Zizi dan Cruise banyak mengobrol tentang banyak hal malam itu, hingga akhirnya mereka kehabisan bahan dan mulai mengantuk.
"Tidurlah, Zi ... matamu benar-benar ada lingkaran hitamnya," ujar Cruise.
"Yah, ini sudah menjelang pagi, kau juga harus banyak istirahat," jawab Zizi.
Cruise kemudian mengulurkan tangannya.
"Tidurlah di lenganku jika kau mau," ujar Cruise.
"Hah? Un-untuk apa?" Zizi seketika gugup mendengar penawaran Cruise yang tiba-tiba.
"Tadi kau tidur di telapak tanganku, rasanya pasti kurang nyaman, lenganku lebih tinggi jadi bisa menjadi penahan lehermu dengan lebih baik," jawab Cruise.
"Ak-aku tidur d-di telapak tanganmu?" Zizi mengerjapkan matanya tanda tak percaya.
Seingatnya dia hanya menyentuh tangan Cruise bukan menidurinya.
"Sudah! Tak perlu dibahas. Tidurlah di sini, atau kau mau bantalku?" tawar Cruise lagi.
"Eh, ti-tidak usah. Ak-aku tidur menggunakan lenganku sendiri saja," tolak Zizi dengan wajah yang sudah memerah.
"Kau yakin? Tanganmu bisa kesemutan nantinya. Pakai saja tanganku, aku sungguh tak keberatan," ucap Cruise meyakinkan.
Tangannya masih saja ia letakkan di tepian ranjang.
Zizi menatap lengan itu dengan penuh harap.
'Aduh! Bagaimana, ya? Mau sih ... tapi itu sungguh memalukan dan tidak pantas ....'
"Coba berbaring saja satu menit, jika kau tidak menyukainya, aku akan menyingkirkan lenganku," ujar Cruise lagi.
Zizi menatap Cruise dan pria itu mengangguk dengan yakin.
Nampak Zizi menggigit bibirnya, hatinya mengalami kontradiksi.
"Apakah kau malu? Aku takkan memaksamu jika begitu," ucap Cruise kemudian.
Zizi jadi tersenyum kecut sekarang. Harapannya jadi pupus. Namun, ia berusaha berpikir positive, yah, mungkin itu lebih baik. Ia tidak ingin dicap sebagai wanita yang muràhhan. Memiliki kenangan indah bersama pria yang ia suka, tidak harus dengan merendahkan diri sendiri walaupun ia tadi sempat hampir mati logika.
"Tidurlah, Cruise, aku juga akan tidur." Zizi lalu menggunakan tangannya sebagai bantal dan memejamkan matanya.
Tidak perlu menunggu lama, sudah terdengar nafas yang teratur dan dengkuran lirih gadis itu. Menunjukkan bahwa ia sudah sangat lelah.
Cruise mengusap lembut kepala Zizi dan setelahnya ia pun tertidur pulas.
"Selamat pagi." Sebuah suara membuat Zizi dan Cruise sama-sama terjaga.
Seorang perawat datang untuk memeriksa kondisi Cruise.
"Siang ini, Anda akan segera menjalani operasi, bagaimana perasaan Anda, Tuan Cruise Benedict?" tanya perawat tersebut sambil tersenyum, sementara tangannya sibuk mengukur tekanan darah.
"Saya sangat siap, Nurse ..." ucap Cruise semangat.
"Bagus, saya senang mendengarnya. Anda sudah tidak diperbolehkan untuk makan mulai sekarang," lanjut perawat itu lagi.
Cruise mengangguk paham.
"Baik, setelah ini Anda akan kami pindahkan ke ruangan pra operasi untuk dicek kondisinya," ucap perawat itu sambil membereskan semua peralatannya.
"Baik, Nurse. Terima kasih," ucap Cruise.
Perawat itu pun pergi kemudian.
Wajah Zizi dan Cruise terlihat sama-sama senang.
"Semoga operasimu sukses, Cruise," ucap Zizi sambil tersenyum.
"Aku juga berharap begitu," sahut Cruise dengan ekspresi penuh harap.
"Cruise!!" Sebuah suara seorang wanita mengejutkan Cruise dan juga Zizi.
"Mom?" Cruise terperanjat begitu melihat ibunya tiba-tiba muncul bersama sang ayah.
Nyonya Benedict langsung memeluk Cruise sambil menangis sesenggukan, sementara sang ayah juga nampak terharu melihat Cruise.
"Mom sungguh bersyukur bahwa kau masih hidup, Son!" Suara Nyonya Benedict terdengar serak disertai isak tangis.
Melihat ibunya begitu mengkhawatirkannya, Cruise pun memeluk erat beliau.
"Aku sudah baik-baik saja, Mom. Sebentar lagi kakiku akan dioperasi," ucap Cruise.
Sang ibu seketika melepaskan pelukannya. Ia lalu menatap kaki putranya dan selang beberapa detik kemudian, beliau kembali menangis dengan pedihnya.
"Mom akan merawatmu seumur hidup, Son. Kau tidak perlu khawatir!! Kau harus ikut kami pulang dan ... tidak perlu memikirkan semuanya," ucap Nyonya Benedict dengan suara tangis yang tertahan.
"Mom! Apa maksudmu? Aku tidak mau jadi pria yang tidak bisberbuat apa-apa!" Cruise tampak keberatan dengan ucapan ibunya.
"Lorraine, jangan berlebihan. Cruise itu seorang pria dewasa, dia bisa mengurus dirinya sendiri." Tuan Benedict berkata sambil memeluk bahu istrinya.
Ia setuju dengan Cruise. Mereka para pria, tidak suka hidup dengan belas kasihan.
Nyonya Benedict seketika menatap suaminya dengan tatapan tajam. Tangannya dengan reflek menepis tangan Tuan Benedict yang bertengger di bahunya.
"Apakah kau tidak melihat kondisi kakinya, Lewis? Mengurus diri sendiri bagaimana maksudmu? Dengan kondisinya yang seperti itu, hanya aku yang akan selalu berada di sisinya. Aku adalah ibunya, aku yang akan bertanggung jawab dalam merawatnya sampai seumur hidupku. Aku tidak akan membiarkan putraku satu-satunya hidup menderita gara-gara kakinya lumpuh!" Nyonya Benedict berkata sambil menghapus air matanya.
Tuan Benedict tidak lagi menjawab. Berbantah dengan istrinya percuma saja. Ia memahami jiwa seorang ibu yang terlalu khawatir dan perhatian terhadap keluarganya, tapi dia juga mengenal karakter putranya, Cruise. Dia memiliki sifat yang hampir sama dengannya. Tidak suka bermanja-manja apalagi menggantungkan hidupnya kepada orang lain.
"Mom, I'm not a kid anymore!" Cruise berkata sambil menggelengkan kepalanya.
"I know, Son! I know! I don't treat you like a kid. I just do my responsibility as your mother!" ucap Nyonya Benedict.
Cruise menatap sang ayah. Tuan Benedict nampak mengangguk lirih seolah meminta Cruise untuk mengiyakan saja apa yang ibunya katakan.
Cruise terlihat paham.
Nampak Zizi Yu yang berdiri di jendela diam-diam memperhatikan reuni keluarga kecilnya.
"Zizi! Kemarilah!" Cruise menatap Zizi yang terlihat menjaga jarak.
"Siapa, Cruise?" Nyonya Benedict menoleh ke arah pandangan Cruise.
Nampak Zizi Yu berjalan mendekat sambil tersenyum dan mengangguk ke arah Nyonya dan Tuan Benedict.
"Kenalkan, Mom. Ini adalah Zizi Yu. Dia dan keluarganya telah menyelamatkanku ketika aku terapung di laut ketika itu," jelas Cruise.
Tuan dan Nyonya Benedict tersenyum menyambut Zizi.
"Selamat siang, Nyonya, Tuan, saya Zizi Yu," sapa Zizi sambil membungkuk hormat.
"Halo, Zizi. Kami adalah orang tua dari Cruise. Aku Lorraine Benedict dan ini suamiku, Lewis Benedict. Terima kasih karena sudah menolong Cruise selama ini," ucap Nyonya Benedict.
"Senang bertemu denganmu, Zizi," sapa Tuan Benedict pula.
"Tidak perlu sungkan, Tuan, Nyonya. Memang sudah seharusnya kita semua hidup dan saling tolong menolong," ucap Zizi dengan tubuh sedikit membungkuk tanda hormat.
"Kamu gadis yang baik dan juga cantik. Sangat cocok dengan hatimu yang lemah lembut," puji Nyonya Benedict.
Zizi jadi tersenyum malu mendengarnya.
"Terimakasih, Nyonya," sahut Zizi tersipu.
"Zizi, sebaiknya kamu pulang dan istirahat di rumah. Kau pasti sangat lelah karena menjagaku seharian. Sudah ada mom and dad, kau tak perlu mengkhawatirkanku," ucap Cruise.
Ekspresi Zizi nampak keberatan. Namun, ia tidak bisa mengungkapkannya. Yang dikatakan Cruise benar. Sudah ada kedua orang tua Cruise, lalu untuk apa dia ada di sini?
"Sekali lagi, terima kasih, Zizi karena telah menjaga Cruise selama ini. Setelah selesai operasi, kami akan membawa Cruise kembali ke Manhattan. Oh ya, kalau boleh tau, kau tinggal di mana?" tanya Nyonya Benedict.
Hati Zizi seperti tergores ketika mendengarnya. Cruise akan segera dibawa ke Manhattan? Itu artinya, hari ini mungkin adalah pertemuan terakhirnya dengan pria itu.
Zizi mencoba untuk tersenyum walaupun senyumnya jadi terlihat aneh.
"Sa-saya tinggal di Bluenose Dr 578, Nyonya," jawab Zizi.
"Oh, baiklah, kami akan mengunjungimu nanti sebelum kembali ke Manhattan," ujar Nyonya Benedict lagi.
Zizi mengangguk.
Seorang perawat kembali datang.
"Maaf, Tuan Cruise harus kami pindahkan terlebih dahulu sebelum operasinya di mulai," ucap suster tersebut sambil mengatur brankar Cruise agar mudah didorong.
"Operasinya akan memakan waktu berapa lama, Dok?" tanya Nyonya Benedict.
"Mungkin sekitar 3 sampai 4 jam, Nyonya," sahut suster tersebut.
"Oh, baiklah!" Wajah Nyonya Benedict sudah tidak sedih lagi.
Semua berharap hasil operasi Cruise membuahkan hasil yang positive.
Brankar Cruise dibawa keluar. Nyonya dan Tuan Benedict pamit ke Zizi dan mengikuti Cruise.
Zizi menarik nafas, tidak ada alasan lagi baginya untuk terus diam di sini,
Ia mengemasi dan membawa semua peralatan dan perlengkapan Cruise lalu ikut keluar untuk menemui Nyonya Benedict.
"Nyonya, ini adalah pakaian ganti Cruise untuk sementara," ucap Zizi sambil menyerahkan beberapa pakaian Zach dalam sebuah tas.
Nyonya Benedict menatap pemberian Zizi. Ia hendak menolak ketika Tuan Benedict dengan cepat menerimanya.
"Terimakasih, Zizi. Kamu sungguh mengerti dan perhatian akan kebutuhan Cruise," ucap Tuan Benedict.
Zizi tersenyum dan sesudahnya, ia pun pamit sekali lagi ke Tuan dan Nyonya Benedict.
Ia lalu pulang ke rumahnya dan langsung masuk ke kamar Cruise. Ia merebahkan dirinya di sana sambil berusaha menikmati aroma Cruise yang tersisa di ranjangnya.
"Baru saja aku berpisah denganmu beberapa menit, aku sudah merindukanmu, Cruise Benedict," gumam Zizi sambil mendekap bantal yang dipakai oleh Cruise tadi.
Ia tersenyum sambil meneteskan air mata kerinduan.
"Apa yang akan terjadi padaku jika kau pergi ke Manhattan, Cruise? Aku akan selalu mengingatmu sementara kau sudah pasti akan melupakanku," ucap Zizi lirih.
Kamar ini akan selalu mengingatkannya ke Cruise.
Zizi berbaring menghadap jendela dan matanya yang berat perlahan mulai menutup dengan sempurna. Rasa kantuk akibat tidur yang kurang pulas membuatnya cepat terlelap.