi. Ia kembali duduk di kursi yang ada di sisi ranjang dan memperhatikan wajah pria tampan yang sedang terlelap di hadapannya. Penampilan Cruise sedang tidak dalam kondisi prima, jambangnya tumbuh di mana-mana seperti orang yang tidak terawat, tapi bagi Zizi, Cruise terlihat sangat tampan dengan penampilan yang apa adanya seperti ini. Dan, gadis itu begitu memujanya. Dalam keheningan kamar rumah sakit .... Wajah Zizi yang tadinya senang perlahan berubah menjadi sedih. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tau Cruise tidak pernah menaruh hati padanya ... dan perasaan sukanya pada Cruise, hanya ia yang tau dan merasakan. Lambat atau cepat, ia harus merelakan jika suatu saat Cruise akan meninggalkan Lunenburg dan melupakannya. Zizi membaringkan kepalanya di tepian ranjang dan dengan mata terpejam menahan air mata, ia memberanikan diri menyentuh telapak tangan pria itu. Hanya menyentuh saja takkan dianggap sebagai wanita muràhhan, bukan? Zizi menarik nafas dan berusaha menikmati apa yang bisa ia nikmati saat ini. Menemani Cruise seperti ini akan menjadi kenangan di hidupnya nanti. Mata Zizi terpejam dengan buliran air yang turun di sudut matanya hingga tanpa sadar ia pun tertidur dengan pulas. Cruise terjaga di tengah malam dan ia melihat Zizi terlelap di samping ranjang dengan wajah yang bertopang di atas tangannya. Cruise mengaitkan bibirnya dan dengan perlahan ia menarik tangan yang tertindih wajah Zizi. Perutnya terasa lapar sekarang karena sejak kemarin malam, ia sama sekali tidak makan apapun. Melihat ada bungkusan di atas nakas, Cruise berusaha bangun untuk duduk. Pergerakan Cruise membuat Zizi terjaga. "Cruise ... kau mau apa?" tanya Zizi sambil mengusap matanya yang masih sangat mengantuk. "Kau ... kenapa tidur di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang?" tanya Cruise tanpa menjawab pertanyaan Zizi. "Aku takut kau membutuhkan sesuatu nanti .... " jawab Zizi. Cruiser menarik nafas, Zizi ini terlalu mengkhawatirkan dirinya dan ia sungguh merasa hutang banyak kebaikan. Sekalipun ia berkali-kali berlaku kasar, tapi Zizi tetap saja dengan sabar merawatnya. "Aku akan membalas semua kebaikanmu nantinya, Zi," jawab Cruise sungguh-sungguh. Zizi tersenyum. "Kebaikan mau dibalas dengan apa, Cruise? Aku melakukannya dengan tulus dan tidak mengharapkan balasan. Keluarga kami sudah terbiasa seperti itu," jawab Zizi. Cruise mengaitkan bibirnya mendengar kalimat Zizi. Ia lalu melihat ke bungkusan yang ada di atas nakas, ia jadi penasaran dengan isinya. Perasaannya mengatakan bahwa itu adalah makanan. "Itu apa, Zi?" Cruise menunjuk bungkusan itu. "Oh, aku tadi membelikannya untukmu. Aku pikir kau sejak malam kemarin tidak makan apapun, siapa tau kau lapar." Zizi mengambil bungkusan tersebut dan membukanya. Wajah Cruise terlihat bersemangat. Zizi benar-benar mengerti akan kebutuhannya! "Ini ada sandwich, tourtiere, dan bagel," ucap Zizi sambil memberikan bungkusan demi bungkusan yang sudah ia buka ke Cruise. "Hm, terima kasih," ucap Cruise sambil menatap makanan itu dengan penuh minat. Ia lalu memakan satu persatu sementara Zizi dengan ekspresi senang memperhatikannya. "Apakah kau mau?" tawar Cruise. Zizi menggeleng. "Tidak, itu untukmu." Cruise dengan cepat menghabiskan semuanya, ia sungguh terlihat sangat kelaparan dan beberapa remahan nampak kacau di sekitar bibirnya, membuat Zizi tersenyum geli. "Jika kau masih lapar, aku akan ke bawah untuk membelinya lagi," tawar Zizi. "Tidak, ini sudah sangat cukup," jawab Cruise. Zizi mengambil tisu dan memberikannya ke Cruise. "Bibirmu belepotan. Terlihat sangat lucu jika tidak kau bersihkan, Cruise ..." ucap Zizi. Untuk mengusap langsung bibir pria itu, Zizi tidak berani. Ia merasa tidak pantas dan tidak berhak juga. Maklum, dia adalah wanita Asia yang masih memegang adat ketimuran. Dengan tadi ia menyentuh tangan Cruise saja, ia sudah merasa terlalu berani dan tidak sopan. *Huh! Belum tau dia kalo tangan Cruise malah dijadikan bantal tadi! Ckck! "Oh, ya? Di sebelah mana?" tanya Cruise. Zizi menunjuk ke bibirnya sendiri untuk memberi tahu tempat-tempat mana saja yang sudah jadi lokasi nongkrong remahan roti tersebut. Cruise dengan asal mengusap semua bibirnya karena ternyata yang ditunjuk oleh Zizi lokasinya banyak sekali. "Apakah aku sekacau itu?" tanya Cruise. Zizi mengangguk sambil tertawa kecil. "Masih ada di situ! Di atas pipimu, kau mengusapnya terlalu keras, dia jadi lari ke sana," tunjuk Zizi. "Mana? Apakah sudah?" tanya Cruise setelah mengusap wajahnya. Zizi menggeleng sambil terus tertawa kecil. Cruise lalu mengusap seluruh wajahnya dengan asal dan Zizi makin tertawa. "Haha! Kau harus mengganti tissuemu, Cruise. Remahan yang ada di tissuemu pindah ke wajahmu semua." Zizi menutupi mulutnya sambil cekikikan. "Yang benar?" Cruise mulai terlihat frustrasi. "Ini, bersihkan lagi," ucap Zizi sambil memberikan tissue yang baru. Cruise kembali mengusap wajahnya dan ternyata masih saja ada remahan makanan di beberapa bagian. "Sudah?" "Masih banyak," jawab Zizi sambil terus cekikikan. Cruise mulai frustrasi, ia lalu menyerahkan tissue itu ke tangan Zizi. "Help me!" katanya. Senyum Zizi seketika sirna. Ia menatap tissue yang sudah tergeletak tak berdaya di tangannya. Mengusap wajah Cruise? Wah, jantung lagi taruhannya jika sudah begini. "Keberatan?" tanya Cruise melihat Zizi diam saja. "Eh, tidak!" Zizi menggelengkan kepalanya dan ia dengan cepat berdiri. Wajahnya terlihat gugup dan tangannya sedikit gemetar, soal jantung? Jangan ditanya, sudah bertalu-talu di dalam sana. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya. Tangannya sudah hendak membersihkan wajah Cruise ketika ia kembali berpikir .... "Apakah kau keberatan jika aku memintamu untuk memejamkan matamu?" tanya Zizi kemudian. Ditatap Cruise membuat ia gemetar, ia takut salah usap nantinya. *Idih! "Memejamkan mata?" Cruise jadi mengerutkan keningnya dengan bingung. Kenapa ia harus memejamkan mata? "Iy-iya." "Apakah kau bermaksud menciumku?" tanya Cruise dengan tatapan curiga. Blush!!! Wajah Zizi jadi memerah dituduh seperti itu! "Eh, tidak!! Ya sudah! Tidak usah saja." Zizi mengerjapkan matanya beberapa kali dan baru saja tangannya menyentuh wajah Cruise, pria itu memejamkan matanya. Zizi tanpa sadar menghembuskan nafasnya, ia merasa lebih tenang jika Cruise menutup matanya. Tangannya dengan lembut membersihkan satu per satu remahan roti di wajah pria tampan itu. "Sentuhanmu seperti sentuhan Jillian ... begitu lembut," ucap Cruise sambil terus memejamkan matanya. Nampak sebuah senyuman tampan di wajah pria itu. Zizi merasa kacau mendengar ucapan Cruise, keliatannya pria itu pasti sedang membayangkan hal yang indah di masa lalunya. "Apakah dia kekasihmu?" tanya Zizi lirih. "Ya, dia wanita yang sangat kucintai," aku Cruise. Zizi menggigit bibirnya dengan kuat sambil berusaha menahan perasaannya. "Kalau begitu, kau harus menemuinya ketika kakimu sudah sembuh nanti," saran Zizi. Ia kembali menggigit bibirnya setelah mengucapkan hal itu. Entah kenapa melihat Cruise bahagia ia ikut senang walaupun di dalam sana ia harus menanggung sakit. "Yah, aku benar-benar ingin menemuinya dalam kondisi sehat." Cruise membuka matanya ketika tangan Zizi sudah tidak lagi menyentuh wajahnya. Zizi kembali duduk di kursi sambil berusaha menampakkan senyum palsu di wajahnya. "Ia pasti sangat cantik, bukan?" tanya Zizi. "Yah, dia gadis yang sangat cantik. Memiliki mata biru yang indah dengan rambut pirangnya yang sedikit bergelombang." Cruise berkata sambil membayangkan. "Yah, aku sudah bisa menduganya," jawab Zizi. "Sebenarnya kami sudah akan menikah. Aku datang menjemputnya di Montreal dan hendak membawanya kembali ke Manhattan. Sayang sekali, dia masih terikat kontrak kerja selama beberapa bulan. Sehingga aku harus kembali ke Manhattan sendirian, tapi beruntung juga dia tidak ikut bersamaku ketika itu, jika tidak, mungkin dia tidak akan selamat dalam kecelakaan tersebut," kenang Cruise. "Dia sangat beruntung. Takdir baik masih berpihak padanya. Kau selamat dan dia juga masih hidup, mungkin takdir masih berpihak pada kalian," ucap Zizi. "Apa menurutmu begitu?" Ekspresi Cruise jadi penuh harap. Zizi mengangguk dengan yakin. "Tidak banyak wanita yang bisa tahan terapung di tengah lautan yang dingin selama berjam-jam. Kau bisa tahan mungkin karena kau adalah seorang pria yang kuat. Dan, bersyukur Tuhan mengirim kapal kami untuk menemukanmu, takdir masih menginginkan kau hidup dan berumur panjang. Jika dia ikut bersamamu, belum tentu kau dan dia bisa ditemukan secara bersamaan, bisa jadi dia yang ditemukan sementara kau tidak, atau sebaliknya. Dengan kondisi yang seperti ini, kau masih punya kesempatan untuk kembali bersamanya. Mungkin saja ini sebuah ujian bagi cinta kalian ...." ucap Zizi. Cruise terdiam, ia berusaha mencerna ucapan Zizi. Benarkah ini ujian bagi cinta mereka? "Aku akan menemuinya setelah kakiku sembuh. Jika takdir memang berpihak pada cinta kami, aku tidak boleh menjadi pria d*********s di depannya," ucap Cruise. Sifat perfeksionis Cruise masih belum bisa hilang dari karakternya. Ia masih saja ingin tampil sempurna di hadapan Jillian. "Jika dia mencintaimu, dia akan bisa menerima kekuranganmu, Cruise," ralat Zizi. "Aku yang tidak mau dia menerimaku dengan kondisiku yang seperti ini," tegas Cruise. "Apakah itu artinya kau akan membiarkan dia kehilangan dirimu?" "Aku mau dia bahagia, Zi. Dan jika aku ditakdirkan untuk bersamanya, maka aku harus bisa membuatnya bahagia, bukan malah membuatnya menderita. Jika aku hidup dalam d*********s ... maka, masih ada pria ... diluar sana yang cukup sempurna secara fisik untuk menjadi ... pendampingnya ...." Kalimat Cruise terdengar lirih dan dipenuhi rasa frustrasi di akhir kalimat. "Fisik?" gumam Zizi. "Fisik adalah nomor satu untuk melindungi belahan jiwamu, kau bisa membantunya melakukan banyak hal jika fisikmu sehat," ucap Cruise sambil menatap Zizi. Zizi mengangkat bahu. "Entah kenapa itu terdengar tidak adil bagiku," sahut Zizi. "Tidak adil bagaimana?" "Tuhan menciptakan banyak manusia dengan fisik yang bermacam-macam, ada yang sempurna dan juga tidak. Jika fisik adalah tolak ukurmu, lalu bagaimana dengan manusia yang tidak memiliki fisik sempurna? Apakah mereka dianggap tidak layak untuk menikah dan melindungi keluarganya?" tanya Zizi sambil membalas tatapan Cruise. Kali ini Cruise terdiam. Yang diucapkan Zizi benar, tapi bagaimanapun juga, ia tetap tidak bisa hidup dalam belas kasihan Jillian. Baginya, seorang pria adalah seseorang yang sanggup melindungi orang-orang yang dicintainya, melindungi mereka dan melakukan banyak hal untuk mereka. Bukan hidup dengan banyak pertolongan dan belas kasihan dari pasangan. "Jika takdirku adalah bersama dengan Jillian, maka Tuhan harus menyembuhkan kakiku dengan sempurna!" ucap Cruise tidak mau tau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN